Apakah robot bisa mengambil alih divisi SDM di kantor Anda?

Tempat kerja dan perempuan Hak atas foto Danieal Leal-Olivias/AFP/Getty Images

Siapa yang Anda percaya untuk membantu Anda dalam masalah serius di tempat kerja? Bagaimana dengan bantuan sebuah robot?

"Mohon katakan semua yang dapat Anda ingat mengenai apa yang terjadi."

"Cobalah untuk tidak melewatkan sesuatu, bahkan jika itu tampak sepele."

"Saya punya banyak waktu, selama yang Anda butuhkan."

Dialog ini mungkin terdengar seperti rangkaian kalimat yang diutarakan seorang polisi saat mewawancarai saksi mata atau korban kejahatan. Akan tetapi, deretan kalimat itu nyatanya dilontarkan sebuah program komputer yang dirancang untuk memberantas diskriminasi dan pelecehan di tempat kerja.

Nama program komputer itu adalah Spot. Diluncurkan pada Februari, robot percakapan (chatbot) yang gratis untuk digunakan ini, dapat diakses melalui sebuah situs.

Spot merekam jawaban yang diketik penggunanya, lalu mengumpulkan jawaban-jawaban itu untuk membuat laporan rinci mengenai tuduhan pelecehan seksual atau diskriminasi di tempat kerja.

Jika seseorang menyampaikan cerita mengenai pelecehan seksual yang dilakukan atasannya, sebagai contoh, Spot mungkin akan menyelidiki dengan lebih rinci.

"Terima kasih telah menceritakan hal itu kepada saya. Tolong sampaikan dengan spesifik mengenai bulan, minggu, hari atau waktu saat terjadinya peristiwa itu."

Harapannya pendekatan efisien seperti itu dapat menyingkirkan sejumlah stigma yang terkait dengan pelaporan komplain secara formal - sehingga diharapkan dapat mengarah ke lingkungan kerja yang lebih aman dan terbuka bagi seluruh karyawan.

Bagaimana cara kerjanya

Untuk saat ini, setiap orang dapat menyampaikan sebuah laporan melalui situs Spot ( ini dapat dikerjakan dengan komputer rumah jika Anda tidak ingin perusahaan Anda mengetahuinya).

Chatbot yang menggunakan kecerdasan artifisial itu dirancang untuk menyediakan sebuah layanan bebas penghakiman yang tidak terburu-buru atau membingungkan pengguna.

Harapannya dengan menangani masalah dengan sebuah mesin—dibandingkan dengan rekan kerja senior—dapat membuat korban lebih terbuka.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Kekerasan dan pelecehan seksual di tempat kerja terkait dengan depresi namun tidak ditemukan masalah kesehatan jika orang membuat laporan yang ditangani dengan tepat (Kredit: Getty Images)

Spot bakal merekam sebanyak-banyaknya rincian yang dapat diingat pengguna mengenai insiden yang dialaminya: siapa saja yang berada di lokasi kejadian, bagaimana perasaan sang pengguna, apakah ada bukti lain yang mendukung (seperti tangkapan layar atas pesan yang tidak pantas, dll).

Percakapan antara Spot dan pengguna dapat terjadi selama beberapa menit—sepanjang kebutuhan pengguna. Jika pengguna merujuk seorang saksi, sebagai contoh, robot itu dapat meminta saksi tersebut untuk menyampaikan laporan juga.

Pada akhir diskusi, pengguna dapat memilih untuk mengunduh dokumen format PDF dengan tanggal laporan berisi transkrip rapi atas percakapan dengan Spot dan kemudian memilih apakah akan menggunakannya untuk mengajukan komplain pada perusahaan mereka atau tidak.

Seberapa luas insiden pelecehan seksual di tempat kerja secara relatif tidak diketahui. Namun, hasil survei terbaru BBC yang melibatkan lebih dari 2.000 orang tampak bahwa separuh dari responden perempuan mengalaminya pada tingkat tertentu.

Diperkirakan bahwa mayoritas pelecehan dan diskriminasi di tempat kerja masih belum dilaporkan. Kesimpulan menyedihkan itu digarisbawahi oleh banyak institusi penelitian, yang artinya kita sangat memerlukan perangkat lebih baik guna mengatasi masalah pelecehan dan diskriminasi di tempat kerja.

"Perkiraaan paling komprehensif yang kami temukan adalah sekitar 30% kasus di AS dilaporkan," jelas Camilla Elphick, peneliti dan kandidat PhD di Universitas Sussex di Inggris, yang bekerja mengembangkan Spot.

