Inilah orang-orang yang meninggalkan AS karena Trump

AS Hak atas foto Getty Images
Image caption Banyak orang, termasuk selebriti seperti Miley Cyrus dan Amy Schumer, berkata akan pergi jika Trump terpilih menjadi presiden.

Ketika beberapa orang menyatakan mereka akan meninggalkan negaranya jika Trump menjadi presiden AS, mereka tidak bercanda.

Saat orang-orang pertama kali membicarakan tentang Donald Trump yang mencalonkan diri menjadi presiden, Sarah berpikir itu hanyalah bercandaan dan suatu hal yang tak perlu dianggap serius olehnya. Namun, pada 8 November 2016, apa yang disebutnya 'tak terpikirkan' terjadi: Trump memenangkan pilpres.

Sarah, yang meminta agar kami hanya menggunakan nama pertamanya karena alasan keselamatan, segera menghubungi suaminya yang saat itu sedang berada di luar negeri untuk urusan bisnis dan berkata kepadanya, "Cukup sudah. Saya ingin pergi, dan saya tidak bercanda."

Responsnya, kata Sarah, "Saya tahu. Kita bisa pergi."

Jadi, bulan berikutnya, Sarah, 43 tahun, suaminya, 45 tahun, dan dua anak perempuan mereka yang masih bersekolah akan meninggalkan rumah mereka selama tiga setengah tahun di sebuah kota kecil di tengah AS ke sebuah negara ribuan mil jauhnya. Tanpa rencana untuk kembali.

Selama masa pilpres yang paling sengit dalam sejarah modern AS, banyak pembicaraan di dapur kantor, warung kopi, meja makan, dan di media yang mengatakan orang-orang akan meninggalkan AS jika Trump memenangkan pilpres.

Sehari setelah Super Selasa, saat 12 negara bagian bersamaan memberikan suara saat pemilihan pendahuluan (primary) partai Republik di AS, Google mengumumkan bahwa pencarian dengan frase "pindah ke Kanada" melonjak lebih tinggi dibanding waktu lainnya dalam sejarah Google.

Dan meningkatnya akses ke situs imigrasi dan kewarganegaraan Kanada menyebabkan masalah, memunculkan pesan seperti: "Anda dapat mengalami jeda saat mengakses situs ini. Kami sedang berupaya untuk mengatasi isu ini. Terima kasih atas kesabaran anda."

Namun begitu Trump benar-benar menang, banyak orang, termasuk selebriti seperti Miley Cyrus dan Amy Schumer, mengingkari janji mereka untuk pergi; sebagian karena tidak bisa, sebagian lagi karena mereka memutuskan untuk tinggal dan berjuang.

Yang lain menganggap komentar awal mereka sekadar lelucon. Namun, beberapa orang benar-benar sudah pergi, atau sedang berencana untuk pergi, atau di beberapa kejadian, menunda rencana untuk kembali ke AS setelah bekerja di luar negeri.

Kehabisan opsi

Untuk Sarah dan keluarganya, tak ada opsi lain selain pergi. Dia berkata kalau dia seharusnya senang untuk "tinggal dan berjuang" namun keselamatan dan kebersamaan keluarganya menjadi prioritas.

Suaminya bukan berasal dari AS, tidak memiliki status sebagai penduduk (resident), dan sering bekerja di luar negeri. Anak-anak mereka memiliki dwikenegaraan AS dan negara asal suaminya, Sarah adalah warga AS dengan status penduduk tetap (permanent resident) di kedua negara. Suaminya bergantung pada visa sementara saat berada di AS dengan istri dan anak-anaknya.

"Seperti berjudi soal apakah dia akan membuat seseorang kesal dan kemudian tidak dapat masuk AS," kata Sarah. "Dengan pemerintahan yang sekarang berganti, sedikit lebih mengerikan."

Hak atas foto Getty Images
Image caption Selama proses pilpres yang paling sengit dalam sejarah AS, perbincangan warga memuncak ke keinginan untuk meninggalkan negara AS

Dia merasa keluarganya beruntung karena mereka punya cara dan kesempatan untuk pergi. Namun dia khawatir dengan pesan yang dia berikan ke anak-anaknya dan dia khawatir dengan orang-orang yang ditinggalkannya. "Contoh seperti apa yang saya berikan ke anak-anak saya dengan bangkit dan pergi begitu saja meski banyak orang-orang di sini yang tidak dapat melakukannya? Siapa yang akan tinggal di sini untuk melindungi dan berjuang bagi mereka?"

