Berpura-pura peduli dapat membantu karir Anda

Rekan kerja Hak atas foto Pixabay/Creative Commons
Image caption Berpura-pura peduli di tempat kerja bisa menjadi keterampilan berharga - selama digunakan dengan bijak.

Ketika Dokter Rebekah Bernard menemui pasien, ia tak selalu merasa mudah berempati dengan keluhan medis mereka - terutama jika gejalanya ditimbulkan penyakit gaya hidup, seperti penyakit jantung terkait obesitas, yang pertumbuhannya sebetulnya dalam kendali para pasien sendiri.

Namun apapun yang sebenarnya ia rasakan, dokter umum yang berbasis di Florida itu selalu mengutamakan pasien dan menyembunyikan ambivalensinya di balik tingkah laku profesional dan ramah. Dan ia selalu melakukan yang terbaik untuk membantu mereka.

Dengan kata lain, ia berpura-pura. Namun itu semua demi kebaikan pekerjaan, kolega, dan pasiennya, kata Rebekah.

Ia tak sendiri. Banyak dari kita mengatakan apa yang perlu dikatakan, asal kerjaan beres. Tapi apakah itu membuat kita tidak tulus, atau lebih buruk, pembohong? Tidak juga. Di tempat kerja, banyak dari kita menghindari topik yang rumit supaya tidak mempermalukan orang lain, atau berpura-pura peduli akan sesuatu. Bahkan, menguasai taktik ini dapat menjadi keterampilan berharga - jika digunakan dengan bijak.

Apakah itu mendengarkan keluhan yang panjang-lebar atau bersukarela membantu suatu gerakan yang tidak benar-benar Anda yakini, ada waktu ketika Anda sebaiknya terlihat peduli dan penuh kasih sayang, meskipun Anda tidak benar-benar merasakannya.

Bernard, misalnya, sering menemukan sejawat atau pasien mencerminkan kondisi emosionalnya sendiri. Jadi terkesan peduli - meskipun ia tidak merasa begitu berempati - tak hanya membuat interaksinya di tempat kerja lebih nyaman, tapi juga meningkatkan kemungkinan pasien menjadi sehat karena mereka lebih terbuka akan nasihatnya.

"Anda perlu dengan sengaja memaksa diri sendiri untuk berakting, dan ketika Anda melakukannya... Anda mendapatkan hasil yang lebih baik," ujarnya. "Mungkin Anda tidak mau menyebutnya berbohong. Sebut saja akting."

Hak atas foto Pixabay/Creative Commons
Image caption Kendati 'kepura-puraan' ini membutuhkan lebih banyak energi pada hari yang padat, hasilnya sepadan, kata Rebekah Bernard.

Namun jika Anda khawatir kalau memalsukan kepedulian akan membuat Anda terlihat seperti seorang penipu, bagaimana caranya memastikan diri Anda terkesan tulus?

Salah satu trik Bernard ialah menggunakan bahasa tubuh. Untuk menciptakan koneksi, ia menggunakan teknik mendengarkan aktif - ia menyodorkan badannya ketika pasien berbicara, merendahkan posisi duduknya sehingga ia menatap mata mereka, dan mengulangi perkataan mereka dengan kata-katanya sendiri untuk meyakinkan mereka bahwa ia mendengarkan dan mengerti.

Kendati 'kepura-puraan' ini membutuhkan lebih banyak energi pada hari yang padat, Bernard mengatakan hasilnya sepadan.

Bertindak positif

Penelitian menunjukkan bahwa melakukan tindakan positif dapat membuat Anda lebih bahagia. Studi pada tahun 2014 dari Washington State University di AS menunjukkan bahwa mahasiswa di lima negara yang bertingkah layaknya seorang ekstrovert yang bahagia merasa benar-benar bahagia pada akhir eksperimen.

Tapi bagaimana jika Anda tidak begitu menyukai kolega Anda atau tidak percaya akan isu yang dibicarakan? Apakah ada dampak buruk dari berpura-pura peduli? Jawabannya tergantung apakah Anda berpura-pura dalam upaya melakukan hal yang benar atau sekadar manipulatif.

"Orang menyadari ketika Anda tidak tulus, lebih sering dari yang Anda bayangkan," kata Monica Worline, ilmuwan riset di Center for Compassion and Altruism Research di Stanford University, California.

Hak atas foto Pixabay/Creative Commons
Image caption Salah satu trik menunjukkan empati ialah memanfaatkan rasa ingin tahu Anda dan mencari kesamaan dengan orang lain, misalnya bertanya tentang topik yang benar-benar menarik bagi Anda.

