Jonghyun 'Shinee’ dan 'sisi gelap' industri musik K-pop

Media playback tidak ada di perangkat Anda
Banjir air mata di pemakaman Kim Jong-hyun

Catatan yang ditinggalkan penyanyi K-pop, Kim Jong-hyun yang dikenal dengan Jonghyun, menunjukkan sisi gelap dari industri musik Korea Selatan.

Seorang mantan bintang K-pop, Prince Mak, mengungkap band semi terkenal mengalami perjuangan paling berat karena harus hidup dengan apa yang ia sebut "kontrak perbudakan."

Hak atas foto AFP
Image caption Kim Jong-hyun ditemukan tak bernyawa di apartemennya dan diduga bunuh diri.

Jonghyun, penyanyi utama band Shinee, meninggal di rumah sakit Seoul Senin (18/12) setelah ditemukan tak sadar di apartemennya. Kematiannya kemudian mengungkap tekanan besar yang dihadapi anak-anak muda Korea Selatan dalam persaingan ketat di industri hiburan ini.

Dalam catatan yang ia tinggalkan, penyanyi berusia 27 tahun itu menyebutkan, "Saya hancur dari dalam."

Jonghyun memiliki banyak penggemar di negara asalnya dan di seputar Asia. Tak berlebihan jika K-pop disebut sebagai salah satu ekspor budaya Korea Selatan yang paling berhasil.

Pemakaman dan fenomena bulan biru kehijauan

Hak atas foto AFP
Image caption Adik Jonghyun dan para bintang K-pop mengangkat peti mati dalam pemakaman hari Kamis (21/12).

Prosesi pemakaman Jonghyun pada Kamis (21/12) dengan meninggalkan Asan Medican Centre di Seoul dengan anggota band Shinee dan adik Jonghyun di depan.

Para penggemar yang berduka banyak mengunggah foto bulan berwarna biru aqua di Korea Selatan dan Jepang yang mereka sebutkan petanda dari Jonghyu.

Hak atas foto Twitter Keopi Queen
Image caption Petanda dari Jonghyun? Penggemar K-pop mengaitkannya dengan warna bulan yang menyinari Korea Selatan.

Setiap bank K-pop memiliki warna khusus dan para penggemar pada konser Shinee, membawa warna biru kehijauan.

"Terima kasih Jonghyun telah memberitahu kami bahwa kamu telah sampai di rumah dengan selamat," cuit salah seorang penggemar.

"Saya di Jepang, dan saya bisa melihatmu," kata penggemar lain yang melihat fenomena bulan biru kehijauan di Jepang.

Persaingan dan latihan superketat

Dalam 10 tahun terakhir, Shinee, Super Junior, Girls' Generation dan band-band lain merupakan pilar di balik industri film, musik dan drama TV Korea yang merambah tak hanya Asia namun juga Eropa.

Meski demikian, ada harga yang harus dibayar untuk popularitas para bintang K-pop. Mereka harus menjalani persaingan dan latihan super ketat.

Bukan hanya itu. Di balik gemerlap K-pop, agen-agen pencari bakat dan manajemen artis menjalankan industri ini dengan tangan besi.

Manajemen artis mengatur berbagai aspek kehidupan para penyanyi, mulai dari gaya musik, baju, makanan, sampai penggunaan telepon seluler. Para artis juga harus mengikuti peraturan ketat untuk menjaga penampilan mereka sebagai idola.

Bahkan, pacaran sampai menikah harus mengikuti peraturan yang ditetapkan oleh para agen.

Namun, walaupun K-pop dan juga J-pop di Jepang adalah industri jutaan dolar, para bintang mendapat gaji kecil dan tak mendapatkan penghasilan besar.

Hak atas foto EPA
Image caption Dalam catatannya, Jonghyun menulis, "Saya rusak dari dalam."

Kontrak perbudakan

Mantan bintang K-pop, Prince Mak, yang selama dua tahun tergabung dalam JJCC, bercerita melalui YouTube dalam video yang ia beri judul "Sisi gelap KPOP."

Prince Mak membagi K-pop dalam tiga kategori, band atau penyanyi terkenal, setengah terkenal, dan tak dikenal orang.

Dalam videonya, Prince Mak mengatakan band yang sudah terkenal tak banyak khawatir karena sudah populer dan menghasilkan uang untuk agen. Namun yang paling sulit adalah mereka yang "setengah terkenal" karena mereka harus menanggung apa yang ia sebut "kontrak perbudakan."

Ia mengatakan peraturan ketat yang diterapkan termasuk makanan, pacaran, serta jam kerja lama yang biasanya mencapai lebih dari 18 jam sehari. Para artis yang "setengah terkenal" akan sangat keletihan.

Para anggota K-pop juga harus melakukan apapun yang diminta perusahaan. Tapi, mereka hanya mendapatkan kurang dari US$2 (Rp27.000) sehari, kata Prince Mak.

"Kontrak perbudakan biasanya rata-rata antara 10-15 tahun, persyaratannya seperti tak boleh pacaran, harus diet, sebagian bahkan harus operasi plastik dan tak ada liburan. Mereka bisa kerja selama 24 jam," kata Prince Mak.

Berbagai komentar pun bermunculan lewat saluran YouTube setelah unggahan tanggal 9 Desember lalu.

Salah satunya dari akun MyKoreanHusband yang menyatakan, "Bagus sekali Anda memberi tahu orang bagaimana sulitnya (menjadi bintang K-pop). Banyak orang yang bermimpi jadi idola K-pop tak mengerti kenyataan."

Bintang K-pop yang bunuh diri

Hak atas foto AFP
Image caption Para penggemar Jonghyun berduka.

Pengguna Youtube lain, Leyla Picou, menulis, "Saya senang kamu kuat dan bisa berhenti. Sayang buat mereka yang bertahan karena kontrak atau karena punya perasaan seperti ini sekarang (seperti yang Prince Mak sebutkan)."

Prince Mak menyebut yang paling berat adalah mereka yang setengah terkenal. Akan tetapi, catatan yang ditinggalkan Jonghyun juga menunjukkan bahwa penyanyi yang sudah tenar pun mengalami tekanan besar.

Catatan Jonghyun yang diunggah sahabatnya, Nine, di Instagram, menyebutkan, "Depresi yang perlahan melahap saya, akhirnya menghabiskan saya".

Nine, yang tergabung dalam band Dear Cloud, menyatakan ia diminta mengunggah catatan itu oleh Jonghyun bila dia "menghilang dari dunia".

Sejak musik, film dan drama TV Korea merambah Asia pada akhir 1990an, beberapa bakat muda Korea Selatan telah meninggal dunia akibat bunuh diri. Banyak yang meninggalkan catatan dan bercerita tentang betapa bahayanya kehidupan dalam industri ini.

Penyanyi Korea keturunan Amerika, Charles Park, yang dikenal dengan nama panggung, Seo Ji-won, termasuk salah seorang selebritas K-pop yang bunuh diri pada 1 Januari 1996.

Dalam catatannya, ia mengungkapkan kekhawatiran tentang keberhasilan mendadak debut albumnya dan apakah album berikutnya yang selesai direkam sebelum ia meninggal, juga akan berhasil. Ia meninggal dunia saat masih berusia 19 tahun.

Berita terkait