Mengapa kantor 'gaya' tidak selalu membahagiakan pegawainya

kantor Hak atas foto Stephen Brashear
Image caption Tempat kerja yang membahagiakan tidak memerlukan beanbags, tempat membakar daging dan bermain bola.

Siapakah pegawai di Inggris yang paling bahagia? Jawabannya adalah staf kantor perusahaan perjalanan teknologi Amerika Serikat, Expedia, di London, menurut survei tahunan kepuasaan tempat kerja Glassdoor.

Pada tahun 2016 dan 2017, Expedia mencatat tingkat kepuasan tertinggi para pegawai, berdasarkan survei pegawai saat ini dan mantan staf, yang dilakukan tanpa mencantumkan nama mereka.

Membaca laporan tentang 'kantor paling bahagia di London' yang diterbitkan Business Insider, mungkin akan membuat Anda berpikir tingginya tingkat kepuasaan pegawai Expedia hampir sepenuhnya disebabkan kantornya yang memiliki berbagai kelebihan, termasuk meja pingpong, sepakbola, permainan komputer, dan bar minuman.

Jelas tidak diragukan berbagai hal ini membuat kantor sangat menarik.

Tetapi survei memperlihatkan bahwa pegawai Expedia senang bekerja di sana karena bisnisnya dan bukan karena kantor yang bergaya. Hal yang paling dianggap penting adalah 'budaya' dan 'kemungkinan berkarier'. Keadaan fisik malah nyaris tidak disebut.

Memang sudah menjadi tren. Keunggulan tempat kerja sering kali -secara tidak benar- dikaitkan dengan astetika dari kantir, terlepas dari faktor yang lebih penting seperti keamanan kerja atau kepuasan kerja.

Dan sangat mudah ketika membuat profil sebuah perusahaan, seperti yang dilakukan Business Insider, maka yang digunakan adalah rancangan kantor yang mahal sebagai metafora bagi karyawan yang gembira.

Namun sebenarnya tidak benar. Tempat kerja yang menyenangkan tidak membutuhkan kursi bantal empuk yang besar, tempat panggang makanan, atau main bola.

Hal-hal tersebut -walau masih diperdebatkan- memang menyenangkan namun bukan sebuah budaya. Sebagai bagian daru untuk dilihat sebagai tempat yang menyenangkan dan gembira untuk bekerja, bisnis modern telah terlalu jauh berusaha mengubah kantor mereka nyaris menjadi sebuah sirkus untuk memperbaiki citra guna mengambil hati calon pegawai dan para wartawan.

Ya, Expedia adalah tempat kerja dan ya, kantor yang sangat bagus. Tapi lebih pada karena perusahaan-perusahaan yang melakukan investasi untuk lingkungan fisik yang bagus juga kemugkinan berinvestasi untuk hal-hal yang bermakna bagi kepuasan karyawan. Expedia, misalnya, memberikan insentif perjalanan bagi pegawainya senilai US$14.000 atau Rp186 juta per tahun.

Bisnis bukan tempat tidur gantung

Bisnis menghabiskan miliaran dolar setiap tahunnya untuk membahagiakan pegawainya. Namun tidak berhasil. Di Amerika Serikat, 70% pegawai merasa tidak terlibat. Pekerja kantoran ingin hal-hal yang lebih sekedar mainan dan tempat istirahat.

Kenyataanya, sebuah studi belum lama ini yang saya juga terlibat, mengungkapkan bahwa hal-hal aneh sebenarnya mengganggu pegawai. Orang jarang sekali ingin bekerja di tempat tidur gantung (hammock) atau menggelar rapat penting di lapangan bola.

Jika para majikan mengdengar lebih banyak, mereka akan menyadari bahwa orang-orang sebenarnya tidak menuntut terlalu banyak. Layar komputer pribadi merupakan hal penting bagi banyak orang -74% dari 1.000 pekerja kantor yang disurvei dalam sebuah studi terkait mengatakan perasaan bahwa orang lain bisa melihat yang sedang mereka kerjakan menyebabkan mereka khawatir.

Dan itu masalah yang murah untuk diatasi dan akan meningkatkan kebahagiaan di tempat kerja bagi banyak orang. Namun sulit untuk diterbitkan di Instagram untuk dipamerkan.

Kepuasaan pegawai seringkali didapat dari hal kecil seperti menyediakan perabotan kantor berkualitas tinggi dan nyaman, menyediakan minuman, bukannya onggokan rumput dan tempat tidur gantung, yang menurut studi dianggap sebagai upaya yang paling tidak berguna selain untuk sekedar muncul di Instagram.