Sarah berkata dia sedih meninggalkan teman-temannya namun mereka cukup mendukung. Banyak yang berkata mereka juga akan pergi jika mereka dapat pergi. Namun, tidak semua mengerti keputusannya, khususnya ayahnya yang memilih Trump.

"Orang-orang yang tidak mengerti akan berkata 'Baguslah'," kata Sarah. "Dan itulah mengapa kami pergi, karena saya tidak ingin membesarkan dua anak perempuan ketika saya merasa tidak aman, di tempat yang berisiko bagi keselamatan mereka."

Gelombang politik yang berubah

Untuk Cori Carl dan istrinya Casey Daly, bukanlah persoalan menunggu siapa yang memenangkan pilpres.

"[Bahkan] sebelum Trump menjadi kandidat yang dianggap serius, istri saya dan saya dapat merasakan memanasnya serangan politik terhadap Obama dan kemajuan yang dilakukan partai liberal selama delapan tahun belakangan," kata Carl. Jadi mereka mulai mencari opsi di luar AS. "Kami memutuskan untuk pindah ke Kanada," kata Carl. Jadi, pada Januari 2016 mereka pindah ke Toronto, Kanada dari Brooklyn, New York, AS.

Carl bekerja fleksibel sebagai konsultan komunikasi, dan Daly adalah seorang analis di sebuah perusahaan multinasional dengan kantor tersebar di Amerika Utara dan Eropa. Karena telah bekerja di perusahaan tersebut selama 10 tahun, dia diizinkan untuk pindah ke kantor Toronto.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Untuk Sarah dan keluarganya, sepertinya tak ada pilihan lain selain pergi

Banyak orang memiliki konsepsi yang salah tentang proses dan tentang siapa yang dapat dan tidak dapat pindah ke utara (Kanada), kata Carl. "Untuk sebagian besar, pilihannya hanyalah dapat atau tidak memiliki kualifikasi untuk pindah ke Kanada. Cukup jelas karena berdasarkan sistem poin. " Skenario terbaik adalah jika Anda di bawah 35 tahun dengan gelar pendidikan tinggi dan bekerja sebagai profesional atau memiliki jabatan manajerial. Dalam hal itu, "kesempatan Anda bagus sekali," kata Carl. "Anda tidak perlu tawaran pekerjaan, meski tetap harus membuktikan bahwa Anda memiliki tabungan yang cukup untuk menunjang kehidupan saat Anda mencari pekerjaan."

Pasangan tersebut berkata mereka ingin membantu orang lain yang mungkin mengalami lebih banyak kesulitan saat berusaha untuk pindah dibanding yang mereka alami, dan banyak yang menyerah di tengah proses. Untuk membantu, mereka membuat sebuah situs yang membantu orang-orang yang ingin pindah dari AS ke Kanada. Akses ke situs meningkat sebesar 300% pada November 2016 dan "meningkat tajam setiap Trump mencuit sesuatu yang dianggap beralamat buruk," kata Carl. Mereka juga menulis buku "Pindah ke Kanada" (Moving to Canada), yang dirilis sesaat sebelum pilpres.

Tingkat ketertarikan

Tentu saja, akses ke situs bukan menunjukkan hasil akhir

Pengacara imigrasi Kanada yang berbasis di Montreal, Marisa Feil, memiliki satu klien yang meninggalkan posisinya di AS setelah pemilihan presiden, mengambil pekerjaan di sebuah organisasi afiliasi di Kanada. Namun sebagian besar panggilan lain yang diterimanya tentang relokasi -dia menerima lebih banyak pertanyaan - berakhir tanpa aksi sejauh ini.

