Bagaimana jatuh cinta dapat membantu kita belajar bahasa lain

paris Hak atas foto Getty Images

Ketika penulis Lauren Collins berencana mempelajari bahasa Prancis, dia tidak pernah mengira bagaimana hal itu dapat mengubah hidupnya. Rebecca Laurence menjelaskan berbagai manfaat belajar bahasa lain dan tantangan dalam hubungan bilingual.

Cologne, Jerman, 1970: Carol, seorang perempuan berkebangsaan Inggris berambut merah bersirobok pandang dengan seorang pria tampan berkebangsaan Tunisia, bernama Chedly. Ada saling ketertarikan di sana; hanya ada satu masalah yang menghalangi mereka; mereka berbicara dalam bahasa yang berbeda.

Dua orang yang tinggal di Jerman itu mencoba mengungkapkan kata-kata cinta mereka dalam bahasa asing. Tiga bulan kemudian mereka menikah dan mereka masih bersama selama 46 tahun, dengan anak-anak, para cucu, dan tak ketinggalan - beberapa pelajaran bahasa Inggris.

Hak atas foto Carol and Chedly Mahfoudh
Image caption Carol dan Chedly Mahfoudh di tahun 1971: kisah mereka seperti banyak kisah cinta lain yang tetap mempertahankan hubungan meskipun ada kendala bahasa dan budaya

Kisah Carol dan Chedly Mahfoud hanyalah satu dari cerita lain yang tidak dapat dihitung: pasangan yang bertemu, jatuh cinta dan mempertahankan hubungan mereka kendati terhalang oleh perbedaan bahasa dan budaya.

"Bahasa, dalam menggambarkan batas-batas yang dapat dilanggar, penuh dengan romantisme", tulis penulis The New Yorker, Lauren Collins, yang menuangkan pengalamannya dalam komunikasi bilingual dalam buku When in French: Love in a Second Language. Buku ini berisi memori yang jenaka, kisah cinta dan pendalaman serius dari hubungan antara bahasa dan pemikiran.

Hak atas foto Philip Andelman
Image caption Buku baru Lauren Collins, When in French, menjelaskan pengalaman pribadinya dalam hal bilingualisme

Meskipun Collins (kelahiran Amerika) dan suaminya Olivier (berkebangsaan Prancis), menghabiskan tahun-tahun awal mereka sebagai pasangan dengan bercakap-cakap dalam bahasa Inggris, mereka tidak dapat melakukan dalam bahasa asli suaminya.

"Kami tidak memiliki jalan pintas, (untuk) menguak semua sikap dan asumsi-asumsi, yang tampaknya bisa dilakukan sebagian orang, hampir seperti telepati, untuk membuat mereka saling mengerti", tulis Collins. Setelah diskusi yang sangat rumit, di mana mereka masing-masing saling berusaha mengklarifikasi apa yang dimaksud pihak lainnya, Olivier mengeluh, "Bicara dalam bahasa Inggris dengan kamu seperti menyentuhmu dengan sarung tangan."

"Hal itu benar-benar membuat jarak yang akan selalu ada jika saya tidak mempelajari bahasanya," kata Collins pada BBC Culture. "Saya pikir kita semua memiliki keinginan-keinginan dan khayalan-khayalan tentang belajar suatu bahasa tetapi hal ini benar-benar yang yang sulit dilakukan kecuali Anda punya alasan yang sangat kuat," lanjutnya.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Mempelajari bahasa baru saat hidup di dalam budaya asing, kita kadang akan merasa minder dan putus asa.

Didorong oleh keinginan untuk mempererat hubungan dengan pasangannya, Lauren berniat mempelajari bahasa Prancis. Dia menjawab tantangan itu dengan semangat - tetapi mempelajari bahasa baru saat sudah tenggelam dalam budaya asing memiliki berbagai tantangan (misalnya, dia tidak sengaja berkata pada ibu Olivier bahwa dia sudah melahirkan teko kopi) dan keputusasaan. "Usaha saya belajar bahasa Prancis membuat saya merasa lemah dan tak berdaya, seperti berenang di genangan air," tulisnya.

