Apakah ketakutan akan PHK bisa membuat kita bekerja lebih keras?

Pekerja pabrik mobil Hak atas foto PASCAL LACHENAUD/AFP
Image caption Bagi karyawan, ketidakpastian kerja tidak hanya menyangkut ancaman PHK tetapi juga terkait dengan kecemasan tentang masa depan peran seseorang.

Panik menerima slip pembayaran gaji? Stres dapat membuat kita merasa lebih buruk di tempat kerja.

Khawatir diputus hubungan kerja (PHK), merasa tak berdaya karena adanya perubahan praktik-praktik tertentu di tempat kerja, dan ketidakpastian tentang peran seseorang dapat berdampak pada performa kerja dan kondisi mental.

Namun demikian, menciptakan situsasi tak pasti secara sengaja sudah menjadi taktik yang digunakan di sebagian industri -dengan menambah tuntutan dan tekanan terhadap para karyawan- berdasarkan keyakinan, walau salah, bahwa langkah itu akan menambah performa para pekerja.

Terdapat beberapa versi dari jenis manajemen ini. Yang pertama aturan 20-70-10, yang dipopulerkan oleh mantan presiden direktur General Electric, Jack Welch, yang mendorong PHK sebanyak 10% dari karyawan yang paling tidak berprestasi.

Versi lain, yang dikenal dengan istilah 'up or out', adalah strategi yang digunakan oleh sebagian perusahaan bantuan hukum dan konsultasi. Dengan aturan itu maka karyawan yang tidak mencatat perbaikan atau kariernya tidak naik yang akan diganti.

Jadi bumerang

Namun membuat karyawan waspada dengan menanamkan rasa ketidakpastian di tempat kerja, biasanya tidak baik bagi perusahaan karena lebih banyak menimbulkan efek negatif dibanding sisi postif, kata William Schiemann, pimpinan Metrus Group, perusahaan riset di Somerville, di New Jersey, Amerika Serikat.

"Ketika perusahaan-perusahaan menggunakan kepastian kerja sebagai hukuman dan bukan sebagai hadiah, maka hal itu menjadi bumerang karena karyawan kehilangan komitmennya," katanya.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Mantan bos legendaris General Electric, Jack Welch, menerapkan sistem 20-70-10.

Ditambahkannya taktik tersebut dapat menghancurkan kepercayaan di tempat kerja.

Tetapi terlepas dari ancaman kehilangan pekerjaan tidak pernah menyenangkan, apakah memang ada tingkat optimal dari kepastian kerja yang dipersepsikan yang kemudian membuat kita berusaha melakukan yang terbaik?

Dan apakah ada hal-hal yang dapat kita lakukan sebagai karyawan yang hanya melakukan tugas dasar yang rutin?

Jawabannya rumit.

Membedah keamanan kerja

Meskipun banyak karyawan yang khawatir akan instabilitas pekerjaan, sebenarnya bagaimana dan kenapa ketakutan-ketakutan itu muncul merupakan hal yang subjektif. Kecemasan terkait pekerjaan tergantung pada profesi, peran, situasi keuangan, dan bahkan lokasi.

Misalnya, para pekerja di Eropa mendapat perlindungan lebih ketat dalam hal pengurangan karyawan dibandingkan karyawan di Amerika Serikat.

Di Belgia, karyawan dengan masa kerja selama tiga tahun harus menerima pemberitahuan tiga bulan sebelum diberhentikan namun di Amerika Serikat pemberitahuan PHK dengan masa kerja yang sama hanya sekitar dua minggu.

Hak atas foto STEPHANIE LECOCQ/EPA
Image caption Kalangan pekerja di negara-negara Eropa, seperti di Belgia ini, mendapat perlindungan lebih besar dibanding pekerja di Amerika Serikat.

Bagi pekerja, keamanan kerja tidak hanya merujuk pada ancaman PHK, tetapi juga kecemasan tentang masa depan peran mereka -hal yang disebut sebagai ketidakpastian kerja kualitatif, kata Tinne Vander Elst, psikolog bidang organisasi di Universitas KU Leuven, Belgium.

