Bahasa seksis yang tersembunyi dalam percakapan di kantor

seksis

Sebagian kita mungkin merasa sudah cukup progresif secara pemikiran dan perbuatan terkait seksisme. Namun, ungkapan-ungkapan bernada seksis ternyata masih tersembunyi dalam frasa dan kata-kata yang kita gunakan saat bekerja, kata Mark Peters.

Tingkah-tingkah manusia purba yang memanggil perempuan "sayang" atau "baby" sudah jarang terdengar. Di tempat kerja, kata-kata seksis semacam itu tidak dapat lagi diterima.

Namun, ternyata masih banyak bukti bahwa bahasa bersentimen gender masih banyak ditemukan di tempat kerja. Bahkan, dilontarkan secara konstan. Misalnya, dalam ulasan kinerja, perempuan cenderung mendapat masukan yang tidak mendetil atau samar, sementara laki-laki cenderung mendapat komentar yang lebih spesifik terkait kemampuan dan kinerjanya. Ini juga terasa dalam bahasa surat-menyurat elektronik di kantor.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Banyak bukti bahwa tingkah laku yang seksis masih terjadi di kantor-kantor, terutama dari sisi bahasa.

Memisahkan bahasa dan gender tidaklah mudah, karena keduanya punya hubungan mendalam dan kompleks sejak lama. Keduanya saling kait mengait satu sama lain, baik secara vulgar maupun halus.

Stereotipe yang tak hilang

Banyak kata atau perumpamaan yang secara objektif didasarkan pada gender. Seperti yang dikumpukan oleh Deb Liu, salah satu petinggi Facebook.

Beberapa istilah sudah sangat tua, misalnya gentleman's agreement (kesepakatan para pria terhormat: kesepakatan yang didasarkan pada kepercayaan), yang sudah ada sejak tahun 1920an.

Beberapa bahasa bernuansa dunia olah raga, seperti man-on-man defence ('penjagaan satu pria terhadap pria lain': menjaga gerak saingan) dan quarterback (pemimpin sebuah proyek). Ada pula yang bernada pahlawan superhero, seperti right-hand man ('pria tangan kanan' - orang kepercayaan) dan poster boy (bocah pria layak poster: karyawan unggulan).

Sementara, Liu menekankan, istilah dengan gender perempuan, banyak yang bernada negatif. Siapa yang mau dipanggil drama queen (ratu drama), mean girl (perempuan jahat), Debbie Downer (orang yang selalu berpikiran negatif dan memperburuk suasana)?

Selain itu, kata dan ekspresi lainnya meskipun tidak secara spesifik terkait gender, tetapi sudah melekat menjadi stereotipe gender tertentu. Peneliti dari Clayman Institute mengelempokkan bahasa terkait kepemimpinan di perusahaan dalam dua kelompok: agentik dan komunal.

Hak atas foto Bert Garai
Image caption Meskipun banyak kata yang dibuat bersentimen gender, seperti stewardess (pramugari), sebagian besar di antaranya tidak lagi digunakan.

Bahasa komunal kerap diungkapkan terkait perempuan dan berhubungan dengan karakteristik perempuan seperti; kerap memberikan dukungan, kehangatan dan membantu tim. Sementara bahasa agentik diterapkan pada laki-laki dan biasanya terkait dengan kemampuan menyelesaikan pekerjaan, memimpin proyek atau bekerja mandiri.

Peneliti Clayman, JoAnne Wehner menyebut bahasa agentik adalah "bahasa yang menunjukkan ke-aku-an", sementara komunal adalah bahasa yang lebih mengedepankan sesuatu dilakukan bersamaan, atau "ke-kami-an". Meskipun tidak semua laki-laki atau perempuan tepat menyandang jenis bahasa tersebut, tetapi penggunaannya dinilai sudah mendarah daging.

Berlapis-lapis

Beberapa kata bahkan terdengar manipulatif dan egois. Contohnya kata dalam bahasa Inggris, "Guy" (laki-laki), yang bisa menjadi perwakilan bagaimana bahasa berevolusi terlalu banyak untuk laki-laki.

Format jamak dari Guy, yaitu "Guys" bisa diartikan sebagai sekelompok laki-laki dan juga sekelompok perempuan, meskipun format tunggalnya, hanya berarti laki-laki. Janggal bukan? Sebagai pengganti, kata yang paling layak sebenarnya digunakan adalah "Folks" (orang-orang) yang bisa memuat jenis gender apapun. Kata itu kerap digunakan mantan presiden Amerika, Barack Obama.

Namun, apa yang ada sekarang sudah jauh lebih baik. Sudah banyak kata yang terlalu memojokkan dan membedakan perempuan, sudah hilang. Kata hostess (tuan rumah perempuan), stewardess (pramugari), atau waitress (pramusaji perempuan) memang masih ada. Tetapi banyak kata serupa yang tidak lagi digunakan.

Pada tahun 1400an, penulis buku perempuan dalam bahasa Inggris dipanggil authoress, sekarang author saja. Sementara pada 1800an, perempuan pembunuh bayaran disebut assassinatress. Begitu juga dengan cousiness (sepupu perempuan), inventress (penemu perempuan), dan lain sebagainya.

Hak atas foto JOSHUA LOTT
Image caption Mantan presiden AS, Barack Obama, lebih memilih menggunakan kata folks (orang-orang) dibandingkan guys (lebih bersentimen gender).

Tren serupa yaitu dengan menaruh "lady" di depan kata. Kamus Bahasa Inggris Oxford memiliki sejumlah contoh, misalnya lady-nurse (perempuan perawat), lady-housekeeper (perempuan pembantu rumah tangga) dan lady-cook (koki perempuan).

Penulis DH Lawrence pada 1929 juga tampak menggunakan kata-kata tersebut sebagai bagian dari kalimat yang seksis: "Anda hanya akan bisa terlihat berbeda, jika Anda sedikit merendahkan diri, seperti shop-lady (perempuan penjaga toko) atau lady-secretary (sekretaris perempuan)."

Tentu, ketika kita melihat lagi ke belakang, bahwa pernah ada kata-kata seperti inventress atau greengroceress, kita akan merasa sekarang sudah begitu maju. Namun, di masa depan, akan ada orang yang berkata ketika mereka mengetahui pernah ada kata poster boy atau right-hand man, bahwa mereka juga telah membuat kemajuan. Kita semua berubah terus bukan? Ke arah yang lebih baik?

Anda bisa membaca versi bahasa Inggris dari artikel ini berjudul The hidden sexism of workplace lang di BBC Capital.

Topik terkait

Berita terkait