Bahaya tersembunyi dari eufemisme

eufemisme Hak atas foto Getty Images

Bahasa yang melingkar-lingkar ini adalah musuh kejelasan, dari George Orwell hingga ke meja kita.

Eufemisme! Inilah hal terburuk. Atau lebih baik saya katakan saja bahwa eufemisme adalah patokan tentang capaian yang negatif?

Bahasa eufemistis adalah musuh abadi dari setiap orang yang membutuhkan kejelasan.

Orang yang tanpa tedeng aling-aling seperti novelis George Orwell dan komedian George Carlin telah menyerang bahasa yang halus dan samar, termasuk 'ratapan' klasik Carlin yang mengatakan bahwa 'shellshock' (sakit saraf karena pertempuran) berubah menjadi 'battle fatigue' (kelelahan akibat pertempuran) kemudian menjadi 'operational exhaustion' sebelum akhirnya berubah menjadi kata yang sulit diucapkan: 'post-traumatic stress disorder.'

Belum lama ini masyarakat AS berang setelah pemerintahan Donald Trump menggunakan kata 'fakta alternatif' sebagai selubung untuk pernyataan yang salah atau palsu. Eufemisme lain hanya sekedar menjengkelkan, seperti saat guru menyebut kelemahan murid sebagai 'kesempatan untuk berkembang'.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Baru-baru ini ada kemarahan di AS akibat penasihat Trump, Kellyanne Conway, yang menggunakan kata 'fakta alternatif' sebagai selubung untuk pernyataan yang salah atau tidak tepat.

Eufemisme ada di mana-mana, namun semuanya cenderung melekat dengan subjek yang tabu seperti kematian, seks dan obat-obatan - dan memecat orang, karena tidak ada perusahaan yang akan mengatakannya secara jelas.

Beberapa topik yang penuh banyak eufemisme antara lain pemecatan, menjadi perampingan perusahaan, dirumahkan, diberhentikan, dan bahkan frase yang kikuk seperti pengurangan jumlah staf yang berlebih. Saat perusahaan membungkus tindakan mereka dengan bahasa yang samar dan robotik, yang dikorbankan adalah kejelasan dan orang-orang.

Daftar eufemisme untuk menggambarkan pemecatan pegawai sangat panjang dan dapat dibuat menjadi buku. Para pekerja dapat dikurangi (attritioned), kelebihan sehingga harus dirampingkan (excessed), lulus (graduated), atau bahkan tidak dipekerjakan (decruited)--si kembar jahat dari dipekerjakan (recruited).

Sufiks de- dalam bahasa inggris yang berarti menegasi telah terbukti berhasil di area ini, dari 'tidak dipekerjakan' (dehired) dan 'tidak dipilih' (deselected) saat sebuah perusahaan sedang dalam proses 'pengurangan staff' (destaff) atau 'pengurangan produksi' (degrowth).

Terminologi lain menggunakan bahasa yang lebih kompleks, seperti sebuah karya di Media Post baru-baru ini oleh Steve McClellan: "Starcom MediaVest Group milik Publicis Groupe memberhentikan 80 staf hari ini sebagai bagian apa yang disebut dengan 'kalibrasi karyawan." Sentuhan pseudo-ilmiah terminologi tersebut membuat lipstik di babi jadi benar-benar terlihat masuk akal.

Terminologi lain memiliki sumber yang berbeda. Saat kata 'crowdsourcing' (mengumpulkan bahan dari masyarakat umum) ditemukan (atau setidaknya disebar) pada 2006 oleh sebuah artikel majalah Wired yang ditulis oleh Jeff Howe, dunia usaha mendapatkan sebuah konsep yang berguna untuk menyadap apa yang disebut dengan kebijaksanaan khalayak -bahkan lebih baik lagi, mereka menemukan jalan mendapatkan pekerja gratis.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Komedian Carlin menyiratkan semakin banyak suku kata, semakin tidak dapat dipercaya terminologi itu.

Sejak saat itu, muncullah fan-sourcing (mengumpulkan materi dari para penggemar atau pendukung), friend-sourcing (pengumpulan bahan dari para sahabat), sole-sourcing (hanya ada satu pihak yang dapat menjadi penyedia jasa), dual-sourcing (pengolahan komponen yang bersumber dari dua pabrik), dan near-sourcing (menempatkan operasi bisnis di dekat pasar).

Banyak terminologi yang memiliki arti yang menjadi kabar buruk untuk para pekerja saat ini: right-sourcing (memutuskan bagaimana cara terbaik mendapatkan barang atau jasa di perusahaan), other-sourcing (melemparkan suatu pekerjaan bukan hanya ke perusahaan lain, namun juga ke robot), multi-sourcing (melemparkan teknologi informasi ke sejumlah penyedia jasa), dan un-sourcing (melempar pelayanan pelanggan atau fungsi pendukung lain ke komunitas online).

