Mengapa kertas adalah aplikasi paling canggih?

kertas Hak atas foto Getty Images
Image caption Tren terkini untuk kembali menggunakan teknik tradisional ini telah membantu meningkatkan penjualan alat tulis

Seiring dengan maraknya aplikasi di ponsel yang mulai mengambil alih kehidupan kita, ada sebuah gerakan yang sedang terjadi. Gerakan ini muncul karena orang-orang merindukan masa yang lebih sederhana, bebas teknologi.

Setiap Januari, Angela Ceberano menetapkan rencana 12 bulan ke depan. Dan pada Minggu malam, dia menyusun rencana seminggu ke depan.

Bukannya menggunakan spreadsheet atau aplikasi ponsel yang canggih, pendiri firma komunikasi Flourish PR yang berbasis di Melbourne, Australia, ini menggunakan buku tulis, buku harian model lama, pulpen berwarna dan setumpuk majalah. Dengan ini semua, dia mencari ilham, membuat daftar dan menciptakan papan visi.

Hak atas foto bulletjournal.com
Image caption Penjualan alat tulis meningkat drastis diantaranya disebabkan oleh popularitas jurnal dengan poin bulatan (bullet journaling)

Ceberano bukanlah seorang yang fobia teknologi (technophobe). Ia lahir di masa teknologi digital dan aktif di sosial media. Dia membagi waktunya antara media tradisional dan yang baru, antara Australia dan San Fransisco, tempat klien-klien perusahaan perintisnya berada. Untuk beberapa tugas, dia lebih memilih kesederhanaan, fleksibiltas dari kertas dan karena kertas dapat diraba.

"Terkadang, saya hanya ingin menghilangkan semua teknologi dan hanya duduk di tempat sunyi dengan sebuah pena dan kertas", katanya. "Ada banyak aplikasi di luar sana dan saya merasa tidak ada aplikasi yang memberikan apa yang saya butuhkan. Saya berusaha dan benar-benar mencoba aplikasi yang ada, mengerjakan daftar pekerjaan atau membuat daftar prioritas atau mencari ilham menggunakan banyak aplikasi berbeda….[namun] ketika saya menggunakan pena dan kertas, atau saat saya menggunakan buku harian lama saya dan pena, saya merasa lebih fleksibel. Saya selalu bisa menyelesaikannya. Saya dapat fokus."

Hak atas foto Getty Images
Image caption Persepsi sensori peraba cenderung menstimulasi bagian otak yang diasosiasikan dengan kreativitas

Dia tidak sendiri. Pemindaian singkat di media sosial memperlihatkan tren kembali ke penggunaan alat tulis. Banyak orang menulis kursif dan mewarnai untuk membantu mereka mengatur hidup atau mencapai tujuan tertentu -baik itu kesehatan, keuangan atau membantu karir mereka. Dan meski aplikasi berkembang cepat, ide kembali-ke-dasar telah mendapatkan popularitas di internet.

Penjelasan sains

Sains menyiratkan bahwa hal-hal tradisional ini dapat mengarah ke sesuatu. Meski teknologi dapat menyediakan sebuah keuntungan untuk beberapa tugas tertentu, kelebihan muatan digital itu nyata dan menuai kekhawatiran. Sebuah penelitian pada 2010 oleh Universitas California di San Diego, AS menyatakan kita mengkonsumsi hampir tiga kali lipat informasi dibanding tahun 1960an.

Dan sebuah laporan oleh Ofcom di Inggris mengatakan bahwa 60% dari kita menganggap diri kita tergantung ke perangkat-perangkat kita, sepertiga dari kita menghabiskan waktu di internet lebih lama setiap hari dari yang kita inginkan. Jadi kita mengerjakan terlalu banyak, dan apakah layar kita terlalu mengganggu? Mungkin. Misalnya, banyak penelitian yang mengindikasikan bahwa mengerjakan beberapa hal sekaligus (multitasking) buruk bagi kita dan membuat otak kita lebih acak.

Temuan lain menunjukkan bahwa pena dan kertas memiliki keuntungan dibandingkan keyboard. Penelitian yang dilakukan Universitas Princeton dan Universitas California di Los Angeles, AS, yang diterbitkan pada 2014, menunjukkan bahwa pena memang lebih hebat dibanding keyboard.

