Sejarah aneh ‘Pernikahan Anak Kucing’ dan taxidermy

Taxidermy, mengawetkan binatang, walter potter Hak atas foto Joanna Ebenstein
Image caption Karya Walter Potter yang bertajuk Pernikahan Anak Kucing.

Hasil karya ciptaan Walter Potter yang menggugah rasa penasaran mungkin terlihat mengerikan bagi kita, tapi karya-karyanya mengungkapkan banyak hal tentang sikap orang-orang zaman Victoria (tahun 1800-an) mengenai binatang dan kematian, tulis Alastair Sooke.

Ada pasangan muda yang sedang menikah. Dengan berjubah putih khusus kegerejaan, ada pastor yang memimpin upacara pernikahan tersebut, sambil memegang Alkitab dan menatap penuh khidmat pada jemaatnya.

Di depan pastor, mempelai pria memandang pasangannya yang bergaun brokat warna putih yang cantik. Para saksi terlihat sedang diam khusyuk, mengenakan setelan resmi dan perhiasan mewah.

Tapi, ada yang terlihat aneh tentang grup ini. Di mata orang-orang modern seperti kita, pemandangan ini sedikit meresahkan, karena mereka bukan manusia, melainkan 20 anak kucing mati yang diawetkan, diatur sedemikian rupa hingga seperti layaknya manusia. Mereka ada di dalam kotak kaca.

Aneh? Tentu saja. Mengerikan? Mungkin. Selamat datang di dunia Walter Potter, sang pengawet binatang dari Inggris (1835-1918).

Model-model tak bergerak ini, yang dirampungkan oleh Potter sekitar tahun 1890, dikenal dengan tajuk Pernikahan Anak Kucing. Ini adalah karya inti yang dipamerkan di pameran terus-menerus di Morbid Anatomy Museum di Brooklyn, New York, mengenai sejarah taxidermy.

Hak atas foto Joanna Ebenstein
Image caption Pernikahan Anak Kucing ini adalah salah satu karya Walter Potter yang populer yang dipamerkan di Morbid Anatomy Museum.

Manusia sudah mengawetkan binatang selama ribuan tahun, lihat saja orang-orang Mesir kuno yang keranjingan memumikan hewan-hewan dari berbagai ukuran dan bentuk, mulai dari babun, pelikan, hingga buaya dan kucing.

Namun, taxidermy pada era Victoria lah masa-masa keemasannya, ketika burung-burung yang diawetkan di bawah kubah kaca, contohnya, menjadi sesuatu yang biasa dijumpai di ruang-ruang tunggu dan tempat-tempat umum di seluruh Inggris. Ini adalah periode yang menghasilkan banyak benda pameran di Morbid Anatomy Museum.

Benda-benda tersebut termasuk spesimen langka, seperti burung Lyrebird dari Australia dan Kuau Raja (Great Argus).

Juga ada 'makhluk hidup aneh' yang terdiri dari anak sapi berkepala dua dan Walrus bergading empat, serta 'Shooter' yaitu seekor ayam berkaki tiga yang terkenal sebagai pertunjukan tambahan di sirkus pada awal abad ke-20 karena kemampuannya 'menembakkan' kelereng-kelereng dengan kaki ketiganya.

Hak atas foto Joanna Ebenstein
Image caption Era Victoria (tahun 1800-an) merupakan zaman keemasan taxidermy serta sangat populer di kalangan masyarakat.

Dan, tentunya ada Pernikahan Anak Kucing, yang menjadi puncak sorotan tentang taxidermyantropomorfisme atau hewan yang diawetkan dan berkarakteristik seperti manusia.

Itu adalah model terakhir yang diselesaikan oleh Potter yang kendati dia berlatih secara autodidak, menjadi orang Victoria ahli pengawet hewan yang paling terkenal, dan kemudian dikagumi oleh seniman-seniman termasuk Peter Blake dan Damien Hirst.

"Karyanya berisikan ketegangan yang sempurna antara sesuatu yang menggemaskan dan kejam," kata Joanna Ebenstein, wakil pemrakarsa dan direktur kreatif Morbid Anatomy Museum.

Hingga kematian memisahkan kita

Bagaimana Potter mengembangkan ketertarikannya yang sangat kuat pada taxidermy, dan mengapa model-model hewan yang diawetkan yang terdiri dari kelinci, tupai, katak, dan anak kucing menjadi sangat populer?

