Apakah multitasking membuat karyawan menjadi produktif?

Ilustrasi multitasking Hak atas foto John Lamb
Image caption Mengerjakan beberapa tugas atau aktivitas sekaligus mengubah otak kita.

Lupakan multitasking, atau mengerjakan beberapa tugas secara bersamaan. Kecanduan kita akan gangguan secara tak langsung berpengaruh pada otak kita.

Saat instant messaging atau chat menjadi populer pada 1990an, Judi Wineland tak menyukainya.

Gangguan yang konstan muncul dalam bentuk pop-up di program chat menyulitkannya dalam menyelesaikan tugas harian. Namun pengalaman serupa justru tidak dirasakan orang-orang lain di kantornya — terutama yang muda.

"Saya melihat anak-anak ini mengerjakan beberapa tugas sekaligus dan saya merasa ada yang salah dengan saya," kata Wineland, yang sudah menjalankan perusahaan perjalanan petualangan sejak 1978 dan kini mengurus dua perusahaan di AS, AdventureWomen and Thomson Safaris.

Dia menyadari bahwa ketidakmampuannya dalam melakukan multitasking atau melakukan beberapa pekerjaan sekaligus — intinya, mengabaikan gangguan yang datang secara reguler — punya keuntungan, "Saya jadi lebih baik dalam mengelola perusahaan saya."

Hari-hari kita dipenuhi dengan gangguan yang terus-menerus datang. Email, SMS atau chat, rapat, kolega yang sering membutuhkan orang lain — dan selalu ada saja yang lain.

Banyak perusahaan yang mendorong kita untuk bisa menangani beberapa hal sekaligus, membuka ruang kantor menjadi tanpa sekat sehingga memunculkan dialog yang bisa terjadi kapan saja sementara pekerjaan mewajibkan kita menangani tugas berbeda pada waktu yang sama.

Hak atas foto Kieran Nash
Image caption Teknologi mengubah otak kita agar merasa kecanduan dengan gangguan

Namun semakin banyak peneliti yang mengatakan bahwa mengerjakan beberapa tugas sekaligus membuat Anda lebih tidak produktif. Ternyata Anda akan lebih bisa menyelesaikan banyak pekerjaan jika hanya fokus pada satu tugas saja.

Alasannya, otak kita hanya bisa melakukan satu hal dalam satu waktu. Saat kita merasa kita sedang melakukan beberapa hal sekaligus, sebenarnya tidak. Bagi otak kita, kita hanya maju mundur mengerjakan tugas-tugas itu.

Menurut penelitian, melakukan hal seperti ini secara berulang-ulang membuat otak kita lelah dan menurunkan kemampuan kognitif. Suatu penelitian pada 2007 menemukan bahwa pengetahuan karyawan yang diinterupsi setiap tiga menit oleh email dan gangguan lain akan menurunkan kemampuan mereka secara umum untuk menyelesaikan sesuatu.

Penelitian tersebut memperkirakan bahwa gangguan seperti itu akan merugikan suatu perusahaan dengan 50.000 karyawan sebesar US$1 miliar akibat waktu yang hilang, kreativitas yang menurun, kesalahan dan stres berlebihan.

"Yang dilakukan itu bukan mengerjakan beberapa tugas sekaligus, dan selalu memakan korban," kata Devora Zack, penulis buku Singletasking.

Mitos multitasking

Multitasking "menghasilkan pemikiran dangkal, mengurangi kreativitas, meningkatkan kesalahan dan menurunkan kemampuan kita untuk memblok informasi yang tidak relevan," kata Dr Sandra Bond Chapman, pendiri dan direktur utama Center for BrainHealth di The University of Texas di Dallas, lewat email.

Karena otak tak dirancang untuk melakukan multitasking, maka semakin lama otak akan mengalami tingkat stres dan depresi yang meningkat dan menurunkan kemampuan intelektual secara umum, katanya.

Meski ada semakin banyak bukti bahwa multitasking bukanlah hal yang efektif, kebiasaan lama dan teknologi baru membuat hal ini semakin banyak terjadi di beberapa tempat.

Salahnya ada pada diri kita sendiri. Saat kita melakukan sesuatu bersamaan, seperti membalas email sambil menulis laporan atau menelepon sambil berada di pertemuan, kita merasa sibuk dan produktif, kata Dr Christine Carter, direktur eksekutif Greater Good Science Center di University of California, Berkeley.

"Sibuk adalah tanda orang penting, dan ini keyakinan lama," kata Carter. "Ada mitos bahwa semakin lama Anda berada di kantor, maka Anda adalah pekerja yang baik."

Dia melihat sikap itu sebagai sisa-sisa masa kejayaan industrialisasi, ketika kita mengecek absen masuk dan pulang di pabrik dan kantor-kantor. Dulu mitos itu dapat diterima karena biasanya orang meninggalkan pekerjaan di kantor ketika mereka pulang pada malam harinya.

"Hal ini menjadi berlebihan ketika ada laptop dan email," katanya.

"Dan yang lebih menyulitkan lagi, teknologi mengubah otak kita menjadi kecanduan akan interupsi, karena kita berharap cemas menunggu tanda 'ping' ketika ada email baru, atau chat, atau unggahan media sosial."

Dengan kata lain, seperti halnya kecanduan-kecanduan lain, meski kita tahu interupsi ini buruk bagi kita, sulit bagi kita melepaskannya.

Bahkan Carter pun kesulitan mengikuti nasihatnya sendiri. Meski dia adalah pakar kebahagiaan di UC Berkeley, namun dia pernah harus masuk rumah sakit setelah mengalami gangguan akibat kelebihan beban kerja, dan inilah yang membuatnya berhenti melakukan multitasking.

Ini sesuatu yang harus kita ingat.

"Masyarakat kita menderita sindrom otak berserak," kata penulis Singletasking, Zack. "Ini terjadi di mana-mana, bukan hanya pada pekerjaan tapi juga kehidupan pribadi."

--

Versi bahasa Inggris tulisan ini bisa Anda baca di You probably suffer from scattered brain syndrome di laman BBC Capital

Topik terkait

Berita terkait