Semburat kembang api: foto atau lukisan?

Nocturne in Black and Gold Hak atas foto WIKIMEDIA

Selama lebih dari 14 abad, bangsa manusia telah dihadapkan pada kanvas hitam langit malam berkelindan dengan berkas-berkas cahaya cemerlang yang menyemburat.

Kontras dengan bidang seni rupa lain, seperti seni lukis, gambar, dan patung (yang bercita-cita tentang keabadian fisik yang melebihi pencipta mereka), kembang api menyasar keterpukauan kita justru dengan ketidak-kekalan.

Karena kita sendiri tidak lebih dari debu kosmik - sisa-sisa dari dentuman besar - tidak perlu heran bahwa kita seyogyanya sangat selaras dengan kembar siam keindahan dan kekerasan semburat kembang api dan penampilannya?

Hak atas foto Aung Thu / AFP /Getty
Image caption Orang-orang melndungi diri mereka dari kembang api yang meledak terlalu awal saat Festival Cahaya Tazaungdaing di Taunggyi, Myanmar

Pertanyaan eksistensial yang muncul dalam benak saya setelah di media sosial beredar secarik foto yang mengerikan, diambil selama Festival Cahaya Tazaungdaing di Taunggyi di negara bagian Shan, timur laut Myanmar. Sebagai bagian dari festival, balon dengan ratusan kembang api buatan sendiri disusun sedemikian rupa lalu dilontarkan menembus langit malam, menjadi percikan air terjun bunga api.

Foto itu menangkap momen saat para pengunjung festival dipaksa untuk melindungi diri dari hujan bunga api yang berbahaya karena sebuah keranjang kembang api yang mengambang rendah tiba-tiba meledak di atas kepala mereka.

Kendati peringatan atas risiko menghadiri acara ini sudah dipublikasikan dengan segala cara (kecelakaan di festival tahun 2014, menewaskan empat orang tewas dan melukai sedikitnya 12 orang), penonton tetap saja berdatangan untuk menikmati daya tarik maut itu.

Tidak ada seniman yang memahami kedalaman makna kembang api lebih baik dari pelukis Amerika abad ke-19, James McNeill Whistler.

Sebagai seorang pengunjung tetap pertunjukan malam di taman ria populer London pada 1870-an, Whistler terpana pada semburan semburat warna yang begitu kuat yang menembus kegelapan bukan semata sebagai subyek yang cocok untuk lukisan, namun untuk menemukan ulang media itu sendiri.

Pada intinya, karyanya yang kontroversial, Nocturne dalam Hitam dan Emas - Roket yang Jatuh, dilukis sekitar 1875 (yang terakhir dalam serangkaian lukisan yang dinamai 'nocturne'), mencoba untuk menangkap tak melulu penampilan memanjakan mata dari kembang api yang menembus menyelusup kabut saat perasaan begitu intens yang dialami oleh seseorang yang menyaksikannya mengerjap ke dalam kilauan cahaya dan menghilang selamanya.

Hak atas foto WIKIMEDIA
Image caption Nocturne in Black and Gold - The Falling Rocket (c 1875) karya James Abbott McNeill Whistler yang dianggap langkah penting dlam seni non-representatif.

Meskipun sekarang diakui sebagai langkah penting dalam seni non-representasional, noda keruh Whistler di Nocturne in Black dan Gold - The Falling Rocket , membuatnya jadi bahan bulan-bulanan serangan dari orang-orang yang menganggap bahwa lukisan merupakan suatu serangan estetika.

Kritikus terkenal John Ruskin menyebutnya telah "menyiramkan sekaleng cat ke wajah publik." Akibatnya Whistler terpaksa membela diri dengan menggugat Ruskin dengan pasal pencemaran nama baik - langkah yang disabotase oleh para petugas yang di pengadilan, menampilkan lukisan itu secara terbalik.

Seperti foto dari Myanmar itu, lukisan Whistler yang sangat berani itu membawa pengamat ke sudut paling tepi tentang apa yang aman bagi jiwa kita untuk melihat sesuatu.

Versi bahasa Inggris tulisan ini bisa Anda baca di Is this a photo or a painting? diBBC Culture.

Topik terkait

Berita terkait