Apa yang perlu kita ketahui soal penipuan kartu kredit?

Kartu kredit Hak atas foto Getty Images
Image caption Nilai pemakaian kartu kredit atau kartu debit secara global pada 2015 mencapai lebih dari US$31 triliun, naik 7,3% dibandingkan 2014.

Jika kita memiliki kartu kredit atau kartu debit, sangat terbuka kemungkinan kita akan menjadi korban penipuan atau kejahatan kartu kredit.

Jutaan orang di seluruh dunia menjadi korban antara lain karena membengkaknya jumlah pemakai kartu.

Sejak 1980-an jumlah pemakai kartu naik tajam. Data Nilson Report yang dirilis pada Oktober 2016 menunjukkan nilai total dari pemakaian kartu kredit atau kartu debit secara global pada 2015 mencapai lebih dari US$31 triliun, naik 7,3% dibandingkan 2014.

Di Eropa, tujuh dari delapan transaksi pada 2015 dilakukan secara elektronik alias menggunakan kartu kredit/debit.

Kartu kredit dan sistem pembayaran elektronik tak hanya populer di negara-negara maju. Adopsi di negara-negara berkembang juga meningkat berkat layanan seperti Paypal dan tumbuhnya e-commerce.

Populernya perusahaan yang bergerak di bidang jual beli daring seperti Flipkart, Snapdeal, Amazon India, Alibaba dan JingDong akan mendorong pemanfaatan sistem pembayaran elektronik lebih luas lagi.

Di satu sisi situasi ini membuat nyaman, baik bagi konsumen, penjual, bank, dan penyedia kartu. Namun di sisi lain, ini adalah ladang emas bagi penjahat siber.

Menurut Nilson Report, kerugian akibat pembobolan atau penipuan kartu di seluruh dunia naik menjadi US$21 miliar atau sekitar Rp280 triliun pada 2015, naik sekitar US$8 miliar atau sekitar Rp106 triliun pada 2010. Pada 2020, angka kerugian ini diperkirakan menembus US$31 miliar.

Jenis kejahatan kartu kredit

Ada banyak jenis kejahatan kartu kredit dan jenis-jenisnya terus berkembang atau berubah seiring dengan pemanfaatan teknologi baru di bidang pembayaran elektronik atau perkembangan di dunia perbankan.

Tapi pada dasarnya ada dua jenis.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Popularitas toko daring seperti snapdeal membuat sistem pembayaran elektronik makin populer tapi juga ladang emas bagi penjahat siber.

Yang pertama dikenal sebagai CNP, kependekan dari card-not-present. Sesuai dengan namanya, ketika kejahatan atau penipuan dilakukan tidak ada kehadiran kartu secara fisik.

Ini adalah jenis kejahatan yang paling populer. Pelaku menggunakan informasi kartu kredit curian untuk melakukan transaksi, biasanya terjadi secara online dan kerap kali pelakunya mendapatkan informasi kartu melalui phising.

Phising adalah penipuan atau kejahatan biasanya melalui email dengan pelaku seolah-olah adalah institusi keuangan yang meminta data atau informasi keuangan, misalnya nomor rekening, nomor kartu kredit dan bahkan PIN kartu.

Tipe kedua adalah card-present-frauds, yang lebih jarang terjadi dewasa ini namun tetap saja harus diwaspadai. Misalnya ketika penjual diam-diam menggesekkan kartu ke mesin dan menyimpan data kartu. Data inilah yang dipakai untuk melakukan transaksi tanpa sepengatahuan pemilik kartu. Ini biasa disebut skimming.

Bagaimana mencegah penipuan?

Berdasarkan riset saya, yang mengkaji statistik canggih dan teknik probabilitas, analisis sekuensial bisa menjadi senjata ampuh untuk mencegah kejahatan kartu.

Penyedia kartu dan bank terus menerus memantau informasi dan pola belanja pemilik kartu yang mencakup waktu, jumlah, dan koordinat setiap transaksi. Dari sini dibuat model komputer yang bisa menghitung dan menyimpulkan apakah pembelian yang dilakukan asli atau palsu.

Hak atas foto Reuters
Image caption Kerugian akibat pembobolan atau penipuan kartu di seluruh dunia naik menjadi US$21 miliar pada 2015.

Itu sebabnya, jika tiba-tiba membeli sesuatu dengan harga tinggi atau ke toko-toko yang tak biasa dikunjungi, ada kemungkinan kartu ditolak.

Penolakan bisa berupa penolakan secara langsung atau pihak yang mengeluarkan kartu akan menelepon pemilik kartu untuk memastikan transaksi yang tengah berlangsung adalah asli.

Selain menggantungkan pihak bank untuk mendetesi kejahatan, kita juga bisa mencegah kejahatan ini terjadi.

Misalnya, jangan pernah mengeklik tautan di email yang mencurigakan, misalnya meminta data nomor bank daring dan kata sandi. Kalau ragu-ragu, telepon bank kita.

Kedua, sebelum membeli sesuatu dari toko daring, cek apakah toko tersebut punya reputasi baik. Lihat bagaimana penilaian orang-orang yang pernah membeli.

Dan ketiga, ketika melakukan pembayaran daring, pastikan alamat webnya berawal dengan https:// yang menjamin transaksi yang akan kita lakukan aman.

Cek juga halaman web yang tengah diakses. Jika ditemukan kata-kata aneh atau dengan tata bahasa yang kacau, meski dari penampakan terlihat meyakinkan, hati-hati bisa jadi halaman web itu sengaja dibuat untuk mengelabuhi kita.

Artikel asli dalam bahasa Inggris: Credit card fraud: What you need to know dan tulisan-tulisan lain bisa Anda baca di BBC Capital.

Topik terkait

Berita terkait