Benarkah milenial generasi sensitif yang pantas dibenci?

milenial Hak atas foto Getty Images
Image caption Generasi yang terkenal malas bekerja, tapi yang membingungkan, juga ketagihan bekerja.

Mungkin banyak asumsi yang kita buat tentang Gen Y bukanlah asumsi spesifik mengenai 'generasi milenial'. Mungkin pada dasarnya asumsi itu menggambarkan anak muda pada umumnya, tulis Amanda Ruggeri.

Saya mengenal seorang milenial sejati. Dia mengendarai sepeda bukan mobil, mengikuti kelas yoga setidaknya dua kali seminggu, menanam kecambahnya sendiri dan bekerja paruh waktu -bukan sebagai pekerja kantoran. Dia meninggalkan kariernya sebagai ekonom untuk mengejar mimpinya sebagai seorang komedian.

Masalahnya, dia bukan seorang milenial. Dia adalah salah seorang dari generasi baby boomer berusia 50an tahun.

Benar adanya bahwa setiap generasi dibentuk oleh demografi, peristiwa bersejarah dan dorongan ekonomi. Misalnya, era resesi dahsyat. Pada masa ini di seluruh dunia, orang dewasa muda saat ini berpenghasilan 20% di bawah teman-teman seumurnya pada 30 tahun lalu.

Atau, tren pendidikan. Di Amerika Serikat banyak Gen Y cenderung pergi ke universitas. Namun karena biaya pendidikan melejit, ini berdampak pada utang mahasiswa yang menggelembung.

Tapi ketika berbicara tentang generasi milenial, analisis ini sering kacau.

Kita tidak membicarakan bagaimana tren tertentu membentuk seluruh masyarakat dan bagaimana beberapa kelompok punya cara yang berbeda dari yang lain. Kita berbicara tentang bagaimana milenial sebagai kaum pemalas dan perlu bekerja lebih keras. (Meskipun, yang membingungkan, mereka juga gila kerja).

Milenial - didefinisikan sebagai generasi yang lahir sekitar 1980 hingga akhir 1990an -adalah generasi yang menyenangkan untuk dibenci. Baik soal tren konyol tentang bel pintu atau label snowflake generation - istilah yang merujuk pada generasi yang merasa dirinya spesial dan berhak mendapat perlakuan istimewa.

Untuk melihat kekonyolan ini, amati saja sejumlah artikel mengenai milenial. Polanya hampir selalu sama.

Langkah pertama: ambil sampel data yang buruk (atau tidak ada data sama sekali). Soroti data mengenai generasi muda saat ini, lalu jangan bandingkan dengan orang-orang seumuran mereka dari generasi sebelumnya.

Langkah kedua: abaikan faktor eksternal dan perubahan demografi yang mungkin telah mempengaruhi perbedaan yang ditemukan. Langkah ketiga: taburi lapisan stereotipe. Langkah keempat: remas kedua tangan Anda.

Hak atas foto Matt Cardy/Getty Images
Image caption Apakah milenial benar-benar membeli tanaman hias lebih banyak dari generasi yang lebih tua?

Contohnya, harian Washington Post merilis artikel bahwa kaum milenial membeli tanaman hias lebih banyak dari generasi yang lebih tua. Benarkah demikian? Sekalipun demikian, apakah mereka benar-benar membeli lebih banyak ketimbang kakek dan nenek mereka saat mereka masih muda dan membentuk rumah tangga mereka sendiri?

Dan jika urbanisasi adalah faktor, yang diamini oleh artikel tersebut, mungkinkah karena orang jarang memiliki kebun di kota, jadi tanaman perlu masuk ke dalam rumah? Atau apakah memang kaum milenial yang tinggal di kota-kota merasa tidak berdaya, memiliki kehampaan di dalam hati mereka dan "memerlukan sesuatu untuk dipelihara"?

Artikel mengenai tren milenial lain soal. (Dan kita juga menjadi mangsa mereka). Artikel-artikel tersebut adalah kritik halus terhadap Generasi Y yang meluas dari AS sampai Australia bahkan kepada milenial sekalipun.

Menurut teori, orang yang lahir antara tahun 1980 dan 1995 mungkin pintar (kecuali saat mereka bodoh) dan berpikiran digital (kecuali saat mereka tidak melakukannya). Tapi mereka juga membunuh setiap industri, dari berlian hingga serbet, merusak agama dan kampus universitas, merusak ekonomi di Jepang, menghancurkan Amerika dan bahkan mungkin membuat China tidak stabil. Belum lagi banyak dari mereka menyebalkan ...

Hasilnya: kita pikir kita tahu banyak tentang milenial, dan tentang betapa berbedanya mereka dari generasi lainnya. Dan hal-hal yang kita pikir kita ketahui tentang mereka sangat mengerikan sehingga kita membenci mereka. Masalahnya adalah banyak pengetahuan itu tidak tepat.

