Ada apa di balik tren tujuan wisata Eropa 'rasa lokal'?

Stonehenge Merapi Hak atas foto Instagram/@hehechang
Image caption Bagi wisatawan, 'Stonehenge lokal' itu menjadi latar untuk foto-foto liburan atau sekadar untuk bersandar.

Di beberapa kota di Indonesia, muncul beberapa objek wisata baru yang bentuknya meniru objek wisata Eropa, seperti Stonehenge di Cangkringan, Sleman, dan bangunan mirip Arc de Triomphe, Prancis, yang ada di Kediri. Apa yang membuat tempat-tempat ini muncul dan populer?

Mungkin Anda pernah melihat foto tempat-tempat ini di media sosial. Batu-batu besar yang melingkar di tengah padang rumput, sebuah monumen prasejarah, yang kemudian dikenal sebagai keajaiban dunia.

Hak atas foto Matt Cardy/Getty Images
Image caption Stonehenge di Inggris yang sudah masuk dalam daftar keajaiban dunia.

Namun Stonehenge ini bukan berada di Inggris, melainkan di kawasan Cangkringan, Sleman, di sekitar kawasan Gunung Merapi, Yogyakarta.

Bagi wisatawan, 'Stonehenge lokal' itu menjadi latar untuk foto-foto liburan atau sekadar untuk bersandar.

Namun 'Stonehenge lokal' ini bukan satu-satunya tempat tujuan wisata 'tiruan' yang ada di Indonesia.

Ada juga 'Arc de Triomphe versi Kediri' dalam bentuk Monumen Simpang Lima, yang sudah lebih dulu ada sejak 2008.

Di media sosial, ada banyak unggahan yang menunjukkan bahwa monumen tersebut menjadi semacam objek wisata tersendiri oleh warga sekitar.

Hak atas foto PHILIPPE LOPEZ/AFP/Getty Images
Image caption Arc de Triomphe di Paris dilewati oleh para peserta Tour de France, Juli 2017 lalu.

Dan yang relatif baru, ada juga kincir angin di tengah sawah di desa Muaro Jambi.

Ketua Asosiasi Tur dan Travel Indonesia (ASITA), Asnawi Bahar, melihat bahwa tempat-tempat atau objek-objek tersebut muncul dari pemikiran "untuk memberikan variasi bagi wisatawan domestik untuk menikmati keragaman".

"Kalau untuk domestik, orang Indonesia untuk melihat alam yang indah kan sudah biasa, budaya juga kita semuanya sudah punya. Kalau secara pribadi atau juga organisasi, positifnya, ini membuat orang melihat, 'oh seperti ini luar negeri'," kata Asnawi.

"Menurut saya ini hanya untuk menarik (wisatawan) domestik, karena ada keinginan besar ke luar negeri, jadi mungkin peluang ini yang diangkat oleh pengusaha kita," tambahnya.

Tetapi, secara pribadi, dia tak terlalu menganggap positif kemunculan tempat-tempat wisata seperti ini.

"Masih ada banyak yang lain yang bisa kita kembangkan. Lebih baik kita menciptakan (objek wisata) man-made (buatan) itu seperti bagaimana Singaprua menciptakan Studio Universal, daripada membuat ini yang untuk sesaat. Apa kita kehilangan ide atau hanya untuk " ujar Asnawi.

Kepala Bidang Investasi selaku Pelaksana Harian Asisten Deputi Industri Pariwisata Kementerian Pariwisata Hengky Manurung melihatnya dengan cara berbeda.

"Ini berarti penyediaan atraksi wisata baru bagi masyarakat sudah cukup tersedia. Yang kedua, kalau kita mau bandingkan kenapa yang a dan b sama, yang di sini membuat yang di luar negeri juga ada, kalau roller coaster kan juga begitu sifatnya. Ada yang disebut Venezia-nya Asia, makanya dia bangun atraksi seperti Venezia. Saya nggak melihat copas-nya (copy paste) sebagai hal yang negatif," kata Hengky.

Apakah ini berarti menunjukkan keingan masyarakat yang menjadiakn Eropa sebagai tujuan impian?

"Itu tidak terkait sama sekali karena yang dibuat oleh seseorang kan mungkin adalah mimpi dia," kata Hengky.

Meski begitu, Hengky sependapat dengan Asnawi soal perlunya pembuatan objek wisata man-made yang berupa taman hiburan seperti halnya Universal Studio atau Disney World di Indonesia.

"Bukan berarti biar kita nggak harus ke Amerika, tapi biar kita bisa menarik investor untuk membangun tempat-tempat seperti itu di Indonesia," kata Hengky.

Apakah Anda merasa ada tujuan wisata di kota Anda yang harus diketahui oleh banyak orang? Kirimkan fotonya melalui akun Twitter atau Instagram BBC Indonesia dengan tagar #bbchariini atau lewat pesan di halaman Facebook kami.

Berita terkait