Melihat Jakarta pada 1941 yang 'dihidupkan' lagi lewat video pria Belanda

Pemandangan kawasan Pancoran, Jakarta pada 1941. Hak atas foto Jakarta 1941
Image caption Pemandangan kawasan Pancoran, Jakarta pada 1941.

Video berdurasi 10 menit yang memperlihatkan Jakarta pada 1941 menjadi viral di media sosial.

Pembuatnya, seorang pria Belanda yang kini tinggal di Australia, menghabiskan dua tahun mengumpulkan suara-suara dan bebunyian untuk 'menghidupkan' video dan melabelinya dengan lokasinya kini.

Video yang dibuat oleh Sven Verbeek itu diunggah pada Kamis (01/02) lalu dan sampai sekarang sudah dibagikan hampir 9.500 kali dan ditonton 322.000 kali.

Dalam akun Facebook-nya, Verbeek menulis, "Mari bergabung dengan saya dalam sebuah perjalanan berwarna ke Jakarta pada 1941.

Nikmati rekaman gambar yang berwarna dan jarang ini, resapi suara dan suasana dari 77 tahun lalu, dengarkan siaran asli radio N.I.R.O.M, kenali gedung yang sampai sekarang masih ada di Jakarta, dan kagumi penanda penting yang sayangnya sekarang sudah dihancurkan. Selamat jalan!"

Warganet pun ramai menanggapi video tersebut.

Trisna Kurniawaty Tanjaya menulis, "Banyak bangunan bersejarah yg suda tidak nampak lagi skr..sayang sekali 😢..", sementara Azure Sky Atmosphere menulis, "bangunan dan semuanya memang tampak indah tapi saya senang karena warna benderanya berubah 😁."

Hak atas foto Jakarta 1941
Image caption Cuplikan video Jakarta 1941 yang memperlihatkan Jakarta dulu.

Alfiyani Rukmana menulis, "Jika saya dilahirkan lagi ke dunia, saya ingin hidup pada masa itu, dan merasakan semua atmosfernya. Terima kasih buat videonya!"

Pengguna lain, Yuliantoro Anto, menulis, "Keren banget, colourfull.., berasa naik mesin waktu.., thank's alot for the video."

Hak atas foto Jakarta 1941
Image caption Bioskop Orion di kawasan Glodok seperti dalam video Jakarta 1941 yang diedit oleh Sven Verbeek.

Warganet lain, Lovita Comily Jeffri Nathaniel Tjoe, menulis, "Widihhh jakarta kyk melbourne. ada tram nya. da gt pancoran kyk shanghai 😂"

Menurut Verbeek kepada BBC Indonesia, "Gambar bergerak yang berwarna akan Jakarta sangat jarang, karena kebanyakan film pada masa itu hitam putih. Hampir semuanya diambil oleh J.H. Zindler pada 1941."

Namun, dia menambahkan, bahwa gambar-gambar tersebut tidak ada suaranya dan tidak ada informasinya. "Gambar atau film ini sudah banyak di internet tapi kadang latarnya adalah musik, atau orang memberikan informasi akan lokasinya yang seringnya tidak tepat."

"Saya menghabiskan dua tahun mengumpulkan bunyi-bunyi dan suara asli dari mobil, becak, gerobak, delman, bus, dan pasar pada 1941 dan mulai mengedit video tersebut dengan suara atau bunyi-bunyi ini," katanya.

Hak atas foto Jakarta 1941
Image caption Cuplikan video Jakarta 1941 yang memperlihatkan kawasan Museum Sejarah Jakarta di kawasan Kota Tua dengan trem melintas.

"Saya juga menghabiskan banyak waktu untuk mengidentifikasi lokasi tepat yang kita lihat di video, terutama di (kawasan) Kota dan Menteng yang kadang-kadang sulit," ujar Verbeek.

Untuk proses identifikasi itu, Verbeek mengatakan bahwa dia dibantu oleh Scott Merrillees, penulis tiga buku sejarah Jakarta dan Pusat Dokumentasi Arsitektur yang berhasil mengidentifikasi beberapa lokasi.

Hak atas foto Jakarta 1941

"Saya juga menambahkan laporan asli radio NIROM," kata Verbeek. NIROM adalah Perusahaan Penyiaran Radio Hindia Belanda yang merupakan cikal bakal Radio Republik Indonesia (RRI).

"Banyak anak muda Indonesia yang suka melihat Jakarta di masa lalu, tapi juga banyak orang-orang yang lebih tua yang lahir pada 1930an melihat kota masa muda mereka," kata Verbeek soal reaksi warganet akan videonya.

Media playback tidak ada di perangkat Anda
Tanah Abang: dulu dan sekarang

Riset sejarah wilayah Jakarta bukan hal yang baru bagi Verbeek.

Sebelumnya, pada 2015 lalu, pria kelahiran Belanda ini telah melakukan riset lebih dari 25 tahun tentang Tanah Abang, wilayah permukiman pendatang pada zaman Hindia Belanda yang kini berubah menjadi pusat perdagangan pakaian besar, riuh, dan macet.

Hak atas foto Facebook/Sven Verbeek
Image caption Sven Verbeek saat mengunjungi kantor Bank Mandiri yang dulunya adalah rumah Lim Tiang Hoey, salah satu kapten Cina paling kaya di Batavia, yang juga rekanan kakek buyut Verbeek, Februari 2017 lalu.

Ketertarikannya pada Tanah Abang berawal dari cerita-cerita neneknya, Welly van Garderen, yang menghabiskan masa mudanya di sana.

"Bagi saya, itu seperti hidup di planet lain. Hangatnya udara, pepohonan, burung-burung, buah-buah tropis, orang Indonesia yang ramah, dan rumah yang lapang," kisah Sven dalam laman Facebook yang didedikasikan untuk Tanah Abang.

Pada Februari 2017 lalu, Verbeek juga pernah 'blusukan' ke Tanah Abang untuk meneruskan kembali proyek foto dulu-dan-sekarang yang memperlihatkan bagaimana sebuah tempat berubah seiring zaman.

Dalam kunjungannya itu, dia membandingkan bagaimana Tanah Abang pada 1920an saat kakek dan neneknya tinggal di sana dengan kawasan itu kini lewat foto-foto.

Berita terkait