Video 'Lucinta Luna': Kenapa ikut pusing pada identitas seksual orang?

Instagram/Melly.Bradley Hak atas foto Instagram/Melly.Bradley

Identitas seksual seorang penyanyi ramai diperdebatkan setelah munculnya video yang diklaim sebagai si penyanyi sesaat setelah melakukan operasi ganti kelamin. Warganet pun berdebat tentang perlu tidaknya orang menjelaskan identitas seksual sebelumnya.

Video yang disebar di akun Instagram milik pengguna @Melly.Bradley itu sudah disukai hampir 70.000 kali dan mendapat 36.000 lebih komentar.

Keterangan yang diberikan dalam foto tersebut 'menuntut' agar penyanyi dangdut Lucinta Luna untuk "jujur kepada masyarakat Indonesia bahwa dia adalah transgender".

Nama pedangdut Lucinta Luna kemudian masuk dalam dua istilah pencarian terpopuler Google dengan istilah 'Lucinta Luna Instagram' dan 'Lucita Luna' dengan masing-masing lebih dari 10.000 pencarian pada Senin (26/3).

Viralnya video tersebut kemudian memunculkan perdebatan ramai soal identitas seksual Lucinta Luna dan bahkan menjadi bahan olok-olok warganet di media sosial.

Namun tak sedikit juga yang menyatakan bahwa identitas seksual Lucinta Luna adalah hal pribadi yang tak seharusnya menjadi bagian dari konsumsi publik.

Tetapi, di antara pro-kontra ini, ada juga berbagai pertanyaan yang muncul tentang identitas seksual seorang transgender dan apakah mereka memiliki kewajiban untuk memberitahu soal masa lalunya.

Pilihan personal

Menurut peneliti di Pusat Kajian Gender dan Seksualitas Universitas Indonesia Gabriella Devi Benedicta, meski negara lewat pengadilan bisa terlibat dalam soal administrasi untuk membolehkan atau menolak permohonan ganti kelamin, namun keputusan untuk memberitahu riwayat seksual atau identitas adalah pilihan personal masing-masing.

"Kalau misalnya dia nyaman untuk menyampaikan, apalagi ini konteksnya ruang publik, kembali ke kenyamanan masing-masing individu," kata Gabriella.

"Dan terkait transgender ini, ada orang-orang yang coming out (melela, menyatakan) di depan publik, tapi banyak juga yang coming out baru ke temannya, ke keluarganya, itupun sering kali mendapat penolakan dan tidak diterima."

Fobia transgender, menurut Gabriella, adalah sesuatu "yang belum bisa dilepaskan dari masyarakat Indonesia".

"Memang ketika ada transgender yang mengemukakan identitasnya, itu pasti jadi sorotan publik," tambahnya.

Dan faktor inilah, selain juga ancaman kekerasan dan perundungan, yang menurutnya membuat belum banyak transgender yang mengemukakan identitasnya "secara gamblang" ke hadapan publik.

Izin pengadilan

Laporan soal dugaan identitas seksual Lucinta Luna muncul lewat pengajuan permohonan identitas kelamin atas nama Muhammad Fatah di PN Jakarta Barat.

Dalam pernyataan itu disebutkan bahwa akta kelahiran atas nama Muhammad Fatah kemudian diubah menjadi nama Ayluna Puti dengan jenis kelamin perempuan. Namun dokumen pengadilan kemudian mencatat bahwa permohonan itu kemudian dicabut.

Gabriella mengakui bahwa negara, lewat pengadilan, memang terlibat dalam permohonan untuk mengubah jenis kelamin karena terkait dengan proses administrasi negara.

"Kita ngurus dokumen apapun, secara publik, pasti ada jenis kelamin. Itulah kenapa instansi pemerintah, lewat pengadilan, ikut campur untuk mengurus itu," ujarnya.

Namun dalam penelitiannya terhadap pria transgender, atau mereka yang lahir secara biologis sebagai perempuan namun kemudian memilih identitas seksual sebagai laki-laki, Gabriella menemukan bahwa para pria transgender itu mengeluhkan "proses pengadilan yang begitu rumit".

"Ada pemeriksaan-pemeriksaan medis yang menurut mereka menyakitkan karena mereka harus melakukan operasi-operasi terlebih dahulu untuk bisa dinyatakan sebagai laki-laki misalnya, kalau dia dari perempuan. Dia akan diminta untuk membuka seluruh pakaiannya untuk memastikan bahwa dia benar-benar punya alat kelamin laki-laki, dengan ciri-ciri fisik laki-laki pula. Sangat menyakitkan dan memalukan," tambahnya.

Namun, Gabriella mengatakan bahwa pemeriksaan ini lebih menekankan pada unsur fisik pada seorang transgender, tapi mengabaikan soal "ekspresi gender yang merupakan hak setiap individu untuk menentukan identitas gender mereka sendiri".

"Masyarakat kita dan pengadilan masih melihat bahwa ekspresi gender dan jenis kelamin itu harus sejalan, tapi kan sebetulnya antara ekspresi gender dengan jenis kelamin itu bisa saja berbeda," ujarnya.

Berita terkait