Bisnis kunjungan ke tanah leluhur di Skotlandia

skotlandia Hak atas foto Scottish Tourism
Image caption Di tahun 2016 saja, jumlah pengunjung dari luar negeri ke Skotlandia naik 6% dibandingkan tahun sebelumnya.

Tidak masalah jika orang terakhir di keluarga Anda yang mengunjungi Skotlandia adalah kakek buyut Anda, karena kebanyakan keturunan Skotlandia tetap berkeinginan mengunjungi dan ... membelanjakan uang mereka.

Lebby Campbell gembira saat berjalan-jalan di Inveraray Castle, di pantai berbukit Loch Fyne. Meskipun dia berada di Scottish Highlands, ribuan mil dari rumahnya di Charleston, South Carolina, Amerika Serikat, pegawai administrasi ini merasa menjadi bagian dari tempat itu.

"Anda membaca tentang sejarah nenek moyang Anda, tetapi begitu Anda berada di sana dan Anda berada di tanah Campbell, semuanya menjadi hidup," katanya. "Semuanya seperti pulang kampung. Saya merasa bangga dan kagum serta memiliki hubungan nyata dengan nenek moyang saya."

Kapak dan pedang pipih dipamerkan di bawah langit-langit yang dihiasi tameng keluarga. Hal ini membuatnya memikirkan ceceran darah perang masa lalu. Panggilan yang dirasakannya ke tempat ini adalah pendorong bisnis "pariwisata nenek moyang" dan di tempat kecil seperti Skotlandia, hal ini menjadi sumber pemasukan.

Penduduk Skotlandia berjumlah 5,4 juta orang. Tetapi lebih 50 juta orang di dunia memiliki hubungan keluarga dengan daerah tersebut dan pemerintah Skotlandia ingin menarik perhatian mereka agar lebih banyak yang berkunjung.

"Banyak potensi untuk mengembangkan pasar ini," kata Noelle Campbell, manajer pemasaran badan pariwisata resmi VisitScotland.

Hak atas foto Amanda Ruggeri
Image caption Doune Castle, yang muncul pada acara televisi Outlander adalah salah satu tempat yang mengalami peningkatan kunjungan wisata.

Pada 2016 saja, jumlah pengunjung dari luar negeri ke Skotlandia naik 6% dibandingkan tahun sebelumnya. Hal ini terutama didorong oleh orang Amerika Utara yang ingin mengunjungi tanah nenek moyang mereka.

Kecenderungan ini terutama dipicu serial drama televisi yang populer Outlander, yang sebagian besar terjadi beberapa abad lalu saat perang Skotlandia.

Pariwisata nenek moyang sebenarnya bukanlah suatu konsep baru. Ketika saya besar di pedesaan Skotlandia, pengunjung dari berbagai tempat dunia muncul di depan pintu. Mereka ingin bertemu ayah saya sebagai pejabat Church of Scotland. Mereka memerlukan bantuan untuk menelusuri silsilahnya.

Mereka menengok nisan di kuburan gereja kuno dan melihat catatan gereja yang dapat mengungkapkan apakah mereka keturunan petani atau nelayan, orang miskin atau pelarian.

Tetapi sekarang, penelitian silsilah keluarga menjadi lebih sederhana. Internet sangat mempermudahnya. Ilmu tentang silsilah sekarang memang adalah salah satu hobi yang paling digemari di internet di seluruh dunia.

Uang keluarga

Sebagian besar dari Amerika Serikat, Kanada, Australia dan Selandia Baru, yang merupakan tempat tujuan nenek moyang imigran Skotlandia, pariwisata nenek moyang memicu kegiatan ekonomi.

Dalam sembilan bulan pertama tahun 2016, pengunjung dari negara-negara ini membelanjakan £524 juta atau Rp8,9 triliun bagi ekonomi Skotlandia, dan hampir 50% berasal dari kunjungan menelusuri nenek moyang, menurut kajian yang baru dilakukan VisitScotland.