Pembelit lidah

Lauren Collins tidak sendirian. "Saya merasa frustrasi dan saya ingat bagaimana lidah saya terasa sakit (ketika) mengerakan lidah dan mulut saya menyebutkan vokal-vokal yang berbeda," kata Anna Irvin yang pindah ke Paris mengingat pengalaman pertamanya berbicara dalam bahasa Prancis sepanjang hari. Dia pindah ke Paris pada 2011 untuk tinggal bersama pasangan Prancisnya Christophe Sigal.

Anna dan Christophe menggambarkan proses belajar bahasa sebagai diskusi yang berkelanjutan dan penemuan hal-hal baru bersamaan dengan hubungan mereka - yang dibutuhkan adalah kesabaran, kemandirian dan tekad bulat.

Bagi Anna artinya harus mempercayai Christophe untuk mengungkapkan perbedaan penting antara dégoûtant dan dégueulasse; bagi Christophe adalah menyadari perbedaan antara 'it's ridiculous' dalam bahasa Inggris dengan 'c'est ridicule' dalam bahasa Prancis (yang terakhir jauh lebih kasar, untuk kedua kasus).

Hak atas foto Anna Irvin and Christophe Sigal
Image caption Christophe Sigal dan Anna Irvin menggambarkan proses mempelajari bahasa merupakan proses diskusi dan penemuan yang berkelanjutan

Dan memahami perbedaan latar belakang budaya pasangan menambahkan beberapa lembar lapisan kompleksitas dalam pembelajaran bahasa. "Karena saya berasal dari desa di pinggiran selatan Prancis," kata Christophe, "bukan hanya bahasa, politik juga berbeda."

Ini juga merupakan karakteristik pernikahan Carol dan Chedly Mahfoudh selama hampir seperempat abad. Merundingkan perbedaan budaya telah terbukti sebagai tindakan yang menjaga kesimbangan. "Bagi kami dan pasangan pernikahan campuran lainnya, kamu harus berusaha lebih keras dari yang lain untuk memahami mentalitasnya," kata Carol, lalu melanjutkan sambil tertawa, "Saya tidak pernah benar-benar yakin apakah saya kesal padanya karena dia orang Tunisia, karena orang Prancis, karena dia laki-laki… atau apakah karena dia sudah tua!"

Seperti yang mungkin Anda duga, kesulitan-kesulitan ini muncul dalam perdebatan-perdebatan di antara pasangan beda bahasa. "Itulah waktunya ketika semua benar-benar harus dipikirkan, apa yang Anda dapat atau tidak dapat katakan, karena itu penting, kata-kata menjadi sangat penting dalam situasi itu," kata Anna Irvin.

Dr Aneta Pavlenko, Professor of Applied Linguistics di Temple University, yang mengadakan penelitian tentang emosi-emosi termasuk kemarahan dalam hubungan beda bahasa sependapat. "Perbedaan menjadi lebih parah selama proses berdebat, karena saat berdebat merupakan saat di mana Anda memiliki sedikit kontrol atas bahasa Anda tetapi di saat yang bersamaan Anda membutuhkannya untuk mengungkapkan emosi Anda," katanya.

Bahkan cara berbagai budaya melihat kemarahan dapat mempengaruhi perdebatan, lanjut Pavlenko, penutur bahasa Rusia aktif. "Para sarjana bahasa Inggris seringkali memperlakukan kemarahan sebagai konsep universal, tetapi, sebagai penutur bahasa Rusia yang hidup dalam budaya Inggris, pada awalnya sulit bagi saya untuk memahami benar maksudnya, karena dalam bahasa Rusia rasa marah dibedakan."

"Saya melihat ada perbedaan antara kemarahan dalam bahasa Inggris dan dua konsep dalam bahasa Rusia, serdit'sia (menghina atau memaki seseorang) dan zlit'sia (marah atau kesal pada seseorang), agak sulit pada awalnya. Cara para psikolog menjelaskan hal ini adalah bahwa situasi itu memancing perasaan-perasaan tertentu pada diri kita, tetapi bagaimana kita menamai pengalaman-pengalaman ini berbeda-beda tergantung bahasa asli kita."

Artinya bahwa di dalam perdebatan, setiap kata diperhitungkan - yang ternyata memiliki sebuah kejutan yang menyenangkan, jelas Anna Irvin. "Hal ini memperlambat semuanya" katanya. "Tetapi saya pikir bahwa sebenarnya hal itu dapat membawa kita ke dasar yang lebih solid," katanya. "Hal itu memaksamu untuk menjadi lebih hati-hati berbicara dan apa yang yang ingin kau katakan serta bagaimana mengatakannya".

