Bagaimana orang cerdas mendorong kerjasama

Ilustrasi kerja di kantor Hak atas foto Getty Images
Image caption Kecerdasan adalah syarat utama untuk masyarakat yang kohesif dan bekerjasama secara sosial.

Orang yang murah hati dan kooperatif bekerja untuk kebaikan bersama — dan dirinya sendiri.

Andis Sofianos adalah kandidat pascadoktoral di Departemen Ekonomi di Universitas Heidelberg di Jerman dan Eugenio Proto adalah Profesor Ekonomi di University of Bristol, Inggris, dan Aldo Rustichini adalah Profesor Ekonomi di University of Minnesota, AS. Artikel ini pertama muncul di The Conversation, dan diterbitkan ulang di bawah lisensi Creative Commons.

Apa yang mendorong orang untuk saling bekerjasama?

Dan karakteristik apa yang mendorong orang untuk melakukan sesuatu yang menguntungkan mereka dan orang-orang di sekitarnya?

Penelitian baru kami menunjukkan bahwa jawabannya adalah kecerdasan. Kecerdasan adalah syarat utama untuk masyarakat yang kohesif dan bekerjasama secara sosial.

Di masa lalu, beberapa ekonom menyarankan bahwa memikirkan orang lain, dan perilaku pro-sosial lainnya, memotivasi orang untuk menjadi lebih murah hati dan berperilaku kooperatif sehingga membantu masyarakat untuk menjadi lebih kuat.

Peneliti lain mengatakan bahwa berpegang pada norma-norma yang baik dan menghormati institusi mendorong kita pada perilaku yang berguna secara sosial.

Namun kemungkinan lain menunjukkan bahwa mendukung minat atau keinginan kita sendiri akan membimbing kita untuk menjadi warga yang baik — dan kerjasama itu akan muncul di masyarakat jika orang cukup pintar untuk melihat konsekuensi sosial dari tindakan mereka, termasuk dampak dari tindakan mereka pada orang lain.

Hak atas foto The Journal of Political Economy

Permainan tahanan

Penelitian kami, yang sebagian berlangsung di laboratorium perilaku di AS dan Inggris dengan 792 responden dirancang untuk menguji tiga alasan orang bekerjasama dengan satu sama lain.

Di dalamnya, kami menggunakan permainan yang memiliki serangkaian aturan main yang memberi imbalan pada dua pemain, tergantung pada keputusan mereka.

Salah satu permainan ini adalah permainan dilema tahanan.

Cara termudah menggambarkan permainan ini adalah dengan menggunakan contoh dua penjahat yang ditahan.

Mereka diinterogasi di ruang yang berbeda tanpa kemungkinan berkomunikasi dengan satu sama lain.

Setiap tahanan diberikan kesempatan: mengkhianati tahanan lain dengan bersaksi bahwa tahanan lain yang bersalah — pilihan tidak kooperatif — atau dengan bekerjasama satu sama lain dan tetap diam.

Jika kedua tahanan saling mengkhianati, mereka akan dipenjara dua tahun — hasil yang tidak kooperatif.

Jika salah satu tahanan mengkhianati yang lain dan satunya tetap diam, tahanan pertama akan bebas dan tahanan kedua akan dipenjara tiga tahun — dan begitu pula sebaliknya. Jika keduanya tetap diam, mereka hanya akan dipenjara satu tahun — hasil yang kooperatif.

Ini adalah contoh standar dari permainan yang dianalisis lewat teori permainan yang memperlihatkan mengapa dua individu yang rasional mungkin saling tidak bekerjasama, meski tampaknya mereka akan sama-sama untung jika melakukannya.

Ini juga menjadi contoh yang baik sebuah permainan zero sum, yaitu proses di mana jumlah keuntungan dan kerugian dari seluruh peserta adalah nol — dan perilaku saling bekerjasama akan sama-sama menguntungkan.

Secara umum, situasi ini mencerminkan jenis interaksi yang sering kita alami di masyarakat.

Seperti yang sering terjadi dalam ekonomi eksperimental, responden dalam permainan ini menggunakan imbalan uang, bukan lama waktu di penjara.

Kami mencocokkan dua subjek dalam sesi yang sama dengan cara anonim dan kami membiarkan mereka bermain permainan yang sama berulang kali terus-menerus.

Setelah itu, kami pasangkan mereka dengan partner lain dan permainan dimulai lagi dari awal.

Dan ini berlangsung selama 45 menit. Setiap pemain belajar untuk menyesuaikan keputusan mereka sesuai dengan cara pemain lain di ruangan yang sama memainkan permainan tersebut.

Kecerdasan mendorong kerjasama

Hak atas foto The Journal of Political Economy

Kemudian kami menciptakan dua "kota", atau kelompok subjek yang disusun berdasarkan kecerdasan dan kepribadian yang sudah kami ukur dua hari sebelumnya, dengan menanyakan kuesioner standar bagi responden.

Salah satu karakteristik yang diukur adalah perilaku pro-sosial, yaitu karakter menyenangkan. Karakter lain yang kami catat adalah kepatuhan pada norma, terutama lewat keinginan mereka untuk melakukan sesuatu sesuai tugas dan kewajiban. Dan karakteristik ketiga adalah kecerdasan.

Kemudian kami menganalisis frekuensi mereka mengambil pilihan-pilihan kooperatif sepanjang permainan dilema tahanan — yaitu berapa kali mereka mengambil pilihan yang lebih tidak egois. Dari sini, kami kemudian mengkalkukasi apa yang kami sebut tingkat kerjasama.

Secara umum kami menemukan bahwa semakin tinggi kecerdasan seseorang, semakin kooperatif mereka dalam memainkan permainan ini.

Meski individu yang cerdas tidak berarti mereka lebih kooperatif, tapi mereka memiliki kemampuan untuk mencerna informasi lebih cepat dan belajar dari situ.

Kami tidak melihat perbedaan yang mencolok dari dua kelompok yang bebreda — mereka yang mendapat skor tinggi di karakter menyenangkan dan mereka yang patuh pada norma.

Saling membantu

Mungkin saja orang-orang yang lebih cerdas mencoba menggunakan keunggulan kognitif mereka dan mengambil keuntungan dari orang lain.

Jadi, dalam analisis lebih lanjut, kami mencampur "kota-kota" dan mengumpulkan orang-orang yang kurang lebih sama karakteristiknya dalam tes kepribadian, dan memiliki tingkat kecerdasan yang serupa. Kami menemukan sesuatu yang berbeda.

Seperti ditunjukkan dalam grafik di atas, individu yang lebih cerdas — garis biru — dalam grup yang telah dicampur, membantu mereka yang tidak terlalu cerdas — garis merah — dan membantu meningkatkan tingkat kerjasama mereka pada akhir eksperimen.

Pada akhirnya ini menguntungkan bagi semua pihak: rata-rata semua orang mendapat pemasukan yang lebih baik.

Jika dilihat bersama, maka hasil ini memperlihatkan bahwa hanya dengan kehadiran sedikit orang cerdas dalam tim atau tempat kerja, maka bisa menguntungkan banyak orang.

Penelitian lain telah menunjukkan betapa pendidikan bisa membantu sejak masa kecil untuk mengembangkan kemampuan kognitif, maka hasil kami menunjukkan bahwa intervensi semacam itu tidak hanya menguntungkan bagi satu orang saja, tapi juga masyarakat secara keseluruhan.

Anda bisa membaca versi asli tulisan ini di How clever people improve societies di laman BBC Capital

Topik terkait

Berita terkait