Elphick juga merupakan bagian dari tim riset yang melakukan meta-analisis atas sejumlah studi yang memantau pelecehan dan diskriminasi di tempat kerja untuk mengungkapkan berapa banyak yang tidak dilaporkan dan mengapa. Hasil meta-analisis itu sebentar lagi akan dipublikasikan.

"Kami menghendaki (perangkat ini) mengikuti prinsip-prinsip psikologis tentang ingatan" yang dapat "mendapatkan informasi akurat dengan menggunakan teknik wawancara kognitif," jelas Elphick.

Laporan ini dapat juga dibuat penggunanya tanpa menyertakan nama yang bersangkutan sehingga memberikan pilihan kepada pengguna untuk tidak mengungkap jati diri begitu mengirimkannya ke Divisi SDM perusahaan mereka.

Mereka dapat menyimpan salinan aslinya untuk mereka sendiri jika suatu waktu mereka membutuhkannya untuk digunakan pada tahap selanjutnya.

"Katakanlah sesuatu terjadi pada Anda dan tiga bulan kemudian itu terjadi lagi, dan kemudian Anda melaporkan kedua insiden itu," jelas Julia Shaw, salah satu pendiri Spot dan pakar memori dari Universitas College London.

Dalam tiga bulan sejak insiden pertama, Anda mungkin telah lupa tentang detil penting, seperti saksi-saksi, sehingga akibatnya Anda kehilangan rincian yang penting dan berguna mengenai insiden tersebut. Kami ingin mencegah terjadinya hal tersebut," imbuhnya.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Para pendukung berkumpul di Las Vegas pada Januari untuk berpawai mengenai hak-hak perempuan, satu tahun setelah Women's March yang bersejarah (Kredit: Getty Images)

Di tengah kampanye #MeToo dan #TimesUp, para pemimpin berbagai industri berupaya untuk menemukan perangkat yang secara efektif menangani pelecehan dan diskriminasi yang terkadang melekat. Namun masih ada beberapa hambatan yang menghalangi orang untuk melaporkannya.

"Orang tidak tahu bagaimana melaporkan. Sebagai contoh, mereka tidak sadar akan adanya sebuah kebijakan di organisasi mereka," kata dia.

"Kekhawatiran terbesar adalah pembalasan, sebagaimana dialami orang lain yang melaporkan konsekuensi negatif terhadap mereka, seperti penilaian yang buruk, terasing secara sosial di tempat kerja, jabatan tidak dinaikkan, dan seterusnya."

"Mereka juga enggan untuk mengungkapkan karakteristik personal seperti orientasi seksual atau masalah kesehatan. Mereka juga risau dengan kepercayaan dan kerahasiaan."

Dalam sebuah studi pelatihan perempuan yang hendak menjadi petugas pada akademi layanan Departemen Pertahanan AS, perempuan mengaku tidak melaporkan pelecehan seksual karena khawatir dikucilkan atau dibalas.

Pelecehan juga terkait dengan lingkungan kerja yang menjadi negatif dan kesehatan buruk. Salah satu studi terhadap staf sebuah universitas di Ethiopia, sebagai contoh, menemukan bahwa kekerasan dan pelecehan seksual di tempat kerja berkolerasi dengan depresi tingkat tinggi.

"Bagaimanapun, tidak ada konsekuensi terkait kesehatan yang ditemukan jika orang membuat laporan dan mereka yang melapor ditangani dengan tepat," kata Elphick.

"Ini menunjukkan jika orang yang membuat laporan ditangani dengan tepat oleh organisasi, mereka tidak seharusnya menderita masalah kesehatan."

Jenis wawancara yang spesial

Chatbot boleh jadi mampu menggunakan sejumlah aspek metode wawancara kognitif, sebuah proses yang sangat efektif untuk saksi mata sebuah kejahatan.

Amina Memon, seorang profesor psikologi Universitas Royal Holloway di London, mengatakan teknik penting untuk wawancara kognitif yang baik justru tidak mengajukan pertanyaan 'ya atau tidak' atau pertanyaan yang memancing.

Wawancara kognitif yang baik juga membuat orang yang diwawancarai merasa punya kendali menentukan kecepatan wawancara dan merasa bebas mengatakan jika ada yang tidak jelas, atau mereka tidak mengetahui sesuatu.

