Mengapa kewarganegaraan menjadi sebuah komoditi?

paspor Hak atas foto Juliette Kunstman / EyeEm

Dalam penerbangan baru-baru ini, saya membaca majalah maskapai dan melihat sebuah iklan yang tidak biasa menjanjikan "strategi unik untuk memastikan kemakmuran masa depan dan keamanan."

Iklan tersebut menjual apa yang dinamakan "kewarganegaraan lewat penanaman modal."

Saya sudah mendengar penjualan kewarganegaraan di masa lalu dan, karena dipicu iklan tersebut, saya sejenak memikirkan apakah berguna dan diperlukan untuk memiliki kewarganegaraan kedua, selain Amerika Serikat. Apakah hal ini dipikirkan orang, selain yang sangat kaya, karena alasan mengoptimalkan pajak? Jika memang begitu, apa alasannya?

"Peningkatan pergerakan penduduk dunia, bersama-sama dengan peningkatan perasaan bagi terciptanya masyarakat terpisah, semuanya menunjang ketidakpastian dunia kita yang cepat berubah," iklan tersebut menjelaskan.

Hak atas foto Gavin Hellier / robertharding Getty
Image caption Usaha pemberikan kewarganegaraan negara-negara Karibia dengan imbalan US$100.000 atau Rp1,3 miliar tanpa harus tinggal disana, menjadi sumber pemasukan yang besar

Karena semakin banyak negara yang memperketat perbatasan dan jalur imigrasi, muncul industri baru yang memotong semua pembatasan ini, dengan imbalan uang yang tidak sedikit.

Usaha keras untuk tetap menjadi warga dunia

Program kewarganegaraan penanaman modal bukanlah hal yang baru. Hal ini sudah ada sejak puluhan tahun, terutama sebagai suatu cara bagi sejumlah negara untuk meningkatkan pemasukan. Kanada dan negara Karibia, St Kitts and Nevis memulainya di tahun 1980an and Amerika Serikat serta Inggris melakukan hal yang sama di tahun 1990an.

Rincian program kewarganegaraan penanaman modal berbeda-beda dari satu negara ke negara lain. Program ini memungkinkan orang asing menanam modal di proyek real estate dan bisnis, membeli properti, atau menyumbangkan uang secara langsung ke pemerintahan sebuah negara dengan imbalan sebuah visa atau paspor.

Hak atas foto Michal Gutowski Photography Getty
Image caption Program paling terkenal adalah di Karibia, dimana rendahnya penanaman modal minimum dan cepatnya proses menarik perhatian investor

St. Kitts and Nevis meluncurkannya pada tahun 1984, satu tahun setelah negara bermasalah tersebut mendapatkan kemerdekaan dari Inggris. Tujuannya adalah untuk mendapatkan lebih banyak aliran dana dari wiraswastawan yang melihat nilai pantai tropis dan pajak yang rendah.

Program paling terkenal adalah di Karibia, dimana rendahnya penanaman modal minimum dan cepatnya proses menarik perhatian investor.

Pada mulanya hanya ratusan orang yang ikut serta. Tetapi pada tahun 2009, dengan dukungan kampanye pemasaran, pemegang paspor negara pulau tersebut diberikan akses bebas-visa ke 26 daerah Schangen dan permintaan meningkat dengan cepat.

Industri ini mengalami pertumbuhan sangat besar dalam beberapa tahun terakhir. Tahun 2014 menandakan tahun pertama AS kehabisan visa penanam modal imigran sebelum tahun buku berakhir.

CS Global Partner yang bermarkas di London, sebuah perusahaan konsultan pembuat iklan pada majalah maskapai penerbangan yang saya baca, menuntut para penanam modal melewati proses hukum mendapatkan paspor lewat penanaman modal.

Perusahaan tersebut mengatakan minat terhadap layanan mereka meningkat empat kali lipat pada tahun lalu.

