Bagaimana biarawati mengubah dunia tenaga kerja

Suster Hak atas foto Getty Images
Image caption Menjagi seorang suster tidak sering dikaitkan dengan emansipasi wanita, tapi itu memang menawarkan pilihan karir yang menarik untuk para wanita.

Peran para biarawati telah diremehkan selama berabad-abad, menegaskan kesalahpahaman bahwa pekerjaan perempuan kurang berharga daripada pekerjaan laki-laki.

"Dulu kepala biarawati memanggil saya dan berkata, 'begini, saya harus kembali ke Roma, tapi jika kamu berpikir untuk mengambil kaul.....' Tidak pernah sebelumnya terbesit untuk mengambil napas dan mengucapkan kaul, tapi mendengarkan perkataannya, seolah-olah ada sesuatu yang meledak dalam diri saya. Sejak saya menjadi seorang biarawati, tidak ada yang bisa menahan saya."

Begitulah kisah dari salah satu biarawati Italia yang saya wawancarai awal tahun ini, sebagai bagian dari investigasi yang lebih luas atas kontribusi para pekerja tanpa tanda jasa ini, dan menengok fakta historis bahwa mereka selalu diremehkan. Penelitian saya membawa saya ke Roma, "jantung Katolik".

Saya mendatangi tiga biara, untuk bicara dengan suster tentang pekerjaan mereka dari tahun 1939 sampai hari ini, Sekaligus untuk menilai bagaimana mereka memahami diri mereka sebagai profesional.

Menjadi seorang biarawati jarang dikaitkan dengan emansipasi perempuan. Tapi menjadi biarawati memang menawarkan pilihan karier yang menarik bagi perempuan. Bekerja untuk Vatikan, seorang suster yang saya ajak bicara bertanggung jawab membawa pesan rahasia antara kedutaan besar. "Sebagai kurir diplomatik, saya pernah ke semua negara di dunia, kecuali satu."

Dia fasih dalam lima bahasa, pernah menjadi direktur sebuah sekolah internasional di Pakistan, dan - dia dengan bangga mengatakan kepada saya - adalah seorang juara lompat tinggi di masa mudanya.

Namun, Katolik pada abad ke-20 melihat dunia kerja penuh dengan bahaya bagi perempuan, dan hanya bisa mendamaikan para profesional wanita dengan anggapan bahwa mereka memasuki profesi dengan semangat amal dan pengorbanan religius yang lebih luas. Meskipun demikian, banyak biarawati saat ini menunjukkan diri mereka sangat cakap dan rajin.

Suster lainnya yang saya wawancarai telah mendirikan komunitas di pedesaan Burundi, menjadi korban perang saudara, dan mendirikan apotek di padang pasir Pakistan. Banyak suster lainnya mengajar di sekolah, merawat orang tua, merawat pecandu narkoba atau memberi persekutuan dan penghiburan kepada orang yang sekarat.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Pada periode setelah Perang Dunia II, para suster menyumbang 23,4% populasi wanita yang belum menikah di Italia

Kesaksian yang saya kumpulkan memiliki banyak kesamaan, yang paling mencolok adalah kontras dengan eksistensi kebanyakan wanita lain yang tinggal di zaman antara tahun 1947 dan 1965, atau dikenal sebagai "Era ibu rumah tangga" .

Jarang ada di pusat perhatian

Konsep bahwa perempuan dibayar kurang dari laki-laki untuk melakukan pekerjaan yang sama menjelaskan bahwa masyarakat memiliki masalah serius dalam menilai pekerjaan perempuan. Para biarawati menawarkan wawasan unik tentang bagaimana kerja dibagi antara jenis kelamin dan dihargai sesuai dengan itu.

Menjadi seorang biarawati adalah salah satu pilihan karier tertua bagi wanita. Pada periode setelah Perang Dunia II, para suster menyumbang 23,4% populasi wanita yang belum menikah di Italia, dan pada tahun 2010 ada lebih dari 700.000 suster di seluruh dunia.

