Saat orang Madiun yang lama tinggal di Malang bertemu dengan 'orang Solo'

Media playback tidak ada di perangkat Anda
'Makanan di Solo lebih enak dibanding Malang,' kata guru gamelan Inggris, Peter Smith

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Muhadjir Effendy, yang berasal dari Madiun dan tinggal lama di Malang berbincang dengan Peter Smith, guru gamelan Inggris yang mengaku 'orang Solo.'

Pembicaraan dalam bahasa Jawa selama sekitar 10 menit di KBRI London ini mengangkat berbagai hal mulai dari asal-usul, tempe, apel sampai tentunya gamelan.

"Saya dari Solo, Solo Ngetan, Solo Palur," kata Peter menanggapi Muhadjir yang mengatakan berasal dari Madiun.

Peter - yang menyatakan punya nama Jawa, "Parto" mengatakan tak pernah ke Madiun tapi pernah ke Malang, tempat tinggal menteri pendidikan dan kebudayaan dalam waktu cukup lama.

Peter Smith, yang telah mengajar gamelan di berbagai tempat di Inggris termasuk di Southbank Centre. London selama lebih 20 tahun, bersama kelompok gamelan Siswa Sukra berkunjung ke Jakarta, Jogjakarta dan Solo Agustus tahun lalu untuk pertunjukan gamelan melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Image caption Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy dan Peter 'Parto' Smith.

Banyak dari anggota Siswa Sukra yang sudah mahir gamelan bertahun-tahun namun belum pernah berkunjung ke Indonesia.

Media playback tidak ada di perangkat Anda
Peter Smith, guru gamelan yang tinggal di Oxford, Inggris,mengatakan selalu rindu Solo,

"Mereka mahir gamelan, mahir berbagai gending Jawa tapi belum pernah merasakan seperti apa di Jawa, belum pernah naik becak, belum pernah ke warung," kata Peter kepada wartawan BBC Indonesia Endang Nurdin.

Akan diingat seumur hidup

Hak atas foto Siswa Sukra
Image caption Dalam pertunjukan di Solo dan Jojga dan memakai kebaya serta blangkon.

"Yang paling mereka ingat adalah keramahan orang-orang Indonesia. Mereka akan ingat pengalaman ini seumur hidup," tambahnya.

Peter juga mengatakan mereka merencanakan untuk kembali ke Indonesia dan bermain di sekolah-sekolah di Jawa untuk "menunjukkan bahwa budaya Jawa (Indonesia) sangat besar artinya dan sangat perlu dipertahankan dan dihargai."

Hak atas foto Siswa Sukra
Image caption Peter Smith dalam kunjungan ke Solo Agustus lalu.

Berbagai tanggapan melalui akun Facebook Siswwa Sukra saat lawatan mereka ke Solo dan Jogja, termasuk dari Bambang Sutrisno yang menulis, "Anda nampak lebih "Njawani " daripada orang Jawa asli saat ini yang umumnya sudah kurang berminat terhadap budaya dan kesenian tradisional bangsanya sendiri. Terimakasih dan salam hormat telah berkenan ikut melestarikan kebudayaan Jawa."

Dalam blognya, Siswa Sukra menyebut pengalaman mereka sebagai "20 hari yang cukup melelahkan namun sangat menyenangkan....pengalaman bersama yang tak terlupakan."

Hak atas foto Siswa Sukra
Image caption Pengalaman di Indonesia tak akan terlupakan, kata para pemain gamelan Inggris ini.

Di Solo tak ada apel

Dalam percakapan dengan Muhadjir Effendy, tentang Solo, Peter mengklaim "makanan di Solo lebih enak" dibandingkan Malang.

"Ya tapi di Solo tak ada apel. Di Malang ada apel," timpal Muhadjir dalam perbincangan Selasa (23/01) di London.

Dan Peter menanggapi lagi dengan menyebut apel Malang agak asam dibandingkan apel di Inggris.

"Asli saya dari desa dan bapak saya petani apel. Punya kebun apel. Ketimbang apel Malang, lebih manis apel Inggris. Kalau apel Malang, mohon maaf ya sedikit asam," kata Peter lagi.

Hak atas foto Siswa Sukra
Image caption Peter Smith di Solo Agustus lalu.

Muhadjir juga mengajak Peter mampir ke kementerian bila berkunjung lagi ke Jakarta, pertanyaan yang langsung ditanggapi dengan pertanyaan "akan disuguhi jajanan apa,?"

"Jajan apa ya...mendol. Mengerti mendol tidak? Tempe yang dikepel, bahasa Malang namanya mendol," kata Muhadjir.

Dia juga menambahkan bahwa gamelan di kementerian lengkap dan dapat digunakan.

"Saya (main) gending dolanan bisa, ojo lamis (misalnya), tapi kalau klasik tak bisa," cerita Muhadjir tentang lagu Jawa yang dapat dibawakan dengan gamelan.

Berita terkait