Mengapa menjadi konsisten tidak selalu baik

konsisten Hak atas foto Getty Images
Image caption Melakukan beberapa pendekatan atas suatu tantangan dibutuhkan dalam dunia bisnis yang bergerak cepat, dimana kondisi dapat berubah dengan sangat cepat.

"Banyak tangan akan membuat pekerjaan ringan," tetapi "terlalu banyak koki akan merusak kaldu." Dunia bisnis penuh dengan saran dan perspektif yang bertentangan. Namun memeluk dua atau lebih pandangan yang bertentangan mungkin dapat berguna.

Drama peraih penghargaan Hamilton ditayangkan di hampir semua teater papan atas dalam dua tahun terakhir. Di New York, pertunjukan itu selalu habis terjual dan di saat bersamaan dibuka di London yang menuai keriuhan luar biasa.

Akhirnya, bahkan saya merasa terdorong untuk melihatnya. Dan saya… tidak menyukainya. Mengapa bisa? Setelah semua kehebohan, tidak ada drama yang dapat memenuhi ekspektasi berlebihan saya.

Pelajarannya? Saya seharusnya datang dengan ekspektasi yang lebih rendah. Bahkan, filosofi Budha mengatakan bahwa kunci kebahagiaan adalah ekspektasi yang rendah. Ternyata ide ini dapat sangat praktikal dalam bisnis. Manajer mana yang belum pernah mendengar saran ini: memberi janji lebih sedikit (under promise) dan mengantarkan hasil lebih banyak (over deliver)?

Namun tunggu dulu! Benarkah memiliki ekspektasi rendah itu bagus? Tidak, menurut Carol Dweck, seorang profesor psikologi di Stanford University. Menurut Dweck, kebahagiaan muncul bagi orang-orang yang selalu belajar dan mendorong diri mereka untuk berkembang. Tidak puas berbuat lebih sedikit, atau mengharapkan lebih sedikit dari diri Anda. Semakin besar ekspektasi Anda, semakin besar kebahagaiaan Anda. Lagi, terjemahan bisnisnya sudah jelas: pemimpin butuh pola pikir perkembangan untuk memajukan organisasi mereka.

Masing-masing ide ini sangat berarti, logis, mudah dihubungkan… dan benar-benar kontradiktif. Banyak pembaca yang mungkin setuju dengan keduanya.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Orang yang suka mengubah keputusan memiliki reputasi buruk, namun terkadang penting untuk berubah.

Menjadi inkonsisten telah menjadi sesuatu yang mirip dosa utama beberapa tahun belakangan. 'Berubah-ubah' di setiap isu yang ada adalah tuduhan yang menakutkan bagi banyak politisi. Namun memegang dua ide yang bertentangan di kepala kita dan memilih satu dibanding lainnya pada saat-saat yang berbeda tidak langsung membuat kita plin-plan. Bagaimana kita berpikir dari waktu ke waktu dan mengenali dualitas ini adalah keahlian kepemimpinan yang sangat penting.

Tetap cekatan

Manajer yang naïf mencari konsistensi. Manajer yang bijaksana nyaman dengan paradoks.

Manajer terbaik nyaman memeluk dua pandangan yang sangat bertentangan karena mereka mengetahui dunia ini kompleks. Dan di bisnis, untuk dapat bereaksi terhadap dunia dalam semua kemuliaan kompleks dan paradoks itu sangat penting.

Membatasi ide, observasi atau masukan Anda agar konsisten dengan sebuah logika mungkin dapat menarik karena daya tarik kesederhanaan dan kekukuhannya, namun secara tidak perlu menutup opsi penyelesaian permasalahan. Dan yang paling penting, tidak sesuai dengan realita.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Berpikir dengan cara yang kontradiktif dapat membantuk manajer menghindari pemikiran sempit, dan membantu kita menjadi lebih siaga menghadapi kesempatan tak terduga yang muncul.

Orang-orang dan permasalahan yang mereka ciptakan, dan yang kemudian mereka coba selesaikan, dapat datang dengan cara yang tidak diduga - mengapa membiarkan pemikiran sempit Anda membuat pekerjaan Anda lebih sulit daripada seharusnya?

Butuh lebih meyakinkan? Pernah mendengar "burung-burung dengan bulu yang sama berkumpul bersama," atau "yang berlawanan akan saling menarik"? "Pakaian mendefinisikan manusia," namun "manusia yang membuat pakaian." Atau ini: "Terlalu banyak koki akan merusak kaldu," dibandingkan "banyak tangan akan membuat pekerjaan ringan."

Saya dapat terus melanjutkan dengan pepatah-pepatah, namun mari pindah ke bisnis. Saat saya melatih para manajer dan meminta mereka untuk mendeskripsikan pimpinan mereka, mereka akan selalu mengandalkan kata-kata seperti "manajer mikro" atau "pemberi delegasi". Kita senang melabel orang-orang dengan cara yang sempit, namun saat kita melakukannya, kita kehilangan sesuatu yang halus tapi penting: label-label sederhana tidak hanya salah mengarahkan, mereka juga mengurangi kesempatan kita untuk belajar.