Stereotipe yang melelahkan

Banyak stereotipe, dan studi, berasal dari AS, di mana milenial sekarang membentuk kelompok generasi terbesar. (Di Eropa, di sisi lain, mereka adalah minoritas dari semua orang dewasa).

Bahkan di AS, citra milenial yang khas diambil dari potongan populasi yang sempit. Pikirkan bagaimana serial Girls yang dibintangi Lena Dunham Girls dianggap sebagai kecenderungan-kecenderungan umum Generasi Y.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Serial Girls dianggap merepresentasi gaya hidup milenial perempuan

Tetapi bahkan di AS, di mana perusahaan riset besar seperti Pew dan Gallup sering memanjakan minat antar-generasi, ada lebih banyak data daripada yang sekilas terlihat.

Ambil contoh soal tempat bermukim. Di AS pada tahun 2014, untuk pertama kalinya dalam 130 tahun, menjadi lebih umum bagi mereka yang berusia 18-34 tahun untuk tinggal dengan orang tua mereka daripada dengan pasangan. Data itu seolah menggambarkan streotipe pengangguran, malas, dan berhak mendapat perlakuan istimewa.

Tapi seperti ditunjukkan data, kaum milenial AS yang tinggal bersama orang tua mereka tidak mencapai rekor tertinggi. Menariknya, rekor justru terjadi pada tahun 1940--kaum yang dijuluki publik Amerika sebagai Generasi Terbaik.

Dan, meskipun ekonomi adalah faktor penyebab kaum milenial masih tinggal bersama orang tua, tiga dari empat orang yang tinggal bersama orang tua mereka saat ini tidak "menganggur". Mereka memiliki pekerjaan atau sedang menempuh pendidikan tinggi.

Perubahan yang sebenarnya? Kaum milenial menikah lebih belakangan ketimbang orang tua atau kakek nenek mereka--sebuah tren yang meningkat di AS sejak tahun 1970 dan yang terjadi di hampir semua negara mitra OECD dari Islandia ke Korea Selatan.

Tapi perubahan bukan hanya pernikahan. Walau mereka lebih cenderung tinggal bersama tanpa menikah, jumlah milenial yang tinggal dengan pasangan romantis, menikah atau tidak menikah, lebih kecil daripada generasi sebelumnya.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Milenial tergambar seperti stereotipe yang umumnya melekat, karena situasi lingkungan, bukan karena karakter mereka.

Dan meskipun sangat menggoda untuk menyimpulkan tentang tingkat komitmen kaum milenial berdasarkan data tersebut (ataumenulis judul seperti, "Generasi Muda Amerika membunuh pernikahan"), jangan lupa bahwa generasi baby boomer di AS mengalami tingkat perceraian lebih tinggi daripada kelompok usia lainnya dan mereka juga bercerai dalam jumlah yang belum pernah terjadi sebelumnya saat berusia 20-an dan 30an tahun.

Pergeseran demografis bukanlah satu-satunya yang berubah di AS. Lainnya adalah peningkatan populasi Asia dan Hispanik, yang cenderung tinggal di rumah tangga multigenerasi.

Faktanya, orang dewasa muda yang tinggal di rumah orang tua mereka sebenarnya lebih rendah pada tahun 2015 daripada pada tahun-tahun pra-bubble akhir tahun 1990an.

Dengan kata lain, orang muda saat ini cenderung tidak tinggal dengan orang tua mereka daripada orang muda dengan demografi yang sama 20 tahun yang lalu," tulis ekonom Jed Kolko.

Anak muda masa kini

Mungkin banyak karakteristik yang kita pakai untuk mencap kaum milenial, bukanlah hal yang khas untuk generasi ini. Mungkin karakteristik itu spesifik dipakai untuk anak muda dari generasi manapun. Kalau saja ada cara untuk melihat apa yang telah ditulis orang tua tentang anak muda selama bertahun-tahun.

Untungnya, tulisan itu ada. Seperti yang diterbitkan Atlantic beberapa tahun lalu, "Every Every Every Generation Been the Me Me Me Generation" ("Setiap Setiap Setiap Generasi pernah menjadi Generasi Saya Saya Saya).

Ungkapan 'saya saya saya' adalah ungkapan yang favorit untuk merujuk suatu generasi. Generasi baby boomer disebut "generasi 'saya'". Milenial? "Generasi Saya".

Hak atas foto Tom Dulat/Getty Images for Lexus
Image caption Salah satu stereotip bagi milenia: mereka doyan selfie

Tapi artikel di Atlantic ini tidak mengungkap lebih dalam. Tidak mengherankan, sepanjang sejarah orang tua mengkritik anak muda atas perilaku mereka. Yang lebih mengherankan - setidaknya bagi saya - adalah bahwa banyak dari keprihatinan beberapa dekade lalu sama persis dengan yang diangkat hari ini.