Meski jarang menjadi pusat perhatian, biarawati memainkan peran penting di seluruh dunia, terutama ketika memberi pelayanan, pendidikan dan pekerjaan perawatan.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Meski jarang menjadi pusat perhatian, biarawati memainkan peran penting di seluruh dunia, terutama ketika memberi pelayanan, pendidikan dan pekerjaan perawatan.

Hal ini sangat berbeda dengan rekan laki-laki mereka di Gereja Katolik. Jauh lebih sedikit biarawan di seluruh dunia, dan mereka lebih cenderung difokuskan pada kontemplasi, memisahkan diri dari dunia.

Namun, jumlah biarawati yang harus baptis adalah sekitar 10% dari jumlah orang suci yang kebanyakan pria. Para biarawati masih dikecualikan dari eselon Gereja Katolik yang paling dihormati (dan digaji), dan digolongkan dalam kategori yang berbeda dengan para pendeta, imam dan uskup di dalam Sensus Italia - semua posisi dalam hierarki gereja yang saat ini dilarang untuk wanita.

'Setiap orang memiliki keterampilan ini di dalam'

Meskipun begitu, seperti banyak wanita, pekerjaan berharga para biarawati telah lama diabaikan dan kepentingannya diabaikan. Ini tampak jelas dalam cara bagaimana wanita yang saya wawancarai berbicara tentang kontribusi mereka kepada masyarakat.

Alih-alih mengenali sifat terampil dari pekerjaan dan keahlian mereka, mereka akan menekankan kurangnya pendidikan formal dan kecenderungan bawaannya bahwa perempuan ada untuk melayani.

Seorang biarawati berkomentar, "Anda memiliki keterampilan alami yang tampak. Saya tidak berpendidikan tinggi, atau memiliki pengetahuan tentang jenis karier. Hanya saja setiap orang memiliki keterampilan ini dalam".

Demikian pula, karakter profesi para biarawati telah lama diremehkan karena penekannya pada sifat emosionalnya. Biarawati harus menjadi ahli dalam mengelola emosi mereka - baik mengontrol atau menyulap perasaan mereka. Misalnya saat merawat orang miskin atau orang sakit, harus selalu mengutamakan orang lain.

Persyaratan untuk menampilkan emosi yang sesuai dengan kebutuhan organisasi mereka adalah hal yang biasa di antara profesi lain yang didominasi oleh perempuan, seperti perawatan dan pendidikan. Kami melihat ini di Inggris dengan 1% kenaikan gaji untuk biarawati, profesti yang secara signifikan didominasi perempuan

Hak atas foto Getty Images
Image caption Karakter profesi para biarawati telah lama diremehkan karena penekannya pada sifat emosional

Bagaimanapun, tentu saja, bagi para biarawati, kerja emosional juga menjadi persyaratan religius. Alkitab meminta umat Kristen untuk "kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemah-lembutan dan kesabaran".

Biarawati memberikan contoh unik tentang tenaga kerja perempuan. Mereka mencontohkan pekerjaan yang dilakukan oleh kaum perempuan, seringkali luar biasa, namun sering kali diremehkan. Didorong oleh wacana populer dan religius, perempuan terus melihat banyak keterampilan mereka sebagai bagian dari jenis kelamin dan bagian dari wujud spiritual.

Ini mungkin menjelaskan mengapa masyarakat, lembaga keagamaan, dan biarawati sendiri tidak menghargai pekerjaan mereka dengan cara yang sama seperti rekan laki-laki mereka. Secara lebih luas, meremehkan pekerjaan perempuan dapat menyebabkan mereka ragu untuk membawa keterampilan dan kerja keras mereka di atas meja sebagai jaminan untuk promosi atau negosiasi.

Flora Derounian adalah dosen sosiologi di Universitas Gloucestershire dan kandidat PhD di University of Bristol.Artikel ini awalnya muncul di The Conversation, dan diterbitkan ulang di bawah lisensi Creative Commons.

Anda bisa membaca versi bahasa inggris dari artikel ini, How Nun changes the workforce di BBC

Topik terkait

Berita terkait