Mahakarya lukisan erotis yang nyaris lenyap

Flaming June

Lukisan Flaming June karya Frederic Leighton, kini dinilai sebagai salah satu lukisan bergaya Victoria yang penting. Padahal karya ini hampir saja lenyap, tulis Alastair Sooke.

Begini ceritanya.

Suatu hari di tahun 1962, seorang tukang bangunan Irlandia, berjalan menuju sebuah toko barang bekas di Battersea Rise di London Selatan. Dia membawa sebuah lukisan, lengkap dengan bingkainya. Dia bercerita tulisan itu ditemukannya di dekat perapian saat bekerja merenovasi sebuah rumah.

Lukisan itu akhirnya dia jual kepada si pemilik toko barang bekas itu seharga 60 pound sterling atau sekitar Rp1 juta. Dia tidak tahu kalau itu adalah lukisan Flaming June (1895), karya seniman penting gaya Victoria, Frederic Leighton.

Daniel Robbins, kurator senior dari Museum Leighton House di London barat mengungkapkan kisah lukisan itu 'kini sudah melegenda.' Pasalnya sejak 1932 hingga 1962 sejarawan seni kebingungan mencari tahu di mana lokasi lukisan tersebut.

Image caption Warna lukisan yang pekat dinilai sebagai interpretasi alam mimpi si perempuan.

Pada tahun 1960an, lukisan Victoria memang sedang tidak banyak peminat, seiring mulai populernya Modernisme. Bahkan mahakarya seperti Flaming June - yang menggambarkan seorang perempuan muda seksi yang tidur mengenakan gaun semi transparan - tidak dikenal banyak orang.

Setelah membeli Flaming June, pemilik toko bekas bahkan berjuang keras untuk menjualnya. Saking tidak bernilainya lukisan Victoria kala itu, bahkan banyak orang yang lebih tertarik membeli bingkai besar lukisan tersebut.

Meskipun begitu, tak lama berselang, seorang dealer seni penyuka lukisan Victoria, Jeremy Maas, membeli lukisan itu. Dia sempat menawarkannya untuk dipajang di sejumlah galeri di Inggris, termasuk Tate, tetapi ditolak.

Image caption Flaming June adalah salah satu lukisan favorit di Museo de Arte de Ponce.

Namun, akhirnya pada musim panas 1963, Maas menjual lukisan ini seharga 2.000 pound sterling atau Rp34 juta kepada seorang pengusaha kaya, Luis A Ferre, yang baru saja mendirikan museum di Puerto Rico.

Lukisan Flaming June yang sensual dirasa tepat untuk wilayah Karibia. Sejak saat itu, lukisan ini menjadi salah satu daya tarik utama di Museo de Arte de Ponce, di sebuah kota di selatan Puerto Rico.

Selalu memukau

Saat ini, tentu Flaming June adalah salah satu lukisan yang paling digemari publik. Meskipun orang tidak tahu Leighton, banyak yang pernah melihat Flaming June. Dalam 50 tahun terakhir, lukisan ini telah diproduksi ulang dalam berbagai bentuk: poster, lukisan di dinding gelas, magnet lemari es dan puzzle.

Bahkan di tahun 70-an, biaya hak cipta dari berbagai produksi ulang ini nilainya lebih tinggi daripada harga lukisan ini sendiri pada 1963. Hingga sekarang, Flaming June tetap menjadi salah satu simbol budaya pop: pada 2013, misalnya, aktris berambut merah, Jessica Chastain, berpose seperti perempuan di Flaming June, untuk sampul majalah Vogue. Lukisan ini sudah menjadi selebritis.

Image caption Jessica Chastain berpose seperti perempuan di Flaming June.

Menurut Robbins, sekarang ini Flaming June sudah diinterpretasikan secara bebas dibandingkan konteks awal pembuatannya. Karena itulah, mengapa dia menggelar pameran Flaming June: The Making of an Icon di Leighton House. Untuk kedua kalinya dalam sejarah, sejak lukisan ini dibuat, Flaming June dipamerkan 'di rumahnya'. Di sinilah sang pelukis membuat mahakaryanya itu sebelum memamerkannya ke masyarakat umum.

