Pandanglah: Apa gerangan yang diungkap gambar latar belakang?

Landscape with the fall of Icarus Hak atas foto Wikipedia

Gambar ini bukanlah sekadar yang tampak pada pandangan pertama belaka. Hal-hal lain di latar belakang ternyata bisa mengungkap sisi lain dari suatu cerita.

Selalu ada dua drama dalam kehidupan.

Di latar depan, ada cerita intim yang kita hafal di luar kepala -yang di dalamnya kita merupakan tokoh utama, yang mengucapkan semua dialog.

Di latar belakang kisah panjang sejarah membujur, terungkap tanpa bisa kita kontrol. Suatu panggung besar peristiwa yang menjadi tempat dipertunjukkannya momen-momen intim itu.

Untuk kebanyakan kita, kehidupan dunia dan dunia dari kehidupan kita, boleh dikata saling bersaing untuk mendapat perhatian.

Hak atas foto ODD ANDERSEN / AFP / Getty
Image caption Anak-anak bermain bola, sementara sumur-sumur minyak dibumi-hanguskan oleh para militan ISIS yang meninggalkan kota Qayyarah, Irak.

Sebuah foto yang diambil beberapa waktu lalu di Irak mengungkapkan apa yang terjadi, justru ketika terjadi tabrakan antara yang intim dengan yang bersifat kesejarahan.

Diambil di pinggiran Mosul, foto itu menangkap peristiwa yang tampak menyenangkan: sekelompok anak bermain bola di sepetak tanah kering. Tampak biasa-biasa saja. Tapi yang biasa itu segera bergeser menjadi sesuatu yang luar biasa ketika kelompok anak-anak yang perhatian mereka dengan lugu terarah pada bola berdebu itu dikontraskan dengan latar belakang langit yang apokaliptik.

Di balik anak-anak yang berlarian, kepulan asap beracun yang berbahaya membumbung di kejauhan dari sumur-sumur minyak yang telah dibakar oleh pasukan ISIS yang terpukul mundur dalam pergulatan tak berkesudahan untuk menguasai Irak dan sumber dayanya yang kaya.

Betapa pun terikatnya tampaknya foto itu terhadap lanskap mencekam dari sejenis trauma yang berlangsung di satu wilayah tertentu di dunia, foto itu mencerminkan kekuatan fokus yang umumnya lebih terbagi-bagi.

"Bangsa manusia," demikian ditulis TS Elliot suatu waktu, "tidak terlalu tahan menghadapi kenyataan."

Pada saat stres, kelangsungan hidup dan kewarasan kita tergantung pada kemampuan untuk beralih dari kenyataan dan pada kemampuan kita untuk menjaga mata kita terfokus pada bola yang menggelinding di hadapan kita, bukan drama berlangsung di langit yang mulai gelap di belakang.

Penerus Eliot, penyair WH Auden juga sama terpukaunya dengan hukum distraksi -"betapa segalanya teralihkan,' seperti yang ditulisnya dalam sebuah puisi pada tahun 1938, "dengan santainya dari bencana." Auden menggambarkan peristiwa yang terjadi pada lukisan Kejatuhan Icarus - dianggap salinan dari karya sebelumnya yang hilang karya seorang maestro zaman Renaisans, Pieter Bruegel Yang Tua.

Hak atas foto Wikipedia
Image caption Dalam Lanskap dengan Jatuhnya Icarus, sang sosok mitologis digambarkan baru menghujam laut -tanpa disadari siapa pun.

Kanvas terkenal itu menggambarkan suatu cahaya menyilaukan di kejauhan dan di latar depan menggambarkan suatu rutinitas keseharian: seorang yang sedang membajak ladang dengan kudanya dan seorang penggembala yang tampak sama sekali tak menyadari tragedi yang sedang terjadi di belakang mereka: sosok mitologis Icarus, sayapnya meleleh oleh panas matahari, meluncur menukik menuju kematiannya di perairan di belakang mereka.

Seperti anak-anak bermain sepak bola di foto itu, bahtera cantik dan mahal dalam lukisan itu tampak bergeming, tak terpengaruh oleh peristiwa kosmik itu: "seorang anak laki-laki jatuh dari langit,"

Mereka, seperti kita semua, "sudah memiliki tujuannya sendiri-sendiri," seperti Auden sebutkan dalam penutup puisinya, 'dan terus berlayar dengan tenang."

Versi bahasa Inggris tulisan ini bisa Anda baca diLook closer: What a background can revealdiBBC Culture.

Berita terkait