Apakah Rocky film buruk paling sukses yang pernah dibuat?

Rocky, Creed Hak atas foto Warner Bros Pictures
Image caption Creed (2015) adalah film lanjutan yang mengikuti sepak terjang anak laki-laki Apollo Creed, yang diperankan Michael B Jordan.

Saat pertama kali diputar di bioskop 40 tahun lalu, Rocky mencatat keberhasilan meskipun sekarang film itu terlihat lemah dan buruk.

Rocky pastilah film buruk yang sukses berhasil yang pernah dibuat. Beredar 40 tahun lalu di bulan ini, film tentang petinju Sylvester Stallone ini dicalonkan untuk 11 Oscar dan meraih tiga -termasuk sebagai film terbaik- yang berarti mengalahkan All the President's Men, Network, dan Taxi Driver.

Film ini juga mencatat pemasukan besar, US$225 juta di dunia -atau setara dengan US$100 juta nilai saat ini (sekitar Rp1,3 triliun)- dengan biaya pembuatan hanya US$1,1 juta.

Dan tentu saja itu baru permulaan. Enam lanjutannya dibuat, yang terbaru Creed, yang begitu populer sehingga kemungkinan akan dibuat lagi sambungannya. Tetapi apakah berarti Rocky merupakan film klasik?

Ya memang ada rekaman gambar istimewa dari James Crabe yang menggunakan steadicam yang menampilkan Rocky Balboa di daerah industri dan pemukiman kelas pekerja Philadelphia. Ya, juga adegan Stallone memompa jantung, lari menaiki anak tangga Museum Seni Philadelphia dengan iringan musik funk Bill Conti.

Tetapi pada setiap hal yang Anda ingat, terdapat pula hal buruk yang mungkin Anda lupakan. Misalnya saja adegan latihan, yang menggabungkan musik ikonik Conti dengan lirik yang buruk. Yang mengherankan lagi, bukan hanya satu penulis liriknya tapi: yang pertama agaknya menulis 'Trying hard now' dan yang satu lagi menambahkan 'It's so hard now'. Ini jelas bukan Eye of the Tiger.

Hak atas foto AP/Vincent Thian
Image caption Sylvester Stallone menulis naskah dan sekaligus berperan sebagai Rocky.

Bisa dikatakan kalau sutradaranya, John G Avildsen, berhasil dengan kerja kerasnya. Stallone yang membuat naskah, selain memerankan Rocky, saat itu belum dikenal jadi Avildsen harus menekan biaya dengan merekam seluruh adegan film dalam waktu 28 hari.

Jalan pintas dan kompromi jelas terlihat. Dalam adegan pembukaan dengan adu tinju di jalanan, banyak dari pukulan yang tidak mengena. Anda bisa melihat para aktor sengaja memukul tanpa mengenai yang lain, namun tidak cukup dana untuk merekam ulang gambar. Belakangan, dalam pertandingan puncak, Avildsen menggunakan lampu yang sangat redup dan bingkai yang sempit untuk menutupi bahwa adegan yang mestinya merupakan acara hiburan besar-besaran ternyata hanya dihadiri penonton bagai dalam petandingan tenis meja sekolah.

Tidak kuat

Meskipun sudah berusaha taat dengan anggaran yang minim, Rocky masih menghadapi berbagai masalah. Idenya adalah Apollo Creed (yang diperankan Carl Weathers), juara kelas berat dunia yang mirip Muhammad Ali, dijadwalkan bertanding di Philadelphia bersamaan dengan perayaan dua abad Amerika Serikat.

Ketika lawannya mundur karena cedera dan tidak ada lawan yang sepadan, Creed mengusulkan pertandingan yang diperkirakan akan menarik perhatian. Dia akan bertanding melawan petinju setempat dan memasarkannya sebagai pertandingan Daud lawan Goliath, sebagai bukti bahwa Amerika Serikat masih merupakan negara yang menawarkan kesempatan.

"Saya suka itu, Apollo," kata promotornya. "Ini sangat Amerika."

"Bukan, Jergens," kata Creed, "Ini sangat cerdas!"

Kedua pria kemudian tertawa dan bersalaman dengan penuh semangat, mirip Joker dan Penguin. Agak mengherankan mengapa Avildsen tidak meminta keduanya agar melihat ke kamera.

Anda tidak perlu menjadi penggemar berat tinju untuk tertanya-tanya apakah rencana Creed itu memang cerdas. Jika Anda membeli tiket juara dunia dengan 'Petandingan Super Dua Abad' maka itu dengan penantang kelas atas, jadi Anda tidak akan suka mendengar jika dia akan menghajar petinju rendahan Philadelphia. Meskipun demikian pertandingan terus berlanjut, Creed memilih lawan hanya berdasarkan nama julukannya 'The Italian Stallion' atau 'Kuda Jantan Italia'.