"Walter Potter adalah pemuda yang tinggal di Sussex (Inggris bagian tenggara) pada abad ke-19," kata Pat Morris, sejarawan dan penulis buku Walter Potter's Curious World of Taxidermy. Ayah Potter memiliki kedai minum, The White Lion, di desa Bramber, dan Potter bekerja di sana setelah meninggalkan sekolah.

Hak atas foto The Morbid Anatomy Museum, Brooklyn
Image caption Karya taxidermy Walter Potter sangat terkenal hingga sampai luar kota, museumnya dikunjungi oleh banyak turis.

"Dia mulai mengawetkan hewan karena tertarik akan margasatwa, dan saya menduga dia sering membolos untuk mengumpulkan telur burung dan macam-macam benda seperti itu lainnya," lanjut Morris.

Pada waktu dia berumur 19 tahun, Potter menciptakan karya bertajuk Kematian dan Pemakaman Cock Robin , sebuah pajangan yang luar biasa yang menggambarkan sajak lagu anak-anak dalam bahasa Inggris yang suram dengan nama yang sama.

Dengan menampilkan 98 spesies burung Inggris, termasuk seekor burung Robin yang 'meratapi' dan burung hantu penggali makam. Ini adalah "karya Potter yang paling terkenal dan ikonis", menurut Morris yang sekarang memilikinya dan memajangnya di kamar tidur tamu.

Taxidermy antropomorfisme Potter meraih pengakuan di luar kota Bramber, Sussex, Inggris. "Sedikit demi sedikit koleksi karyanya menjadi cukup terkenal," kata Morris. "Karyanya menarik perhatian semakin banyak orang untuk datang ke desa dan ke kedai minum."

Untuk mengatasi banyaknya tuntutan, museum Potter dibuka di beranda kaca kedai minum keluarganya pada 1861, sebelum akhirnya pindah, dua kali, di lokasi yang lebih besar.

"Dan itu menjadi kariernya," Morris menjelaskan. "Museumnya terpublikasikan sangat baik, ada artikel-artikel di koran dan majalah tentang hal tersebut yang disindikasikan di seluruh dunia, bahkan di tahun 1930-an, mengunjungi museum tersebut merupakan kunjungan yang sudah biasa dengan naik bis dari (luar kota seperti) Brighton. Museum itu sangat populer sebagai tempat tujuan wisata pada awal abad ke-20."

Potter menderita stroke pada 1914 dan meninggal empat tahun kemudian (dia dimakamkan di halaman gereja di Bramber, Inggris). Tapi museumnya tetap buka hingga 1970-an. Pada 1984, koleksi karyanya, yang diperkirakan berjumlah 10.000 spesimen dijual kepada pemilik hotel Jamaica Inn di Cornwall, Inggris.

Hak atas foto Joanna Ebenstein
Image caption Pernikahan Anak Kucing ini terjual lebih dari sekitar Rp348 juta dan pada awal tahun 2016 terjual lagi di sebuah lelang dengan harga hampir Rp1,6 miliar.

Akhirnya, walaupun ada protes di media oleh selebritas seperti Hirst, karya taxidermy Potter dilelang pada tahun 2003 seharga lebih dari setengah juta poundsterling. Yang paling mahal adalah kumpulan Kematian dan Pemakaman Cock Robin yang terjual seharga £23.500 (sekitar Rp389 juta).

Sedangkan Pernikahan Anak Kucing, kumpulan model taxidermy Potter satu-satunya yang diberi pakaian lengkap (sampai bercelana renda) ini terjual lebih dari £21.000 (sekitar Rp348 juta).

Awal tahun ini, kumpulan model taxidermy Pernikahan Anak Kucing ini terjual lagi pada sebuah lelang dengan harga hampir £98.000 (sekitar Rp1,6 miliar).

Menurut Morris, ada sebuah ironi tentang ketenaran Potter dalam sejarah taxidermy. "Banyak dari hasil karyanya yang kurang kompeten," urainya. Seniman Inggris, Polly Morgan, yang menggunakan keahlian taxidermy untuk menciptakan seni menyetujuinya. "Binatang-binatangnya mempunyai mata boneka, dan Anda bisa lihat jahitan-jahitannya," ujar Morgan.

