Apakah bos Anda sangat toksik? Kenali enam tandanya

Travis Kalanick Hak atas foto Getty Images
Image caption Setelah dilanda krisis selama beberapa bulan, Travis Kalanick akhirnya dipaksa mundur dari Uber.

Uber tak diragukan lagi telah merevolusi industri transportasi yang membuat pendirinya, Travis Kalanick, menjadi miliarder.

Layanan transportasi berbasis aplikasi ini telah hadir di 662 kota di seluruh dunia namun di luar kisah-kisah sukses, Uber dilanda sejumlah kontroversi, yang membuat investor harus memaksa Kalanick mundur sebagai pemimpin perusahaan.

Ia mundur setelah selama beberapa bulan Uber dilanda krisis, mulai dari kasus pelecehan seksual, budaya macho, dan hengkangnya sejumlah eksekutif senior.

Banyak yang sepakat 'pemecatan' Kalanick adalah salah satu pengunduran diri CEO paling dramatis dalam sejarah bisnis modern.

Yang juga menyertai mundurnya Kalanick adalah sekarang ini Uber sinonim dengan budaya kerja yang toksik, yang ditandai dengan sumber daya manusia yang kacau-balau, tunjangan staf yang minim, dan dominasi budaya lelaki.

Imbasnya antara lain adalah peminggiran staf perempuan dan proses pengambilan keputusan yang asal-asalan.

Tapi kalau mau jujur, budaya kerja yang toksik tak hanya semata-mata terjadi di Uber, perusahaan teknologi bernilai US$70 miliar yang berpusat di California tersebut.

Budaya kerja yang toksik bisa terjadi di semua sektor industri dan berikut tanda-tanda budaya kerja yang toksik yang perlu Anda deteksi dan apa yang perlu dilakukan jika Anda mengalaminya.

Suka berteriak, merisak, dan mengadu domba

Ada perbedaan besar antara bos yang tegas dan bos yang suka mem-bully atau merisak. Bos atau manajer yang merisak biasanya manipulatif dan senang mempermalukan staf.

Akibatnya adalah stabilitas perusahaan terganggu dan muncul rasa saling tidak percaya di kalangan karyawan.

Sebelum mengambil tindakan atau melaporkan manajer ini ke bos besar, Anda perlu bertanya ke sesama rekan karyawan apakah mereka juga merasakan hal yang sama.

Jika memang demikian keadaannya, maka akan lebih mudah solusinya karena persoalannya tak lagi kasuistik tapi masalah kolektif.

Harus sukses apa pun harga yang harus dibayar

Jika bos memegang filosofi ini, Anda perlu berhati-hati.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Uber dituduh tidak memberikan hak-hak dasar bagi karyawan, termasuk gaji minimum untuk para sopir.

Memang, prinsip tersebut bisa mendorong perusahaan mencapai sukses besar dalam waktu singkat, persis seperti yang dialami Kalanick saat memimpin Uber. Tapi, prinsip itu juga bisa membuat perusahaan hancur berkeping-keping.

Kalau Anda sudah mengendus ini, lebih baik segera mundur sebelum perusahaan jatuh.

Karyawan tidak diperlakukan dengan baik

Ciri klasik budaya kerja yang toksik adalah perusahaan tidak memenuhi hak-hak dasar karyawan.

Dalam kasus Uber, mereka menghadapi banyak kasus gugatan di pengadilan gara-gara dianggap gagal menetapkan gaji minimum bagi para sopir atau tak mau memberikan fasilitas cuti dengan tetap digaji (paid holiday).

Terlalu mengontrol

Bos yang terlalu mengontrol -semuanya harus dia yang mengatur- bisa membuatnya memberhentikan eksekutif perusahaan, seperti yang dilakukan Dov Charney, CEO perusahaan pakaian American Apparel.

"Pebisnis yang gila mengatur, yang tak mau mendengar kata-kata manajer profesional akan gagal, cepat atau lambat," kata Sydney Finkelstein, guru besar manajemen di Sekolah Bisnis Tuck, Dartmouth College, Amerika Serikat.

Minim interaksi

Hak atas foto Reuters
Image caption Bos American Apparel, Dov Charney, dinilai terlalu mengatur dan sulit mendengar masukan manajer profesional.

Dikenal juga dengan absent management. Jika bos atau manajer Anda jarang sekali berinteraksi dengan Anda atau tidak pernah terlihat di kantor, maka jelas akan menjadi kendala besar bagi kesuksesan Anda.

Ron Johnson, CEO jaringan supermarket Amerika Serikat JC Penney hampir bisa dikatakan 'tak pernah mencoba untuk mengenal atau berinteraksi dengan karyawan'.

Ia secara berkala mengirim pesan video untuk karyawan yang direkam di rumahnya di Palo Alto. Namun video-video ini lebih cocok disebut sebagai video promosi pribadi, bukan video untuk memotivasi staf.

Publikasi buruk di media

Kalau memang media menurunkan berita tentang keputusan buruk yang diambil oleh perusahaan Anda, tanyakan ke diri sendiri: apakah Anda membela keputusan-keputusan buruk yang diambil perusahaan?

Apakah Anda tetap percaya dengan misi dan visi perusahaan? Bagaimana Anda harus menjelaskan krisis perusahaan yang pihak-pihak lain?

Kalau memang apa yang terjadi taka bisa lagi ditolerir, mundur mungkin adalah solusi terbaik bagi Anda.

Yang juga perlu diingat adalah hidup ini terlalu singka jadi jangan paksa diri Anda menderita karena berada di lingkungan kerja yang sangat toksik.

Kalau Anda memang merasa tidak puas atau merasa tertekan di kantor, mungkin ini adalah saat yang tepat untuk mempertimbangkan tawaran-tawaran lain.***

Tulisan asli dalam bahasa Inggris Six telltale signs of a toxic boss bisa Anda baca di BBC Capital.

Topik terkait

Berita terkait