Jokowi janji bersihkan sungai Citarum: berawal dari kritikan film dokumenter?

Citarum Hak atas foto Facebook: Make A Change World
Image caption Gery dan Sam Bencheghib, dua kakak beradik warga Perancis, mendayung sampannya yang terbuat dari botol plastik bekas, di tengah sampah yang dibuang di sungai Citarum, pertengahan tahun lalu.

Beberapa bulan setelah film dokumenter tentang sungai Citarum beredar luas, Presiden Jokowi berjanji untuk membersihkan sungai Citarum yang tercemar. Harus berbenah setelah menunggu kritikan dari masyarakat?

Gary dan Sam Bencheghib, dua kakak beradik warga Perancis, mendayung sampannya yang terbuat dari botol plastik bekas, di tengah sampah yang dibuang di sungai Citarum, pertengahan tahun lalu.

"Kami melihat dari dekat betapa kotor dan tercemarnya sungai itu dan merekamnya dalam film dokumeter, dengan tujuan untuk mengkampanyekan bahwa air adalah sumber kehidupan," kata Gary (23 tahun) saat dihubungi oleh BBC Indonesia melalui telepon, 28 Februari 2018.

Presiden Joko Widodo menanggapi video tersebut dengan menjanjikan bahwa Citarum akan bersih dalam tujuh tahun.

"Gary, nanti kamu akan lihat bahwa dalam tujuh tahun Citarum akan menjadi sungai paling bersih," kata Presiden Joko Widodo dalam video yang diunggah oleh Make A Change World, halaman Facebook milik Gary dan adiknya, Sam.

Juru Bicara Presiden Johan Budi SP membantah anggapan bahwa pemerintah baru bertindak setelah ada video viral dari Gary dan Sam.

"Itu awal-awal, kebetulan ada momen itu yang viral, tapi sebelumnya memang pemerintah sudah lama berencana dan ini melibatkan banyak pihak," kata Johan kepada BBC Indonesia, 1 Maret 2018.

Pada 22 Februari lalu, Presiden Jokowi meresmikan dimulainya program Penanggulangan Pencemaran dan Kerusakan Daerah Aliran Sungai Citarum di hulu Citarum, Situ Cisanti.

Gary pun diundang dalam acara tersebut dan diajak membuat vlog bersama Presiden. "Bersatu padu kita membersihkan Citarum. Kita berusaha secepat mungkin bisa bersih dan semoga dalam tujuh tahun ke depan sudah bisa jadi sumber air minum," kata Joko Widodo melalui akun Twitter resminya, 22 Februari.

Sungai Citarum sudah bertahun-tahun masuk dalam daftar sungai paling kotor di dunia. Walhi Jawa Barat yang diwawancarai BBC tahun lalu menjelaskan bahwa Citarum tak hanya kotor, tapi beracun karena sarat kandungan logam berbahaya dari limbah industri.

Pemerintah Provinsi Jawa Barat pada 2017 mencatat adanya 370 perusahaan di Bandung Raya yang mencemari Sungai Citarum.

Hak atas foto Timur Matahari/AFP/Gettt Images
Image caption Menjala ikan berganti menjala plastik di Citarum yang permukaannya tertutup polusi.

Menurut Gary Bencheghib, keberhasilan karya dokumenternya mendapat tanggapan dari pemerintah Indonesia tidak terlepas dari hasil kerja keras dalam membangun jaringan dan mitra.

Gary dan Sam menghabiskan dua minggu untuk menyusuri sebagian Sungai Citarum, hingga 60 kilometer.

Pada bulan Agustus 2017, Gary menggunggah video Citarum pertamanya di akun Facebook Make A Change World. Seri #plasticbottleCitarum terdiri atas 9 video. Video yang paling populer, episode 4, telah disaksikan 800 ribu kali, dan dibagikan 13 ribu kali.

Make A Change World adalah media tempat Gary dan saudara-saudara berkarya membuat video bertema lingkungan sejak 1,5 tahun yang lalu.

Sebenarnya video soal Citarum bukanlah video yang paling populer di channel Make A Change World. Video mereka tentang musisi Bali yang membuat musik dari bambu, telah disaksikan 4,5 juta kali.

September 2017, sebulan setelah video pertama Gary ditayangkan, pemerintah Indonesia memberikan tanggapan. Saat itu Direktur pengelolaan sampah Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Sudirman, berjanji akan membuat roadmap untuk berkoordinasi dengan 13 wilayah di sekitar sungai.

"Setelah melihat film itu saya sudah bikin rencana tanggap darurat untuk penanganan sampah Citarum," kata Sudirman dalam video yang ditayangkan oleh Make A Change World.

"Kami senang sekali mendapatkan respon yang sangat positif dari pemerintah," kata Gary. Dia mengaku tak pernah menyangka bahwa film dokumenter buatannya akan menimbulkan efek domino yang sedemikian besar.

