Moana: Kontroversi di balik putri terbaru Disney

moana Hak atas foto Walt Disney Studios

Moana sudah mulai populer, tapi masa depan seperti apa yang membentang di masa depan untuk para pahlawan perempuan ini?

Moana adalah film yang penting untuk Disney karena untuk pertama kalinya menampilkan putri Polinesia - tetapi tidak hanya itu. Film itu juga menampilkan putri yang memiliki bentuk tubuh normal - yang tidak seperti putri lainnya - tidak memiliki ukuran pinggang super kecil dan tangan-kaki yang panjang tak normal.

Film Moana baru saja diputar di bioskop dan meraih beragam tanggapan positif, salah satunya dari Slant Magazine yang memuji putri terbaru Disney itu sebagai sosok yang "bandel tapi tidak egois dan tidak polos-polos amat."

Rebecca Hains, penulis Princess Problem: Guiding Our Girls through the Princess-Obsessed Years, jelas-jelas menyebut penampilan Moana sebagai sebuah kemajuan.

"Saya pikir ini sangat penting," katanya. "Jelas bagi saya bahwa Disney mendengarkan kritik. Memiliki pahlawan perempuan di layar yang memiliki bentuk tubuh rata-rata adalah hal yang sangat penting, dan ini adalah tanda positif bahwa Disney menganggap kekhawatiran orang tua dengan serius."

Hak atas foto Walt Disney Studios

Tetapi penulis konservatif dan pembawa acara Debbie Schlussel melihat film Moana secara utuh adalah contoh dari 'keputusan yang tepat secara politis tapi terlampau jauh.'

"Saya pikir film ini memberi pesan pada anak perempuan bahwa mereka tidak harus cocok (dengan lingkungan)," jelasnya. "Saya pikir ini bisa mempengaruhi anak perempuan untuk memiliki masa depan yang tak sehat dan juga untuk memiliki pengalaman romantis yang mengecewakan."

Masalah di balik 'putri-putri Disney'

Tokoh mitologi pria dalam film ini Maui, manusia setengah dewa dari Pasifik Selatan, juga dikritik karena ukurannya terlalu besar dan berisi, serta memberi pandangan keliru tengang orang-orang Polinesia yang sebenarnya. Tetapi putri-putri Disney selalu disorot lebih intens karena karakter ini benar-benar meresap dalam pikiran anak-anak perempuan.

"Kita melihat bocah perempuan berusia dua dan tiga tahun ingin menjadi putri," kata Hains. "Mereka sebetulnya menjadi terobsesi dengan itu dan mereka sangat mengidentifikasi diri mereka dengan sosok putri. Dan lebih jauh, ada masalah terkait mereka yang ingin memiliki bentuk tubuh seperti yang ada di film-film ini."

Para putri Disney kerap mencerminkan kegelisahan dan perilaku budaya di masa film itu diluncurkan. Tahun 1930 adalah dekade di mana Disney memperkenalkan Putri Salju, putri Disney pertama mereka.

Dia merepresentasikan pandangan umum tentang perempuan ideal di masa itu - bahwa mereka harus pendiam dan pasif. Bahkan pahlawan perempuan klasik, seperti Cinderella dan Putri Tidur, terlihat sebagai putri Disney yang paling tidak feminis karena mereka bergantung pada pangeran tampan.

Hak atas foto Walt Disney Studios
Image caption Pocahontas, putri Disney pertama yang berasal dari suku asli Amerika.

Setelah Putri Tidur pada 1959, tidak ada putri Disney lagi selama 30 tahun, dan dalam rentang itu paham feminisme mulai bergaung.

Putri Disney di era baru ini menyerap elemen feminisme itu, dan juga sifat-sifat tradisional. Misalnya, Ariel dalam film The Little Mermaid menunjukan kemandirian, walau dia menyerahkan suaranya untuk mengejar lelaki impian.

Mirip dengan itu, Belle dalam film Beauty and the Beast juga menunjukan niat yang kuat - dia melawan harapan-harapan komunitasnya. Tetapi dia mulai kehilangan jati diri saat dia mulai melihat dunia dari perspektif si Buruk Rupa.

Tidak hanya feminisme yang mempengaruhi putri Disney. Hak-hak suku asli Amerika diperkuat dalam dua dekade dari pertengahan 1970-an dengan perlindungan hukum terhadap hak-hak dan kepentingan suki asli, dan pada 1995 lahirlah Pocahontas.

Dia adalah putri Disney pertama yang berasal dari suku asli Amerika dan dianggap sebagai salah satu putri yang paling mandiri yang pernah diciptakan.

"Pocahontas memang sangat berbeda karakternya. Dia tidak digambarkan dari hubungan asmara dan dia lebih aktif. Juga, dia adalah salah satu putri yang benar-benar berperan dalam kepemimpinan," kata Megan Condis, asisten profesor bahasa Inggris di Stephen F Austin State University, yang tertarik pada sejarah putri Disney.

Tapi Pocahontas tidak lolos dari kontroversi. Film ini dikritik karena dianggap merepresentasikan sensualitas perempuan dan membelokkan sejarah.

Tahun 1998, datanglah putri baru, Mulan yang jauh dari pendiam. Dia menjadi pahlawan dari kisahnya sendiri, bahkan muncul dalam peperangan dengan pelindung tubuh.

