Bagaimana 'gig economy' menciptakan ketidakpastian kerja

ekonomi lepasan Hak atas foto Getty Images

Pekerja masa depan harus sangat fleksibel dan gesit sesuai dengan pasar tenaga kerja baru. Tapi petuah ini bermasalah karena empat alasan, tulis Pete Robertson.

Klaim bahwa Inuit (penduduk Eskimo) memiliki 50 kata untuk salju mungkin diragukan, namun itu menjelaskan sebuah kenyataan dengan baik bahwa kosa kata kita menjadi lebih luas dan bernuansa terhadap fenomena yang sering kita hadapi.

Jenis pekerjaan standar di abad ke-20 itu adalah pekerjaan formal, penuh waktu dan permanen. Baru-baru ini kamus untuk jenis pekerjaan lain telah berkembang. Pekerjaan dapat bersifat sementara, berjangka waktu tetap, musiman, berbasis proyek, paruh waktu, kontrak tanpa minimal jam kerja, kontrak kasual, agen, freelance, perifer (peripheral) atau pekerjaan yang tidak menerima tunjangan, kontingen (pekerjaan non permanen yang dibayar per kasus), eksternal, non-standar, tidak tipikal, berbasis platform, outsource, sub-kontrak, informal, tidak dideklarasikan, tidak aman, marjinal atau genting (pekerjaan yang terancam akibat kondisi keuangan).

"Pengusaha mandiri" sekarang melakukan "pekerjaan Uber" - sebuah istilah yang muncul (meniru istilah "McJobs" yang sebelumnya digunakan untuk merendahkan pekerjaan bergaji rendah) untuk menggambarkan pekerja yang secara teknis bekerja sendiri dalam 'gig economy'(ekonomi yang bergantung pada pekerja dengan kontrak sementara). Pekerjaan yang tidak khas ini tak lagi begitu memperlihatkan lagi ketidakkhasannya. Pekerjaan yang tidak pasti telah menjadi fenomena penting.

Ketenagakerjaan adalah bidang yang selama ini dapat diandalkan untuk prediksi masa depan, karena tren telah jelas untuk beberapa waktu bahwa pertumbuhan lapangan kerja yang tidak pasti menjadi subjek penelitian. Pada tahun 1990an, pakar manajemen Charles Handy berbicara tentang organisasi di masa depan memiliki desain daun semanggi, dengan tiga jenis sumber daya manusia: pegawai tetap, staf kasual dan pekerja outsourcing.

Pembagian jenis pekerja menjadi tiga itu disebutkan lebih suram dari prediksi ekonom Will Hutton tentang masyarakat yang terdiri atas 30% orang dirugikan dan terpinggirkan, 30% menjalani kehidupan yang tidak pasti dan 40% mendapat hak istimewa.

Visi dari karir di abad ke-21

Karir pada awal abad ke-21, seperti yang disampaikan pada kami, akan menjadi "tanpa batas" (melompat dari satu proyek ke proyek lain, tidak terbatas pada satu organisasi), "portofolio" (beberapa pekerjaan paralel dengan beberapa perusahaan), dan "protean" (para pekerja mengubah diri mereka sesuai kebutuhan).

Hak atas foto Getty Images
Image caption Menjadi sangat fleksibel dan beradaptasi ke lingkungan pekerjaan yang terus berubah dapat menjadi problematik.

Para pakar masalah karir berpendapat bahwa para pekerja masa depan harus bisa sangat fleksibel. Tak ada lagi pekerjaan seumur hidup. Pelajari keterampilan manajemen karir agar gesit dengan pasar tenaga kerja baru. Tapi petuah ini bermasalah karena empat alasan.

Pertama, ketidakpastian pekerjaan selalu ada; dan pernah menjadi norma sejarah. Industri konstruksi selalu berbasis proyek dan musiman seperti pertanian; pelaut secara tradisional dipekerjakan untuk pelayaran. Industri hiburan adalah salah satu "gig economy" sejati. Ini adalah salah satu industri yang secara rutin membuang pekerja saat pekerjaan selesai.

Yang baru adalah perpanjangan pekerjaan tidak pasti ke industri yang sebelumnya tidak umum. Kondisi ini telah difasilitasi oleh teknologi baru dan meluasnya penggunaan pengaturan kontrak yang berusaha untuk membatasi hak pekerja.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Perusahaan seperti Deliveroo dikritik karena gaji dan kondisi pekerjaan para pekerja mereka.

Kedua, visi dunia baru yang berani yang terdiri atas karir portofolio, tanpa batas, dan protean ditujukan untuk para profesional yang bisa menjual paket karya bernilai tinggi. Itu cocok untuk pekerja dengan kepercayaan ekonomi untuk terbang tanpa jaring pengaman pendapatan reguler. Gagasan ini tidak untuk kurir sepeda, supir taksi atau petugas perawatan yang bergerak, dan tentu saja bukan karena mereka yang terjebak dalam siklus gaji rendah dan tidak bekerja.