"Jelas kami menyaksikan perubahan besar," kata CEO-nya Micha Emmett. "Pasar tradisional masih ada, masih kuat, tetapi kami menyaksikan (orang-orang) dari sejumlah negara yang tidak pernah tertarik pada kewarganegaraan kedua berdasarkan penanaman modal sebelumnya. Sekarang mereka mengajukan pertanyaan lewat internet. Misalnya, kami menyaksikan peningkatan 400% pertanyaan dari Turki pada bulan Maret."

Peristiwa seperti Inggris meninggalkan Uni Eropa dan pemilihan presiden AS tahun 2016 menunjang perhatian ini.

Warga Inggris sekarang benar-benar memilikirkan berbagai pilihan mereka, kata Emmett.

"Dalam kaitannya dengan kejadian Brexit di Inggris, pada hari hal tersebut diumumkan, telepon kami terus berdering. Saya dihampiri orang di jalan, terlihat jelas terjadi kepanikan," tambahnya.

Perubahan klien

Penanam modal perseorangan yang kaya dari ekonomi pasar berkembang menentukan arah kecenderungan ini, menurut The International Monetary Fund.

Data dari program visa EB-5 yang kontroversial di AS, memungkinkan warga asing untuk menanam modal di proyek real-estate dengan imbalan lamaran kartu hijau jalur cepat.

Kebijakan ini memperlihatkan pergeseran demografi, menurut Peter Joseph, direktur eksekutif Invest In USA, sebuah organisasi perdagangan industri yang menunjang program ini.

"Kita menyaksikan beberapa negara yang memperkuat kecenderungan keragaman. Cina adalah sumber utama (pelamar), sekitar 80%, tetapi tempat-tempat seperti Vietnam, India dan Brasil telah menjadi sumber pertumbuhan dalam beberapa tahun terakhir," katanya.

Paul Williams dari La Vida Golden Visas, yang mengkhususkan diri pada izin tinggal kedua dan kewarganegaraan di dalam Eropa, bekerja dengan klien dari lebih 50 negara. Sejak Inggris memilih Brexit, katanya, untuk pertamakalinya dia menyaksikan perhatian dari warga Inggris.

Kewarganegaraan: komoditas yang laku keras

Program yang paling dikenal berada di Karibia, di mana pantai pasir putih, persyaratan penanaman modal yang rendah, persyaratan pemukim yang tidak membatasi dan proses yang cepat membuat penanam modal tertarik.

Sebagai contoh, untuk menjadi warga pulau Karibia, Dominica, yang berada di antara Guadeloupe dan Martinique, Anda perlu menanam modal US$100.000 atau Rp1,3 miliar tanpa kewajiban harus tinggal di pulau tersebut atau harus menunggu.

Dan program seperti ini merupakan pendorong ekonomi yang penting.

Di St. Kitts and Nevis, paspor adalah ekspor terbesar negara itu dan dana yang didapat dari program tersebut dipandang berperan dalam mengangkat negara itu keluar dari utang dan mendorong lonjakan sektor bangunan.

IMF menyatakan kewarganegaraan lewat program penanaman modal merupakan 14% dari Produk Domestik Bruto St Kitts di tahun 2014 dan pihak lain memperkirakan program tersebut kemungkinan menyumbang sampai 30% pemasukan pemerintah di tahun 2015.

Tetapi semakin banyak negara-negara lebih kaya yang memberikan 'kewarganegaraan bayaran'. Program yang bisa diperbandingkan terjadi di Selandia Baru, seharga NZ$1,5 juta atau Rp14,3 miliar, ini adalah program yang digemari kelompok elit TI Sillicon Valley, atau £2 juta di Inggris dan US$500.000 yang diminta AS.

Joseph mengatakan program EB-5 sangat bernilai bagi negara itu, karena memberikan lebih US$1 miliar atau Rp13 triliun bagi ekonomi AS pada setiap kuartal.

