Ternyata wajar mendapatkan pekerjaan impian lalu membencinya

Pilot Hak atas foto Tyler Stableford

Banyak orang yang punya gambaran menarik tentang sesuatu pekerjaan, tetapi melupakan hal-hal kecil yang akan ikut serta ketika pekerjaan itu didapat.

Waktu masih kecil, saya suka binatang. Kegemaran ini tidak berubah ketika saya beranjak dewasa.

Alhasil, ketika ada kesempatan untuk istirahat sebentar dari pekerjaan jurnalistik, saya memutuskan untuk menjadi relawan di sebuah penangkaran hewan di Tasmania selama tiga bulan. Saya yakin sekali itu akan jadi pekerjaan impian saya.

Tapi realitas yang kemudian saya alami, sama sekali tidak terbayangkan sebelumnya. Alih-alih menghabiskan waktu bermain bersama binatang dan berusaha mengerti mereka, saya malah menghabiskan delapan jam sehari berlari-lari di hutan, di tengah hujan, mengerjakan berbagai hal yang bahkan membuat hati saya sedih.

Banyak hewan yang saya tangani ditabrak mobil dan membutuhkan rehabilitasi. Saya memberi mereka makan, merawat mereka, berusaha agar saya tidak digigit dan memandikan mereka. Jika mereka mati, kami menguburkan mereka, saya ikut merasa sedih.

Hak atas foto Oli Scarff
Image caption Bekerja di penangkaran hewan, mungkin terdengar menarik. Namun, apa yang terjadi di balik layar kadang tidak pernah kita bayangkan.

Bahkan pekerjaan saya juga meliputi berbagai hal di luar merawat hewan; salah satu tugas saya adalah membersihkan toilet umum. Apakah ini pekerjaan impian saya? Tentu tidak. Dan pengalaman saya ini ternyata juga banyak dialami orang. Mungkin termasuk Anda.

Saya kemudian mulai berpikir bahwa banyak hal-hal remeh-temeh yang ternyata harus ikut kita kerjakan ketika kita menjalankan pekerjaan yang diidam-idamkan. Dengan kata lain kita cenderung punya harapan yang tidak realistis bahwa pekerjaan baru akan membuat kita merasa berbeda, sesuai dengan pola bahwa lahan tetangga memang selalu terlihat lebih hijau.

Lisa A Williams, profesor psikologi dari Universitas New South Wales di Sydney mengungkapkan situasi ini mirip dengan emosi ketika seseorang berpikir, memenangkan lotre akan membuat mereka bahagia. Namun, penelitian mengungkapkan kebahagiaan yang ditimbulkan karena menang lotre hanyalah sesaat.

Dalam kasus saya, ini berarti saya terlalu membiarkan emosi mempermainkan masa depan saya: saya hanya memikirkan bahwa saya kan bermain dengan binatang-binatang menarik dan melupakan soal pekerjaan fisik lainnya. Karena ketika kita didorong untuk mencari pekerjaan impian, kita hanya menyukai idenya, tetapi tidak realitasnya.

Membodohi diri

Itu pulalah yang terjadi pada Sue Arnold, 46, yang sudah lama bercita-cita ingin menjadi arkeolog. Arnold, yang berprofesi sebagai sekretaris di London menceritakan bagaimana dia sangat menggemari film-film klasik tentang mumi Tutankhamen dan persaingan untuk menemukan makam Firaun di Mesir. Dengan pemikiran itu, dia pun mendaftar untuk ikut serta melakukan penggalian di situs arkeologi di Dorset, Inggris.

Meskipun sejak awal dia sudah tahu tidak akan membuat sejarah dengan melakukan penggalian ini, dia tetap kecewa.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Menemukan artifak-artifak kuno mungkin menarik, tetapi apakah Anda memiliki keahlian lain yang dibutuhkan untuk menjadi arkeolog?

"Itu adalah salah satu minggu paling membosankan di hidup saya. Saya cuma mengotor-ngotori badan dengan tanah dan debu," ungkapnya.