Semua serba relatif

"Rasanya menyenangkan menyapa Olivier dengan bahasanya sendiri - dapat mengatakan secara langsung maksud kita, memanjakan keinginannya," tulis Lauren Collins, setelah berhasil berbicara lancar dalam bahasa suaminya, membawanya menjadi lebih dekat dengannya.

Dan dengan memahami bahasa Prancis, dan juga pentingnya membedakan sapaan formal dan informal, membantunya membongkar kesalahpahamannya sendiri terhadap perilaku suaminya. "Sekali waktu saya pernah menafsirkan keengganan Olivier sebagai pesimisme, tetapi sekarang saya melihat sebuah romantisme yang mendalam, penuh pengharapan, tidak ingin melebih-lebihkan dan terlalu menjanjikan sesuatu," tulisnya.

Tetapi proses mempelajari bahasa kedua - mungkin sama dengan menguasai ketrampilan baru apapun, seperti belajar alat musik atau melukis - membawa Lauren pada semacam 'pencerahan'. Meskipun katalisnya untuk belajar bahasa baru adalah cintanya pada pasangannya, ternyata hal itu menjadi lebih dalam, membawanya kepada pengalaman-pengalaman baru - dan perspektif-perspektif baru.

"Bahasa Prancis menjadi paralel dengan kisah cinta saya," katanya. Sebagaimana yang dia tulis sebelumnya di dalam bukunya, "Saya tidak mengira bahwa bahasa Prancis akan menyusun kembali bentuk-bentuk dalam hubungan saya, bahwa saya tidak selalu mempertimbangkan pernyataan orang sampai terbukti tidak."

Pergeseran ini menantangnya: dapatkah mempelajari bahasa baru benar-benar mengubah cara berpikir?

Ide bahwa pemikiran itu dipengaruhi oleh bahasa - yang dikenal sebagai linguistik relativisme dan determinisme meraih kepopulerannya di pertengahan abad ke 20 dengan hipotesis Sapir-Whorf. Manusia "sangat tergantung pada kebaikan bahasa tertentu yang telah menjadi media berekspresi dalam masyarakat mereka," tulis Sapir.

Sejak itu, teori ini telah dibantah secara luas: teori universalisme Noam Chomsky menggunakan fakta bahwa anak-anak dapat mempelajari bahasa apa saja dengan kemudahan yang sama untuk membuktikan hal itu, sementara ahli bahasa dan ilmuwan kognitif, Steven Pinker memperluas teori Chomsky dalam Language Instinct (1994), menyatakan bahwa bahasa merupakan 'bawaan' ketimbang 'sistem yang mempengaruhi pemikiran'.

Tetapi dalam tahun-tahun terakhir ini, versi yang lebih mendalam dari lingusitik relativisme, yang disebut 'neo-Whorfianism' telah diterima dengan terbuka dalam beberapa kalangan ilmiah. Sehingga daripada mempercayai bahwa kata-kata yang tidak dapat diterjemahkan - seperti 'Kummerspeck' dan 'hygge' - berarti bahwa kita melihat dunia dengan cara yang benar-benar berbeda, lebih baik kita menempatkan sedikit penekanan yang berbeda tergantung pada bahasa yang kita gunakan, di mana kita mengatakannya dan kepada siapa.

Bahkan hal ini menjadi dasar yang tidak biasa bagi film blockbuster saat ini, Arrival, yang dibintangi Amy Adams sebagai Dr Louise Banks, seorang ahli bahasa dibawa oleh militer Amerika untuk menguraikan bahasa alien yang misterius yang mendarat di bumi. Ekstra-terrestrial 'heptapods' ini berkomunikasi dalam bahasa yang berarti mereka merasakan waktu dengan cara yang benar-benar non-linear.

Hak atas foto Paramount Pictures
Image caption Dalam Arrival, Amy Adams berperan sebagai ahli bahasa yang dibawa oleh militer Amerika untuk menguraikan bahasa alien yang misterius yang sudah mendarat di bumi.