Hak atas foto Walt Disney Studios
Image caption Tiana dalam film The Princess and the Frog

Dunia harus menunggu sangat lama sebelum akhirnya Disney memperkenalkan putri Afrika-Amerika bernama Tiana dalam film The Princess and the Frog. Cita-citanya berbeda dari putri-putri yang datang sebelumnya.

"Mimpinya bukan memiliki pangeran dan memerintah kerajaan, mimpinya adalah membuka restoran," kata Condis.

Tetapi tidak semua setuju dengan Tiana. "Saya mendengar bahwa banyak orang di komunitas Afrika-Amerika yang memiliki kekhawatiran serius dengan kenyataan bahwa putri Afrika-Amerika pertama mereka menghabiskan terlalu banyak waktu menjadi kodok di layar," kata Rebecca Hains.

Meskipun pahlawan perempuan Disney mulai tampil lebih berdaya (empowered), mereka tidak ditonjolkan sama seperti putri-putri tradisional - terutama di barang-barang Disney.

"Jika Anda melihat produk-produk Disney seperti tempat makan dan kaus, Anda melihat Belle, Cinderella, dan Putri Tidur kerap berdiri berdampingan. Walau putri seperti Pocahontas dan Mulan masih berada dalam garis yang sama, mereka jarang dimasukkan dalam tipe produk semacam ini," kata Condis.

Kita adalah keluarga

Mungkin, putri yang paling modern adalah Merida dalam film Brave pada 2012. Film ini tampak berbeda dari yang lain karena putri animasi ini adalah yang pertama yang ikut disutradarai dan ditulis oleh perempuan.

Merida dilihat sebagai kelompok putri Disney yang berbeda. "Merida dari Brave, Anna dan Elsa dari Frozen, bahkan Rapunzel dari Tangled - mereka semua lebih bersemangat, dan mereka memiliki idaman yang tidak melulu terkait dengan romantisme," kata Rebecca Hains.

Hak atas foto Walt Disney Studios
Image caption Frozen, film animasi dengan pendapatan kotor terbesar sepanjang sejarah.

Frozen, film animasi dengan pendapatan kotor terbesar sepanjang sejarah, secara khusus menonjol karena pendekatan cinta yang berbeda.

Romansa tidak ada dalam pikiran Elsa karena dia harus belajar mengontrol kekuaran supernya, tetapi Anna mengalami perubahan besar dalam film ini. Percintaan tampak menjadi hal utama yang dipikirkan Anna, tetapi ikatan antara dia dan kakaknya mendorong film ini lebih maju, dan akhirnya menjadi prioritas baginya. Dalam Frozen, cinta yang paling penting adalah antara saudara, dan bertemu 'pangeran tampan' hanyalah bonus tambahan.

Sebagian orang mengaitkan gemelut pencarian identitas dan kekuatan Elsa sebagai cerminan dari hal yang sama sekali lain: yaitu tentang bagaimana anak muda dan orang dewasa berjuang menerima seksualitasnya. Apakah Elsa adalah putri Disney pertama yang lesbian? Ini adalah kampanye yang sedang didukung oleh Idina Menzel, yang menyuarakan karakter itu.

Apakah Disney membuat rumor itu menjadi kenyataan dalam film Frozen 2, kita harus menunggu. Tetapi jika benar adanya, itu akan menimbulkan kontroversi.

Pengkritik konservatif seperti Debbie Schlussel berpikir bahwa Disney telah menyimpang jauh dari apa yang "utuh dan baik" dari Amerika Serikat. "Masyarakat kita telah rusak karena Disney telah memperkuat feminisme," katanya.

Meskipun para penggemar Disney umumnya melihat kemajuan dari karakter putri-putri studio animasi tersebut, mereka harus menerima bahwa karakter putri mereka yang terbaru dipengaruhi oleh kekuatan-kekuatan dari luar.

Seorang putri tidak bisa menjadi agen perubahan sendirian. Misalnya, akan sangat sulit (atau bahkan mustahil) untuk Disney untuk meluncurkan putri transgender saat ini. Tapi bukan berarti tekanan untuk membuat segala jenis putri tidak ada. Pada 2014, ada sebuah kampanye yang meminta Disney membuat putri yang down syndrome.

Hak atas foto Walt Disney Studios

Moana dan semua putri Disney yang muncul sebelumnya merefleksikan perubahan perilaku di Amerika terhadap ras, gender, dan perlakuan terhadap minoritas. Mungkin Disney ingin Moana dilihat sebagai lambang masa kini: perempuan bersemangat yang muncul dari Amerika yang multikultur.

Tapi film ini dirilis hanya beberapa pekan setelah Donald Trump terpilih menjadi presiden Amerika Serikat, yang dianggap sebagai reaksi balik terhadap perubahan demografi Amerika dan kepopuleran nilai-nilai liberal-progresif yang disebabkan oleh media.

Jika pemilu ini adalah sinyal dari era baru di Amerika Serikat, kita akan melihat putri Disney berkembang di jalan yang berbeda - walau bukan jalan yang sama sekali baru, yaitu jauh dari keragaman yang hadir dalam beberapa tahun terakhir dan menuju pahlawan perempuan yang lebih tradisional.

Berita terkait