Ketiga, retorika manajemen karir yang tak bisa membedakan antara apa dan seharusnya. Pertumbuhan dalam pola kerja atipikal tidak menyiratkan suatu keharusan moral bahwa para pekerja harus memfasilitasi perkembangan ini dengan membentuk diri mereka seperti yang diinginkan. Terutama saat beberapa perusahaan mungkin ingin melepaskan tanggung jawab untuk membayar biaya berobat, membayar liburan, dan melakukan perjalanan di antara pekerjaan.

Fleksibilitas dalam sumber daya manusia memungkinkan perusahaan untuk meningkatkan atau menurunkan skala operasi dengan cepat, dan dengan biaya minimal. Bukan hanya tentang menjaga beban gaji rendah, tapi juga usaha perusahaan untuk mengurangi tingkat risiko ekonomi, sementara pekerja meningkatkan porsi risiko mereka. Tantangan persaingan global mungkin tak terelakkan, namun tidak untuk rezim kepatuhan yang tidak dapat dipertanyakan lagi dengan pemberi kerja untuk berbagi kekayaan dan risiko.

Akhirnya, teknologi baru memfasilitasi alokasi tugas kerja yang cepat. Pada saat yang sama dapat membongkar pekerjaan menjadi tugas mikro berbeda-beda yang tenaga kerjanya dapat dibeli dan dijual dari jarak jauh. Dengan melakukan hal itu, mungkin ada efek samping merusak hubungan antara pekerja dan atasan dan menyingkirkan pekerja dari interaksi sosial dengan sesama staf mereka. Gaya hidup terisolasi dan mengisolasi tugas membuat lebih sulit untuk menempa rasa identitas sosial yang kuat.

Ketidakpastian di Inggris

Ulasan Taylor akan Praktek Pekerjaan Modern (Taylor Review of Modern Working Practices) dimaksudkan untuk mengisyaratkan bahwa pemerintah Inggris telah sadar. Ini menganjurkan penggunaan status "kontraktor yang bergantung" yang baru bagi para pekerja, namun sebagian besar rekomendasinya masih 'malu-malu'. Baru-baru ini, ikan terbesar yang ada di ekonomi pertunjukan, Uber dan Deliveroo, dipanggil oleh anggota parlemen. Tapi sejauh ini berkisar perselisihan hukum ketenagakerjaan.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Para demonstran memprotes kondisi pekerjaan dan kontrak tanpa jam kerja minimal di pusat London pada 4 September lalu.

Pekerja di pekerjaan yang tidak pasti mungkin harus beradaptasi. Tapi mereka juga bisa menolak, meski tidak mudah. Mereka tidak di posisi yang baik untuk untuk membeli keanggotaan serikat dagang, jika mereka merepotkan dapat menyebabkan berkurangnya tawaran kerja, dan identifikasi mereka dengan perdagangan mungkin terbatas. Meskipun demikian dari apa yang mungkin merupakan konflik sosial yang telah berlangsung lama, serikat pekerja yang telah muncul dengan kesuksesan awal.

Contoh terkini adalah McDonald's, pegawai di dua gerai makanan cepat saji ini baru saja melakukan langkah yang tidak biasa untuk menuntut pembayaran yang lebih baik, kontrak yang lebih aman dan pengakuan serikat pekerja.

Ini bukan hanya masalah hak pekerja. Ketika orang terkunci dalam gaya hidup jangka panjang yang tidak pasti, hal itu berinteraksi dengan isu-isu lain. Dengan tingginya biaya perumahan, menjebak orang ke siklus hidup yang bergantung pada orang tua. Ada alasan untuk percaya bahwa pekerjaan berkualitas buruk dengan pola kerja yang tidak pasti memiliki dampak buruk terhadap kesehatan. Kerusakan ini secara tidak proporsional merugikan kelompok sosio-ekonomi yang paling tidak sejahtera.

Adapun cara kita mendidik anak muda tentang karir, desakan terhadap fleksibilitas hanya baik sampai titik tertentu. Kita perlu melengkapi pekerja masa depan untuk berkolaborasi untuk mempromosikan dan melindungi kepentingan mereka, dan memberi mereka kesempatan yang adil untuk memperbaiki ketidakseimbangan kekuatan pasar tenaga kerja kontemporer.

Pete Robertson merupakan profesor di Universitas Edinburgh Napier. Artikel ini aslinya dipublikasikan dalam The Conversation, dan dipublikasikan ulang melalui lisensi Creative Commons.

Anda dapat membaca versi asli artikel ini dalam bahasa Inggris yang berjudul How the gig economy creates job insecurity di BBC Capital

Berita terkait