12 penulis lagu yang pantas meraih Nobel sastra

Hak atas foto AFP/BERTRAND GUAY
Image caption Bob Dylan

Sebagai penulis lagu pertama yang dianugerahi Nobel Sastra, kemenangan Bob Dylan telah mengejutkan banyak pihak. Menanggapi tudingan miring ini, Sekretaris tetap Swedish Academy, Sara Danius (yang mengaku menggemari David Bowie), mengatakan bahwa Dylan adalah "penyair besar dalam tradisi lisan Inggris".

Dia berujar: "Jika Anda melihat jauh ke belakang… Anda akan menemukan Homer dan Sappho. Mereka menulis teks-teks puisi yang tujuannya untuk didengarkan, dipertunjukkan, dan acapkali dipadu dengan instrumen, dan ini juga dilakukan oleh Bob Dylan. Kita masih membaca Homer dan Sappho, dan kita menikmatinya. Begitu juga dengan Bob Dylan - dia dapat dibaca dan seharusnya dibaca."

Saat ini, ketika wewenangnya diperluas, siapa lagi penulis lagu yang layak diganjar penghargaan itu? Berikut beberapa sosok yang dipertimbangkan:

Smokey Robinson

Hak atas foto Getty/John Russell
Image caption Smokey Robinson

Apakah Dylan benar-benar menyebut Smokey Robinson sebagai "penyair Amerika Serikat terhebat yang pernah hidup"? Lagunya yang sangat indah itu, demikian pujian Dylan setinggi langit, telah menjadi patokan jiwa dan menjelma kanonik dan klasik! Dibawakan oleh sejumlah grup band, lagu-lagu karyanya acap hits. Sebutlah, lagu-lagu manisnya yang dikenalkan studio Motown seperti The Miracles (The Tracks Of My Tears; I Second That Emotion). Melalui grup musik The Temptations (My Girl; Get Ready), The Marvelettes (The Hunter Gets Captured By The Game), Marvin Gaye (Ain't That Peculiar), dan banyak lagi, karya-karyanya kemudian melegenda. Tidaklah berlebihan, jika pentolan The Beatles, Paul McCartney, menjulukinya: "Smokey Robinson seperti Tuhan di mata kami".

Morrissey

Hak atas foto Rolling Stone
Image caption Morrissey

Lagu-lagu ciptaannya dipuji bernada muram sekaligus indah. Karya-karyanya ibarat jawaban nan pedas atas situasi sosial kala itu. Dialah Morrisey, perwakilan generasi musik indie dari Manchester, Inggris, yang karya-karya dikenal anti-hero - kelak memenangkan hati kaum anti kemapanan dari generasi ke generasi. Lihatlah, karyanya yang dibawakan The Smiths yang menjadi karya klasik, termasuk There Is A Light That Never Goes Out dan This Charming Man. Belum lagi hits lagu solo Morrissey seperti Everyday Is Like Sunday (1988) yang dipuji habis-habisan para penggemarnya. Tak pelak, melalui karya-karyanya, Morrissey lebih dijagokan untuk meraih Hadiah Nobel Sastra untuk lirik-lirik lagunya ketimbang buku novelnya yang berjudul List Of The Lost (2015).

Chuck D

Hak atas foto Getty/Scott Gries
Image caption Chuck D

Tidak ada kesalahan penyampaian yang berapi-api dan fasih dari pentolan grup musik hip hop Public Enemy - atau fakta bahwa lagu kebangsaan hip hop seperti Don't Believe The Hype dan Fight The Power menyampaikan kejutan alami atas sistem. Dalam Revolutionary Generation yang riuh dan funky (dari album Fear OF A Black Planet pada tahun 1990), Chuck juga memperlihatkan rasa hormat pada kekuatan perempuan berkulit hitam: "Day to day, Amersoulica eats its young/ And defeats our women/ There is a gap so wide we can swim in".

Kate Bush

Hak atas foto Hulton archive
Image caption Kate Bush

Sejak terobosan segar ala Kate Bush dengan Wuthering Heights pada 1978, lirik-liriknya telah menunjukkan karakter yang menyadari kekuatan sastra. Apakah dia menyampaikan Emily Brontë atau James Joyce, atau hanya berputar dalam imajinasinya sendiri, dari Cloudbusting di tahun 1985 sampai King Of The Mountain di tahun 2005, Bush adalah seorang pencerita yang luar biasa hidup.

Caetano Veloso

Hak atas foto AFP/JAIME RAZURI
Image caption Caetano Veloso

Dia merupakan seorang ikon Brazilian Tropicália, semangat kolaboratif dan penulis yang produktif, yang lagu-lagunya telah menangkap semangat politik secara provokatif sejak akhir 1960. Hasil karya awalnya seperti É Proibido Proibir (It Is Forbidden To Forbid) telah memicu reaksi pendengar yang liar. Keberhasilannya kemudian memenangkan Grammy dan penghargaan-penghargaan global lainnya.