Biasanya, wisatawan nenek moyang tinggal lebih lama dibandingkan pengunjung lainnya, dan menyebar berdasarkan jadwal yang terkait dengan sejarah keluarga, sehingga memberikan pemasukan ke tempat-tempat yang melebihi rute wisata pada umumnya, kata Campbell.

Mereka seringkali juga melakukan perjalanan di luar bulan Juli dan Agustus, sehingga mereka mengeluarkan uang di luar puncak musim wisata.

Karena itulah, selain pemandangan indah, pulau-pulau ajaib, istana, kebudayaan dan tradisi, VisitScotland juga menawarkan masukan tentang bagaimana "berjalan-jalan menelusuri jejak nenek moyang".

Ini juga menjadi alasan mengapa penyelenggara wisata juga membantu pengunjung menelusuri cerita keluarga mereka. Operator yang bermarkas di Skotlandia, Clan Chief Tours, bahkan menawarkan pengaturan dan penelusuran uji DNA.

Christine Woodcock, yang menjalankan Genealogy Tours of Scotland dari markasnya di Ontario, Kanada, mendapatkan kepastian kedatangan sekelompok pengunjung satu tahun sebelumnya untuk membantu pengaturan perjalanan senilai mulai dari 3.000 dolar Kanada atau Rp30 juta.

Ibu Christine adalah satu dari 20 orang bersaudara yang dibesarkan dekat Edinburgh, Skotlandia. Dia pindah ke Kanada sebagai perawat ketika Christine berumur tiga tahun.

Dalam enam tahun sejak Woodcock mulai memimpin warga Kanada keturunan Skotlandia menyeberang ke Atlantik, dia menyaksikan petumbuhan yang pesat. "Seberapa generasi pun hubungan tersebut, begitu menginjakkan kaki di tanah Skotlandia, mereka merasa sangat memiliki, perasaan bahwa mereka sudah pulang kampung," katanya tentang klien-kliennya.

"Saya bayangkan ini mirip dengan anak angkat yang tidak pernah kenal orang tua biologisnya, bertemu mereka dan akhirnya mengetahui asal mereka."

Hak atas foto Amanda Ruggeri
Image caption Pemandangan Skotlandia menakjubkan, tetapi kesannya lebih besar lagi bagi 50 juta orang yang berasal dari sana.

Selama berabad-abad, orang Skotlandia meninggalkan kampung halamannya, sebagian karena ingin bertualang, tetapi banyak yang lainnya melarikan diri dari kemiskinan dan tekanan. Di antara abad 17 dan 19, sebagian dari mereka dipindahkan ke Australia dan benua Amerika dengan menggunakan kapal para penjahat.

Salah satu gelombang besar emigrasi massal terjadi saat Highland Clearances pada abad 18 dan 19, ketika para petani sewaan diusir paksa pemilik tanah yang menginginkan pemasukan lebih besar. Tetapi sepanjang abad 20, keluarga Skotlandia tinggal di berbagai tempat di dunia dan hal ini terus berlanjut sampai sekarang.

Sentuhan pribadi

Meskipun banyak penelitian asal keluarga bisa dilakukan di internet, jika Anda di tanah Skotlandia ceritanya bisa menjadi lebih berkembang. Dan di tempat yang tidak begitu besar, adalah mudah untuk menelusuri gereja kakek, kakek moyang atau generasi sebelumnya, sampai ke kota, desa atau glen di mana mereka sebelumnya tinggal.

"Saya katakan kepada semua orang, nenek moyang Anda menunggu di rak, Anda hanya perlu datang dan menemukan mereka," kata Woodcock. "Kekayaan informasi yang ada di sejumlah catatan benar-benar menakjubkan."

"Peneliti profesional mengatakan tahun 1885 adalah "tahun emas"," kata Ian Ferguson, manajer ScotlandsPeople Centre Edinburgh, di mana kelahiran, kematian, pernikahan dan catatan sensus disimpan.

