Algoritme membuat kita berpikiran sempit

Anak dalam gelembung Hak atas foto China Photos/Getty Images
Image caption Algoritme membuat kita hidup bagaikan katak dalam tempurung, atau anak dalam gelembung.

Kita hidup dalam dunia kurasi. Internet--dibantu algoritme yang memperkirakan apa yang kita cari, beli, dengarkan, baca, tonton, dan bahkan siapa pasangan yang cocok dengan kita--dengan mahir membantu kita mencari hal-hal yang kita inginkan.

Ya, selama mereka serupa dengan apapun yang pernah kita suka.

Revolusi digital memungkinkan kita hidup berbahagia dalam dunia kita sendiri, dan dalam prosesnya menutup kesempatan untuk orisinalitas.

Itulah sisi buruknya. Lazimnya algoritme yang didesain untuk meneguhkan minat kita juga memastikan kita tak banyak menemukan hal baru, berbeda, dan tak akrab; hal-hal yang menjadi inti pembelajaran, pemahaman, dan inovasi.

Bukannya membawa kita keluar dari zona nyaman, revolusi digital memungkinkan tiap-tiap dari kita hidup bahagia dalam dunia kita sendiri, dan dalam prosesnya menutup kesempatan untuk orisinalitas, spontanitas, dan belajar. Meski demikian, kita suka hidup seperti ini.

Bagaimana saya tahu?

Karena kita berkerumun di toko daring untuk membeli barang yang algoritme sarankan agar kita beli. Karena kita membaca berita yang mendukung apa yang telah kita percaya. Dan karena kita bahkan mengandalkan situs kencan untuk menemukan pasangan yang sifatnya mirip dengan kita.

Hak atas foto Sean Gallup/Getty Images
Image caption Toko daring seperti Amazon menawarkan produk berdasarkan kebiasaan meramban kita - memudahkan, memang, namun itu turut membentuk 'ruang gema'.

Konsekuensi hidup dalam kekangan yang dimungkinkan dengan adanya algoritme ini bukan hal sepele. Secara intelektual dan sosial, ada harga yang harus dibayar.

Ambil contoh, pemilihan presiden yang baru berlangsung di AS. Polarisasi politik yang tajam menjadi kian berurat berakar dan semakin jelas di sini karena kecenderungan orang memilih bukti yang mendukung keyakinan atau intuisi yang telah melekat dengan diri mereka berubah menjadi siklus yang kian memperkuat diri sendiri.

Beragam warga Amerika hidup dalam versi berbeda dari negara yang sama. Dengan membatasi diri kita dengan sejumlah kantor berita dan pakar tertentu, analisis kita tentang peristiwa terkini mulai terlihat jauh berbeda dengan orang lain yang memiliki pandangan hidup dan pengalaman berbeda.

Masalah pemikiran sempit juga ditemukan di bidang bisnis dan kepemimpinan. Riset menunjukkan bahwa berpikiran terbuka meningkatkan rasa kesejahteraan kita, tapi juga berujung pada keputusan yang lebih baik. Ini jelas terjadi pada para superbos, para pemimpin istimewa yang membangun bisnis sukses berdasarkan ketangkasan dan kreativitas dalam hal pola pikir manajerial dan praktik bisnis.

Berpikiran terbuka meningkatkan rasa kesejahteraan dan berujung pada keputusan yang lebih baik.

Lalu ada juga laporan yang diterbitkan di Strategic Management Journal baru-baru ini, yang menggambarkan pentingnya proses top-down (atas-ke-bawah) maupun bottom-up (bawah-ke-atas) untuk memanfaatkan kesempatan baru.

Meskipun proses top-down, seperti belajar dari pengalaman sebelumnya, itu penting, cara itu terkadang menutup mata kita dari perubahan tak terduga di industri. Sebaliknya, proses bottom-up, atau menyadari perubahan di lingkungan di samping pengetahuan yang telah ada, memungkinkan kita memperhatikan dan memanfaatkan kesempatan tak terduga yang mungkin dilewatkan saingan bisnis kita.

