Di balik predikat negara terbaik bagi ekspatriat, Singapura tawarkan lima keunikan

Singapura Hak atas foto Getty Images

Singapura kembali dinobatkan sebagai negara terbaik di dunia bagi kalangan ekspatriat. Jika Anda tengah menimbang-nimbang untuk pindah ke sana, berikut sejumlah hal yang mungkin tak diketahui tentang negara kota itu.

Pada tahun 2002, Tim Barnes diminta oleh bosnya untuk berpindah ke Singapura. Sebagai seorang warga negara Australia yang tinggal di Sydney pada saat itu, ia langsung menerima tawaran itu.

Pada saat itu usianya menginjak pertengahan 20-an, masih bujang dan sudah pernah berkunjung ke Singapura beberapa kali sebelumnya.

Ia berencana untuk tinggal sementara saja, tetapi pada akhirnya tinggal di kota itu selama delapan tahun. Di Singapura pula, ia bertemu dengan istrinya, seorang ekspatriat, menjalin pertemanan dengan banyak orang dan pada umumnya menyukai negara yang bersih itu.

"Saya sudah pernah pergi ke banyak tempat di Asia dan Singapura sangat ramah terhadap ekspatriat," ujar Barnes.

"Maju dan sangat Barat," tambahnya.

Laporan HSBC baru-baru ini kembali menobatkan Kota Singa itu sebagai tempat terbaik bagi ekspatriat di seluruh penjuru dunia. Kesimpulan itu didapat dari hasil survei sekitar 27.000 orang yang memberikan penilaian terhadap 45 negara dari segi gaji, pengalaman dan keluarga.

Lebih dari 60% berpendapat Singapura membantu kemajuan karier mereka dan pendapatan mereka meningkat setelah berpindah ke sana.

Berdasarkan survei ini, rata-rata penghasilan tahunan ekspatriat di Singapura adalah US$139.000 (sekitar Rp1,8 miliar), dibandingkan pendapatan tahunan $97.000 (sekitar Rp1,2 miliar) di belahan dunia lain. Dan 66% responden juga mengatakan bahwa Singapura menawarkan kualitas hidup lebih baik dibandingkan negara asal mereka.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Singapura menawarkan kenyamanan bagi kalangan ekspatriat.

Mempertimbangkan untuk pindah? Meskipun terdengar menarik seperti itu, BBC Capital menemukan sejumlah bagian kehidupan — baik yang unik maupun serius —yang perlu dijadikan bahan pertimbangan sebelum pindah.

Amat mahal

Ekspatriat yang ingin membeli mobil lebih baik bersiap-siap mengeluarkan uang sangat banyak. Mobil Toyota Camry, yang dijual dengan harga US$25.000 (sekitar Rp330 juta) di Amerika Serikat, dijual US$107.124 (setara dengan Rp1,4 miliar).

Mengapa begitu mahal? Karena ada berbagai pajak mobil yang sangat mahal.

Pertama-tama, ada biaya pendaftaran berdasarkan "nilai pasar terbuka" atau OMV dari mobil itu. Menurut situs keuangan pribadi Dollars and Sense, kita mungkin membayar ekstra S$60.578 (sekitar Rp570.000) untuk mobil Mercedes E200 dengan nilai pasar terbuka S$49.113 (sekitar Rp462.456). Kemudian ditambah dengan bea cukai yang ditetapkan 20% dari OMV, plus 7% pajak pertambahan nilai.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Berbagai pajak yang dikenakan terkait pembelian mobil mendongkrak harga kendaraan di Singapura.

Pajak yang paling terkenal adalah sertifikat kepemilikan (COE). Biaya COE ini didasarkan pada jenis mobil—semakin besar mobilnya dan kekuatan mesinnya, maka semakin mahal pula biaya COE — dan tergantung pula jumlah orang yang menginginkan COE pada waktu tertentu. Dalam beberapa kasus, biaya bisa lebih mahal dibandingkan harga mobilnya sendiri.

Singapura tak menghendaki terlalu banyak mobil di jalan, kata Priscilla Ng Yi Xian, warga Singaoura yang dilahirkan dan dibesarkan di sana.

"Mereka menginginkan masyarakat menggunakan transportasi umum."

Priscilla tak mempunyai mobil, tetapi mungkin akan membelinya ketika sudah punya anak nanti. Untuk saat ini, ia menggunakan jasa Uber. "Sederhana," tuturnya. "Saya panggil taksi.'

Di bawah pengawasan

Para ekspatriat juga harus menerima keberadaan kamera video yang memantau gerak-gerik mereka.

Flora Chao Lutz, asal Washington DC yang pindah ke Singapura pada Mei lalu bersama keluarga karena urusan kerja, memperhatikan kamera hampir ada di mana-mana.

Sejak 2012, lebih dari 52.000 kamera polisi dipasang di 8.600 blok, lapor surat kabar setempat, Straits Times.

Polisi mengatakan kamera tersebut dipasang untuk membantu mencegah pembuangan sampah sembarangan, ancaman dari para rentenir dan parkir sembarangan.

Chao Lutz tidak merasa keberatan dengan kamera-kamera itu karena menurutnya bertujuan untuk menjaga keselamatan orang, tetapi kedua anaknya yang masih kecil menganggapnya aneh.

"Anak-anak berusaha dan menempatkan tangan mereka di kamera dan menutupnya," ungkapnya.

"Mereka tidak menyukainya tetapi saya lebih mengutamakan keselamatan."

