Apakah sekarang saatnya memensiunkan kotak hitam?

Kotak hitam Hak atas foto AP
Image caption Kotak hitam pesawat Germanwings ini berasal dari pesawat yang ditabrakkan kopilot di kawasan Alpen di Prancis.

Para petugas memerlukan waktu hampir satu bulan untuk menemukan lokasi kotak hitam pesawat EgyptAir nomor penerbangan 804 yang jatuh di Laut Tengah, Mei 2015.

Setelah lokasi diketahui, masih diperlukan beberapa hari untuk mengambil kotak hitam yang berada di dasar laut yang memiliki kedalaman 3.000 meter tersebut.

Para petugas mengerahkan semua sumber daya yang ada untuk mengambil peranti ini, karena pada alat inilah terdapat perekam data penerbangan dan rekaman pembicaraan pilot.

Di era ketika NASA bisa mengoperasikan wahana peneliti di permukaan Mars, yang lokasinya puluhan juta kilometer dari Bumi, era ketika telepon genggam bisa menerima informasi lalu lintas setiap menit, mengapa kita tak bisa melacak lokasi pesawat terbang komersial secara real time?

Apakah memang tak memungkinkan semua data penerbangan dikirim ke pusat data di darat?

Mengapa juga dalam beberapa kasus pesawat yang hilang, seperti pesawat milik Malaysia Airlines nomor penerbangan MH370, belum juga terpecahkan, dua tahun lebih sejak pesawat ini menghilang dari radar dalam penerbangan dari Kuala Lumpur menuju Beijing?

Apakah kotak hitam ini sudah saatnya dipensiunkan saja dan diganti dengan teknologi lain?

Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, ada baiknya kita bahas dulu apa sebenarnya kotak hitam itu.

Tak berwarna hitam

Ukuran kotak hitam kira-kira sama dengan kotak sepatu, memiliki berat sekitar 4,5 kg dengan harga Rp245 juta per satu unit.

Biasanya kotak hitam diletakkan di bagian ekor pesawat, dengan pertimbangan ketika kecelakaan, bagian pesawat ini mengalami impak yang relatif lebih kecil dibandingkan bagian pesawat lain.

Dengan begitu, harapannya adalah kotak hitam tak mengalami kerusakan parah.

Jika terendam, secara otomatis penentu lokasi akan mengirim sinyal hingga 90 hari.

Badan Penerbangan Federal Amerika Serikat (FAA) mewajibkan semua pesawat komersial membawa dua peranti -keduanya sama-sama dinamakan kotak hitam- untuk membantu penyelidik menyimpulkan sebab-sebab kecelakaan.

Yang pertama adalah perekam data penerbangan (flight data recorder) yang menyimpan informasi 88 parameter yang berbeda, mulai dari kompas, arah, ketinggian, hingga kecepatan pesawat di udara.

Apa yang terjadi selama penerbangan dalam kurun 25 jam terakhir akan direkam oleh alat ini.

FAA juga mewajibkan perekam suara kokpit, yang merekam semua pembicaraan awak pesawat dalam dua jam terakhir. Yang juga direkam oleh alat ini adalah suara-suara lain, seperti alarm yang otomatis akan berbunyi ketika pesawat terbang terlalu rendah.

"Perekam data penerbangan akan memberi tahu kita bagaimana kecelakaan terjadi," kata Greg Marshall, wakil presiden Flight Safety Foundation, organisasi nirlaba di AS yang menyediakan panduan keselamatan udara.

"Sementara itu, perekam suara di kokpit akan memberi informasi mengapa terjadi kecelakaan," jelas Marshall.

Yang juga perlu diketahui adalah, alat ini tak berwarna hitam. Warnya oranye terang.

Mengapa disebut kotak hitam? Mungkin karena alat ini biasanya berubah warnanya menjadi kusam akibat terbakar ketika ditemukan.

Nyaris tak bisa hancur

Hak atas foto AFP
Image caption Regulator dan pelaku industri penerbangan dari waktu ke waktu mencari terobosan teknologi yang membuat perjalanan udara makin aman dan nyaman.

Perekam data penerbangan mendapatkan informasi melalui alat perantara yang biasa disebut unit pengumpul atau flight data acquisition unit. Unit ini menerima semua data dari sensor yang ditempatkan di badan pesawat.

Informasinya kemudian disimpan di keping-keping memori yang memiliki kapasitas simpan sangat besar, hingga beberapa terabita.

Perekam suara kokpit memiliki sistem kerja yang sama.

Alat perekam -baik yang dipakai oleh pilot maupun perekam suara lain (seperti alarm)- menyimpan data audio yang kemudian dikirim dan disimpan di keping-keping memori.

Data-data ini sangat berharga karena menyimpan informasi penting yang nantinya akan dipakai sebagai dasar untuk menentukan penyebab kecelakaan pesawat.

