Mengapa kita tetap masuk kerja meskipun sakit?

kerja Hak atas foto fotostorm

Para pembaca BBC menjelaskan tekanan yang mereka rasakan saat bekerja meskipun sebenarnya sedang sakit, tulis Alison Birrane.

Anda bangun merasa sakit: di persendian, mual, sakit kepala hebat. Anda harus mengambil keputusan.

Apakah melawan rasa sakit dan membawa tubuh Anda ke tempat kerja, meskipun Anda sekarat? Atau Anda lebih berkemungkinan tetap berselimut dan izin sakit?

Sementara akal sehat mengatakan istirahat akan membantu kesembuhan, pertanyaannya apakah tidak masuk karena sakit atau tidak, kemungkinan tidaklah semudah itu.

Atasan yang banyak menuntut, ketidakamanan pekerjaan, cenderung gila kerja atau tekanan rekan kemungkinan mempengaruhi keputusan apakah akan bangkit dari tempat tidur, meskipun Anda sakit parah.

Anda kemungkinan juga merasa perlu ke kantor saat sakit untuk membuktikan Anda tidak berpura-pura, guna menunjukkan Anda benar-benar sakit, sebelum Anda merasa beralasan untuk kembali ke rumah.

Dan memang kajian mengenai hal ini menunjukkan Anda bukan satu-satunya orang yang merasakannya. Dan, dengan adanya pilihan bekerja di tempat yang jauh pada zaman teknologi tinggi, apakah menjadi alasan untuk tetap bekerja seberapa sakitnya pun Anda?

Sebagai lanjutan tulisan baru-baru ini tentang aspek psikologi di balik alasan mengapa bekerja saat sakit, kami menyampaikan pertanyaan kepada Anda, pembaca halaman Facebook BBC Capital, "Apakah Anda pernah merasa terpaksa bekerja meskipun sedang sakit?"

Jawaban Anda memberikan pencerahan, lewat jawaban meyakinkan "ya". Tetapi mengapa?

Mereka mengamati

Pertama, 'mesin personalia' di sejumlah perusahaan mengamati dengan seksama jumlah hari pegawai tidak bekerja. Itulah yang terjadi pada John Stokes, "Setiap kali saya izin sakit, program gaji muncul dengan peringatan "tingkat absen".

Ini berarti dia kadang-kadang mengambil cuti tahunan saat sakit agar tidak menarik perhatian.

"Saya bisa bekerja dengan menggunakan sarana telekomunikasi, jadi saya biasanya berusaha bekerja dari rumah saat sakit. Jika saya terlalu sakit untuk bekerja dan telah melampaui 'yang dianjurkan', saya mengambil cuti tahunan," tulisnya.

Lebih bermasalah

Bagi lainnya, seperti Abigail Brownell, terdapat rasa bersalah karena membebani rekannya terkait tugas tambahan jika dia sakit.

Dan sebagai seorang guru, dia tetap memerlukan waktu beberapa jam untuk mempersiapkan pekerjaan bagi muridnya sebelum memberikannya kepada orang lain dan pulang.

Kesimpulannya? Cuti sakit tidak berguna jika Anda seorang guru.

"Saya mengalami tekanan untuk bekerja meskipun saya sakit," tulisnya. "Terdapat kekurangan guru pengganti jadi jika saya cuti sakit, rekan-rekan lain harus mengambil alih pekerjaan saya dan tugas mereka sendiri."

Saumy Prateek Jha setuju terdapat banyak tekanan untuk bekerja meskipun sedang sakit.

"Jika saya cuti sakit, hari-hari berikut di kantor sama dengan neraka."

Dokter pun menghadapi tekanan untuk bekerja saat sakit.

"Sebagai dokter, saya berkali-kali bekerja saat sakit," tulis Imperial Ahmed.

"Rasa bersalah karena tidak mampu merawat pasien dan tekanan untuk tidak membebani rekan saya dengan pasien membuat saya tetap bekerja meskipun sedang mengalami radang paru-paru."

Sakit? Apakah itu?

Tempat kerja lain lebih praktis. Bagi Karolina Ibranyi-Matkovits, bekerja dari rumah atau cuti sakit bukanlah masalahnya karena pengaturan kerja fleksibel selama dia dapat mengatur sasaran.

Hak atas foto Clerkenwell
Image caption Jika personalia mengawasi, sulit untuk cuti sakit.

"Jika tidak sehat (kami) memiliki sasaran yang harus dipenuhi, jadi kami bekerja dari rumah. Kami memang cukup sehat untuk bekerja, tetapi tidak mampu melakukan perjalanan atau bergerak. Belum lagi masalah menyebarkan penyakit. Ini memungkinkan (Anda) untuk mengatur beban kerja disamping membuat diri Anda menjadi sehat," tulisnya.

"Dan jika Anda sakit berat, maka Anda memang sakit dan mengambil cuti sakit."

Tetapi bagi yang lainnya, keadaannya lebih rumit.

"Saya bebas mengambil cuti sakit," tulis Victoria Kalinin. "Meskipun demikian dalam kasus saya "mengambil cuti sakit" sama artinya dengan saya bekerja dari rumah."

Tekanan seperti ini tidaklah aneh di tempat dia bekerja, tambahnya.

"Bekerja saat cuti sakit, akhir minggu dan liburan sudah menjadi biasa dan semua orang diharapkan melakukannya. Jika Anda tidak mengerjakannya, maka Anda membunuh diri sendiri."

Dan memang tekanan sejenis ini yang pada akhirnya membuat Lorena Marianne mengundurkan diri.

Bukan hanya tekanan saat sakit, tetapi sering kali juga saat liburan akhir minggu yang pada akhirnya membuat Anda bekerja penuh selama sebulan tanpa satu hari libur pun.

"Pada akhirnya saya mengundurkan diri," kata Marianne.

Versi bahasa Inggris tulisan ini bisa Anda baca di The reason we don't call in sick when we are ill di BBC Capital.

Topik terkait

Berita terkait