Seberapa besar bahaya telepon genggam di dalam pesawat?

pesawat, keamanan Hak atas foto BBC.com
Image caption Departemen Perhubungan AS sudah melarang keberadaan telepon pintar Samsung Galaxy Note 7 di semua pesawat di negara itu.

Jika naik pesawat, Anda akan membawa telepon genggam ke dalam pesawat. Namun telepon yang semakin canggih membuat maskapai penerbangan dan pemerintah prihatin dengan masalah keamanan. Dan dalam kasus telepon Samsung yang bermasalah baru-baru ini, kekhawatiran itu menjadi kenyataan.

Departemen Perhubungan Amerika Serikat secara resmi sudah melarang telepon pintar Samsung Galaxy Note 7 dari semua pesawat di negara itu. "Penumpang yang berupaya untuk melanggar larangan dengan menaruh telepon mereka ke dalam tas yang dibawa ke dalam kabin meningkatkan risiko insiden besar," seperti dinyatakan peraturan baru penerbangan tersebut.

Beritanya sudah diketahui meluas. Beberapa pekan setelah raksasa elektronik Korea Selatan itu meluncurkan telepon tersebut pada Agustus, muncul sejumlah laporan dari berbagai belahan dunia tentang baterai litium-nya yang terbakar ketika dicas.

Sekitar 2,5 juta telepon jenis itu terjual di seluru dunia sebelum Samsung mengumumkan penarikannya. Awal Oktober, perusahaan mengumumkan akan menghentikan produksinya Galaxy Note.

Insiden ini menjadi kasus terbaru menyangkut telepon genggam yang menciptakan masalah bagi maskapai penerbangan maupun pemerintah selama bertahun-tahun. Barang elektronik yang meledak terbakar jelas merupakan ancaman bahaya walau masalah-masalah lainnya tidak terlalu jelas sehingga membuat banyak di antara kita mennjadi tidak yakin tentang hal yang dianggap aman dan tidak aman.

Telepon sebagai senjata teroris

Setelah serangan 09/11, perang melawan terorisme dan perkembangan pesat peralatan elektronik individu (PED) membuat hubungan antara pesawat terbang dan telepon genggam menjadi semakin rumit.

Hak atas foto BBC.com
Image caption Samsung sudah mengumumkan penghentian produksi Galaxy Note 7.

Tahun 2014, Badan Keamanan Transportasi Amerika Serikat atau TSA -yang dibentuk tahun 2011 sebagai tanggapan atas serangan teroris 11 September- memberlakukan peraturan baru tentang PED yang dibawa masuk ke dalam kabin: jika terbang dari negara lain ke Amerika Serikat maka peralatan itu harus memiliki baterai yang cukup untuk dinyalakan kalau diminta aparat keamanan.

Kenapa?

Ada kekhawatiran teroris global bisa mengganti baterai di peralatan elektronik -seperti telepon genggam- dengan bom kecil. Bom-bom kecil itu bisa tidak terlihat atau tidak terdeteksi oleh X-ray maupun detektor logam, begitulah kata badan tersebut. Peraturan yang disebut sebagai 'langkah pengamanan tambahan' itu diterapkan di beberapa bandara, termasuk untuk penerbangan langsung Amerika Serikat dan Inggris.

Namun bagaimana ancaman sebenarnya?

Prosedur TSA merupakan perintah dari Departemen Keamanan Dalam Negeri AS. "Keamanan penerbangan mencakup berbagai langkah, yang terlihat maupun tidak terlihat, diinformasikan oleh lingkungan yang berubah," kata Menteri Keamanan Dalam Negeri, Jeh Johnson, dalam sebuah pernyataan tahun 2014, tanpa memberikan konteks maupun penjelasan lebih lanjut. TSA kemudian memberi saran agar penumpang menyiapkan pengecas baterai.

Image caption Salah satu kasus menyebutkan kapten melaporkan kemungkinan gangguan dari telepon genggam di dalam kabin.