Gulzar

Hak atas foto Getty/STRDEL
Image caption Gulzar

Seperti Dylan, penyair multi-bahasa yang acap melahirkan prestasi, Sampooran Singh Kalra, yang juga dikenal sebagai Gulzar, sebelumnya telah memenangkan Oscar untuk karya lagunya (dari Jai Ho, kerjasamanya dengan AR Rahman di tahun 2007, soundtrack Slumdogh Millonaire). Kesuksesan lagu-lagu Bollywood Gulzar telah dipuji untuk keragaman spiritualitas; dari salah satu hasil karya terbaiknya, Chaiya Chaiya (kolaborasi lain dengan Rahman, dari film Dil Se di tahun 1998), dia terinspirasi dari puisi tradisional Sufi di abad ke 17.

Patti Smith

Hak atas foto AFP/PASCAL GUYOT
Image caption Patti Smith

Ekspresi penyair puck, dewi Mapplethorpe dan seniman rock, Patti Smith telah berubah dari kemarahan yang berapi-api sampai pernyataan cinta yang halus secara fantastik. Bisa dikatakan liriknya yang paling sering dikutip adalah kalimat pembukanya dalam album perdananya di tahun 1975, Horses ("Jesus died for someone's sins, but not mine") (Yesus mati untuk dosa-dosa seseorang, tapi bukan dosa saya), tetapi dunia Smith luar biasa luas, dan hasil karyanya telah semakin melibatkan pengaruh-pengaruh global selama beberapa tahun belakangan.

Joni Mitchell

Hak atas foto Getty/Jack Robinson
Image caption Joni Mitchell

Joni Mitchell tidak pernah diperkirakan sebagai penulis lagu, dari warung kopi asli kampungnya di Kanada sampai adegan demam adegan Laurel Canyon di LA di akhir 1960 dan awal '70an - sebelum pernyataan-pernyataan kerasnya di albumnya yang legendaris di tahun 1971, Blue. Dari paduan suara-paduan suara yang riang sampai pengakuan-pengakuan yang menghantui, dan sejak saat itu, lagu-lagu Mitchell telah membuktikan kehalusan dan kekuatan yang tidak terbantahkan.

Nick Cave

Hak atas foto Getty/Mark Mainz
Image caption Nick Cave

Sebagai artis solo, collaborator, atau yang lebih terkenal, pentolan The Bad Seeds selama lebih dari 30 tahun, bintang rock asal Australia, Nick Cave, selalu menggabungkan riff yang keras dan kasar dengan lirik yang cerdasn nan cadas - dan lucunya sering membuat perut sakit. Kekuatannya ada di dalam keseluruhan tracks seperti Red Right Hand (1994), dan terdengar dahsyat serta tidak diragukan lagi setelah tragedi personal si artis, pada album terakhirnya dengan band itu, Skeleton Tree.

Kanye West

Hak atas foto Getty/Scott Gries
Image caption Kanye West

Setelah menyatakan dirinya sebagai "Yeezus" di tahun 2013, Kanye barangkali melihat Hadiah Nobel sebagai hal yang pasti akan datang - dan secara pasti akan menambahkan deretan seleb sombong dalam upacara itu. Meskipun hanya gertakan, Kanye telah menjatuhkan beberapa bom komentar sosial: ambil track dari tahun 2010, Gorgeous: "Inter century anthems based off inner city tantrums/ Face it, Jerome get more time than Brandon/ And at the airport they check all through my bag and tell me that it's random".

Leonard Cohen

Hak atas foto AFP
Image caption Leonard Cohen

Ada jiwa tua dan satir dalam lagu-lagu Cohen yang agung, seperti Hallelujah dan First We Take Manhattan. Lirik-liriknya dapat dikatakan memiliki intensitas yang berhubungan dengan penulisan novelnya. Karya-karyanya memperlihatkan pada kita gambaran moral tentang perihal diri kita sendiri. Cohen, yang sekarang berusia 82 tahun, baru saja mengumumkan bahwa album berikutnya akan segera dilucurkan.

Stephen Sondheim

Hak atas foto Hulton Archive/Evening Standard
Image caption Stephen Sondheim

Di luar Broadway, Sondheim bisa dikatakan telah mengangkat musik pertunjukan menjadi sebuah karya seni tinggi. Komposer/penulis lagu yang dikenal baik dan secara luas mencakup banyak acara musikal, seperti Send In The Clowns (dari A Little Night Music di tahun 1973) dan Losing My Mind (dari Follies di tahun 1971) terdengar sangat romantis.

Versi bahasa Inggris tulisan ini bisa Anda baca di12 more songwriters worthy of the Nobel Prize in LiteraturediBBC Culture.

Berita terkait