"Mereka kocak karena pengerjaannya sangat buruk. Saya tidak merasa Potter pernah bersusah payah menjadi ahli pengawet binatang yang terbaik," lanjutnya. Taxidermy asal-asalan, secara tidak sengaja, terus menghibur orang-orang zaman sekarang, misalnya akun Twitter Crap Taxidermy memiliki hampir 200.000 pengikut.

Namun, lanjut Morris, karya Potter "merupakan lambang era tersebut. Orang-orang menerimanya secara besar-besaran, Potter menjual banyak sekali kartu pos, misalnya. Jadi, ini adalah bagian penting dari sejarah sosial Inggris."

Hak atas foto Crappy Taxidermy
Image caption Taxidermy buruk, seperti yang dipajang di akun Twitter Crap Taxidermy masih membuat orang terhibur.

Morris juga berpendapat bahwa tanggapan kontemporer terhadap karya Potter dirusak oleh kesalahpahaman. Pada akhir Perang Dunia II, dia menjelaskan, taxidermy tidak populer lagi "sudah sangat tidak terkenal lagi," katanya, "karena orang-orang menghargai margasatwa berbeda dengan ratusan tahun yang lalu. Beberapa orang mengatakan hal itu kejam, pendapat itu bodoh karena Anda tidak bisa kejam terhadap binatang yang sudah mati," ujarnya. Jauh dari sifat menyeramkan atau mengerikan, Morris berpendapat, Potter menginginkan modelnya "membuat tersenyum dan menghibur. Mereka diperuntukkan bagi anak-anak dan keluarga."

Di Morbid Anatomy Museum, Ebenstein, wakil pemrakarsa Walter Potter's Curious World of Taxidermy seperti Morris, mengalami prasangka yang mirip. Ketika cerita tentang pameran mereka, diilustrasikan dengan Pernikahan Anak Kucing baru-baru ini di The New York Times memunculkan banyak komentar negatif di situs web dan laman Facebook museum tersebut.

"Orang-orang tersebut berkomentar seperti, 'Ya Tuhan, ini mengerikan sekali, kalian kejam, saya tidak percaya orang-orang trendi di Brooklyn memamerkan seni yang dibuat dari binatang-binatang yang sudah mati,' katanya. Tapi, ini adalah kesalahpahaman yang mendasar," kata Morris.

"Kita mungkin melihat kesuraman dan hal tak wajar dalam karya Potter, tapi itu karena berkenaan dengan sikap kita yang berubah dalam melihat kematian. Pada abad ke-19, hewan-hewan tidak dikebiri, selain itu Potter tinggal di negara di mana anak-anak kucing dan anjing secara rutin ditenggelamkan untuk menekan jumlah mereka yang berlebih. Tidak baik, tapi itulah yang terjadi," lanjutnya.

Hak atas foto Joanna Ebenstein
Image caption "Sayangnya, 'mengerikan' adalah kesan pertama yang muncul saat orang-orang melihat taxidermy," kata Morgan.

Ebenstein melanjutkan, "Saya berpikir Potter seperti seorang seniman rakyat, seperti laki-laki yang mengukir kayu menjadi patung-patung kecil. Pada abad ke-19, taxidermy populer. Secara umum dikerjakan oleh amatir dan tidak dianggap menjijikkan atau mengerikan seperti anggapan kita saat ini. Potter hanya membuat benda-benda untuk menghibur dirinya sendiri dan orang-orang di sekitarnya, dan karya-karyanya menceritakan kisah yang meyakinkan dan menawan yang melampaui kesuraman dan kumpulan benda aneh yang murahan."

"Saya tidak merasa karya Potter mengerikan," Morgan sependapat, yang menjadi tertarik akan taxidermy setelah menjumpai koleksi ayah temannya yang mempunyai beberapa karya seni era Victoria yang meniru karya Potter.

"Sayangnya, 'mengerikan' adalah kesan pertama yang muncul saat orang-orang melihat taxidermy. Tapi, tanpa berharap untuk terdengar melucu, Anda bisa bilang gambar dengan arang adalah tentang kematian karena menggunakan kayu mati. Hanya karena taxidermy terbuat dari kulit hewan yang sudah mati, bukan berarti secara intrinsik mengerikan."

Versi bahasa Inggris tulisan dari Alastair Sooke, kritikus seni dan penulis kolom di The Daily Telegraph, bisa Anda baca di The Kitten's Wedding and taxidermy's strange history di BBC Future.

Topik terkait