Media sosial: Ketergantungan yang 'lebih parah daripada alkohol atau narkoba'

candu digital Hak atas foto Talkspace

Jika Anda tidak dapat berpaling dari Facebook, Snapchat atau media sosial lainnya, Anda tidak sendiri. Dan sekarang, ada terapis yang dapat membantu Anda dengan intervensi digital.

Jika Anda seperti tidak dapat menolak godaan untuk mengecek Facebook atau Instagram Anda selama jam kerja, atau Anda merasa gelisah saat Anda tidak dapat mengecek ponsel Anda atau saat tidak ada sinyal, Anda mungkin butuh intervensi digital.

Dalam beberapa tahun terakhir, pengguna media sosial yang sulit untuk jauh dari perangkat mereka mencari pengobatan ke para ahli. Dan mereka merespon pengobatan tersebut. Para terapis menawarkan konseling, pelatih mindfulness (membawa perhatian seseorang ke diri dan momen sekarang) mengadakan retret untuk detoks, dan perusahaan rintisan yang bergerak di corporate-wellness (kebijakan yang mendukung perilaku sehat di sebuah perusahaan) semua berlomba untuk membantu Anda melalui hari tanpa mengecek internet terus menerus.

Hasilnya adalah beragam pilihan yang dapat dicoba para pengguna media sosial untuk melepaskan diri dari kebiasaan mereka. Sesi satu jam dapat mencapai $150 (Rp2 juta), dengan retret bergaya berkemah untuk detoks menghabiskan lebih dari $500 (Rp6,75 juta) untuk beberapa hari.

Mendapatkan bantuan untuk bertanggung jawab

"Kita mengajar orang-orang menyetir dan berenang, namun semua orang membeli ponsel dan pergi," kata Pamela Rutledge, direktur Media Psychology Research Center, sebuah pusat penelitian nirlaba, di Newport Beach di Californi, AS. "Ada ketrampilan yang dibutuhkan utnuk menavigasi ruang sosial."

Hak atas foto Talkspace
Image caption Sebuah iklan dari Talkspace, yang menawarkan konseling secara online, untuk meningkatkan kesadaran akan adiksi media sosial.

Dalam beberapa tahun terakhir, jumlah pasien yang mencari bantuan dari Nathan Driskell, seorang terapis di Houston, Texas, AS untuk yang disebut dengan kecanduan media sosial naik 20% dan saat ini setengah dari pasiennya mengalami masalah itu, katanya. Yang menarik, para klien yang kecanduan game komputer telah menurun, katanya.

Tidak dianggap, tapi bisa diobati

Yang pasti, kecanduan media sosial tidak dianggap sebagai gangguan oleh buku klasifikasi medis seperti American Psychiatric Association's Diagnostic (Diagnosa Asosiasi Psikiater Amerika) dan Statistical Manual of Mental Disorders (Manual Statistik Gangguan Mental), yang dianggap sebagai standar utama mendiagnosa gangguan mental.

Apakah harus masuk atau tidak menjadi kontroversial. Namun, sebagian terapis termasuk Driskell merawat pasien dengan metode yang sama mereka merawat ketergantungan lainnya.

Di beberapa hal, dampak psikologis yang disebabkan Facebook, Snapchat dan platform digital lainnya bisa lebih sulit untuk dirawat dibandingkan kecanduan yang sudah dikenali lainnya, kata Driskell. "Ketergantungan itu lebih parah dari alkohol atau narkoba karena lebih menarik dan tidak ada stigma di belakangnya," katanya. Driskell membebankan $150 (Rp 2 juta) per jam dan bekerja dengan para pasien setiap minggu selama setidaknya enam bulan.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Menghabiskan waktu terlalu banyak di media sosial dan perangkat elektronik dapat merusak citra diri kita.

Melawan api dengan api

Perusahaan rintisan berbasis di New York Talkspace menawarkan konseling online sesuai permintaan dari 1.000 terapis dalam jaringan.

Pada 2016 perusahaan tersebut memulai menawarkan layanan khusus atas penggunaan media sosial, meluncurkan program media sosial selama 12-minggu untuk membantu menavigasi ketergantungan online sebagai bagian dari terapi yang lebih komprehensif, kata Linda Sacco, wakil presiden Talkspace untuk layanan kesehatan perilaku.

Para terapis yang berpartisipasi bekerja dengan para pasien untuk meningkatkan mindfulness dan melacak kemajuan mereka dalam beberapa bulan, kata Sacco, yang menolak untuk memberikan jumlah pengguna program saat ini.