Kajian Society for Human Resource Management di tahun 2016 menyatakan gaji, masa depan, penghormatan dan kepercayaan yang paling memberikan kebahagiaan kepada pegawai. Ini bukan hal baru. Sisihkan uang, dan masalahnya lebih berkaitan dengan hubungan bukan nilai, pada tanggung jawab sosial perusahaan atau CSR dan bukan keindahan yang membuat orang bangun dari tempat tidur setiap hari Senin.

Dan itu ada alasannya. Salah satu sumber kebahagiaan -dalam hidup dan bukan hanya pekerjaan- berasal dari penciptaan hubungan yang kuat dan akrab, menurut sebuah kajian Harvard alumni 1980.

So how do companies foster good relations among their people? The obvious answer would be office socials, an open-plan workspace and regular activities, something ost modern offices are already investing in. Companies such as Expedia also invest in events which combine training with networking opportunities.

Jadi bagaimana cara perusahaan menciptakan hubungan di kalangan pegawainya? Jawabannya jelas pergaulan kantor, tempat kerja yang terbuka, dan kegiatan rutin, hal-hal yang sudah dilakukan oleh beberapa kantor modern. Perusahaan seperti Expedia juga melakukan investasi pada sejumlah acara yang menggabungkan pelatihan dengan peluang untuk menjalin jaringan.

Dalam dan berarti

Tapi mungkin tidak sesederhana itu. Jika kita membicarakan hubungan yang benar-benar kuat dan berarti, maka hal itu jarang tercipta di kantor yang nyaman. Jika Anda ingin persabahatan yang langgeng dari pekerjaan, Anda sama sekali harus keluar dari kantor.

Sebuah survei atas 1.000 warga dewasa Inggris yang dilakukan Februari 2017 menemukan orang-orang yang bekerja dalam lingkungan dengan interaksi sosial tinggi seperti kantor pusat kota yang mudah menjangkau pub dan bar, atau kompleks 'bergaya kampus' lebih buruk kinerjanya dalam hal menjalin hubugan dibanding petani, pekerja tambang minyak dan pekerja malam hari.

Kenyataannya, semakin antisosial lingkungan pekerjaan akan lebih besar pula kemungkinan Anda menciptakan hubungan yang lebih kuat.

Tempat kerja yang membuat orang lebih mudah bergaul akan menciptakan sikap santai dalam menjalin hubungan. Lingkungan kerja yang lebih keras, seperti di luar ruang, mendorong orang untuk membangun hubungan yang lebih kuat.

Sepertinya bertentangan dengan nurani, tetapi dengan menggali lebih dalam akan terungkap bahwa kemudahan bergaul menciptakan hubungan yang lebih di permukaan semata.

Jika setiap malam sepanjang minggu ada kesempatan untuk bergaul setelah bekerj, maka hubungan lebih didasarkan kesempatan dan kenyamanan. Orang-orang dengan kesempatan bergaul yang lebih sedikit cenderung lebih hati-hati memilih teman untuk bergaul.

Tidak berarti bahwa kegiatan di luar ruang selalu menunjang hubungan kerja yang lebih kuat, tetapi sifat pekerjaan itu sendiri yang lebih berpengaruh. Pekerjaan seperti menangkap ikan, bangunan, dan pengamanan memerlukan kerja sama fisik dan memiliki unsur bahaya, sehingga mendukung pembentukan hubungan yang melampaui peran pekerjaan kantoran.

Di luar ruang, ada kriteria seleksi yang lebih ketat untuk bergaul, terutama ketika kemungkinan untuk minum-minum bersama justru tidak ada. Orang yang bekerja di kapal, bangunan. dan malam hari harus lebih berusaha jika ingin bergaul dengan rekannya, jadi dengan orang yang mereka pilih untuk berteman terlepas dari hubungan kerjanya.

Syarat pemilihan sosial yang lebih ketat kemungkinan meningkatkan peluang peremananan yang lebih langgeng dan lebih bermakna. ***

Tulisan ini pertamakali muncul di The Conversation dan diterbitkan kembali atas izin Creative Commons.

Versi bahasa Inggris artikel ini bisa Anda baca di Why 'cool' offices don't always make for a happier workforce dan artkel lainnya di BBC Capital.

Topik terkait

Berita terkait