"Kami mengalami pertumbuhan tinggi sejak masalah keuangan di tahun 2008 dalam bentuk peningkatan lebih 1.200% dari tahun 2008 sampai saat ini," katanya.

Peningkatan perhatian terhadap program AS sebagian disebabkan ekonomi yang relatif stabil dan iklim penanaman modal yang aman, selain rendahnya persyaratan minimum.

Program EB-5 mensyaratkan US$500.000 atau Rp6,6 miliar untuk ditanam pada bidang yang kekurangan pekerjaan dan dana. Tetapi para pengecamnya mengatakan rendahnya persyaratan merupakan sebuah celah yang disalahgunakan para pengembang.

Meskipun AS membatasi jumlah visa yang diberikan setiap tahunnya melalui program ini menjadi 10.000 visa, tetapi jumlah pelamar tidak ada batasnya.

Perhatian yang diterima juga tidak terbatas sepertinya. "Saat ini terdapat lebih 23.000 permintaan penanam modal untuk mendapatkan nomor visa," kata Joseph. "Itu barulah jumlah yang belum tertangani saat ini."

Hak atas foto Ian Waldie
Image caption Anda menginginkan paspor Eropa? Hampir setengah negara anggota Uni Eropa menawarkan semacam program pemukim penanam modal atau kewarganegaraan.

Berdasarkan perhitungan terakhir, 23 negara mulai dari Siprus sampai Singapura diberikan sejenis skema penduduk penanam modal atau kewarganegaraan.

Program sejenis terus dikembangkan di Eropa. Hampir setengah dari semua negara anggota Uni Eropa sekarang memberikan sejenis program pemukim penanam modal dan kewarganegaraan.

Mobilitas kuncinya

Hanya dengan dana US$50.000 atau Rp664 juta (di Latvia) atau sampai sebesar US$10 juta atau Rp132 miliar (di Prancis), warga asing dapat membeli status hukum izin tinggal, bekerja dan bank di beberapa negara. Yang lebih penting kemungkinan, setelahnya, adalah mereka membeli akses perjalanan bebas-visa ke negara-negara di dunia.

Dan terdapat sebuah sistem pemeringkatan tidak resmi bagi paspor yang paling diinginkan.

"Sejumlah orang di industri ini menentukan (nilai) berdasarkan jumlah negara bebas-visa yang dapat dikunjungi seseorang. Jadi saya pikir saat ini data yang ada adalah berdasarkan paspor Jerman Anda dapat mengunjungi lebih banyak negara dibandingkan kewarganegaraan manapun di dunia," kata Emmett.

Dalam dunia yang sudah menjadi global, di mana keterasingan politik sebaliknya mengalami peningkatan, kebebasan bergerak ini adalah sebuah unsur yang menarik.

Hak atas foto Andrew Henderson
Image caption Andrew Henderson, seorang pengusaha Amerika dan pendiri Nomad Capitalist, memiliki empat paspor dan sedang mengurus yang ke lima.

Andrew Henderson adalah seorang pengusaha Amerika dan pendiri Nomad Capitalist, sebuah perusahaan blog, podcast dan konsultasi. Dia memiliki empat paspor dan sedang mengurus yang ke lima. Dia mendapatkan banyak kemungkinan kewiraswastawanan karena memiliki banyak kewarganegaraan, katanya.

Dia mengatakan dengan menanam modal pada sejumlah program di kepulauan Afrika, Comoros dan pulau Karibia St. Lucia memberikannya lebih banyak kemungkinan dan pajak yang lebih rendah.

"Bagi saya ini adalah mengenai bagaimana saya mendapatkan pilihan yang lebih baik, perlakuan pajak yang lebih baik, perlakuan yang lebih baik sebagai seseorang dan mendapatkan visa bebas perjalanan yang sama," katanya, sambil menambahkan dia memperkirakan kewarganegaraan sebagai penanaman modal akan meningkat.

