Aina Gamzatova, Muslimah yang menantang Putin walau 'tak akan jadi presiden'

Aina Gamzatova Hak atas foto Facebook Aina Gamzatova
Image caption Aina Gamzatova memastikan pencalonannya di hadapan para pendukung.

Aina Gamzatova, seorang istri mufti di Dagestan akan menantang Presiden Vladimir Putin dalam pemilihan presiden Rusia bulan Maret mendatang walaupun dipastikan tak akan menang.

Pencalonan Gamzatova - wartawan, penasehat mufti pemerintahan Dagestan - akan diajukan pada Jumat (05/01) menyusul kepastian pencalonannya akhir pekan lalu, tulis Islam.ru, dalam akun Facebooknya.

Gamzatova merupakan pemimpin redaksi Islam.ru, media Islam terbesar di Rusia yang terdiri dari televisi, radio dan media cetak.

Putin telah memastikan akan mencalonkan diri lagi pada pemilihan presiden dan jajak pendapat menunjukkan ia akan menang dengan mudah.

Putin telah berkuasa sejak tahun 2000, sebagai presiden dan juga perdana menteri dan bila terpilih lagi, ia akan menjabat sampai tahun 2024.

Wartawan TV Rusia Ksenia Sobchak juga mengatakan akan mencalonkan diri namun Putin disebutkan para pengamat tak akan menghadapi perlawanan berarti.

Pemimpin oposisi utama, Alexei Navalny, secara resmi telah dilarang ikut serta karena dinyatakan bersalah terlibat dalam penggelapan, dakwaan yang ia sebut memiliki motivasi politik.

Majunya Gamzatova sendiri menjadi perdebatan hangat di kalangan komunitas Muslim Rusia.

Seorang bloger terkenal Dagestan, Zakir Magomedov menulis, Gamzatova pasti tidak akan menang walaupun seluruh populasi Muslim yang berjumlah 20 juta memilihnya dalam pemilihan presiden di negara dengan 140 juta jiwa itu.

"Tentu saja dia tak akan jadi presiden. Untuk membicarakannya saja merupakan hal yang bodoh," tulis Magomedov.

Perempuan berjilbab yang terhormat

Hak atas foto Facebook islam.ru ислам.ру
Image caption Muslimah pertama Rusia yang mencalonkan diri sebagai presiden, tulis Islam.ru.

Gamzatova kemungkinan mendapatkan banyak suara di Dagestan dan Kaukasus utara.

"Dia jelas akan mendapatkan suara mayoritas dan Putin tak akan mendapatkan suara sebesar 146% seperti biasa dari republik itu," sindir Magomedov mengacu pada guyonan di kalangan pengkritik Putin terkait suara yang biasa didapat dari pendukung setia presiden Rusia itu.

Mahasiswa Indonesia di Moskow yang tengah mengambil doktoral bidang politik, Eduardus Lemanto mengatakan jajak pendapat yang menempatkan Putin di posisi teratas karena dua barometer penting, keamanan dalam negeri serta ekonomi.

"Tentu ok ok saja mereka masuk ke bursa pencalonan....tapi kira-kira mampu tidak menduduki posisi yang tuan Putin miliki," kata Eduardus kepada wartawan BBC Indonesia, Endang Nurdin.

"Jajak pendapat yang menempatkan Putin belakangan ini di posisi paling tinggi, saya rasa penilaian cukup fair. Ada dua barometer...barometer pertama soal keamanan dalam negeri Rusia, bangsa ini cukup tertib, di mana dunia tengah mencari ketertiban... yang kedua soal ekonomi, di bawah pemerintah Putin berjalan baik, ini jadi indikasi pemerintahan dia ini, berjalan secara efektif dan efisien," tambahnya.

Sementara itu Gaydarbek Gaidarbekov, mantan juara tinju Olimpiade Dagestan melalui akun Instagramnya menulis pencalonan Gamzatova akan meningkatkan citra perempuan Muslim Rusia.

"Bahkan bilapun kalah, orang akan tahu bahwa perempuan berjilbab ini tidak hanya seorang ibu atau seorang wanita, namun juga orang berpendidikan, yang bijak dan terhormat," tulis Gaidarbekov.

Hak atas foto EPA
Image caption Putin telah menyatakan akan maju lagi dalam pemilihan Maret mendatang.

Para pendukung Gamzatova berkumpul di ibu kota Dagestan, Makhachkala, hari Sabtu (30/12) setelah dia memastikan pencalonannya lewat akun Facebooknya.

Melalui akun media sosialnya, Gamzatova menulis, "Negara kita, Rusia adalah rumah kita, dan bila kita memecahkan diri menjadi Muslim, Kristen, warga asli Kaukasus dan Rusia, pemerintah kita tak akan ada."

Sementara dalam artikel yang diterbitkan Islam.ru, Gamzatova menulis pencalonannya bukan merupakan "upaya Muslim menciptakan persaingan bagi Vladimir Putin."

"Pencalonan ini merupakan keinginan untuk mengumumkan dan mendukung pada tingkat federal posisi anti-Wahabi yang bersama-sama dilakukan oleh para pejabat lokal dan federal untuk diredam dalam tahun-tahun belakangan ini," tulisnya.

Mereka haus darah

Hak atas foto Facebook Aina Gamzatova
Image caption Gamzatova bertemu dengan para pendukungnya di ibu kota Dagestan Sabtu (30/12) lalu.

Putin sendiri popular di mata banyak warga Rusia yang menganggapnya sebagai pemimpin yang kuat dan memulihkan posisi Rusia di mata dunia dengan turun tangan dalam perang di Suriah serta aneksasi Krimea dari Ukraina.

Tetapi pengkiritiknya menuduh Putin memfasilitasi korupsi dan secara ilegal mencaplok Krimea, yang menimbulkan kecaman internasional.

Suaminya Akhmad Abdulaev, adalah mufti Dagestan, sementara suami pertamanya Said Muhammad Abubakarov meninggal dalam ledakan bom mobil pada 1998. Pembunuhnya tak pernah ditemukan namun ia secara umum mengecam "Wahabi", istilah yang sering dia gunakan untuk menggambarkan para petempur yang banyak berasal dari Arab dan ia katakan akan ia hadapi dengan tegas.

"Mereka haus darah", katanya dalam berbagai buku dan pernyataan, walaupun ia sering mendapat ancaman mati.

Bangkitnya kelompok bersenjata di Rusia dimulai pada awal 1990 saat ratusan petempur bergabung dengan separatis di Chechnya.

Sejak 2013, para petempur dari Kaukasus Utara banyak yang mengikuti kelompok yang menyebut diri Negara Islam atau ISIS di Suriah dan Irak.

Gamzatova mengatakan masalahnya masih jauh dari selesai walaupun pemerintah-pemerintah daerah mulai melakukan dialog dengan para petempur.

Topik terkait

Berita terkait