Meskipun dia tidak menyesali pengalaman itu, dia kemudian menyadari bahwa dia tidak punya kesabaran yang diperlukan untuk pekerjaan arkeolog. Walau begitu, dia pun tetap suka membaca buku sejarah dan berencana berkunjung ke Mesir, sebagai turis.

Elliot Berkman, seorang calon profesor psikologi dari Universitas Oregon, Amerika Serikat mengungkapkan fenomena ini terkait dengan harapan dan ekspektasi kita.

"Orang secara umum tidak sebahagia yang mereka kira, ketika dia meraih mimpinya. Ini sebagian karena kita tidak siap dengan berbagai kerja keras yang dilakukan atau muncul bersama mimpi itu."

Hak atas foto Getty Images
Image caption Kita kerap hanya suka dengan gambaran tentang sebuah pekerjaan, tetapi tidak realitanya.

Apa yang membuat kita bahagia atau sedih itu adalah terkait perubahan yang terjadi dibandingkan sejak pertama kita memulai sesuatu. Menurut Beran, "Anda harus terus berubah supaya bisa terus bahagia."

Jadi, tidak mengejutkan kalau kita perlu mencoba dan mencari berkali-kali untuk menemukan pekerjaan yang tepat, ungkap Rachel Grieve, pengajar psikologi senior dari Universitas Tasmania. "Kebanyakan orang mengambil keputusan secara tidak rasional. Kita hanya bergantung pada instuisi dan apa yang terasa benar.

"Kalau cuma soal pilihan makan siang, tidak apa-apa. Namun, kalau ini terkait hal yang lebih besar, misalnya mengubah karir, maka lebih baik berpikir lebih tenang dan pelan, dan pertimbangkan masak-masak berbagai pilihannya."

Dinamika sosial

Kepuasan soal pekerjaan lebih terkait dengan dinamika sosialnya dari pada gelar atau titel, ungkap profesor psikologi, Alexander Haslam, dari Universitas Queensland.

"Jika Anda adalah dokter, mungkin Anda suka sekali dengan obat-obatan, tetapi jika Anda berujung di lingkungan kerja yang tidak nyaman, Anda tetap tidak akan merasa puas dengan pekerjaan tersebut," paparnya.

Inilah perasaan yang banyak sekali dirasakan orang yang harus belajar dan bekerja ekstra keras supaya bisa bekerja di bidang hukum, salah satu profesi favorit di barat. Pekerjaan impian mereka berujung pahit.

"Karena hukum adalah bidang dengan lingkungan kerja yang kaku dan sangat kompetitif," kata Andrew Walker, yang bekerja di bidang hukum.

"Selama bertahun-tahun saya berpikir, bekerja di bidang hukum adalah pekerjaan yang seru, dan sekarang saya rasa seluruh pemikiran itu salah. Saya lebih ingin bekerja bersama orang di lingkungan yang dinamis dan tidak stres. Saya berpikir untuk pindah kerjaan."

Mengikuti kata hati

Dan bagi saya sendiri, tampaknya saya sudah terjebak di profesi jurnalisme ini. Saya memang rindu bertemu binatang di penangkaran, tetapi bukan berarti saya harus berganti profesi. Saya cuma perlu tinggal di alam, dan di dekat orang-orang yang peduli dengan alam dan lingkungan.

Image caption Penulis Georgina Kenyon kini tinggal di pinggir hutan, tempat dia bisa melihat banyak hewan.

Seperti sekarang, saya tinggal di hutan Australia yang merupakan bagian dari situs dunia UNESCO. Sempurna untuk berjalan-jalan sore di semak sambil melihat binatang.

Jadi, ketika saya melihat ada iklan di koran lokal yang memperlihatkan penjaga kebun binatang sedang tersenyum, sambil memegang ember dan sapu, mengajak untuk bergabung mencoba profesi mereka, saya sudah tahu lebih banyak.

Mimpi dan pekerjaan kadang tidak harus berjalan bersamaan.

Versi bahasa Inggris tulisan ini bisa Anda baca diIt's nodan tulisan-tulisan lainnya di BBC Capital.

Berita terkait