Di Belgia, misalnya, meskipun hanya 6% pekerja takut kehilangan pekerjaan, 31% takut akan perubahan negatif dalam kondisi kerja. Keduanya dapat berdampak pada performa, kata Vander Elst.

Stres dosis kecil

Tak diragukan lagi kemungkinan kehilangan pekerjaan dan ketidakpastian karier menimbulkan stres. Tetapi dalam dosis kecil, perasaan ketidakpastian kerja mungkin memberikan insentif tambahan untuk melakukan yang terbaik dalam jangka pendek, kata Schiemann.

Sebagian ketidakpastian yang ada hubungannya dengan pekerjaan -pada masa PHK atau pengurangan karyawan, sebagai contohnya- dapat membuat karyawan bekerja lebih keras untuk membuktikan kepada pihak manajemen bahwa mereka layak dipertahankan.

"Jika (karyawan) berpikir situasinya dapat terkontrol, mereka masih akan melakukan usaha nyata."

Bagi konsultan, tambah Schieman, merasa tidak yakin apakah mereka masih akan bisa mendapat proyek juga dapat meningkatkan performa.

Meskipun tidak ada penelitian ilmiah tentang fenomena khusus ini, beberapa penelitian menunjukkan bahwa dalam sebagian kasus, stres di tempat kerja dapat membantu kita lebih fokus dan meningkatkan efisiensi.

Namun, situasi kerja yang sangat membuat stres tidak pernah punya dampak baik bagi performa jangka panjang, menurut David Creelman, seorang konsultan sumber daya manusia yang berkantor di Toronto, Kanada.

"Kita tidak seharusnya menempatkan seseorang dalam situasi seperti ini jika kita dapat mencegahnya," tutur Creelman.

"Orang-orang yang sangat stres kemungkinan besar mengalami gangguan mental dan penyimpangan etik, dan lebih sulit diajak bekerja sama sebagai anggota tim, dibandingkan orang-orang yang tidak menderita stres."

Masalah jangka panjang

Menurut Vander Elst, ketidakpastian terkait pekerjaan tidak hanya berdampak pada kesehatan dan mengubah performa, tetapi juga memicu persoalan fisik yang dapat berlangsung bertahun-tahun setelah kita meninggalkan pekerjaan.

Hak atas foto PA Wire
Image caption Dampak ketidakpastian kerja dikatakan masih dapat dirasakan beberapa tahun kemudian.

Dalam penelitian terbarunya, karyawan yang melaporkan bahwa mereka yang mengalami ketidakpastian kerja pada tingkat tinggi akan merasa depresi meskipun sudah tiga tahun kemudian, jelasnya.

"Mengalami ketidakpastian kerja merupakan titik kritis untuk menjadi depresi," jelasnya.

Menurut Vander Elst, bahkan jika sebagian orang mampu melakukan pekerjaan dengan lebih baik ketika menghadapi ketidakpastian, mereka yang merasa tidak aman terkait pekerjaan, tetap tidak diuntungkan.

Ditambahkannya bahwa gagasan ketidakpastian kerja dalam tataran tertentu dapat membuat pekerja lebih produktif adalah suatu konsepsi yang salah.

"Ketidakpastian kerja berkaitan dengan performa peran tingkat lebih rendah, sikap lebih rendah terhadap kerja inovatif, tingkah laku bullying lebih tinggi di tempat kerja dan lebih banyak karyawan yang keluar," katanya.

Bagi karyawan yang ingin merasa nyaman di tempat kerja, Schiemann menyarankan agar mencari manajer dan perusahaan yang menitik beratkan pada keadilan dan transparansi, yang dapat membantu kita bekerja lebih baik di masa-masa ketidakpastian.

Apapun jenis industrinya, kita akan lebih terlibat jika kita merasa perusahaan memperlakukan kita dan kawan-kawan sejawat sama, kata Schiemann.

Pada akhirnya, tidak ada rumus khusus yang dapat membuat kita merasa aman terkait pekerjaan kita. Dan jika hal tersebut memengaruhi performa, maka tiba waktunya untuk memperhatikannya.

Versi bahasa Inggris Can a fear of getting fired make you work harder? dapat baca di BBC Capital.

Topik terkait

Berita terkait