Hal ini dilakukan karena pada tahun pertama pencatatan wajib, lebih banyak informasi yang ditanyakan dibandingkan tahun-tahun berikutnya. Gereja mencatat mulai dari tahun 1553, tetapi tidak semua informasi tersebut masih ada," kata Ferguson.

Sebagian dipinjam untuk kepentingan hukum, tetapi tidak pernah dikembalikan. Sebagian lagi disimpan di tempat yang lembab dan ruang bawah tanah bertikus.

Masih cukup banyak yang mengunjungi situs internet ScotlandsPeople. Sekitar 14.500 orang mendatangi antara bulan Apri 2016 dan Maret 2017. Disana, staf membantu berbagai masalah seperti nama keluarga yang berbeda-beda misalnya.

Ferguson mengatakan nama yang sepertinya biasa seperti miliknya, dapat memiliki 10 jenis ejaan yang berbeda.

Bahkan di ruang pencarian tetap terjadi hal yang mengejutkan. Pada arsip Glasgow City, seorang wanita anggota kelompok Woodcock menemukan catatan dua bayi yang meninggal.

"Mereka dimakamkan di kuburan orang miskin. Orang tua mereka telah membayar biaya pemakaman. Dia mengetahui mereka tidak mampu dan hal ini memberitahu seberapa pentingnya bayi tersebut bagi mereka. Dia kemudian menangis," kata Woodcock.

Bagi Lebby Campbell, hubungan keluarganya memang sudah bergenerasi, tetapi hubungan dengan clan-nya tetap hidup. Selama berabad-abad, sampai Battle of Culloden tahun 1746, Skotlandia dijalankan berdasarkan kelompok clan. Clan artinya "keluarga" atau "anak-anak" dalam bahasa Gaelic.

Melalui Clan Campbell Society, Lebby berkenalan dengan orang-orang di rumahnya di South Carolina, selain di New York City dan tempat-tempat lain. "Kami menamakan diri 'kinsmen'. Saya adalah bagian dari keluarga besar dunia," katanya.

Dengan suara riang dia menceritakan pertemuan dengan pimpinan clan saat ini, Torquhil Campbell, Duke of Argyll ke-13. "Saya merasa seperti anak 13 tahun bertemu dengan Justin Bieber," saat bertemu duke yang sedang bertugas menjadi kasir di toko rumah nenek moyang di Inveraray Castle.

Lewat situsnya, VisitScotland mengusulkan jadwal kunjungan ke glen, istana, medan perang dan tempat-tempat lain clan tertentu. "Adalah suatu pengalaman menarik dapat menyentuh dinding tempat tinggal clan atau mengunjungi tanah yang didiami nenek moyang mereka berabad-abad lalu," kata Noelle Campbell.

Dengan iringan musik drum dan bagpipes, warna tartan dan tontotan olahraga menarik seperti melempar caber, permainan Highland dan kumpul-kumpul clan telah menarik perhatian keturunan yang tinggal jauh. Sebanyak 16 clan menerima dana pemerintah Skotlandia untuk mengadakan acara pada musim panas saat ini.

Tetapi meskipun kesempatan untuk mengunjungi tempat tinggal keluarga yang sudah lama pergi dapat menjadi pengalaman yang membuka wawasan dan menyentuh perasaan bagi kebanyakan wisatawan nenek moyang, tidak semua orang menemukan yang mereka cari.

"Seorang wanita sangat yakin bahwa dirinya adalah keturunan Mary, Queen of Scots, tetapi ketika dia tiba di Skotlandia dirinya tidak menemukan hubungan apa pun," kata Woodcock.

"Saya selalu mengatakan kepada semua orang:" Tidak semua Wallace adalah seorang William."

Versi bahasa Inggris tulisan ini bisa Anda baca di The business of being Scottish: Are you one of the 50 million? di BBC Capital.

Topik terkait

Berita terkait