Sebuah foto yang diambil pada 1 April 1895 memperlihatkan Flaming June dalam bingkai legendarisnya, berada di rumah Leighton di Holland Park. Lukisan itu bersanding dengan lima lukisan lain yang saat itu akan didaftarkannya untuk dipamerkan pada pameran Royal Academy.

Hak atas foto Bedford Lemere
Image caption Foto tahun 1895 memperlihatkan Flaming June bersama lukisan lain.

Lalu bagaimana lukisan ini muncul? Sejumlah sketsa hitam putih di atas kertas cokelat memperlihatkan bahwa idenya bermula dari Leighton yang melihat seorang model duduk terkulai letih di bangku. Salah satu telapak kakinya diselipkan di belakang lutut. Mungkin perempuan ini digambar usai sebuah sesi panjang di studio.

Hasil akhir dari komposisi lukisannya, dipengaruhi oleh patung berjudul 'Night' karya Michelangelo. Patung seorang perempuan telanjang yang duduk di kursi dengan salah satu kaki diangkat ini diukirnya untuk gereja San Lorenzo di Florence, Italia. Leighton sangat mengagumi patung itu dan kerap membuat reproduksinya dalam bentuk lukisan di studionya.

Image caption Sejumlah gambar hitam-putih menjelang Leighton melukis Flaming June.

Meskipun begitu pameran di Leighton House memperlihatkan lukisan ini mirip dengan lukisan-lukisan Leighton lainnya dan berbagai lukisan Victoria masa itu.

Flaming June dilukis Leighton pada musim gugur-dingin tahun 1894-1895, beberapa saat setelah dia mengalami serangan jantung yang hampir merenggut nyawanya. Subjek setiap lukisan Leighton pada masa itu adalah perempuan. Namun, Flaming June adalah satu-satunya lukisan dengan warna yang intens dan penuh gelora.

Istri Leighton

Ketika pertama kali dipamerkan, kritikus terpukau dengan berbagai gradasi warna oranye yang ditampilkan lukisan ini. Warna itu membuat lukisan terkesan penuh fantasi dan seperti interpretasi alam mimpi. Tidak seperti kebanyakan lukisan Victoria yang dramatis, memotret sebuah momen sejarah, Flaming June terkesan tidak dibatasi sekat waktu.

Image caption Twixt Hope and Fear, 1895, salah satu lukisan yang juga dipamerkan Leighton di studionya.

Intensitas warna di lukisan ini tidak memotret suasana di luarnya tetapi apa yang ada di dalam subyeknya: seorang perempuan, yang tampaknya merupakan inspirasi penuh emosional dari si pelukis.

Dan ini bertolak belakang dengan karakter Leighton yang terkenal sangat menjaga privasinya. Model dari Flaming June kemungkinan adalah aktris Dorothy Dene, yang ditemui Leighton pada 1879 saat perempuan ini masih berusia 19 tahun.

Image caption Model dari Flaming June kemungkinan adalah aktris Dorothy Dene.

Pasangan kemudian menjadi sangat dekat. Bahkan ada yang menyebut Dene adalah istri Leighton. Si seniman bahkan mewariskan uang 5.000 pound sterling atau Rp85 juta kepada Dene.

Namun, sejumlah sejarawan berfokus pada onggokan bungan di kanan atas lukisan. Itu adalah bunga oleander yang sangat beracun. Mereka menilai lukisan ini adalah ajakan untuk bermeditasi, berpikir soal kematian. Mungkin kematian Leighton sendiri.

Image caption Lukisan self-portrait Leighton.

Namun, apapun terjemahan terhadap karyanya ini, Robbins menyebut bahwa Leighton "telah melakukan hal yang tepat di penghujung karirnya. Sesuatu yang bisa membuat orang merasa terkait dan terus bicarakan."

Dia melanjutkan: "Bahkan di sisi yang dangkal, Flaming June adalah gambar menggoda tentang seorang perempuan muda yang tertidur di bawah terpaan matahari mediterania. Sangat hangat dan seksi. Siapa pula yang tidak suka ini?" Tutur Robbins sambil tersenyum.

Versi bahasa Inggris tulisan ini bisa Anda baca di The erotic masterpiece we nearly lost dan tulisan-tulisan lainnya di BBC.

Berita terkait