Tidak ada yang salah dengan terpenuhinya keinginan seseorang yang bergaya Cinderella. Tetapi Stallone dan Avidsen sepertinya tidak bisa memutuskan apakah ini sebuah film fantasi yang berakhir indah yang bisa membuat malu Walt Disney atau sebuah drama perkotaan yang keras. Di satu sisi, adegan Rocky bergerak tanpa arah tertentu dan plot yang menyusul menjadi tidak bermakna, yang mengisyaratkan bahwa kajian tentang karakternya dilakukan sederhana dan asal-asalan. Ide pertandingan Creed-Balboa juga konyol.

Di satu sisi, ada seorang jagoan selain petinju klub kecil yang juga penagih utang. Di pihak lain, ada hal yang menenangkan kita semua bahwa seorang lintah darat (Joe Spinell) sebenarnya adalah orang baik yang memberikan Balboa US$500 untuk berlatih, dan kemudian menghilang dari kehidupannya.

Pada sisi lain, film ini juga memiliki jagoan perempuan yang pemalu, Adrian (Talia Shire), yang dipaksa berkencan dengan Balboa oleh saudara laki-lakinya yang jahat dan benalu, Paulie (Burt Young, yang dicalonkan meraih Oscar). Namun Adrian ternyata bukan hanya jatuh cinta, matanya secara ajaib juga jadi membaik karena perhatian dari Balboa. Lewat satu ciuman Rocky, dia tidak perlu lagi kacamata tebalnya.

Lingkaran ring

Ini menjadi pola. Berkali-kali, Rocky menghadapi kenyataan pahit kehidupan tetapi berhasil mengatasinya. Misalnya dalam adegan yang terkuat di film ini, Mickey (Burgess Meredith yang juga dicalonkan untuk Oscar), seorang manula pemilik tempat latihan, menyampaikan pidato panjang untuk menceritakan bahwa dia juga menjadi petinju hebat pada tahun 1920-an, namun tidak memiliki manajemen seperti yang ditawarkannya ke Balboa. Dia memohon dilibatkan dalam pertandingan perebutan gelar, tetapi Balboa menolak hanya karena Mickey tidak pernah menolongnya di masa lalu.

Namun Balboa menghancurkan semuanya dengan mengubah pendiriannya hanya beberapa saat kemudian. Film ini merasa tidak berusaha untuk menjelaskan mengapa petinju dan pelatihnya berbaikan. Film hanya memperlihatkan sejak saat itu mereka langsung bersahabat.

Pada umumnya, irama film tidak beraturan sama seperti pertarungan ronde ke-15 Balboa melawan Creed. Tetapi pertandingan perebutan gelar yang ditunggu-tunggu mestinya cukup positif untuk menghapus hal-hal yang terjadi sebelumnya. Kenyataannya -ini juga jadi mengecewakan- Rocky dilihat sebagai dongeng tentang orang kecil yang mengalahkan semua perkiraan, tetapi kenapa Balboa dapat mengalahkan petinju terkuat di bumi dengan mudah? Alasannya hanya karena dia berlatih, sementara Creed duduk-duduk di kantor membahas iklan dengan manajernya.

Jadi semuanya memang sudah ada. Pencapaian Balboa, akhirnya, tidak berhubungan dengan harga diri, cinta pada Adrian, atau manajemen Mickey. Semuanya karena kemalasan Creed, sesuatu yang tidak hanya menghancurkan ketegangan film tetapi juga meremehkan sebuah kenyataan bahwa jagoan yang berani berhasil mencapai hal yang tidak mungkin. Rocky II memperlihatkan kedua para petinju berlatih keras untuk menghadapi pertandingan ulang, jadi bukan hanya salah satu saja yang berlatih, sehingga membuat pertandinganya lebih memuaskan dibandingkan Rocky pertama yang terbur-buru dan tanpa bentuk.

Tetapi sejumlah keburukan film ini akhirnya justru menguntungkan.

Rocky pada dasarnya adalah dongeng sederhana, sama seperti film lanjutannya yang seperti film kartun. Tetapi konstruksi yang tidak kuat, percakapan yang diulang-ulang dan bukti tentang murahannya yang mencolok memberinya rasa drama indie, yang membuatnya mendapat nominasi Oscar, selain keuntungan besar dari film dan penjualan barang-barangnya.

Itu mungkin tidak direncanakan Stallone dan Avidsen, tetapi sama seperti Balboa, mereka beruntung. Jadi apakah Rocky film buruk paling sukses yang pernah dibuat?

Kalaupun benar, maka keburukannya yang membuat film tersebut berhasil.

Versi bahasa Inggris tulisan ini bisa Anda baca di Is Rocky 'the most successful bad film ever made'? di BBC Culture.

Topik terkait

Berita terkait