Kebanyakan pertanyaan yang diterima Feil berhubungan dengan apakah secara umum membutuhkan tawaran pekerjaan agar dapat berimigrasi ke Kanada atau mendapatkan izin kerja sementara. "Banyak warga Amerika yang kaget ketika mengetahui bahwa mereka tidak bisa pindah begitu saja bermodalkan pendidikan atau pengalaman pekerjaan mereka," kata Feil. "Kanada telah memiliki sebuah sistem yang mengizinkan individu berimigrasi apabila memiliki koneksi di Kanada dalam bentuk tawaran pekerjaan dari perusahaan Kanada atau memiliki anggota keluarga di Kanada yang dapat membantu mereka mencari pekerjaan."

Di sisi lain planet

New Zealand Shores, konsultan imigrasi di Selandia Baru, melihat peningkatan akses dalam jumlah besar di situs mereka sehari setelah pilpres; meningkat sebesar 600%, menurut Sarah Crome, seorang spesialis imigrasi yang berbasis di Hamilton, Selandia Baru.

Tidak semua orang menyebut nama Trump sebagai alasan mereka ingin pindah, menurut Crome, hanya alasan "situasi politik" secara umum.

"Saya berbicara dengan banyak klien yang juga tidak menginginkan Hillary," kata Crome. Agensi tempat dia bekerja saat ini memiliki klien sebanyak sekitar 150 pasangan dan keluarga, jumlah yang lebih besar dibanding masa lalu. "Selandia Baru adalah negara yang menarik untuk mereka saat ini," kata Crome.

Bagi Galina, warga New York yang tinggal di Australia dan bekerja di manajemen properti, kemenangan Trump berarti menunda rencananya untuk kembali ke AS.

"Sekarang saya tak akan kembali hingga saya yakin bahwa masih akan ada Amerika," kata Galina. Dia pendukung berat Bernie Sanders yang meminta kami menggunakan hanya nama pertamanya karena keputusannya yang sensitif. "Saat ini saya tidak percaya Trump akan menjadi presiden yang baik, apalagi presiden yang aman. Saya khawatir dia akan menghancurkan negara, membuat marah orang yang salah, dan memulai perang dunia atau serangan teroris. Dia juga mencoreng nama Amerika."

Dia berkata subsidi jaminan kesehatan dari pemerintah, pembatasan senjata, pendidikan gratis, dan upah yang lebih tinggi menjadi alasan lain dia tinggal di Australia.

Hak atas foto Getty Images
Image caption "Banyak warga Amerika yang kaget mengetahui bahwa mereka tidak bisa pindah begitu saja berdasarkan pendidikan atau pengalaman pekerjaan mereka," kata pengacara imigrasi Marisa Feil

Marisa, ibu dua anak dari selatan AS, berkata dia mendaftar untuk dwikenegaraan di negara Eropa tempat kakeknya berasal. Kakeknya adalah seorang penduduk tetap di AS, namun tidak pernah dinaturalisasi. Dia khawatir dengan orang-orang yang dipilih Trump di pemerintahannya dan perubahan yang mungkin dapat membatasi hak-hak warga di AS.

Dia juga semakin letih, katanya, tinggal di area yang membiarkan rasisme dan xenofobia. Orang-orang di tempat dia tinggal kerap berbicara tentang Trump yang akan memulangkan para imigran dan "menertibkan" orang-orang, meski kalimat yang mereka gunakan lebih kasar, jelas Marisa, yang tidak mau nama belakangnya digunakan.

Abangnya, kata Marisa, telah mendapatkan dwikenegaraan. Keduanya belum berencana untuk pindah secepatnya, namuan Marisa berkata suaminya telah mulai mencari pekerjaan di Eropa dan dia pun segera melakukan hal yang sama. Baginya, saat ini itu rencana cadangan, namun siap untuk dilakukan.

Bagi Sarah, langkah tersebut bukanlah sesuatu yang dia impikan untuk dirinya sendiri atau keluarganya. Dia mengaku "benar-benar patah hati" dan sebelumnya selalu berpikir bahwa dia akan membesarkan kedua anak perempuannya di AS.

"Namun saya perlu melindungi mereka," kata Sarah. "Saya tidak bisa dengan akal sehat tinggal di sini saat saya punya pilihan untuk pergi."

Versi bahasa Inggris tulisan ini bisa Anda baca diMeet the poeple leaving Trump's America di BBC Capital

Berita terkait