Sikap selalu siap bekerja punya sejumlah kelebihan

alwayson Hak atas foto iStock

Cara tercepat bagi diri saya untuk menjadi gila adalah mencoba bekerja pada jam umumnya seperti dilaporkan oleh Renuka Rayasam.

Traci Fiatte gemar memeriksa email pada hari Minggu malam karena hal ini membantunya untuk mempersiapkan diri dalam menghadapi minggu berikutnya.

Tetapi lima tahun lalu, Fiatte, presiden Randstad US, menyadari kecenderungan gila kerjanya kadang-kadang meresahkan pegawainya.

"Yang saya saksikan saat wawancara adalah orang tidak ingin naik jabatan karena takut kehilangan kehidupan pribadi," kata Fiatte. "Ini membuka mata saya. Mereka melakukannya karena saya."

Sama seperti Fiatte, sebagian besar dari kita bekerja setiap jam dan memeriksa urusan kantor saat seharusnya bersantai. Lebih setengah orang yang diteliti pada tahun 2013 oleh Asosiasi Psikilogi Amerika Serikat (APA) dilaporkan mengecek pesan pekerjaan paling tidak satu kali sehari saat akhir minggu, liburan atau ketika sakit.

Tetapi, ini bukan hal yang buruk bagi semua orang, kata David Ballard, dari APA, Kebanyakan pekerja di survei APA dilaporkan bahagia karena mampu menggabungkan pekerjaan dengan kehidupan pribadi.

Sekitar 71% yang disurvei mengatakan mereka mengontrol waktunya dan 56% menyebutkan teknologi memudahkan penyelesaian pekerjaan.

"Pengaruh positifnya mengejutkan," kata Ballard. "Orang menghubungkannya dengan peningkatan produktivitas, fleksibilitas dan memudahkan merampungkan pekerjaan."

Chris Hale, memulai perusahaan pendanaan bisnis Kountable pada tahun 2014. Dia tidak mempermasalahkan harus mengecek pekerjaan saat liburan karena ini memungkinkannya tetap menjalankan bisnis saat bersama keluarga atau teman.

Musim panas lalu, saat berlibur di kapal dengan keluarga, dia menerima telepon penting dari seorang penanam modal. Karena tidak ada tempat sepi, dia menggunakan sekoci.

"Saya pikir cara tercepat untuk menjadi gila adalah berusaha bekerja berdasarkan 'jam umum', tulis Hale lewat email.

Senantiasa siap pada setiap jam membuat sejumlah orang merasa dipentingkan organisasi, kata pelatih eksekutif Craig Dowden, yang menjalankan bisnisnya di Toronto, Kanada. Jika ini mirip dengan Anda, maka Anda akan senang saat menerima email atasan di malam hari.

"Lampu berkedip di telepon menyatakan 'Saya penting' dan ini berhubungan dengan ego kita," kata Dowden.

Banyak pekerja lebih muda yang mementingkan kecepatan, lebih menyukai segera menjawab begitu pesan diterima, kata Fiatte. Mereka tumbuh terbiasa untuk segera menjawab pertanyaan di telepon pintarnya, katanya.

Hak atas foto Chris Hale
Image caption Chris Hale tidak mempermasalahkan harus selalu siap bekerja.

Salah satu perbedaan antara terbebani dengan tidak mempermasalahkannya terkait dengan 'kebudayaan selalu siap', kemungkinan berhubungan dengan kepemilikan.

Ketika Tom Cridland memulai bisnis fashionnya di London dua setengah tahun lalu, dia merasa tidak bisa berhenti bekerja. "Ini berarti saya sangat memperhatikan setiap email yang masuk, apakah itu malam Sabtu atau Minggu pagi," tulis Cridland lewat email.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Siap bekerja setiap waktu membuat orang merasa penting.

Baru setelah kekasihnya bergabung sebagai rekan bisnis dia dapat menyeimbangkan pekerjaan dengan kehidupan pribadi secara lebih baik. "Meskipun kenyataannya menjadi wiraswastawan berarti kita selalu berhubungan dengan kantor...positifnya jauh melebihi negatifnya," kata Cridland.

Tersudut

Tetapi bagi orang lain, siap dihubungi setiap waktu, kita pikir, adalah memang hal yang diinginkan oleh atasan.

"Organisasi dapat langsung atau tidak langsung memperkuat pesan agar tetap selalu terhubung," kata Dowden. Teknologi memungkinkan kita dapat bekerja di manapun, kapanpun, yang menciptakan ketidakjelasan hari kerja.

Bayangkan seorang atasan yang mengirim email setelah jam kerja, tanpa merinci kapan dia memerlukan balasannya. Pada keadaan yang tidak jelas ini, kita kemungkinan besar akan menirukan rekan yang lebih tinggi posisinya.

Ditambah dengan tekanan dari atas, peningkatan perhatian atasan, sifat pekerjaan yang tidak mengenal zona waktu dan generasi baru pekerja yang lebih bahagia jika mengaburkan waktu kerja dan pribadi, desakan untuk bisa dihubungi setiap waktu semakin meningkat.

Pada tahun 2014, terdapat 42% pekerja yang diteliti perusahaan kepegawaian Randstad mengatakan mereka merasa harus memeriksa pekerjaan saat berlibur. Dan 45% pegawai merasa mereka harus menjawab email setiap waktu, sementara 47% merasa bersalah jika tidak bekerja meskipun sedang sakit.

Tahun 2016, survei Randstad mengungkapkan sepertiga pekerja harus membatalkan rencana liburan karena pekerjaan.

Kerja terus, tanpa bermain

Ketika Anda tidak memiliki pilihan kecuali harus tetap siap, maka ceritanya menjadi berbeda. Tim Vahle-Hinz dari Universitas Humboldt, Berlin, Jerman mengkaji pengaruh selalu siap bekerja terhadap pegawai perusahaan air di Jerman, yang harus siap menangani keadaan darurat. Dia dan timnya menemukan ketika pegawai harus selalu siap bekerja, mereka memiliki tingkat hormon stres, cortisol, yang lebih tinggi dan dilaporkan kurang istirahat.

Tetapi kenyataannya, menjawab email dan siap setiap waktu tidaklah selalu diperlukan. Begitu dia menyadari email setelah jam kerjanya membuat pegawai mendapatkan kesan mereka harus segera menjawab, Fiatte dan tim manajemennya berusaha untuk lebih eksplisit dengan pegawainya terkait tentang mana yang penting dan tidak.

Fiatte tetap bekerja pada Minggu malam, tetapi baru mengirim email pada Senin pagi. Jika keadaan setelah jam kerja memang sangat darurat, dia menelepon.

Dan Fiatte, sekarang secara terbuka mendorong pegawai untuk tidak bekerja saat libur. "Kami bukannya menangani usaha perdamaian Israel," katanya. "Kami perusahaan kepegawaian - silahkan berlibur."

Versi bahasa Inggris tulisan ini bisa Anda baca di The upside to being always-on for work di BBC Capital.

Topik terkait

Berita terkait