Hak atas foto DOMINIQUE FAGET/Getty Images
Image caption Hidup di luar gelembung atau 'ruang gema' Anda bisa jadi tantangan tersendiri, namun ada cara untuk melawan polapikir ini.

Zona nyaman

Akan tetapi, kita dapat melawan dominansi algoritme untuk menjaga kita, dan pemikiran kita, dikembalikan kepada apa yang kita lakukan sebelumnya. Caranya tak sesulit yang kita kira, yaitu dengan memperluas cakupan serta membuka pikiran dalam kehidupan profesional dan pribadi kita.

Di kantor, mulailah dengan orang yang Anda rekrut. Dengan memilih kandidat yang tak biasa, orang yang dapat berpikir beda dari personel lain dalam tim, Anda lebih mungkin mendapatkan sudut pandang berbeda dan menghasilkan ide atau solusi inovatif.

Algoritme memindai CV untuk sejumlah kata atau frase kunci tertentu, tapi bagaimana jika Anda juga menyisihkan waktu untuk membacanya satu per satu atau mencoba mencari kata kunci lain? Atau lebih baik lagi, Anda bisa keluar kantor untuk mencari bakat di mana pun Anda dapat menemukannya.

Untuk memupuk kreativitas dalam jangka panjang, jika Anda pemimpinnya, anutlah pola pikir perubahan. Daripada membangun organisasi atau tim berdasarkan formula yang kaku, bangunlah berdasarkan sekumpulan prinsip dan beri kesempatan pada karyawan untuk mengusulkan pendekatan baru pada pekerjaan yang mengikuti prinsip tersebut, meski bisa jadi benar-benar berbeda dari sebelumnya.

Ini adalah ciri utama para superbos seperti Jay Chiat, pendiri dan direktur eksekutif agensi periklananan Chiat/Day, yang memberikan hadiah bagi karyawan karena melakukan hal berbeda, meski upayanya gagal.

Yang lebih penting, jujurlah kepada diri sendiri dan kenali jika pola perilaku sempit ini ada pada diri Anda. Anda dapat sengaja memilih sesuatu di luar kerangka kerja Anda secara rutin.

Lain kali Anda makan di luar, misalnya, cobalah makanan yang biasanya tidak Anda coba. Atau tonton film dari genre yang lain dari biasanya.

Atau bergabunglah dengan klub buku; luangkan waktu untuk bicara dengan seseorang yang seberbeda mungkin dengan Anda pada pesta atau acara selanjutnya yang Anda hadiri -- dan mintalah agar mereka merekomendasikan sesuatu untuk dibaca, dimakan, atau ditonton.

Hak atas foto TANG CHHIN SOTHY/Getty Images
Image caption Untuk hidup di luar zona nyaman, Anda bisa mulai dengan mencoba makanan baru.

Ada juga situs web dan aplikasi yang dapat membantu.

Procon.org, misalnya, menyajikan argumen berlawanan untuk suatu isu yang kontroversial; sedangkan aplikasi seperti Earbits memungkinkan Anda menemukan musik favorit baru dengan memperkenalkan genre yang berbeda-beda, bukannya memberikan pengguna apa yang telah mereka suka.

Mungkin butuh usaha lebih untuk mencari hal-hal baru.

Tetapi seiring tahun baru dimulai, berpikirlah seperti ini: semakin akurat algoritme dan kecerdasan buatan memprediksi kebutuhan kita dan mempersempit fokus kita, kemampuan untuk beradaptasi dan terus belajar hal-hal baru mungkin menjadi penting bagi nilai kita sebagai pribadi- dalam bisnis dan dalam hidup.

----------

Anda dapat membaca versi bahasa Inggris artikel ini, Algorithms are making us small-minded, di BBC Capital.

Topik terkait

Berita terkait