Ruang terbatas

Singapura seringkali disebut sebagai salah satu kota paling mahal di muka Bumi, tetapi siapa pun, di mana pun dapat membeli makanan baru dimasak sesuai pesanan hanya dengan mengeluarkan beberapa dolar.

Kota itu dipenuhi dengan pusat-pusat jajan — pusat-pusat jajan yang ramai pengunjung, sibuk dengan pengunjung warga setempat, ekspatriat baik pada waktu makan siang maupun makan malam.

Ada alasan bagus mengapa orang menyukai tempat-tempat seperti itu sebab terdapat beraneka ragam makanan dari berbagai penjuru dunia, dan harganya benar-benar ramah kantong. Makanan biasanya dijual antara S$3 (sekitar Rp28.000) dan S$7 (sekitar Rp65.000).

Namun, para pendatang baru perlu memperhatikan kotak tisu yang ditempatkan di kursi-kursi kosong. Praktik ini disebut 'chope-ing'. Inilah cara orang Singapura memesan meja pada saat mereka mengantre untuk memesan makanan.

"Jika kita memindahkan kotak tisu maka seseorang akan mendatangi kita dan memberi tahu bahwa meja itu milik mereka," kata Barnes.

Level baru

Jika ada perasaan lintas budaya yang kita semua miliki, maka perasaan itu adalah ketakutan akan kalah kompetisi atau ketinggalan.

Namun orang Singapura benar-benar menganggap serius hal itu, kata Shally Venugopal, seorang pengusaha yang berdomisili di Washington DC yang dilahirkan dan dibesarkan di Singapura ketika kedua orang tuanya menjadi ekspatriat di negara kecil itu.

Ketakutan itu punya istilah sendiri di Singapura. Istilahnya adalah kiasu, kata dalam bahasa Hokkien yang berarti "takut ketinggalan".

Pada dasarnya, ketika ada restoran baru atau blok apartemen dibuka, orang-orang berbondong-bondong untuk mencobanya dan mereka bersedia menunggu selama berjam-jam untuk masuk. "Antreannya benar-benar gila," katanya.

Orang Singapura selalu berusaha untuk maju, menurut Venugopal, dan banyak di antara mereka ingin terlihat membeli properti terbaru, menonton konser atau makan di restoran baru yang laris.

Ng sepakat dengan penilaian itu. Banyak orang Singapura khawatir mereka tertinggal dari kawan-kawan mereka.

"Orang berusaha untuk mengalahkan kawan mereka," ujarnya.

Dengan kondisi tersebut maka seringkali mereka berusaha agar anak-anak mereka diterima di sekolah yang paling prestigius, atau membeli rumah di kawasan paling bagus.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Chan Hon Meng tercatat sebagai salah satu pemilik kedai Singapura yang mendapatkan bintang Michelin.

Bagi kalangan ekspatriat, hal ini artinya mereka secara aktif menghindari hal-hal yang dibicarakan oleh setiap orang.

Bahkan warung di pusat jajan populer sekali pun bisa dibanjiri pengunjung. Sebagai contoh pada bulan Juli lalu, antrean mengular terjadi di depan dua warung yang berbeda pada hari ketika warung-warung itu menerima bintang Michelin.

LGBT

Meskipun sebagian besar ekspatriat menikmati kebebasan yang sama dengan yang mereka alami di negara mereka, tidak demikian dengan LGBT, Lesbian, Gay, Bisexual, Transexual.

Gay atau lesbian memang tidak dilarang, tetapi kegiatan homoseksualitas dilarang dan diancam dengan hukuman maksimum dua tahun penjara.

Namun hukuman itu tak diterapkan, kata Yangfa Leow, pekerja sosial yang terdaftar dan direktur eksekutif Oogachaga, layanan konseling dan bimbingan LGBTQ (Queer)di Singapura.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Warga berkumpul di Hong Lim Park untuk mengikuti acara tahunan 'Pink Dot' untuk komunitas LGBT.

Pernikahan sesama jenis dan kemitraan sipil tidak diizinkan, dan pernikahan sesama jenis yang dilakukan di luar negeri tidak diakui di Singapura, dan hal itu bisa menjadi masalah bagi ekspatriat gay yang ingin menikmati tinggal di Singapura, kata Leow.

Dikatakan oleh Leow bahwa pasangan yang tidak bekerja tidak akan diberi visa tertanggung. Artinya, mereka tidak bisa tinggal di Singapura. Satu-satu cara agar pasangan sejenis diizinkan tinggal di Singapura adalah keduanya harus mempunyai visa kerja.

Bagaimanapun, orang gay warga Singapura dan gay dari ekspatriat dapat hidup sesuka mereka.

Terdapat bar gay, klub gay dan parade gay skala besar yang disebut Pink Dot. Dalam acara tersebut, orang-orang LGBTQ, dengan mengenakan pakaian serba merah jambu, berkumpul di taman dan membentuk formasi titik merah jambu sebagai dukungan terhadap keberagaman dan inklusivitas.

Namun orang asing tidak dizinkan untuk mengikuti protes di Singapura sehingga mereka juga tidak diizinkan untuk membentuk formasi titik merah jambu itu.

Menurut Leow, lesbian dan orang-orang transgender kurang menonjol dan "demi alasan kenyamanan dan keselamatan, mungkin lebih senang bersosialisasi di tempat-tempat lebih pribadi."

Tulisan dalam bahasa Inggris Five quirks of life in the world's 'best country for expats' dan artikel-artikel serupa dapat Anda baca di BBC Capital.

Topik terkait

Berita terkait