Saat Kereta Bandara dinilai sering kosong, mahal, dan kacaukan kereta lain: Tujuh hal yang harus diketahui

Jokowi saat meresmikan kereta bandara, 2 Januari 2018. Hak atas foto Getty Images/BIMA SAKTI
Image caption Jokowi saat meresmikan kereta bandara, 2 Januari 2018.

Sejak pertama kali diluncurkan, kereta dari dan menuju Bandara Soekarno Hatta menjadi sumber kontroversi yang tak berkesudahan. Muncul fakta: kereta yang dimaksudkan sebagai tawaran mengatasi kemacetan ini ternyata sering kosong melompong.

Berikut beberpa hal yang perlu Anda ketahui soal kereta itu.

1. Ambisi proyek Rp 5 triliun

Kereta Bandara Soekarno Hatta berada di bawah manajemen PT Railink, anak perusahaan joint venture PT Kereta Api Indonesia (Persero) dengan PT Angkasa Pura II (Persero). Kereta bandara di Jakarta adalah produk kedua PT Railink setelah kereta di Bandara Kuala Namu, Sumatera Utara.

Total investasi yang dikeluarkan sebesar Rp5 triliun, dan ditargetkan bisa mengambil alih 30 persen penumpang yang selama ini menuju bandara dengan mengendarai mobil.

Kereta bandara Soekarno Hatta diresmikan oleh Presiden Joko Widodo pada 2 Januari 2018.

2. Harga tiket, waktu tempuh dan kapasitas

Kereta api bandara Soekarno-Hatta dibuat oleh PT INKA dengan mesin buatan Swedia dan interior dari Cina.

Dengan kecepatan 80 km/jam, kereta ini diharapkan dapat mengantarkan penumpang ke bandara dalam waktu 46 menit saja dari pusat kota Jakarta.

Satu rangkaian kereta terdiri dari enam gerbong dengan kapasitas 272 penumpang per rangkaian.

Harga tiketnya Rp70 ribu untuk hari kerja dan Rp35 ribu untuk Sabtu dan Minggu, ditambah promo diskon 50 persen hingga Mei 2018. Rutenya: Stasiun Sudirman Baru, Duri, Batu Ceper dan Bandara Soekarno Hatta.

Hingga Maret 2018, kereta bandara baru mengangkut 30 persen dari kapasitas penumpang yang bisa diangkutnya.

3. Para penglaju harus mengalah

Pada 29 Maret, jadwal keberangkatan kereta bandara yang tadinya setiap 1 jam (dengan tujuh jam yang setiap 30 menit) diperkerap menjadi setiap 30 menit.

Masalahnya, rel yang dipakai kereta bandara adalah rel yang sama dengan kereta ulang-alik yang menghubungkan Jakarta dengan kawasan pinggiran, Commuter Line.

Akibatnya, sejak hari itu juga, KRL jurusan Tangerang-Duri PP mengubah jadwal yang awalnya setiap 20 menit berkurang menjadi setiap 30 menit.

Para penumpang pun memprotes perubahan jadwal ini:

Ketika kereta bandara lebih sering, KRL ulang-alik Tangerang-Duri justru lebih jarang, padahal penumpangnya padat.

Akibatnya banyak penumpang KRL yang jadi tidak bisa diangkut, seperti dikeluhkan sejumlah warganet.

"Jadwal yang diubah jadi setengah jam hanya satu kali mengakibatkan penumpukan dan banyak penumpang yang tidak terangkut," kata Yunita Sari, yang memulai petisi di Change.org agar jadwal kereta dikembalikan seperti semula. Petisi ini telah ditandatangani lebih dari seribu orang.

4. Jalur dipindah karena kereta bandara

Akhir Maret lalu terjadi kekacauan di Stasiun Duri karena jalur yang biasanya dipakai untuk kereta jurusan Tangerang dijadikan jalur kereta bandara.

Menurut suvey BPS, KRL jurusan Kabupaten Tangerang dan Kota Tangerang adalah jurusan kedua yang paling banyak digunakan setelah jurusan Bogor.

Akibat perpindahan dari jalur 4 ke jalur 5, penumpang menumpuk di jalur 5.

"Jalur 5 hanya punya satu eskalator untuk keluar dan masuk, sehingga setiap jam sibuk, jalur 5 disesaki penumpang dari 8-10 gerbong yang akan berpindah jalur atau keluar stasiun," kata Yudhi Mardhani, inisiator petisi di Change.org.

Apalagi, stasiun-stasiun di jalur tersebut tak beratap sehingga jika hujan para penumpang akan kehujanan. Petisi pun meminta agar kereta komuter dikembalikan ke jalur 4.

Terhadap banyaknya keluhan para penumpang, tanggapan akun resmi @commuterline sama dan serupa dan berulang dengan pernyataan di Twitternya: "Perihal keluhan yang disampaikan, akan kami teruskan ke unit terkait sebagai bahan evaluasi kami kedepannya, tks."

5. Akan diperpanjang sampai Bekasi

Belum selesai masalah di jalur Tangerang, PT Railink meminta rute kereta bandara diperpanjang sampai Bekasi. Kementerian Perhubungan, seperti dilaporkan oleh Kompas.com, masih akan mengkaji permintaan tersebut.

Saat ini diperkirakan ada 70-90 ribu penumpang setiap harinya di jalur KRL Jakarta-Bekasi. Jalur rel Bekasi pun harus bergantian dengan kereta jarak jauh ke Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Menyambut rencana ini, warga pun membuat petisi online untuk menolak rencana ini. "Bila kereta bandara masuk, jalur Bekasi akan semakin padat. Berapa lama lagi pengguna KRL menunggu kereta?" demikian kata komunitas Jalur Bekasi dalam petisi mereka di Change.org.

Mereka meminta kereta bandara ke Bekasi ditunda sampai selesainya rel kereta ganda, agar kereta bandara tidak menganggu jadwal kereta komuter.

Media playback tidak ada di perangkat Anda
Kereta bandara resmi beroperasi, seperti apa?

6. Beberapa insiden terkait kereta bandara

  • Kereta pernah terhenti mendadak setelah berhenti di stasiun Batuceper, karena gangguan listrik pada awal Maret. Dua penumpang ketinggalan pesawat.
  • Tembok beton terowongan rel kereta di Jalan Perimeter Selatan, Bandara Soekarno Hatta, roboh. Satu orang tewas tertimbun. Pengoperasian kereta bandara dihentikan beberapa hari.

7. Sejumlah pesaing

Saingan utama kereta bandara adalah Bus Jakarta Airport Connection dari beberapa operator:

  • Bus Damri yang berangkat dari 19 titik di Jabodetabek. Harga tiketnya Rp 40 ribu. Beroperasi mulai pukul 03.00 sampai jam 20.00 dengan tarif Rp 35 ribu sampai Rp 60 ribu (ke Merak). Bus Damri paling bisa diandalkan untuk tujuan luar Jakarta seperti Serang dan Bogor.
  • Bus Blue Bird Airport Shuttle dengan delapan rute yang beroperasi pukul 06.00-23.00. Rutenya dari dan menuju berbagai mal dan hotel di Jakarta. Tiketnya Rp 40 ribu.
  • Bus Bandara Perum PPD dari Kelapa Gading, ITC Cempaka Mas dan Plaza Senayan pukul 05.00-21.30. Tarifnya Rp 30-35 ribu.

Berita terkait