"Saya pikir dunia semakin lebih mengembara. Orang tidak ingin berada di satu tempat. Mereka menginginkan dua atau tiga tempat tinggal karena alasan gaya hidup dan pajak yang lebih masuk akal. Dan hal ini semakin mudah didapat.

Meskipun tidak semua orang dengan beberapa kewarganegaraan akan tinggal di beberapa negara, William mengatakan industri ini dapat dipandang sebagai cara untuk mengukur masalah dunia. Dia mengatakan banyak penanam modal yang dia tangani memandang program ini sebagai jaring pengaman.

Hak atas foto Billy Hustace
Image caption Program visa kontroversial EB-5 di AS yang memungkinkan orang menanam modal pada proyek real-estate dengan imbalan lamaran kartu hijau jalur cepat.

"Sebagian besar klien kami tidak pergi dan tinggal di negara di mana mereka menanam modal," katanya. "Mereka lebih memandangnya sebagai asuransi. Mereka memahami bahwa dengan tempat tinggal kedua, mereka bisa langsung terbang."

Negara Anda dijual

Program seperti ini bukannya tanpa kontroversi. Apakah kewarganegaraan memang dijual?

Permulaan tahun 2017 di AS, dua senator Dianne Feinstein dan Chuck Grassley memperkenalkan rancangan undang-undang untuk menghapus program EB-5, karena dipandang terlalu cacat.

"Adalah suatu kesalahan memiliki jalur khusus kewarganegaraan bagi orang kaya sementara jutaan orang lainnya harus antri untuk mendapatkan visa," kata Feinstein.

Pengecamnya juga mengatakan program-program ini secara tidak adil menguntungkan orang kaya dan tidak dapat diraih kelompok yang lainnya. Mereka juga mengutip kekhawatiran terkait dengan pencucian uang, kejahatan dan akses lewat belakang bagi negara-negara yang menghindari sistem imigrasi pada umumnya.

Dan memang, pertemuan uang dalam jumlah besar dan kesepakatan real-estate dunia cenderung diwarnai penggelapan.

Bulan ini, penyelidikan FBI mengungkapkan operasi pemalsuan visa senilai US$50 juta atau Rp664 miliar yang melibatkan penanam modal Cina dalam program EB-5.

Dan pada bulan April, Securities and Exchange Commission menuntut seorang pria di Idaho yang mereka katakan membelanjakan dana penanam modal Cina untuk membeli sejumlah rumah baru, kendaraan bagi dirinya sendiri, dan bukannya untuk proyek real-estate yang diinginkan penanam modal.

Program St.Kitts and Nevis menghadapi masalah dengan Departemen Keuangan AS ketika warga Iran diduga menggunakan paspor St. Kitts untuk mencuci uang bagi sejumlah bank di Teheran. Tindakan ini adalah suatu pelanggaran US Sanctions.

Kontroversi terkait program EB-5 AS melibatkan pejabat tinggi Gedung Putih karena perusahaan real-estate keluarga Kushner dituduh menghadapi konflik kepentingan karena menggunakan nama menantu presiden AS dan penasehat senior Jared Kushner untuk mendapatkan penanaman modal Cina pada sebuah proyek pengembangan properti New Jersey. Buruknya nama program ini tidak akan menghilang.

Tetapi di dunia dimana perbatasan ditutup, permintaan akan layanan ini kemungkinan besar akan terus tumbuh, kata para pengamat.

Paul William menasehatkan warga Inggris yang mengkhawatirkan Brexit untuk menahan diri.

"Berbagai hal tidak pasti, tetapi mereka tidak bisa melakukan apapun saat ini karena mereka masih warga Eropa," katanya. "Dalam waktu dua tahun, jika Inggris akhirnya memiliki akses yang sama ke Uni Eropa seperti Amerika, maka banyak orang akan menginginkan hal yang sama."

Versi bahasa Inggris tulisan ini bisa Anda baca di Why citizenship is now a commodity di BBC Capital.

Topik terkait

Berita terkait