Kegemaran makanan manis di India ciptakan peluang bisnis cokelat

Cokelat Hak atas foto b-yond TV
Image caption Cokelat yang dibuat secara tradisional dijual tiga kali lipat dibandingkan cokelat yang dibuat dengan mesin.

Orang India sudah lama gemar mengonsumsi makanan manis.

Di hampir setiap pojok jalan di kota-kota India, pengunjung dapat menemukan toko-toko manisan yang menjual ratusan jenis gula-gula, mulai dari gulab jamun (adonan bundar yang digoreng dan kemudian direndam di dalam sirup gula), hingga barfi (gula-gula yang dibuat dari susu kental dan dicampur dengan gula).

Sekarang, kegemaran akan makanan manis —dan peningkatan jumlah kelas menengah di India— menciptakan industri yang berkembang pesat: cokelat yang dibuat secara tradisional dengan bahan-bahan setempat.

Pada saat ini, cokelat tradisional yang dibuat dengan tangan ditaksir bernilai US$3 juta atau sekitar Rp39 miliar dari total US$2,8 miliar industri cokelat di negara itu, tetapi sektor cokelat tradisional diperkirakan akan terus tumbuh.

Peningkatan permintaan diantisipasi terjadi bersamaan dengan perayaan Diwali pada 30 Oktober lalu.

Orang India khususnya yang beragama Hindu biasanya bertukar hadiah dalam perayaan hari besar tersebut dan mereka sekarang mencari hadiah alternatif sebagai ganti dari gula-gula tradisional.

Cokelat yang dibuat dari biji kakao lokal dan kemudian diolah menjadi batangan cokelat produksi India pertama kali dijual sekitar empat tahun lalu. Negara itu sekarang mempunyai empat produsen cokelat seperti itu dan dalam tempo tiga tahun jumlahnya diperkirakan akan mencapai 40 produsen.

Paling tidak itulah perkiraan Nitin Chordia, juru rasa cokeleat bersertifikat yang pertama di India.

Karena jumlah pendapatan yang siap dibelanjakan bertambah pesat, orang India rela membelanjakan uang mereka untuk membeli batangan cokelat produksi dalam negeri.

Batangan cokelat yang sepenuhnya bersumber bahan asli setempat mulai dari biji kakao hingga batangan bisa dijual seharga US$4,50 atau setara dengan Rp58.000, sekitar tiga kali lebih mahal dibandingkan harga batangan cokelat yang diproduksi secara massal di sana.

Hak atas foto AFP
Image caption Perayaan hari-hari besar di India turut mendorong penjualan cokelat mahal.

Batangan cokelat yang dibuat secara tradisional ini biasanya tanpa bahan tambahan buatan dengan kandungan kakao lebih tinggi dan kandungan gula lebih sedikit.

Karena India tercatat sebagai salah satu dari tiga negara yang mempunyai penderita diabetes tertinggi di dunia dan jumlah kasusnya mencapai hampir 70 juta, cokelat yang lebih alamiah juga dipasarkan sebagai alternatif lebih sehat oleh sebagian dokter dan bahkan pemerintah sendiri, yang memberikan bantuan kepada petani untuk membantu menanam kakao.

"Orang India tidak mengidamkan cokelat. Mereka mengidamkan gula," jelas Chordia.

"Selain gula-gula tradisional India, yang dimakan oleh hampir setiap orang setiap hari, bahkan cokelat batangan yang diproduksi secara massal di sini sebagian besar kandungannya adalah gula. Jadi kita mendidik orang tentang cokelat."

Versi bahasa Inggris artikel ini India's sweet tooth turns to artisanal chocolate dan tulisan-tulisan bisnis lain dapat Anda temukan di BBC Capital.

Topik terkait

Berita terkait