"TSA bekerja sama erat dengan mitra komunitas intelijen untuk menjamin keamanan penerbangan yang tertinggi, tanpa gangguan yang tidak diperlukan atas para penumpang," tulis TSA dalam pernyataan kepada BBC.

"Kami tidak membahas secara terbuka informasi tentang elemen khusus dari keamanan. Kami akan terus melakukan penyesuaian yang dibutuhkan untuk protokol keamanan guna memenuhi ancaman yang berubah."

Untunglah masih belum ada insiden di dalam pesawat yang diketahui yang melibatkan bom yang tersembunyi di telepon genggam.

Telepon mengganggu komunikasi dengan pesawat

Begitu para penumpang yang kerap keliling dunia duduk di kursi akan segera terdengar permintaan dari awak pesawat yang sudah amat biasa: "Bapak dan ibu, mohon ubah telepon genggam Anda ke mode penerbangan.

Namun bagaimana jika seorang penumpang membiarkan telepon genggamnya tanpa mode penerbangan? Kemungkinan terburuk apa yang bisa terjadi?

Karena telepon genggam menyebarkan gelombang radio, ada kemungkinan mengganggu komunikasi pesawat, seperti sistem pencegah kecelakaan dan radar. Bahkan ada kemungkinan mengganggu perangkat pendengar pilot. Itulah sebabnya ada mode penerbangan, yaitu untuk mematikan teknologi penyebar gelombang radio.

Namun kenyataannya banyak penumpang yang secara tidak sengaja membiarkan telepon genggammnya hidup sepanjang penerbangan dan tidak ada dampak buruknya. Dalam sebuah survei tahun 2013, sekitar empat dari 10 penumpang pesawat di AS mengaku mereka tidak selalu mematikan peralatan elektronik mereka.

NASA sudah menyusun daftar insiden terkait PED yang pernah terjadi di dalam pesawat. Dalam daftar yang diperbarui bulan Januari itu, sedikitnya ada lima insiden yang melibatkan penyebaran sinyal dari telepon genggam.

Salah satu kasus tertulis seperti ini: "Kapten melaporkan kemungkinan gangguan dari telepon genggam di dalam kabin yang bisa menjadi penyebab ketidakwajaran yang dialami sepanjang penerbangan."

Namun tidak ada insiden pasti yang berbahaya tentang telepon genggam yang tidak disetel mode penerbangannya yang menyebabkan pesawat jatuh atau terjadi kecelakaan. Bagaimapun sejalan dengan kekhawatiran pihak berwenang, lebih baik mentaati peraturan demi kehati-hatian.

Yang paling penting: peralatannya harus aman

Bisakah semua peraturan dan pemeriksaan keamanan menjadi lebih longgar? Mungkin dan pernah terjadi sebelumnya.Misalnya, sebelum tahun 2013, telepon genggam dan peralatan elektronik lainnya harus mati total dalam sejumlah penerbangan, jadi bukan sekedar disetel agar tidak menyebarkan gelombang radio. Otorita Penerbangan AS kemudian mencabut persyaratan itu, yang juga dilakukan badan-badan penerbangan di negara lain.

Singkirkan dulu masalah keamanan maupun sinyal, dan masalah nyata yang dihadapi Samsung adalah peralatan elektronik seperti telepon genggam, yang mendapat energi dari baterai litium-ion, harus aman secara fisik jika digunakan konsumen.

Baterai-baterai yang mudah panas dan meledak, merupakan hal yang perlu dipikirkan oleh pabrik elektronik sebelum menciptakan produk yang akan digunakan para penumpang di bandara.

Peralatan elektronik yang 'rusak' berada di dalam pesawat menjadi alasan untuk khawatir.

Dan untuk semua ancaman lain yang terkait dengan telepon genggam -yang membuat Anda harus melewati pemeriksaan keamanan yang rumit atau membuat Anda tidak bisa mengirim pesan SMS selama beberapa jam di udara- maka ketahuilah: lebih baik aman daripada menyesal.

Baca artikel aslinya dalam Bahasa Inggris: How dangerous are phone on planes? dan artikel tentang transportasi lainnya di BBC Autos.

Topik terkait

Berita terkait