'22 suku kata' yang bisa membunuh perempuan

Hak atas foto Seamus Murphy/Panos Pictures
Image caption Eliza Griswold bertemu dengan perempuan-perempuan muda yang diam-diam menulis landay di Gereshk pada 2012.

Para perempuan Afghanistan mengungkapkan cinta terlarang dalam puisi-puisi rahasia atau biasa dikenal dengan Landay - puisi dua baris dengan 22 suku kata. Eliza Grinswold melihat kata-kata perlawanan itu yang telah turun temurun diwariskan selama berabad-abad.

Ketika saudara perempuan duduk bersama, mereka selalu memuji saudara laki-laki mereka.Ketika saudara laki-laki duduk bersama, mereka menjual saudara perempuan mereka ke orang lain. - Anonim.

Beberapa tahun yang lalu, saya memiliki kesempatan emas untuk pergi ke Afghanistan dengan pembuat film dan fotografer Seamus Murphy untuk sebuah proyek tak biasa yang kami sebut sebagai 'penyelidikan puisi'.

Di kamp-kamp pengungsi dan desa terpencil, di acara pernikahan hingga di rumah peternakan dengan satu kuda, kami mengumpulkan puisi tradisional anonim yang disebut landay. Sebuah landay terdiri dari dua bait yang diteruskan dari mulut ke mulut, telinga ke telinga, di antara orang-orang Pashtun selama kurang lebih 1.000 tahun.

Tidak ada yang tahu dari mana landay berasal - teori yang paling populer adalah puisi ini dimulai sebagai bentuk komunikasi dengan karavan Indo-arya yang datang ke wilayah ini seribu tahun lalu. Puisi ini lahir sebelum Islam, dan sepupu paling dekatnya adalah sloka, ayat dua baris yang memuat teks suci Hindu kuno bernama Weda.

Sebuah layday memiliki beberapa aturan. Itu harus mengandung 22 suku kata, sembilan di kalimat pertama dan 13 pada kalimat kedua. Kalimat harus diakhiri dengan bunyi 'ma' atau 'na'. Itu harus berisi antara lain lima hal, yaitu meena (cinta); jang (perang); watan (tanah air); biltoon (perpisahan); dan gham (kesedihan). Tapi gham tidak melambangkan kesedihan secara umum, tetapi spesifik melambangkan kesedihan yang dimiliki perempuan Pashtun.

Kepiluan itulah, gham ini, yang membawa kami dalam proyek tersebut.

Itu adalah sebuah cerita tentang perempuan yang bunuh diri karena keluarganya tidak mengizinkannya menulis puisi-puisi yang memberikan sebuah jendela bagi kami untuk mengenal dunia kompleks perempuan dan puisi di dunia kontemporer Afghanistan.

Cinta terlarang

Rahila Muska, yang berarti 'cinta senyum' dalam bahasa Pashto adalah nama alias dari perempuan ini. Dia menulis puisi sebagai seorang anak remaja di kota pinggiran Gereshk di provinsi yang terdampak perang Hellmand.

Bagi perempuan dewasa dan remaja di Afghanistan, puisi kerap dihubungkan dengan kegiatan menyanyi dan menari, dan kadang dihubungkan dengan pelacuran. Satu landay yang saya kumpulkan dalam buku I am the Beggar of the World tahun 2015, menunjukan sebuah ide tentang 'pinggiran sungai' atau godar dalam komunitas Pashtun. Tempat di mana perempuan mengambil air itu diasosiasikan sebagai tempat yang romantis. Dilarang masuk ke godar, laki-laki kadang mengintip perempuan yang mereka cintai selagi mereka berjalan melewatinya.

Anakku, di Amerika sungai tidaklah basah.

Perempuan muda belajar untuk mengisi kendi mereka di internet.

Karena terkait dengan hal-hal ini, orang tua kerap tak mengizinkan anak perempuannya menulis puisi. Muska adalah salah satunya. Dia adalah satu di antara mayoritas perempuan Afghan - delapan dari sepuluh yang tidak tinggal di kota, tetapi di 34 provinsi pedesaan.

