Dari Mako Brimob sampai Polrestabes Surabaya: Satu minggu penuh teror

Warga melayat Sri Puji, salah seorang korban pengeboman di Gereja Pantekosta, Surabaya. Hak atas foto AFP
Image caption Warga melayat Sri Puji, salah seorang korban pengeboman di Gereja Pantekosta, Surabaya.

Selama satu minggu, tujuh hari berturut-turut, Indonesia diserbu teror. Dari kerusuhan di Rutan Mako Brimob yang menewaskan lima polisi, hingga bom bunuh diri tiga keluarga di Surabaya. Berikut ini urutan ketegangan yang terjadi dari hari ke hari.

Selasa, 8 Mei hingga Senin 14 Mei adalah pekan yang penuh ketegangan dan teror. Narapidana terorisme mengambil alih Rutan Mako Brimob, Depok. Dan di Surabaya, untuk pertama kalinya di Indonesia, bom bunuh diri dilakukan sekeluarga inti, ayah, ibu yang membawa serta anak-anak mereka. Simak urutannya:

Selasa 8 Mei 2018

Kabar adanya kerusuhan di Rutan Mako Brimob dikonfirmasi oleh Polisi menjelang tengah malam. Menurut Polisi, kerusuhan tersebut bermula dari cekcok tahanan dan petugas.

Rabu 9 Mei 2018

Lima orang polisi meninggal. Napi teroris merebut senjata petugas dan mengambil alih rutan.

Satu polisi masih disandera sejumlah narapidana terorisme. Sementara, seorang teroris ditembak mati oleh aparat polisi saat kerusuhan.

Kamis, 10 Mei 2018

Pagi hari, perlawanan para napi teroris di Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat, akhirnya dipatahkan.

Setelah insiden usai, tampak sembilan bus ke luar dengan kecepatan tinggi dari Mako Brimob, membawa sekitar 145 narapidana terorisme, yang terlibat kerusuhan, ke Lembaga Pemasyarakatan Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah.

Jumat, 11 Mei 2018

Seorang anggota polisi tewas ditusuk teroris yang ditangkapnya karena bersikap mencurigakan. Teroris tersebut kemudian ditembak di tempat.

Seorang terduga teroris berinisial RA ditembak mati setelah melawan petugas polisi yang menangkapnya bersama tiga rekannya di kawasan Stasiun Tambun, Bekasi, Jumat dini hari.

Sabtu, 12 Mei 2018

Dua perempuan, Dita Siska Millenia dan Siska Nur Azizah ditangkap polisi karena diduga akan melakukan penusukan kepada anggota Brimob di Mako Brimob.

Hak atas foto Antara/MOCH ASIM
Image caption Kapolrestabes Surabaya Kombes Pol Rudy Setiawan (kanan) menghimbau warga untuk menjauh dari sekitar lokasi ledakan di Gereja Pantekosta Pusat Surabaya, Minggu 13/5.

Minggu 13 Mei 2018, pukul 02.00

Empat orang terduga teroris di Cianjur tewas ditembak polisi. Keempat orang tersebut merupakan anggota Jamaah Ansharut Daulah, pimpinan Aman Abdurrahman, dan diduga akan melakukan serangan terhadap aparat kepolisian, kata juru bicara polisi, Irjen Setyo Wasisto, Minggu (13/05).

Mengendarai kendaraan roda empat, empat orang itu hendak menuju Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok, tetapi dihadang oleh aparat kepolisian di Cianjur, Jawa Barat, Minggu dini hari, demikian keterangan polisi.

Minggu, 13 Mei 2018, pukul 07.30

Hak atas foto Antara/ARI BOW0 SUCIPTO
Image caption Maria Hamdani, memasang foto bibinya, Mayawati yang menjadi korban bom di Gereja Santa Maria Tak Bercela. Mayawati sempat dirawat di Rumah Sakit Bhayangkara selama 12 jam. ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto

Bom meledak di tiga gereja di Surabaya: Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela, Gereja Pantekosta Jalan Arjuna, GKI di Jalan Diponegoro.

Pelaku satu keluarga, enam tewas. Mereka adalah pemimpin JAD Surabaya, Dita, istri dan keempat anaknya.

Warga yang meninggal mencapai 12 orang dalam tiga kejadian dan puluhan luka-luka.

Minggu, 13 Mei 2018, pukul 22.50

Ada ledakan di rumah susun Wonocolo di Sidoarjo, diduga karena para teroris tak sengaja meledakkan bomnya sendiri.

Anton Febrianto (47) tewas dalam keadaan memegang saklar bom bersama istrinya, Puspita Sari (47) dan anak pertamanya, LAR (17).

Tiga anak lainnya, LAR (15), FP (11), GHA (11) luka-luka dan dirawat di Rumah Sakit Bhayangkara.

Kapolri Tito Karnavian mengatakan jenis bom yang digunakan dalam serangan di Surabaya ialah bom pipa dengan bahan peledak Triaseton Triperoksida (TATP). Bahan peledak yang sering digunakan oleh ISIS di Irak dan Suriah ini memiliki daya ledak luar biasa sehingga dijuluki 'Mother of Satan' atau 'Ibu Setan'.

Namun senyawa tersebut kurang stabil, sehingga bisa meledak tanpa detonator. Inilah yang terjadi di Rusunawa Wonocolo di Sidoarjo.

"Setelah kita datangi TKP, ternyata itu adalah ledakan yang terjadi karena kecelakaan; kemungkinan besar oleh perilaku sendiri," kata Tito dalam jumpa pers di Surabaya.

Kapolri mengatakan bahwa Anton adalah teman pelaku bom bunuh diri di Gereja Pantekosta GPPS Arjuno.

Hak atas foto CCTV Polrestabes Surabaya
Image caption CCTV yang merekam serangan bom di Polrestabes Surabaya.

Senin, 14 Mei 2018, pukul 08.50

Serangan bom bunuh diri ke Polrestabes Surabaya dilakukan oleh empat orang dengan dua sepeda motor. Dari rekaman CCTV terlihat, pelakunya adalah satu keluarga berisi lima orang yang naik dua sepeda motor.

"Keempatnya tewas," kata Jubir Polda Jatim, Kombes Frans Barung Mangera.

Adapun seorang anak kecil yang dihimpit di salah satu sepeda motor, antara pengemudi dan perempuan yang digoncengnya, selamat.

"Ia dilarikan ke rumah sakit, dan semoga selamat," kata Frans Barung pula.

Kepala keluarga itu bernama TM, yang tewas bersama istri dan dua anaknya.

Empat polisi dan enam warga sipil terluka.

Image caption Peta tempat kejadian.

Total, 25 tewas dalam bom yang diledakkan tiga keluarga. 13 orang pelaku (termasuk 7 anak-anak) dan 12 warga.

Senin, 14 Mei 2018

Polisi menangkap sembilan orang di Surabaya, antara lain di Graha Pena dan di kawasan Jembatan Merah Surabaya.

Empat orang ditembak mati karena, menurut juru bicara Polda Jatim, melawan dan membahayakan petugas.

Sepanjang 14 Mei sempat terjadi kepanikan dan isu bom di beberapa tempat. Masyarakat diminta waspada dan tidak mudah percaya isu.

Topik terkait

Berita terkait