Ambil contoh pernyataan penulis asal Amerika Serikat, Susan Littwin, kepada Toronto Star.

"Mereka adalah anak-anak istimewa dari orang tua yang sempurna, dan mereka jarang berlatih mengatasi kegagalan atau penolakan."

"Tapi nasib telah membawa bangsawan kelas menengah yang menawan ini ke dalam dunia yang kasar dan ketat. Mereka mencoba mandiri, tapi tidak berhasil. Itu melemahkan kepercayaan diri mereka dan mereka pulang untuk menangis."

Kedengarannya seperti Littwin sedang membahas generasi milenial atausnowflake generatio. Tapi kenyataannya dia berbicara pada1989 dan generasi yang dia gambarkan adalah Gen X. Adapun judul artikel itu "Kelompok generasi tanpa nama lahir pada tahun 60an".

Ada begitu banyak contoh seperti ini. Trennya terus berlanjut hingga ke dunia kuno. Orang Romawi berusia 20-an dan 30an tahun sering ditulis dengan stereotipe-stereotipe negatif oleh orang-orang Romawi yang lebih tua sebagaimana dipaparkan dalam kajian berjudul Youth in the Roman Empire.

Salah satu temuan dalam kajian itu mengetengahkan "keengganan" orang tua di jaman Romawi "untuk mempercayakan jabatan dan liturgi yang terhormat kepada kaum muda".

Keengganan itu disebut bahkan lebih besar daripada menyerahkan jabatan kepada perempuan yang dilarang keras oleh hukum untuk memegang jabatan apa pun, tulis para sejarawan.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Bahkan bangsa Romawi seringkali memperolok generasi muda mereka

Keluarga berencana

Jadi, bagaimana dengan para milenial yang banyak difitnah ini? Apakah karakteristik mereka benar-benar khas Generasi Y dan bukan berhubungan dengan usia muda?

Salah satu cara untuk mengetahuinya adalah dengan mengamati apakah karakteristik ini tetap sama seiring bertambahnya usia generasi milenial. Generasi Y tertua yang kini berusia sekitar 35 atau 36 tahun, bertindak kurang lebih sama seperti generasi sebelumnya.

Memang benar mereka membangun rumah tangga lebih belakangan daripada generasi sebelumnya di masa lalu - sebuah tren yang di banyak negara telah berlangsung selama beberapa dekade (di AS, misalnya, sejak 1976).

Meskipun kaum milenial AS cenderung tidak memiliki rumah daripada generasi sebelumnya pada usia yang sama (sebagian karena kenaikan biaya rumah dan standar pinjaman yang lebih ketat), mereka menjadi kelompok pembeli rumah terbesar tahun ini.

Mereka juga pindah ke pinggiran kota. Mereka membeli mobil. Dan mereka menghemat lebih banyak uang untuk pensiun daripada Gen X atau baby boomer, meskipun mereka memiliki lebih sedikit uang untuk digunakan.

Hak atas foto Everynight Images
Image caption Milenial menghemat lebih banyak uang untuk pensiun daripada rekan Gen X, yang saat ini sudah berusia sekitar 40 tahun.

Jika Anda bertanya-tanya bagaimana kaum milenial yang terobsesi dengan swa-foto tiba-tiba berubah menjadi ibu dan bapak rumah tangga yang bertanggung jawab, ingat: manusia berubah.

Kita banyak berubah. Bahkan menurut sebuah penelitian jangka panjang baru-baru ini, sangat sedikit korelasi antara seseorang yang berusia usia 77 tahun dan diri mereka ketika remaja.

Data buruk

Tapi terkadang, tentu saja, bukan berarti milenial bertambah dewasa. Masalahnya, data awal tidak begitu solid. Jika Anda ingin berfokus pada tren milenial, Anda perlu membandingkan milenial dengan generasi lain. Lebih afdal, dengan generasi lain ketika mereka seumuran.

Berikut adalah beberapa jenis penelitian yang telah digali:

Anak-anak manja itu sebenarnya ... tidak kaya. Di Inggris, milenial memperoleh £8.000 lebih sedikit di usia 20-an daripada Gen X.

Di Australia, warga berusia antara 65 dan 74 tahun lebih kaya $200.000 daripada rekan mereka delapan tahun yang lalu, sementara warga berusia 25 sampai 34 tahun benar-benar mundur soal kekayaan.

Di AS, baik Generasi X dan Y keduanya mengumpulkan kekayaan lebih sedikit daripada orang tua mereka pada usia yang sama dan lebih cenderung berada di bawah garis kemiskinan di AS daripada generasi sebelumnya.