Tendensi banyak orang yang saya bimbing ini untuk mengklisekan para pemimpin mereka membuat lebih sulit bagi mereka untuk menghargai bahwa mengelola adalah keahlian yang penuh dengan prioritas yang saling bertentangan dan tekanan yang berubah-ubah.

Seorang manajer yang baik tidak selalu lepas tangan atau campur tangan. Manajemen yang efektif akan selalu tarik menarik antara guru yang campur tangan memberikan arahan pada saat itu juga, dan mengijinkan bawahan Anda kebebasan yang mereka butuhkan untuk dapat berkembang, memberikan masukan bagi mereka seperti yang mereka butuhkan.

Hal itu dapat menjadi suatu kebenaran yang sulit bagi sebagian orang untuk mereka hadapi, namun para pemimpin terbaik adalah orang-orang yang menavigasi paradoks itu sesuai keadaan yang berubah atas sebuah pekerjaan atau proyek. Mereka menciptakan kesempatan bagi para anggota tim dengan mendelegasikan tanggung jawab, namun mereka tidak mendelegasikan dan melupakan. Mereka memberi perhatian secara terus menerus. Mengetahui tarian yang sering berlawanan yang harus dilakukan setiap pemimpin membantu orang-orang yang saya hujani bom untuk menyelesaikan permasalahan dengan cara yang jauh lebih efektif dibanding dengan yang mereka mungkin lakukan.

Manajer yang bijak menikmati paradoks.

Jika hal ini seakan sulit bagi Anda lakukan, pertimbangkan tip-tip di bawah ini:

  • Meskipun paradoks dan kontradiksi tetap menjadi latar kehidupan kita, dua ide yang bertentangan tidak selalu benar di saat bersamaan. Ini bisa sesuatu yang mudah dipahami: ide yang gagal tiga tahun yang lalu bisa jadi ide yang tepat saat ini. PDA, Personal digital assistants (Asisten digital pribadi) adalah kegagalan besar pada tahun 1980san (Newton, General Magic), namun di tahun 2000an perangkat telepon seluler (hal yang sama, mama yang berbeda) menjadi pusat bagiamana kita sekarang bekerja dan hidup.
  • Apa yang masuk akal bagi saya mungkin tidak masuk akal bagi Anda. Tidak ada ide yang disetujui 100% pasar, artinya beberapa penyesuaian mengenai bagaimana masing-masing kita bekerja dan mengelola sangat alami. Dan cerdas. Jadi meski manajemen delegasi dan campur tangan dapat, dan kadang harus, hadir bersamaan, gaya kepemimpinan saya, atau sifat tim saya atau bahkan sifat proyek yang sedang dikerjakan tim saya, dapat berdampak apakah saya lebih campur tangan, atau lepas tangan.
  • Kesalahan terburuk adalah menyangkal paradoks dan kontradiksi. Berpura-pura mereka tidak mencirikan hal yang sebenarnya tidak berarti mereka tiba-tiba menghilang. Namun itu berarti Anda berjalan berkeliling dengan perasaan yang sangat terbatas akan apa yang sedang terjadi, dan itu tidak pernah ide yang baik. Jadi, tidak peduli seberapa banyak Anda percaya sesuatu itu benar, tanyakan jika yang bertentangan juga memiliki kebenaran. Anda perlu pergi ke sana, namun jenis keterbukaan ini akan membantu anda mengidentifikasi resiko potensial dengan tindakan pilihan Anda dan berada di posisi yang lebih baik untuk mengurangi resiko tersebut.
  • Lebih baik tidak meremehkan kapasitas individu untuk memegang dua ide di kepala mereka di saat bersamaan. Melakukannya dapat membutuhkan orang-orang untuk mengganti tombol di otak mereka untuk menerima bahwa keduanya adalah benar, namun itu yang apa dikerjakan para manajer yang bijak. Bahkan, kita semua dapat melakukannya, menyaksikan bagaimana Anda hampir dengan pasti mengerti penjelasan mengapa saya masih tidak terpikat dengan drama Hamilton, sama seperti Anda memiliki kuasa untuk menerima pola pikir yang berkembang. Ide-ide yang bertentangan, keduanya benar. Kita menghabiskan energi yang banyak berjuang untuk konsistensi, saat menerima kenyataan paradoks itu lebih berkuasa.
Hak atas foto Getty Images
Image caption Melakukan beberapa pendekatan atas suatu tantangan dibutuhkan dalam dunia bisnis yang bergerak cepat, dimana kondisi dapat berubah dengan sangat cepat.

Kita hidup di dunia yang terpolarisasi saat ini yang membuatnya susah untuk menerima bahwa setiap orang dapat meyakini dia pandangan yang bertentangan pada waktu bersamaan. Namun mereka dapat. Dan mereka harus.

Meski usaha terbaik kita untuk berpikiran sempit sesempit mungkin, otak kita memiliki kapasitas untuk terlibat dalam dua pandangan yang bertentangan secara bersamaan. Jika itu menginspirasi harapan, Saya tidak tahu apa lagi yang akan berhasil.

Versi bahasa Inggris tulisan ini bisa Anda baca diWhy it's not always good to be consistentdiBBC Capital

Berita terkait