Kesemuanya menyangkut terjadinya pergeseran sebagian atau seluruh pekerjaan ke pihak luar. Terminologi-terminologi ini merujuk ke outsourcing (menggunakan penyedia jasa lain), moyang dari semua terminologi ini, yang telah membungkus berbagai manuver perusahaan dengan waja manis sejak akhir 1970an.

Komedian George Carlin menyiratkan semakin banyak suku kata, semakin tidak dapat dipercaya terminologi itu, dan banyak eufemisme meneguhkan teori ini. Kata yang panjang seperti workforce imbalance correction (koreksi ketidakseimbangan tenaga kerja) adalah bukti kreativitas dan omong kosong manusia. Ini adalah salah satu dari sekian banyak terminologi yang dikumpulkan di Spinglish: The Definitive Dictionary of Deliberately Deceitful Language (Spinglish: Kamus definitif tentang bahasa yang sengaja mengecoh) oleh Henry Beard dan Christopher Cerf, yang juga menunjuk synergy-related head count restructuring (restrukturisasi jumlah pekerja terkait sinergi) yang tidak masuk akal.

Tentu saja, 'perampingan' hanyalah puncak dari gunung es jargon. Bisnis tidak pernah disejajarkan dengan puisi, namun keduanya memiliki kegigihan yang impulsif untuk merumuskan kembali dunia mereka, sering dengan cara yang membuat orang lain mengerenyitkan kening.

Tahun lalu, perusahaan pakaian dalam Neon Moon memutuskan untuk menanggalkan label ukuran tradisional dengan kata-kata yang menyanjung: lovely, beautiful, dan gorgeous (kesemuanya berarti indah). Kata-kata ini pas untuk semua jenis ego, namun semoga beruntung dalam menebak apakah ukuran itu cocok dengan badan anda.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Kita tidak akan pernah bisa menghapus eufemisme, kata Mark Peters.

Dalam rangkuman 'perbincangan korporat' tahunan di Financial Times, Lucy Kellaway memproduksi serangkaian omong kosong besar. termasuk sebuah pertanyaan yang dilontarkan antara lain oleh Roberts dari firma desain Ideo. "Bagaimana mengaktifkan wawasan sekitar mobilitas laten atau kebutuhan multimodal?"

Mungkin pertanyaan tersebut ditujukan untuk menjadi kata mutiara Zen atau metode pencanggihan interogasi, yang menggunakan sebuah eufemisme populer untuk menyiksa.

Sebagai tambahan dari terminologi-terminologi seperti "hair management system" (sistem manajemen rambut) untuk topi renang dan "Life Performance Solutions" (solusi kinerja kehidupan) untuk kaos kaki, Kellaway menandai terminologi cemerlang lain untuk pemecatan: "dengan rapi mengurangi sekitar 3.000 orang." Iya, itu artinya 3.000 orang kehilangan pekerjaan mereka.

Tentu saja, eufemisme tidak terbatas ke dunia korporasi: bisa muncul di mana saja, biasanya ketika ada sesuatu yang sepertinya disembunyikan.

Malu akan keriput anda? Sebut saja dengan 'garis tawa'. Tidak ingin menggunakan kata zombie di acara Anda mengenai zombie? Sebut saja 'mahluk yang berjalan dan menggigit'. Ingin membuat kejadian seksual sesaat jadi terdengar lebih baik? Katakan saja anda mengalami 'kencan semalam.'

Ingin mendiskusikan hak-hak potensial untuk robot, seperti yang segera dilakukan Uni Eropa? Sebut saja mereka 'manusia-manusia elektronik'. Apakah berbincang dengan orang terdengar terlalu membosankan? Katakan saja Anda terlibat dalam 'perbincangan dengan para pemangku kepentingan terkait.'

Hak atas foto Getty Images
Image caption Penjualan buku George Orwell meningkat tajam setelah inagurasi Donald Trump di AS pada 20 Januari 2017.

Kita tidak akan pernah bisa menghapus eufemisme, namun akan lebih baik kalau hanya menggunakannya untuk situasi-situasi yang yang memang dibutuhkan.

Jika pasangan seseorang meninggal, mengatakan mereka 'telah pergi' adalah pilihan yang jauh lebih baik daripada menggunakan bahasa slang atau mengatakan sebenarnya alasan mereka meninggal seperti jatuh dari atap. Eufemisme, dalam keadaan ini, adalah teman kita. Namun jika kita adalah seorang manajer yang perlu memecat seseorang, penggunaan kata yang samar hanya makin menghinakan orang yang sudah mengalami luka pemecatan.

Saat mendiskusikan eufemisme, Orwell menulis, "Seorang pembicara yang menggunakan jenis frase seperti itu telah mengambil langkah untuk mengubah dirinya menjadi mesin."

Self-cyborgification (mentransformasi diri sendiri menjadi robot) tidak direkomendasi oleh dokter, namun saya kira memperlakukan orang lain dengan cara yang merendahkan martabat adalah dosa yang lebih buruk - atau maaf, sebuah situasi kemerosotan moral.

Versi bahasa Inggris tulisan ini bisa Anda baca di The hidden danger of euphemisms di BBC Capital

Berita terkait