Ketiga negara tersebut takut bahwa milenial akan menjadi generasi pertama yang menjadi lebih buruk daripada orang tua mereka - dan mereka bukan satu-satunya.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Anda mungkin berpikir mereka sibuk bermain Instagram atau Snapchat, tapi mereka sebenarnya juga sibuk mencari pekerjaan tetap.

Soal stereotipe bahwa kaum milenial seperti kutu loncal dalam dunia kerja, datanya tidak demikian. Milenial sebenarnya lebih sedikit berpindah pekerjaan ketimbang orang tua mereka -dan lebih sedikit ketimbang generasi sebelumnya pada usia yang sama.

Di Inggris, pekerja yang lahir pada pertengahan 1980an berpindah pekerjaan kurang dari setengah dari mereka yang lahir di pertengahan 1970an pada usia yang sama. Di AS, milenial tak lagi cenderung berpindah-pindah pekerjaan daripada Gen X pada usia yang sama. Justru, mereka tinggal dengan pekerjaan mereka lebih lama.

Ketika mereka pindah kerja, sebuah survei internasional menemukan bahwa mereka melakukannya dengan alasan pragmatis yang sama - seperti menghasilkan lebih banyak uang atau memiliki lebih banyak tanggung jawab - sama seperti alasan Gen X dan baby boomer.

Hanya satu dari lima milenial (21%) mengatakan bahwa mereka meninggalkan pekerjaan demi cita-cita mereka, lebih dari baby boomer (16%) namun kurang dari Gen X (24%).

Milenial AS cenderung tidak mengambil cuti tamasya, berbeda dengan orang tua mereka (meskipun, karena lebih junior, mereka mendapatkan sedikit waktu libur).

Di AS, Gen Y bahkan lebih puas dengan aspek tempat kerja - seperti pelatihan dan pengembangan ketrampilan mereka, atau peluang untuk promosi - daripada generasi lainnya.

Di seluruh dunia, milenial cenderung patuh pada manajer. Sebuah kajian terhadap 25.000 orang di 22 negara menunjukkan bahwa 30% baby boomer dan 30% dari Gen X sepakat bahwa "karyawan harus melakukan apa yang manajer mereka katakan kepada mereka, bahkan ketika mereka tidak dapat melihat alasannya." Jumlah milenial yang beranggapan demikian ada 41%.

Soal pujian di tempat kerja, kurang dari sepertiga milenial dalam survei global IBM menempatkan "mengakui prestasi saya" sebagai salah satu dari tiga atribut teratas yang mereka sukai pada bos mereka. Gen X lebih sedikit (26%) dan baby boomer (23%).

Tapi baby boomer sama besarnya dengan jumlah milenial yang ingin mendapat bimbingan dan umpan balik langsung. Baby boomer lebih menghendaki manajer yang meminta masukan mereka, daripada milenial.

Hak atas foto SAUL LOEB/Getty Images
Image caption Kombucha adalah minuman fermentasi teh yang digemari oleh milenial yang pemalas

Analisis terhadap lebih dari 20 studi tentang topik dunia kerja di seluruh dunia telah menemukan bahwa "perbedaan bermakna mungkin tidak ada" di tempat kerja.

Lalu, apakah ada cara yang menunjukkan bahwa milenial berbeda dari generasi lain? Tentu saja. Infografis menunjukkan bahwa setiap generasi telah menjadi lebih metropolitan, berpendidikan lebih baik dan lebih beragam secara etnik. Kemudian cenderung tidak menikah atau telah bertugas di militer, daripada yang terakhir.

Temuan penting lainnya adalah bahwa milenial kurang banyak berhubungan seks daripada orang tua mereka di usia muda mereka.

Di seluruh dunia, mereka memiliki pandangan yang lebih global; mereka cenderung tidak berpartisipasi dalam agama yang terorganisir dan lebih mungkin untuk tinggal dengan pasangan mereka.

Tetapi bahkan beberapa tren ini tidak unik untuk milenial. Contohnya tinggal bersama dengan pasangan hidup. Jumlah orang dewasa yang tinggal bersama di atas usia 50 tahun di AS telah meningkat 75% dalam dekade terakhir.

Jadi pada dasarnya, milenial sama seperti generasi lainnya pada usia mereka. Hanya sedikit berbeda. Lebih global, mungkin. Lebih beragam. Lebih progresif. Miskin, pastinya.

Tapi apakah mereka kelompok monster yang unik, yang pantas dibenci? Saya tidak yakin. Tapi saya akan kembali berbicara dengan Anda setelah saya mengambil beberapa selfie lagi.

Artikel ini tersedia dalam bahasa Inggris dengan judul What everyone gets wrong about 'millenial snowflakes' pada laman BBC Capital.

Berita terkait