Strategi mereka adalah dengan membangun jaringan internasional dan media. "Kami bicara dengan jaringan kami di Bandung, dan dari situ kami dikenalkan ke Mayor Jenderal Doni Monardo (Pangdam Siliwangi), dari situ kami bicara dengan Pak Teten Masduki, lalu akhirnya bertemu dengan Presiden di titik nol Citarum," kata dia.

"Kami mencari ide yang unik dan mengeksplorasi kemungkinan angle yang bisa dilakukan untuk menceritakannya," kata Gary yang memang fokus pada isu polusi, air dan sampah plastik.

Dia mengaku tidak melakukan strategi marketing apapun pada akun-akun media sosial Make A Change World. "Semua organik, kami hanya membangun momentum dan menciptakan percakapan dari situ," kata dia.

Gary menyebutkan bahwa untuk membuat seri video tersebut dia mendapatkan pendanaan dari beberapa pihak swasta. "Tapi tidak banyak, itu hanya untuk biaya transportasi saja, selebihnya kami bayar sendiri," kata Gary.

Pria 23 tahun itu berjanji akan terus memantau jalannya proses pembersihan Citarum. Dia percaya bahwa Citarum akan bisa kembali menjadi sungai yang bersih jika semua pihak berkomitmen dan ikut serta dalam usaha pembersihan sungai itu.

"Tahun ini kami masih punya misi selanjutnya di wilayah Indonesia yang lain," kata dia.

Apa komentar pembuat film dokumenter?

Jurnalis dan pembuat film dokumenter Dandhy Laksono mengaku ikut senang dengan respon cepat pemerintah menanggapi film dokumenter tersebut.

"Saya senang kalau pemerintah aspiratif terhadap masukan dalam bentuk apapun dan dari siapapun. Apalagi respon untuk film dokumenter yang menunjukkan bahwa dokumenter juga bisa punya pengaruh," kata Dandhy.

Dandhy dan rumah produksi yang didirikannya, WatchDog, telah membuat banyak film dokumenter mengenai permasalahan sosial yang terjadi di berbagai tempat di Indonesia.

Film-film mereka juga kerap kali mendapatkan tanggapan dari pemerintah. "Tapi tanggapannya lucu-lucu," kata Dandhy.

Dia mencontohkan film Di Belakang Hotel yang diproduksi tahun 2014 mengenai kaitan industri pariwisata massal dan hilangnya akses warga terhadap air tanah.

Sultan Hamengkubuwono IX pun menonton film tersebut. "Setelah warga banyak menonton dan dibicarakan ramai, beliau mengatakan bahwa saya baru tahu nih dampak properti seperti ini," kata dia.

Meski Sultan sudah menonton, hingga kini Dendhy tidak melihat ada kebijakan yang dibuat untuk melindungi akses warga sekitar terhadap tanah atau air tanah.

Contoh kedua adalah pada film Samin vs Semen. "Gubernur Jawa Tengah bereaksi negatif dan mengatakan bahwa film ini kampanye negatif yang tidak mewakili suara orang-orang Samin," kata Dandhy.

Menurutnya, klaim Gubernur Ganjar tidak bisa dibuktikan. Film ini sudah banyak diapresiasi oleh warga dan dilihat di kampus-kampus.

"Bagi saya itu sudah pencapaian yang paling besar, meski tak satupun film itu menang festival dan mendapatkan penghargaan internasional, tidak sukses secara komersial," ujarnya.

Jika Gary sengaja memilih isu spesifik seperti Sungai Citarum, Dandhy mengaku memang sengaja mengangkat isu-isu besar yang penuh risiko politik.

"Menghentikan reklamasi di Teluk Jakarta atau Benoa 'kan risikonya besar untuk Presiden. Juga menghentikan pabrik semen yang sudah berinvestasi Rp 5 triliun, risikonya besar," kata dia.

Respon dari pemerintah hanya dianggapnya sebagai bonus. "Tujuan utama kami adalah bagaimana menguatkan kesadaran masyarakat. Saya membayangkan saya membayangkan film itu ditonton petani-petani lain yang menghadapi konflik serupa dan didiskusikan sehingga mereka punya kesadaran tentang pentingnya mempertahankan tanah," kata Dandhy.

Menurutnya dengan kesadaran yang terbangun di banyak tempat maka persoalan bisa selesai di banyak tempat pula.

"Misalnya kita menyelamatkan Citarum, ini positif. Tapi bagaimana Mahakam? Barito? Musi? Apakah ada perubahan paradigma dalam mengatasi masalah sampah?" kata dia.

Menurutnya yang terpenting untuk dilakukan adalah membangun kesadaran masyarakat dalam jangka panjang, siapapun presidennya,

Topik terkait

Berita terkait