Harus menjadi diri sendiri? Tidak, jika urusannya kerja

pekerjaan Hak atas foto Getty Images

Nasihat yang paling umum dalam karir benar-benar menyesatkan. Lennox Morrison menjelaskan alasannya.

"Jadilah diri Anda sendiri" menegaskan nasihat dalam karir pada saat ini. Itu terdengar di mana saja dari pemimpin bisnis di ruang rapat sampai pidato di hari kelulusan. Ini sangat umum dan bahkan menjadi alat perekrutan bagi sejumlah perusahaan.

Seseorang yang berusaha keras untuk memperhatikan nasihat ini dengan sukses adalah Michael Friedrich, wakil presiden ScribbleLive, sebuah perusahaan piranti lunak Kanada yang berbasis di Berlin. Bagi Friedrich, menjadi diri sendiri melibatkan penggunaan celana pendek untuk bekerja, dan mengatakan kepada klien yang prospektif bahwa dia tidur di lantai ruang tamu seorang teman ketika mencari rumah untuk dirinya sendiri.

Menjalankan hidup dengan aturansendiri sejauh ini berjalan dengan baik, kata Friedrich. Berkat bahasa asing, dan ketrampilan antar budaya yan diasah dengan baik ketika bepergian, dan bukannya belajar di universitas, dia mendapatkan pekerjaan dengan gaji yang bagus. Dan, terlepas dari perilakunya yang tidak lazim di ScribbleLive, dia mendapatkan promosi besar.

Hak atas foto ScribbleLive London
Image caption Michael Friedrich ketika merayakan perpisahan dengan rekannya di London sebelum melakukan perjalanan bersepeda sepanjang 800 mil ke Berlin Jerman. (Kredit: ScribbleLive London)

"Saya tidak khawatir dengan pencitraan dalam arti tradisional. Saya adalah saya," kata pria berusia 44 tahun ini. "Saya tidak menerima seperti apa adanya dan saya merayakannya."

Tetapi apakah 'menjadi diri sendiri' merupakan nasihat yang baik untuk semua orang? Berapa banyak Anda bisa mengungkapkan diri Anda kepada rekan-rekan? Dan, apakah ada yang lebih cocok dengan etos ini dibandingkan yang lain?

Batasan yang kabur

'Menjadi diri sendiri' dapat menjadi bumerang dalam situasi tertentu, kata Profesor Herminia Ibarra, seorang pakar dalam perilaku organisasi dan kepemimpinan di London Business School and Insead di Prancis.

Sebagai contoh, risetnya menunjukkan bahwa orang yang baru mendapat promosi jabatan berisiko untuk jatuh dari posisi baru mereka jika mereka bersikap kaku tentang sikap dan kepribadian 'otentik' mereka sendiri. Banyak yang bukannya menyesuaikan diri agar sesuai dengan perubahan status, malah mereka berperilaku persis seperti sebelumnya.

Sebagai contoh, seseorang yang melihat diri mereka sebagai orang yang terbuka dan ramah mungkin mengungkapkan terlalu banyak pikiran dan perasaan mereka, hingga kehilangan kredibilitas dan efektivitas mereka, jelas dia.

"Definisi yang sangat sederhana (dari otentisitas) adalah setia pada diri sendiri," kata Ibarra. "Tetapi diri sendiri itu bisa jadi siapa saya hari ini, siapa diriku dulu atau siapa diri saya esok hari."

Hak atas foto Benedict Johnson
Image caption Baru saja mendapatkan promosi sebagai manajer? Profesor Herminia Ibarra mengatakan tidak selalu bijak untuk berperilaku sama dengan sebelumnya.(Kredit: Benedict Johnson)

Pemantauan diri

Orang dapat menggunakan otentisitas sebagai alasan untuk bertahan di zona nyaman mereka, kata Ibarra. Dihadapkan dengan perubahan, "seringkali mereka mengatakan 'itu bukan aku' dan mereka menggunakan dalih otentisitas mereka untuk tidak memperluas dan berkembang.