"Wawancara kognitif meliputi apa yang kita ketahui mengenai bagaimana ingatan bekerja dan prinsip dasar komunikasi efektif," kata dia. "Dan menyatukan mereka secara bersamaan dan berupaya mendapatkan laporan ingatan yang rinci, dan mendapatkan rincian sebanyak mungkin."

Meskipun wawancara kognitif yang dilakukan antara dua individu menghasilkan catatan yang lebih baik dibandingkan dengan wawancara yang tidak terstruktur, cara ini mungkin juga meningkatkan potensi timbulnya rincian yang tidak tepat.

Sebagai contoh, jika seorang yang diwawancara ingin menyenangkan seseorang yang memiliki posisi berkuasa. Memon mengatakan risiko ini meningkat apabila melibatkan dengan saksi mata yang lebih rentan, termasuk orang dalam spektrum autisme atau anak-anak.

Bagaimanapun, Shaw berpandangan bahwa sebuah robot mungkin sebenarnya lebih baik dibandingkan seorang manusia dalam mendorong respons yang akurat.

"Manusia mungkin memiliki asumsi, misalnya, mengenai penampilan seseorang yang dapat dipercaya atau terdengar dapat dipercaya. Sama halnya dalam investigasi polisi atau Anda merupakan seorang staf Divisi SDM yang berbicara kepada seseorang."

"Robot berpotensi lebih baik dibandingkan manusia karena itu tidak punya praduga dan dapat secara otomatis memulai dari posisi netral," kata Shaw.

"Ini tentang menyampaikan pertanyaan terbuka.. dan kemudian diikuti dengan yang disebut penyelidikan. Misalnya, 'Anda menyebut soal bos Anda, dapatkah Anda lebih banyak mengatakan pada saya mengenai hal tersebut.' Atau ' Anda menyebut peristiwa itu terjadi pada Selasa, dapatkah Anda menyampaikan lebih banyak kepada saya mengenai hal itu."

Potensi kerugian

Namun tidak semua pakar yakin bahwa robot jenis ini ini akan bekerja sebaik manusia dalam wawancara kognitif dalam wujud yang sekarang ada.

"Pada prinsipnya, memang mungkin melakukan wawancara kognitif yang berkualitas menggunakan berbagai teknik wawancara kognitif dalam sebuah interaksi digital, misalnya, melalui Skype atau Messenger dengan melibatkan penyelidik dan seorang yang diwawancarai," jelas Lorraine Hope, Profesor Psikologi Kognitif Terapan pada Universitas Portsmouth.

"Bagaimanapun, sampai saat ini, tidak ada bukti penelitian bahwa interaksi 'robot' seperti Spot dapat dengan sukses melakukan sebuah wawancara kognitif… Dengan kata lain, kami tidak mengetahui kualitas informasi yang dikumpulkan lewat wawancara bot dan kami tidak mengetahui pengalaman saksi saat diwawancara seperti ini."

Hope mengatakan bahwa Spot, dalam format yang sekarang, tidak melakukan wawancara kognitif sejati. Ada banyak teknik dari sekedar pertanyaan terbuka. Dia mengatakan Spot tidak membuat laporan antara pewawancara dan yang diwawancarai—sebuah aspek penting dalam wawancara kognitif.

Spot juga tidak menggunakan teknik mnemonik seperti pengambilan urutan terbaik, ketika seorang saksi mata mengungkapkan sebuah peristiwa dari akhir ke permulaan, atau konteks mengingat kembali (ketika pewawancara berupaya untuk membawa saksi mengingat kembali terjadinya peristiwa).

"Respon bot tidak terlalu canggih atau sensitif. Pertanyaan terputus-putus dan interaksi yang cepat menjadi agak membingungkan, seperti berkomunikasi dengan versi Siri yang tidak bermanfaat."

Para peneliti di Spot seperti Rashid Minhas, selaku dosen kriminologi di Universitas Derby, terus meneliti efektivitas Spot.

Dalam studi yang masih berlangsung, responden menyaksikan video seseorang yang dilecehkan secara seksual dan kemudian menceritakan kembali kejadiannya dengan menggunakan bot. Dan perusahaan masih mempelajari bagaimana menggunakan data di masa depan untuk memeriksa respon tempat kerja terbaik untuk melaporkan pelecehan dan diskriminasi.

Namun untuk saat ini, dengan ratusan laporan yang dibuat oleh pengguna, tampaknya robot telah membuat lebih banyak orang didengarkan- meski hanya oleh sebuah mesin.

Tulisan ini dapat dibaca dalam versi bahasa Inggris di BBC Capital dengan judul How chatbots could replace your HR Department

Berita terkait