Perusahaan tersebut menawarkan terapi berbasis pesan dengan biaya mulai dari $138 (Rp1,8 juta) per bulan, dan $396 (Rp5,3 juta) untuk terapi dengan pertemuan. Dan, meski para klien menggunakan ponsel mereka untuk sesi terapi, mereka diajarkan untuk menggunakan ponsel mereka dengan cara yang lebih hati-hati, tambahnya.

Kebanyakan orang beralih ke terapi setelah melewati banyak usaha gagal mengkontrol impuls mereka sendiri, kata Sacco.

"Pada saat mereka berpikir mereka membutuhkan perawatan mereka telah mencoba [membatasi waktu di depan layar]—dan tidak berhasil— bahkan merasa lebih buruk," kata Sacco. "Orang-orang yang datang adalah yang benar-benar menyadari bahwa hal ini mengambil alih hidup mereka."

Hak atas foto Talkspace
Image caption Cermin bergaya rumah adalah bagian dari kampanye untuk menunjukkan bagaimana media sosial mendistorsi cara pandang kita akan diri sendiri.

Sebuah kewajiban untuk membantu

Yang lain berkata kebiasaan buruk media sosial dapat diobati sebagai masalah di tempat kerja. Di London, Orianna Fielding mendirikan Digital Detox Company pada 2014, setelah meneliti sebuah buku mengenai melepaskan diri (dari sambungan internet).

Fielding saat ini bekerja dengan perusahaan-perusahaan untuk membantu para pegawai menavigasi penggunaan media sosial mereka daripada membiarkan mereka mengelola masalah mereka sendiri.

Programnya dimulai dengan lokakarya yang dihadiri peserta dan kemudian para pegawai menggunakan modul online yang dibuat sesuai kebutuhan yang memenuhi pemicu digital mereka sendiri, termasuk interupsi dari media sosial.

"Kami membingkai ulang hubungan kita dengan teknologi," kata Fielding, yang membebankan £600 (Rp10 juta) rata-rata per hari. Seorang eksekutif di perusahaan dapat mendaftarkan diri mereka untuk loka karya tambahan yang fokus terhadap peningkatan produktivitas, tambahnya.

Mendapatkan yang benar

Para ahli memperingatkan jika terlalu mengandalkan retret detoks digital atau mindfulness tanpa tindak lanjut. Detoks selama akhir pekan atau seminggu penuh, yang biasanya dilakukan dengan menghabiskan waktu di alam untuk membantu para pengguna memisahkan diri dari perangkat, dapat menjadi langkah awal yang baik, kata Driskell.

Namun seperti ketergantungan yang lain, para klien biasanya mengunjungi setidaknya enam bulan sampai satu tahun untuk memahami bagaimana mengelola perilaku mereka sendiri jika tidak dalam program detoks, katanya. "Baik untuk melakukan detoks untuk mengalihkan pikiran Anda, namun kemudian Anda kembali ke kehidupan yang sama seperti sebelumnya," yang dapat menghambat kemajuan, kata Driskell.

Saat terapi sendiri berhasil

Beberapa perusahaan ingin menarik pengguna media sosial yang belum begitu siap dengan serangan dari terapi bertatap muka namun masih ingin berusaha keluar dari media sosial.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Ketergantungan media sosial 'lebih parah dari alkohol atau narkoba karena lebih menarik dan tidak ada stigma di belakangnya'.

Di Berlin, Offtime, sebuah perusahaan yang mendeskripsikan dirinya sebagai "perusahaan rintisan pascateknologi" yang pertama yang dikhususkan untuk "menyeimbangkan kembali fokus dan digital," bekerja sama dengan para pengguna untuk mengkontrol penggunaan media sosial mereka lewat aplikasi sambil juga menawarkan berbagai lokakarya dengan bertatap muka untuk detoks.

Hasilnya sejenis kruk, untuk membantu orang-orang yang menyadari penggunaan media sosial yang meningkat namun ingin mengatasinya sendiri, kata psikolog Alexander Steinhart, yang ikut mendirikan perusahaan itu pada 2014.

Daripada menunggu sampai seseorang mendapatkan masalah, penting bagi para pengguna untuk mencari rutinitas yang sehat setelah mempelajari praktik terbaik. Rutledge berkata bahwa kebiasaan teknologi yang baik butuh langusng diterapkan begitu teknologi baru muncul.

"Orang-orang cenderung langsung menyebutnya candu," katanya. "Daripada melihat itu sebagai ketidakseimbangan."

Versi bahasa Inggris tulisan ini bisa Anda baca diThe addiction that's 'worse than alcohol or drug abuse'diBBC Capital

Berita terkait