Naskah Arrival diadaptasi dari cerita pendek karya Ted Chiang, Story of Your Life. Di dalam adegan ini, Louise menjelaskan bagaimana mempelajari Heptapod B (bahasa tulisan para alien) mengubah persepsinya tentang waktu dan ingatan. "Sebelum saya belajar untuk berpikir dalam Heptapod B, ingatan-ingatan saya tumbuh seperti sebuah kolom abu rokok, yang dihasilkan oleh sepotong kecil pembakaran yang merupakan kesadaran saya, menandai kehadiran yang berurutan. Setelah saya mempelajari Heptapod B, ingatan-ingatan baru berjatuhan seperti balok-balok raksasa, masing-masing menandai tahun-tahun lamanya."

Cerita Chiang tidak menawarkan pandangan determinasi yang menentukan, tetapi tetap memperlihatkan bahwa bahasa (bahkan bahasa alien) mempengaruhi pikiran. "Sebelumnya pikiran saya hampir sama dengan pemikiran manusia lain, bahasa-bahasa yang berurutan, dan tidak ada jumlah pendalaman dalam bahasa alien yang dapat benar-benar menyusun kembali hal itu. Pandangan saya terhadap dunia adalah suatu amalgam manusia dan heptapod," kata Louise.

Dan meskipun banyak ahli bahasa merasa skeptis terhadap hal ini, orang-orang bilingual sering mengatakan bahwa kepribadian mereka dipengaruhi oleh bahasa yang mereka gunakan - seringnya mengungkapkan perasaan 'kebebasan' ketika berkomunikasi dalam bahasa lain.

"Untuk bahasa-bahasa yang dipelajari kemudian dalam kehidupan, pada masa-masa remaja, dalam masa dewasa, kita tidak memiliki hubungan emosional yang sama dengan aspek-aspek emosional tertentu dari bahasa-bahasa tersebut, seperti kata-kata yang tabu," jelas Aneta Pavlenko. "Jadi menjadi lebih mudah untuk mengumpat dalam bahasa kedua, menjadi lebih mudah mengatakan 'saya cinta kamu' dalam bahasa kedua sekalipun Anda tidak dapat mengatakan hal yang sama dengan bahasa pertama Anda.

Lauren mengungkapkan rasa simpatiknya pada pandangan neo-Whorfian. Pengalamannya mempelajari bahasa kedua sebagai orang dewasa membuka wawasan terhadap perbedaan pandangan pada dunia - perubahan yang kurang radikal, tetapi sebanding dengan bagaimana Louise dalam Arrival, menjadi lebih sadar terhadap peresepsi baru tentang waktu melalui sejenis empati linguistik. Ini merupakan perbedaan yang halus, "bukan apa yang akan Anda lakukan dalam sebuah bahasa," jelas Collins, "ini adalah apa yang harus Anda lakukan".

Hak atas foto Getty Images
Image caption Orang-orang bilingial sering melaporkan bahwa mereka merasa berbeda tergantung pada bahasa apa yang mereka gunakan.

Buku karya Collins memuat argumen yang sangat menarik dan persuasif untuk mempelajari bahasa pasangan atau bahasa apapun yang ingin dipelajari. Tetapi untuk pasangan bilingual, tidak ada cara yang benar atau salah, kata Pavlenko. "Saya pikir orang-orang menemukan kebahagiaan dalam cara yang berbeda… Saya tidak akan mengatakan ada resep untuk kebahagiaan. Saya sendiri menikah dengan seorang Amerika berbahasa Inggris yang hanya mengerti sedikit kata dalam bahasa Rusia dan kami telah menjalani masa 20 tahun yang luar biasa bahagia!"

Tetapi menurut Collins, bagi mereka yang ingin mencobanya, mungkin saja ada hasil yang mengejutkan. "Saya merasa ada bagian rahasia dari Olivier yang tidak dapat saya ketahui jika saya tidak bisa bicara dalam bahasanya, dengan sangat mengejutkan, kebahagiaan besar dari mempelajari bahasa Prancis adalah saya menemukan sisi rahasia saya sendiri juga, atau mungkin bukan bagian rahasia, mungkin ini hanyalah bagian baru. Mungkin bahasa Prancis yang menciptakannya."

Anda bisa juga membaca artikel ini dalam bahasa Inggris berjudul How falling in love can help you learn a languageatau tulisan lain di BBC Culture.

Berita terkait