Dalam tiga penelitian, para peneliti menemukan bahwa murid-murid yang mencatat di laptop lebih buruk dibandingkan murid yang menulis tangan pada pertanyaan-pertanyaan konseptual. Yang menulis tangan memiliki pengertian lebih baik atas materi yang diberikan dan mengingat lebih baik karena secara mental mereka harus memproses informasi dibanding sekedar mengetik secara verbatim. Dan penelitian lain, dipublikasikan di Jurnal Psikologi Kognitif Terapan, menunjukkan bahwa orang-orang yang menggambar iseng dapat menarik informasi pudar lebih baik.

Menuliskannya di kertas

Tentu saja, konsep menulis tujuan tanpa teknologi bukanlah hal baru. Itu yang dilakukan semua orang di masa sebelum internet.

Hak atas foto Map Your Progress
Image caption Amy Jones menciptakan sebuah visualisasi membantunya membayar hutangnya sebesar US$26,000 (Rp350 juta). Dia menggambar di sebuah kanvas besar banyak lingkaran, masing-masing mewakili US$100 (Rp1,3 juta)

Bedanya sekarang adalah ada tren kembali ke teknik tradisional oleh orang-orang yang aktif menggunakan teknologi digital. Banyak di antara mereka adalah vlogger sukses, bekerja di teknologi, atau ahli di media baru.

Dan tren terkini ini telah membantu meningkatkan penjualan alat tulis seperti buku Moleskine dan Leuchtturm1917, terang kedua perusahaan tersebut. Moleskine tumbuh dua digit setiap tahun selama empat tahun belakangan, menurut Mark Cieslinski, Presiden Moleskine America.

Manajer pemasaran Leuchtturm1917 Richard Bernier berkata pada Juni 2016 penjualan meroket, akibat popularitas jurnal dengan poin bulatan, bentuk popular dari membuat daftar, di antara komunitas online.

Kesadaran diri yang baru

Jadi, dengan perkembangan teknologi yang pesat yang secara spesifik didesain untuk membantu produktivitas dan efisiensi, apakah daya tarik dari alat-alat yang lebih sederhana? Pertama, sebuah buku tidak akan pernah kehabisan baterai atau layar mati di tengah-tengah pekerjaan.

Anda tidak akan dengan tidak sengaja menghapus sesuatu. Alatnya tidak akan berbunyi atau muncul dengan update terus menerus dari social media dan email. Dan anda dapat mensketsa, menggambar sebuah diagram atau ilustrasi tongkat - terkadang sebuah gambar berarti seribu kata-kata - yang tidak dengan gampang dapat dilakukan di sebuah ponsel.

Untuk Amy Jones, pencipta Map Your Progress, yang membuat pencapaian tujuan lewat seni, menciptakan sebuah visualisasi membantunya membayar hutangnya sebesar US$26,000 (Rp350 juta). Terinspirasi oleh bantuan visual yang digunakan ibunya, yang bekerja di penjualan, Jones menggambar di sebuah kanvas besar banyak lingkaran, masing-masing mewakili US$100 (Rp1,3 juta), dan menggantungnya di dinding.

Setiap kali dia membayarnya, Jones, yang tinggal di San Diego di AS, mewarnai satu lingkaran tersebut dengan warna terang. Hasilnya? Dia membayar semua hutangnya dalam waktu setengah dari yang diperkirakannya dan menciptakan sebuah seni yang impresif.

"Saya kaget dengan betapa efektif hal itu, betapa memuaskan mewarnai lingkaran-lingkaran itu", kata Jones. "Saya dapat melihat perkembangan merekah lewat warna di dinding saya, kemudian itu memotivasi saya untuk membuat keputusan yang berbeda. Dan saya semakin agresif untuk membayar semua hutang saya dibandingkan jika saya tidak melakukannya."

Hak atas foto rydercarroll.com
Image caption Ryder Carroll menciptakan Bullet Journal, sebuah metode menulis catatan dan daftar dari kebutuhan pribadi.

Setelah menulis kesuksesannya di Facebook, ide pun muncul. Dia mulai menjual desain-desainnya, yang dikenal sebagai Peta Perkembangan (Progress Map), di internet pada 2015 dengan pelanggan di berbagai negara hingga yang jauh seperti Australia menggunakan peta tersebut untuk tetap fokus pada tujuan-tujuan seperti menghapus hutang, mengurangi beratbadan atau berlatih untuk maraton.