Kemudahan yang Anda pilih untuk mengadaptasi perilaku Anda agar sesuai dengan situasi baru, tergantung pada apakah Anda seekor 'bunglon' atau seorang 'diri sendiri sejati,' menurut Mark Snyder, seorang psikolog di Universitas Minnesota. Dia membuat sebuah tes kepribadian untuk mengukurnya, yang disebut Skala Pemantauan Diri.

"Bunglon memperlakukan hidup mereka sebagai sebuah kesempatan untuk bermain dalam berbagai peran, secara hati-hati memilihi kata-kata mereka dan seksama dalam menyampaikan kesan yang tepat," kata Snyder. Sebaliknya, orang yang menunjukkan diri yang sejati menggunakan hubungan sosial mereka dengan orang lain untuk menyatakan kepribadian mereka yang tanpa tedeng aling-aling, katanya.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Bunglon' dapat mengubah warna mereka agar sesuai dengan siapapun yang ada di ruangan itu - namun mereka cenderung untuk maju, kata Mark Snyder (Credit: Getty Images)

Masalah dengan 'menjadi diri Anda sendiri' sebagai nasihat dalam karir adalah bahwa bunglon memiliki sedikit keunggulan, kata Synder. Itu karena banyak pekerjaan, terutama di tingkat tertinggi dalam perusahaan, menuntut kemampuan berperan dan penampilan, dan mendukung orang yang bisa mengubah perilaku mereka untuk menyesuaikan diri dengan situasi.

Buktikan diri Anda

Riset lainnya menunjukkan hanya jika Anda telah menapaki tangga karir maka Anda memiliki kebebasan, kekuasaan dan kesempatan untuk menjadi otentik. Itu membutuhkan waktu untuk meraih apa yang disebut para sosiolog sebagai pengakuan atas kenyentrikan.

"Para senior telah mencoba, bereksperimen, mencoba dan gagal berbagai versi tentang diri, menemukan apa yang cocok untuk mereka, dan mengkonsolidasi suatu gaya," kata Ibarra. "Mereka menasihati para siswa dan staf junior untuk menjadi 'diri sendiri' dengan niat baik, sembaru melupakan sebuah proses yang sudah berjalan selama 30 tahun."

Bahayanya mengatakan 'menjadi diri sendiri' kepada orang-orang adalah bahwa mereka mungkin berpikir hanya itulah yang perlu mereka lakukan, kata Jeremiah Stone, spesialis perekrutan di New York di Hudson RPO.

Hak atas foto Getty Images
Image caption 'Menjadi diri sendiri' tidak selalu baik (Kredit: Getty Images)

"Tidaklah berarti bahwa Anda dapat pergi ke sebuah wawancara atau sebuah lingkungan pekerjaan dan Anda berperilaku dengan cara sama seakan Anda bersama sahabat Anda. Itu artinya bahwa Anda berurusan secara otentik dengan orang lain, bahwa mereka mendapat gambaran tentang siapa diri Anda dan apa yang penting bagi Anda dan apa nilai-nilai Anda," kata dia. "Itu bukan nasihat yang buruk. Namun itu bukanlah nasihat yang terlalu bermanfaat."

Even Friedrich is unconvinced by 'be yourself' as words of wisdom - particularly for younger people. "The advice 'be yourself' - that's starting in the middle. How can you be yourself if you don't know yourself?" he says. "Get to know yourself and find out what makes you happy."

Bahkan Friedrich tidak yakin dengan 'menjadi diri sendiri' merupakan kata-kata bijak - terutama bagi orang muda. "Saran 'menjadi diri sendiri' - itu dimulai di tengah Bagaimana Anda bisa menjadi diri sendiri jika Anda tidak mengenal diri sendiri?" dia berkata. "Kenali diri Anda dan cari tahu apa yang membuat Anda bahagia."


Anda bisa membaca artikel aslinya dalam Why you shouldn't be yourself at work atau artikel lain dalam BBC Capital.

Berita terkait