'Cah bodoh' dari Pekalongan dengan gambar sketsa 'luar biasa'

Windi Hak atas foto Akhir Nurul Fairyda
Image caption Windi bisa menggambar secara cepat dan tanpa contoh.

Windi Setyoningsih, seorang perempuan dari Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah, yang disebut tetangganya "cah bodoh" atau anak bodoh mampu membuat sketsa "luar biasa" dari imajinasinya.

Windi yang ditemui Akhir Nurul Fairyda, perawat dari Balai Besar Rehabilitasi Sosial Bina Grahita (BBRSBG) Kartini Temanggung, badan di bawah Kementerian Sosial, menunjukkan kemahirannya saat diminta menggambar pekan lalu.

Fairyda mendatangi Windi karena merasa "penasaran" atas cerita teman perawat yang sempat memberikan buku sketsa untuk media gambar Windi pada saat mendampingi perempuan berusia 22 tahun itu dalam advokasi selama setahun. Program ini dilakukan untuk mereka yang dikategorikan sebagai penyandang disabilitas intlektual dengan mendatangai rumahnya.

"Saya ajak keluar untuk gambar di teras, sepupunya carikan pinsil seadanya. Dan dia gambar dengan lincah tanpa liat pola apapun, dan tanpa contoh. Gambarnya seperti baju india mungkin pengaruh nonton TV, saya tanyakan tapi tak diiyakan. Gerakannya cepat banget kayak terlatih begitu," kata Fairyda kepada wartawan BBC Indonesia, Endang Nurdin.

"Karya Windi sangat luar biasa, begitu detil dalam menggambar," tambahnya.

Hak atas foto Akhir Nurul Fairyda
Image caption Gambar Windi di buku sketsa yang pernah diberikan perawat yang mendampinginya.

Windi diajak keluar ke teras untuk menyelesaikan gambarnya dan salah seorang tetangga sempat menimpali setelah melihat karyanya itu dengan mengatakan, "Cah bodoh jebule pintar gambar (anak bodoh ternyata pintar gambar)," cerita Fairyda.

Tak bisa membaca dan menghitung hanya sampai 20

Fairyda mengatakan saat ini ia banyak dikontak oleh para desainer yang menanyakan tentang gambar-gambar Windi.

Hak atas foto Akhir Nurul Fairyda
Image caption Sketsa Widi, penyandang disabilitas intelektual yang disebut luar biasa oleh paramedis yang mendampinginya.

Dalam penilaian perawat balai selama pendampingan setahun sejak 2016 sampai tahun lalu, Windi dikategorikan, "Tak mampu membaca, bisa menulis namanya sendiri dengan hafalan, dan kemampuan berhitung hanya sampai 20."

Hak atas foto Akhir Nurul Fairyda
Image caption Banyak yang mengagumi bakat Windi dalam menggambar.

"Tapi dia mengenal pecahan uang, dengan uang sekian harus dikembalikan berapa (kalau membeli sesuatu)," kata Fairyda.

Dia hanya bersekolah sampai kelas empat SD dengan orang tua yang juga hanya lulusan SD dan ayahnya bekerja di tempat sablon dan ibunya melibat perban di industri perumahan.

Pada mulanya, Windi menggambar di buku-buku bekas milik adiknya sampai kemudian diberikan buku gambar oleh perawat yang saat ini sudah penuh dengan berbagai sketsanya.

Hak atas foto Akhir Nurul Fairyda
Image caption Karya Windi di buku adiknya.

Kepala BBRSBG Kartini Temanggung, Murharjani mengatakan pihaknya berharap kemampuan Windi diharapkan dapat "menjadi nilai ekonomi" bagi keluarga di kabupaten Pekalongan ini.

"Setidaknya potensi yang dia miliki bisa memberi kesejahteraan bagi diri dan keluarganya," kata Murharjani.Ibu Windi, Suniti mengatakan rasa terima kasihnya kepada masyarakat yang telah memberi pujian atas karya anaknya itu.

Ke depannya, pihak dari balai sosial akan membantu mendampingi Windi bila ada desainer yang ingin ikut mendampingi dalam mengembangkan bakatnya lebih lanjut.

Berita terkait