Hak atas foto Getty Images

Suatu hari ketika dia berada di rumah, Muska menyalakan radio dan mendengar tentang Mirman Baheer sebuah komunitas literasi perempuan yang didirikan oleh Sahera Sharif, politisi Afghan dan pionir perjuangan hak perempuan. Sharif mendirikan Mirman Baheer agar perempuan profesional dan pelajar di kota Kabul bisa berkumpul tiap pekan untuk menulis puisi dan cerita pendek serta mendengarkan kuliah literasi.

Tetapi kejeniusan Mirman Baheer ada pada gairah dan upaya inovatifnya untuk menjangkau perempuan seperti Rahila Muska. Organisasi ini mengelola semacam hotline puisi - sambungan telepon khusus yang bisa dihubungi oleh perempuan yang ingin membaca puisinya kepada para anggota kelompok besar ini.

Sharif dan anggota lainnya berbagi kisah dan karya mereka di radio dan kemudian mereka membagi nomor hotline itu agar anak-anak muda perempuan bisa mencari mereka.

Kekuatan kolektif

Setelah dia mendengarnya di radio, Muska mulai menelepon dan membaca puisinya secara berkala. Ketika dia bertelepon, saudara laki-lakinya mendengar percakapan dan menduga bahwa dia sedang menelpon kekasihnya. Mereka memukulinya dengan hebat dan mengancam akan membunuhnya jika dia tetap menulis. Tapi dia tetap menulis, dan akhirnya ketahuan.

Setelah dianiyaya, dia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya.

Saya diberitahu ketika saya pergi ke Gereshk bahwa dia membakar diri karena orang tuanya tidak mengizinkannya menikah dengan laki-laki yang dicintainya.

Saat percakapan teleponnya yang terakhir dengan grup itu, Muska mengatakan bahwa dia menelpon dari tempat tidur di rumah sakit. Dia membakar dirinya dan tidak akan bertahan. Grup ini tak pernah mendengar kabar darinya lagi dan kebanyakan puisinya juga musnah karena Mirman Baheer tidak memiliki maksud untuk merekam percakapan atau menyimpan karya puisi dari orang-orang yang menghubungi mereka.

Hak atas foto Seamus Murphy/Panos Pictures
Image caption Orang tua dari penulis puisi Rahila Muska difoto di samping kuburannya di Gereshk: mereka menyangkal bahwa anaknya adalah penulis puisi.

Satu puisi Muska yang bertahan adalah sebuah landay.

Saya memanggil. Kau membisu.

Suatu hari, kau akan mencari dan saya telah pergi.

Puisi itu bertahan justru karena landay bersifat kolektif dan anonim. Ayah Muska merobek dan membakar buku-buku catatan Muska, tetapi dia tidak bisa menghancurkan landay.

Ciri anonim dari puisi ini, bersama dengan humor gelapnya, kepedihan dan keindahannya, memberikan landay kekuatan. Landay kebanyakan dinyanyikan saat acara pernikahan dan dalam pertemuan api unggun oleh laki-laki ataupun perempuan setelah bekerja seharian di ladang selama berabad-abad.

Karena landay dimiliki oleh tradisi lisan, perempuan tidak harus bisa membaca untuk memelihara puisi-puisi ini.

Sifatnya yang anonim juga memungkinkan landay menjadi subversif. Tentang seks misalnya, landay bisa menjadi humor mesum dan bersajaha - tidak hanya membuat tertawa tetapi juga bentuk pemberdayaan perempuan.

Sayang Anda tak datang tadi malam.

Saya menggunakan tiang ranjang yang keras sebagai pengganti laki-laki.

Dalam pikatnya dan kemarahannya, puisi itu melawan stereotip perempuan sebagai mahkluk yang tak berdaya di bawah burka.

Dan seiring berjalannya waktu, saat landay disampaikan dari penyanyi dan pencerita, mereka berubah bentuk.

Perubahan landay juga mencerminkan warisan dari kependudukan asing. Ini yang berubah dalam pergantian kekuasaan.

Karena kekasihku adalah tentara Inggris,

Perih membakar hatiku.

menjadi…

Karena kekasihku adalah tentara Rusia,

Perih membakar hatiku.

dan kini…

Karena kekasihku adalah tentara Amerika,

Perih membakar hatiku.

Berita terkait