Kotak hitam dirancang sedemikian rupa sehingga bisa menyimpan dan menyelamatkan data penting tersebut.

Kotak pembungkusnya terbuat dari alumunium, lalu ada lapisan insulasi yang berfungsi melindungi peranti dari suhu tinggi, dan akhirnya di bagian terluar ada pembungkus dari bahan titanium atau baja.

Sebelum dipasang di jet komersial, kotak hitam dites berulang kali diuji untuk memastikan tidak mudah rusak atau hancur.

Kapan mulai dipakai?

Pengumpulan data penerbangan dirasa perlu sekitar enam dekade lalu seiring dengan populernya perjalanan udara.

"Sebelum era kotak hitam, penyebab kecelakaan hanya sebatas teori. Kita hanya bisa menduga-duga saja, sebab-sebab kecelakaan tak bisa dipastikan," kata Marshall.

"Di era sekarang, data dan informasi penerbangan sangat vital karena memungkinkan tim penyelidik mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dengan pesawat yang mengalami kecelakaan," urainya.

Dengan data yang ada di kotak hitam, penyelidikan bisa berjalan jauh lebih cepat.

Pada masa-masa awal, perekam data penerbangan hanya bisa melacak lima parameter saja, yaitu arah kompas, ketinggian, kecepataan pesawat ketika berada di udara, waktu, dan akselerasi vertikal.

Pada 1960-an pemerintah Amerika mewajibkan rekaman suara di kokpit.

Ketika itu rekaman pembicaraan kokpit memakai pita kaset.

Apa yang membuat kotak hitam bisa bertahan?

Jarang sekali kotak hitam pesawat hancur atau tak bisa ditemukan.

Dalam sejarah penerbangan modern kasus di atas hanya terjadi tiga kali, yang pertama adalah kotak hitam MH370 dan kotak hitam dua pesawat yang menabrak gedung World Trade Center di New York pada 11 September 2001.

Ketiganya hingga saat ini tidak atau belum ditemukan.

"Ini adalah anomali investigasi," kata Sarah McComb, penyelidik di Badan Keselamatan Transportasi Nasional AS.

"Yang juga sangat jarang adalah kotak hitam yang datanya tak bisa dianalisis," kata McComb.

Yang biasanya terjadi adalah data rekaman suara di kokpit langsung memberi tahu para penyelidik apa yang terjadi terhadap pesawat yang naas.

Misalnya dalam kasus Germanwings nomor penerbangan 9525 yang jatuh di kawasan Alpen Prancis pada Maret 2015. Perekam penerbangan mengungkap bahwa kru yang mengendalikan pesawat secara sengaja menurunkan ketinggian pesawat dan menambah kecepatan sebelum menabrak pegunungan.

Rekaman suara di kokpit juga menunjukkan pilot menggedor pintu kokpit dan berteriak, "Buka pintunya!". Di latar belakang terdengar para penumpang menjerit.

Dari berbagai data ini, tim penyelidik menyimpulkan bahwa kopilot Andreas Lubitz mengunci pintu kokpit dan sengaja menabrakkan pesawat.

"Teknologi perekam yang kita punyai sekarang masih sangat efektif ... tapi tentu saja kami akan terus melakukan improvisasi," kata McComb.

Teknologi alternatif

Hak atas foto Reuters
Image caption Tim penyelidik jatuhnya pesawat Germanwings dengan cepat bisa menyimpulkan sebab-sebab kecelakaan.

Beberapa kalangan mengusulkan perekam yang otomatis akan terlontar dari badan pesawat ketika pesawat mengalamai kecelakaan.

Juga ada usulan tentang pengiriman data penerbangan ke darat dan juga usul pemasangan video di kokpit.

"Untuk video, masih ada penentangan dari para pilot. Mereka keberatan," kata McComb.

Usulan perbaikan bisa datang dari berbagai pihak, mulai dari pakar, regulator, hingga maskapai penerbangan seperti Qatar Airways yang berencana mengirim data penerbangan pesawat mereka ke pusat pengedali di darat.

Namun yang perlu dipahami adalah badan-badan regulator perjalanan udara, badan pemerintah, dan maskapai sering kali tidak bisa langsung menerapkan perubahan kebijakan yang diusulkan.

Perubahan regulasi adalah hal yang sangat kompleks, mahal, dan lambat.

Untuk urusan kotak hitam ini, jika nanti diputuskan ada perubahan, maka alat baru harus dipasang ke semua pesawat yang jumlahnya ribuan di seluruh dunia.

Tak mengherankan kalau kotak hitam ini, meski dari sisi teknologi sudah sangat lama, masih dipakai dan mungkin tak bisa dipensiunkan begitu saja, mungkin setidaknya hingga beberapa dekade ke depan.

Artikel asli dalam bahasa Inggris: Is it time to retire the black box? yang ditulis Elise Craig dan artikel-artikel lain sejenis bisa Anda baca di BBC Autos.

Topik terkait

Berita terkait