Kebanyakan orang bersikap abu-abu dalam kepedulian kepada rekan kerja mereka, ujar Monica. Motif kepedulian kepada kolega biasanya tidak sepenuhnya manipulasi, tapi campuran. Contohnya, donasi kepada atasan yang sedang berlatih untuk lomba maraton dapat dimanfaatkan untuk mempererat hubungan kerja, meski sebenarnya Anda tidak keberatan melakukannya.

"Biasanya yang terjadi ialah, 'saya memberi Anda sesuatu karena Anda juga memberi saya sesuatu' - rasanya tidak seburuk jika Anda sekadar berpura-pura," katanya.

Ketika saatnya berbasa-basi

Salah satu cara menunjukkan empati ialah memanfaatkan rasa ingin tahu Anda dan mencari kesamaan dengan orang lain, kata Brandon Smith, psikolog yang berspesialisasi dalam kultur tempat kerja.

Contohnya, jika Anda tidak tertarik mendengarkan cerita liburan seorang kolega, bertanyalah tentang proyek pekerjaan yang berarti bagi Anda. Triknya ialah bertanya tentang topik yang benar-benar menarik bagi Anda, daripada sekadar berbasa-basi, yang bisa jadi terkesan palsu.

"Jika Anda sungguh-sungguh ingin tahu tentang seseorang, mereka menganggapnya sebagai empati," kata Smith.

Ia menambahkan bahwa gestur seperti ungkapan terima kasih, hadiah sederhana, atau bahkan mengirimkan referensi yang relevan untuk riset atau pun berita terkini, dapat dengan efektif menunjukkan bahwa Anda peduli.

Smith menyarankan para kliennya untuk memproyeksikan empati, dan bukannya belas kasihan. "Belas kasihan dapat terasa seperti simpati," katanya, yang dapat membuat rekan kerja Anda merasa dihakimi, dan bukannya dimengerti. "Berusaha membantu ialah tindakan yang lebih baik."

Pentingnya ketulusan

Jika dilakukan terlalu sering, berpura-pura bisa merugikan diri sendiri. Ketika meneliti fenomena ini, Worline menemukan bahwa secara tak sadar, kolega dapat membedakan antara emosi dan aksi yang nyata dan palsu.

"Ekspresi empati yang tidak tulus dapat dengan mudah dikenali," kata Worline. "Memalsukannya lebih sulit dari yang Anda kira."

Memalsukan emosi dapat menyebabkan kolega Anda tak lagi memercayai Anda, tambahnya.

Pada tataran individu, tindakan berpura-pura juga bisa membebani diri. "Orang yang selalu harus memalsukan emosinya di tempat kerja akan lebih cepat lelah," kata Worline.

Paksaan untuk berakting daripada menunjukkan emosi yang tulus dapat membuat orang lebih mudah mengalami depresi, stres, atau ketidakbahagiaan dalam pekerjaannya, tambahnya.

Pada akhirnya, akan lebih baik bagi karir Anda jika Anda mencari cara untuk sungguh-sungguh peduli kepada orang lain, kata para peneliti. Dan beberapa perusahaan mendorong para pegawainya untuk mempelajari taktik ini.

Hak atas foto Pixabay/Creative Commons
Image caption Orang yang selalu memalsukan emosinya di tempat kerja akan lebih cepat lelah.

Plasticity Labs di Kitchener, Kanada, menyediakan platform bagi perusahaan yang ingin pegawai mereka belajar dan melatih sifat-sifat termasuk empati, ketegaran, serta kasih sayang dalam beberapa menit setiap hari.

Juru bicara perusahaan tersebut, Dave Whiteside, mengatakan sekitar 35 perusahaan klien telah memanfaatkan platform kecerdasan emosional yang membantu mereka mengukur gairah di tempat kerja. Pegawai menyelesaikan pelatihan daring yang membedah masalah di tempat kerja dari berbagai sudut pandang untuk membantu mereka memahami perspektif yang berlainan.

Langkah pertama dalam belajar untuk peduli akan masalah orang lain ialah mendengarkan kolega Anda, bukan langsung membantunya mengatasi masalah tersebut, kata Whiteside.

"Jika Anda tidak tahu apa masalahnya, Anda tidak bisa paham," kata Whiteside. "Ini tentang membangun kemampuan untuk menerima perspektif orang lain."

Anda dapat membaca versi bahasa Inggris artikel ini, Pretending you care can help your careerdiBBC Capital.

Berita terkait