Mengapa anggapan kita tentang generasi milenial banyak yang salah?

foto Hak atas foto Getty Images

Mereka pemalas, gampang bosan dan terus bergonta-ganti pekerjaan - itulah citra yang melekat pada generasi milenial. Jess Holland mengulas faktanya.

Jika kita mengetik "milenial adalah" di mesin pencari Google, maka kata "malas" langsung muncul melengkapi pencarian itu.

Persepsi yang rasanya diyakini banyak orang adalah bahwa generasi yang lahir pada awal tahun 1980an hingga akhir tahun 1990an itu gampang bosan, mengharapkan kebahagiaan instan dan doyan berpindah pekerjaan. Dalam kata lain, mereka bukanlah calon pekerja yang diidamkan sebuah perusahaan.

Namun, sebuah penelitian komprehensif yang dilakukan di Amerika Serikat dan Inggris menunjukkan fakta berbeda. Milenial ternyata sama tekunnya, jika tidak lebih tekun, dibandingkan generasi sebelumnya.

Organisasi asal inggris, Resolution Foundation bahkan memaparkan pada Februari lalu bahwa hanya satu dari 25 anak milenial di Inggris, yang berpindah pekerjaan setiap tahun, pada pertengahan usia 20an.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Anda mungkin berpikir mereka sibuk bermain Instagram atau Snapchat, tapi mereka sebenarnya juga sibuk mencari pekerjaan tetap.

Faktanya adalah generasi sebelumnya, Generasi X,-lah yang berpindah-pindah pekerjaan dua kali lebih sering dibandingkan milenial. Itu dilakukan dengan tujuan finansial. Pindah kantor biasanya diikuti dengan kenaikan 15% penghasilan, sekaligus bertambahnya kesempatan untuk belajar skill baru. Mereka juga berupaya untuk memperkukuh hati, kantor manakah yang paling tepat untuk mereka.

Sementara itu, penelitian yang sama memperlihatkan kenaikan gaji amatlah minimum jika seseorang tetap bekerja di kantor yang sama sepanjang karirnya.

Tren ini tidak hanya terjadi di Inggris, tetapi juga dipenjuru dunia lainnya.

Pada April, Pusat Riset Pew, yang berbasis di Washington, D.C. mempublikasikan temuan serupa yang diramu dari data Departemen Tenaga Kerja Amerika Serikat.

Laporan menyebutkan bahwa pekerja di Amerika Serikat yang berusia 18-35 tahun, memiliki kecenderungan 'kesetiaan terhadap kantor' yang sama dengan Generasi X. Bahkan para milenial lulusan S1 punya rekam jejak lebih lama untuk bekerja dengan satu perusahaan dibandingkan dengan Generasi X.

"Faktor ekonomi sangat jelas," kata Laura Gardiner, analis dari Resolution Foundation, yang juga merupakan salah satu penulis laporan tentang berkurangnya pergantian pekerjaan di kalangan milenial.

"Anak muda cenderung berganti tempat kerja lebih sering dibandingkan orang yang lebih tua. Namun, jelas sekali bahwa tingkat mobilitasnya terus menurun dengan cepat."

Image caption Milenial hidup di kala krisis ekonomi melanda. Mereka harus berjuang mengahadapi itu.

Faktanya, anak muda sekarang semakin jarang berpindah pekerjaan, katanya, "faktor pentingnya adalah, anak muda masa kini ternyata punya penghasilan lebih besar dari pada generasi sebelumnya."

Perubahan situasi

Namun, tidak satu pun dari laporan tersebut yang menjelaskan mengapa tingkat pindah profesi di kalangan anak muda itu terus menurun. Peneliti senior di Pew, Richard Fry, menyatakan jawabannya mungkin karena "terus menipisnya kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik di kantor baru."

Sementara itu, Gardiner, menyatakan alasannya adalah anak muda sekarang ini kurang tertarik untuk mengambil risiko, apalagi di tengah krisis ekonomi yang masih terjadi atau terdampak di sejumlah negara.

Berdasarkan data Deloittle, organisasi yang setiap tahunnya meluncurkan hasil survei terkait perilaku milenilal, ketidakstabilan sosial dan politik yang terjadi di negara maju belakangan ini, telah membuat anak muda lebih memilih untuk cari aman.

Image caption Banyak ketidakpastian dalam dunia kerja yang kini dirasakan milenial.

Pada survei tahun 2017, yang mewawancara 8.000 generasi milenial di seluruh dunia, anak milenial dari negara maju, jarang yang mau pindah kantor kurang dari dua tahun. Mereka memilih untuk terus bekerja di kantor yang sama selama lima tahun atau lebih. Tren ini berbeda dengan hasil survei setahun sebelumnya!

"Data kami memperlihatkan bahwa situasi dunia yang penuh ketidakpastian ini mendorong milenial untuk mencari stabilitas," tulis laporan ini.

Di sisi lain, ternyata lebih sedikit pekerjaan yang menawarkan kontrak jangka panjang dan kenaikan gaji reguler. Padahal milenial, di usia muda mereka sudah mulai berpikir untuk membeli rumah, menikah dan punya anak.

Pada 2015, lebih sedikit perempuan-perempuan milenial yang hamil dan melahirkan. Jelas, menurut Pew, mereka lebih fokus mencari kestabilan finansial.

Mimpi dan stereotipe

Stereotipe tentang milenial menyebutkan bahwa mereka tidak begitu terpaku dengan standard sukses konvensional. Meskipun begitu, jika kita berbicara tentang hasrat fundamental, "milenial ternyata sama saja dengan generasi sebelumnya; menginginkan punya rumah, uang pensiun, karir yang mapan, serta keluarga, sangat sedikit sekali perbedaan antara generasi ke generasi," kata Gardiner.

Jennifer Deal, seorang peneliti senior di San Diego, California menyebut "Saya tidak melihat perbedaan mendasar antara berbagai generasi," katanya. "Mereka mungkin punya cara berbeda untuk mengungkapkan nilai yang mereka yakini, tetapi apa yang mereka inginkan dalam hidup, tetaplah sama."

Dengan harga rumah dan biaya pendidikan saat ini terus melonjak, mimpi itu sekarang memang agak sulit untuk diraih milenial. Hal inilah yang menjadi salah satu penyebab milenial lebih memilih untuk bertahan di satu kantor.

Tujuh dari 10 milenial di negara-negara maju, berdasarkan survei pada tahun 2017, memilih untuk bekerja penuh waktu, dibandingkan kerja freelance. Alasannya adalah "keamanan kerja" dan "pendapatan yang tetap".

Hak atas foto Getty Images
Image caption Milenial tergambar seperti stereotipe yang umumnya melekat, karena situasi lingkungan, bukan karena karakter mereka.

"Cara orang berpikir telah berubah sejak tahun 1970an," kata Deal; "dunia sudah berubah." Dan cara pikir kita yang mengklaim bahwa anak muda tak punya komitmen, "adalah stereotipe yang kita selalu yakini di setiap anak muda. Itu pula stereotipe yang diberikan kepada Generasi X oleh generasi sebelumnya."+

Jika ada faktor-faktor yang membuat milenial terkesan pemalas, gampang bosan, dan kutu loncat dalam profesi, berdasarkan hasil penelitian, itu hanyalah karena lingkungan yang memaksa mereka, bukan karena karakter mereka sendiri.

Anda bisa membaca versi Bahasa Inggris dari artikel ini berjudul Why the millenial stereotype is wrong di BBC Capital.

Topik terkait

Berita terkait