"Ada semacam perayaan juga yang terkandung di dalamnya. Orang-orang menjadi semangat. Mereka tidak sabar mewarnai lingkaran tersebut. Itu menjadi sesuatu yang lebih dari sekedar menggerakkan jari anda di sebuah aplikasi, atau mengisi sebuah sel di sebuah spreadsheet. Itu lebih ke sebuah pengalaman."

Hal serupa, desainer produk digital berbasis di New York, AS, Ryder Carroll menciptakan Bullet Journal, sebuah metode menulis catatan dan daftar dari kebutuhan pribadi. "Apa yang anda lihat sekarang adalah puncak dari usaha seumur hidup saya, berusaha memecahkan masalah organisasional saya sendiri, semuanya berangkat ketika saya didiagnosa dengan ADD (penyakit gampang kehilangan fokus) saat saya masih sangat muda", katanya. "Miskonsepsi besar adalah kami tidak bisa memberikan perhatian.

Namun dalam pengalaman saya, kami dapat memberikan perhatian, namun anda memperhatikan terlalu banyak hal di waktu bersamaan. Jadi saya harus mencari cara untuk menangkap informasi dan juga mencari cara bagaimana dapat mendengar."

Mengenai Bullet Journal dia berkata, "itu didesain untuk saya, namun itu juga didesain untuk orang yang berpikir seperti saya, yang harus fleksibel. Terkadang saya menggunakannya untuk menggambar, terkadang untuk menulis, terkadang untuk merencanakan sesuatu, terkadang untuk 'apa saja' dan saya menginginkan sebuah sistem yang dapat melakukan itu semua."

'Membuat tangan kotor'

Menuliskan sesuatu juga menimbulkan inovasi. Menjadi inovatif dan kreatif juga berarti 'membuat tangan kotor', sebuah perasaan yang hilang saat anda menggunakan teknologi atau perangkat digital, kata Arvind Malhotra, seorang profesor di Universitas North Carolina Sekolah Bisnis Kenan-Flagler.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Tren terkini untuk kembali menggunakan teknik tradisional ini telah membantu meningkatkan penjualan alat tulis

"Penelitian telah menunjukkan bahwa persepsi sensor peraba cenderung menstimulasi bagian otak yang diasosiasikan dengan kreativitas, Jadi, menyentuh, merasakan dan sensasi yang kamu dapatkan saat membangun sesuatu berhubungan dengan kreativitas", katanya.

"Penelitian saya tentang pembentukan purwa rupa cepat menunjukkan bahwa meski di era digital, inovasi muncul saat anda melengkapi digital dengan fisik", kata Malhotra. Itu adalah alasan banyak perusahaan teknologi menyukai papan tulis, kata dia.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Di hampir semua perusahaan berteknologi tinggi, papan tulis masih menjadi metode dominan untuk stimulasi kreatif dan berkolaborasi

"Hampir 80% dari tempat kerja yang saya observasi, yang hasilnya cukup kreatif, menggunakan papan tulis", katanya. "Yang paling menarik adalah di hampir semua perusahaan berteknologi tinggi, yang membuat perangkat keras digital dan perangkat lunak, papan tulis masih menjadi metode dominan untuk stimulasi kreatif dan berkolaborasi."

Kembali ke dasar

Untuk Ceberano, dapat mematikan ponselnya, menjauh dari komputer, duduk dan fokus adalah kunci, serta fleksibilitas untuk menciptakan sistemnya sendiri.

Hak atas foto Flourish PR
Image caption Aplikasi yang dikembangkan organisasi selalu mewakili "format orang lain" kata Angela Ceberano, pendiri Flourish PR

"Anda dapat terperangkap dalam arus teknologi ini dan sebenarnya itu selalu tergantung pada cara seseorang", katanya. "Dengan aplikasi-aplikasi itu, alasan mengapa saya tidak menggunakannya adalah mereka merupakan ukuran orang lain. Bukan dengan cara mereka pikiran saya bekerja", Ceberano berkata.

"Jadi ketika saya menggunakan pena dan kertas, saya menuliskannya dalam cara yang sangat terorganisir di otak saya, namun mungkin tidak berhasil di orang lain. …Saya pikir orang-orang hanya ingin mengambil alih kepemilikan seiring waktu yang mereka miliki dan juga bagaimana mereka mengendalikan informasi yang mereka ambil."

Versi bahasa Inggris tulisan ini bisa Anda baca di Why paper is the real killer app di BBC Capital

Topik terkait

Berita terkait