Mengapa kita menggunakan qwerty pada keyboard komputer?

qwerty, keyboard Hak atas foto SAUL LOEB/AFP/Getty
Image caption Pada semua peranti menulis yang berpatokan pada bahasa Inggris, sistem tunggal yang berlaku, yaitu Qwerty.

Agar kata-kata terus mengalir, para penulis novel mengaku punya tempat mengetik favorit dan hal-hal yang disukai. Agatha Christie, misalnya, suka duduk di dalam bak mandi besar era Victoria dan mengunyah apel selagi mengerjakan novel misteri pembunuhan.

DH Lawrence memilih menulis di luar ruangan sembari bersandar pada pohon. James Joyce lebih suka menulis di ranjang, memakai jubah putih, dan menggunakan pensil biru.

Adapun penulis lainnya tidak mau lepas dari perangkat tulis mereka, seperti George RR Martin yang senantiasa menggunakan program komputer yang didesain untuk menulis, serta Cormac McCarthy, Don DeLillo dan Tom Wolfe yang lekat dengan mesin tik mereka.

Akan tetapi, meski terus menatap mesin tik, para penulis itu tidak pernah mempertanyakan desain keyboard yang mereka pencet terus-menerus. Papan tik yang krusial bagi hidup para penulis memang sering diabaikan sejarah dan karakteristiknya.

Ketika semua aspek tentang teknologi menulis telah berubah drastis selama 100 tahun terakhir, rancangan tuts mesin tik dan komputer tergolong statis. Pada semua peranti menulis yang berpatokan pada bahasa Inggris, sistem tunggal yang berlaku, yaitu Qwerty.

Hak atas foto Stuart Brady/Wikimedia Commons
Image caption Qwerty dan variasinya digunakan pada keyboard dengan huruf latin, dengan perubahan lokal dan huruf atau simbol tambahan.

Bagaimana ceritanya sampai rancangan papan tik bisa terus bertahan hingga kini tidak seberapa jelas dan memicu perdebatan.

Model awal mesin tik relatif rumit dan sulit diandalkan. Namun, tatanan awal tuts mesin tik yang berpatokan pada bahasa Inggris diatur menurut abjad. Lalu mengapa bisa berubah ke Qwerty? Kisah yang beredar dari mulut ke mulut adalah Qwerty, nama yang diambil berdasarkan enam huruf pada sisi kiri deret teratas keyboard, sengaja dibuat untuk memperlambat laju penulis.

Hak atas foto Wikipedia
Image caption Mesin tik buatan Sholes menggunakan keyboard Qwerty, yang dipatenkan pada 1873 dan dijual ke perusahaan Remington.

Piano huruf

Rancangan Qwerty juga sengaja dibuat agar mekanisme tombol pada mesin tik tidak macet—atau setidaknya itulah alasan yang diyakini para ahli.

Huruf-huruf pada mesin tik terkait dengan tangkai logam yang diaktifkan dengan cara memencet tombol huruf. Nah, jika suatu tangkai logam mengayun sebelum tangkai sebelumnya rebahan, mesin tik akan macet atau terkunci sehingga penulisnya terpaksa berhenti mengetik.

Di sinilah peran Christopher Sholes dimulai. Dilahirkan di sebuah kota kecil di Negara Bagian Pennsylvania, Amerika Serikat, pada 1819, Sholes punya banyak predikat, termasuk redaktur surat kabar dan senator Negara Bagian Wisconsin.

Sholes termasuk salah satu anggota tim penemu yang menciptakan mesin tik komersial. Setelah mencoba membuat mesin pengetik dan pencetak angka, Sholes membaca sebuah artikel di Scientific American pada 1867 tentang Pterotype, sebuah mesin tik prototype yang diciptakan John Pratt.

Artikel itu menjelaskan bagaimana pena akan digantikan sebuah alat yang digunakan dengan cara "memainkannya seperti piano".

Terinsipirasi dengan alat itu, Sholes bergabung dengan juru cetak Samuel Willard Soulé untuk membuat sebuah mesin yang papan tik-nya memiliki dua baris tuts hitam-putih, persis seperti piano.

Selama beberapa tahun mendatang, proyek itu kedatangan sejumlah orang lainnya, termasuk pengacara Carlos Glidden, pembuat jam Matthias Schwalbach, dan pebisnis James Densmore, yang menginvestasikan semua uangnya sebesar US$600.

Hak atas foto Wikipedia
Image caption Mesin tik komersial pertama, the Hansen Writing Ball, diproduksi pada 1870 di Denmark.

Pada 1868, mesin tik pertama dikirimkan ke sekolah khusus telegram, yaitu Porter's Telegraph College di Chicago. Namun, mesin tik itu tidak banyak digunakan karena tidak ada tombol huruf, yang merupakan bagian penting untuk menerjemahan kode Morse. Sholes kemudian menambahkan tombol huruf pada mesin tik.

Tapi, bagaimana dengan tombol-tombol huruf yang sering macet? Dia menciptakan sistem Qwerty, meski mungkin Densmore yang pertama kali menggagasnya.

Lepas dari perdebatan itu, kejeniusan sistem Qwerty adalah menempatkan kombinasi dua huruf dalam bahasa Inggris, atau disebut digraph (ch, ph, ea, ai, dan lain-lain), secara berjauhan.

E Remington and Sons kemudian memperoleh paten tersebut sehingga keyboard mesin tik atau komputer menjadi seperti yang kita gunakan sekarang. Jika tidak diubah, Anda akan menemukan tombol titik pada tombol 'R' dalam keyboard saat ini.

Hak atas foto Wikipedia
Image caption Sistem rancangan keyboard yang disederhanakan ala Dvorak diklaim lebih efisien ketimbang sistem Qwerty.

Lalu, apakah Qwerty memperlambat laju penulis? Jawaban pertanyaan itu masih didebatkan hingga sekarang. Sebagian dari kita tidak berpikir jauh soal rancangan keyboard, namun mereka yang peduli benar-benar peduli.

Salah satunya adalah pencipta sistem tandingan Qwerty, August Dvorak. Dilahirkan di Minnesota, AS, pada 1894, pria yang merupakan saudara jauh komposer Ceko termasyhur itu adalah psikolog pendidikan yang yakin bahwa sistem Qwerty masih bisa dikembangkan.

Minatnya dipicu ketika dia memberikan saran kepada seorang mahasiswa yang sedang menulis tesis pascasarjana soal kesalahan penulisan alias typo.

Dvorak meyakini bahwa dengan rancangan Qwerty, ada sejumlah kombinasi huruf yang membuat jari penulis berakrobat.

Dia juga mencatat bahwa penulisan kata yang sering digunakan dalam bahasa Inggris, semisal 'was' dan 'were' sepenuhnya mengandalkan tangan kiri. Bersama adik iparnya, dia kemudian memutuskan mematenkan sistem rancangan keyboard yang disederhanakan ala Dvorak.

Menurut Dvorak, sebuah kalimat yang memerlukan kecepatan jari penulis 20 mil pada keyboard Qwerty hanya memerlukan satu mil menggunakan sistemnya yang dirancang dengan prinsip ergonomi sehingga memangkas kesalahan penulisan yang biasa terjadi.

Hal itu tidak masalah pada era komputer, ketika penulis tinggal menghapus kalimat atau huruf pada layar. Namun, pada era sebelum komputer, penulis harus menempuh serangkaian langkah demi memperbaiki kesalahan penulisan.

Berdasarkan riset era Perang Dunia II, seseorang yang menggunakan sistem Dvorak bisa menulis 74% lebih cepat ketimbang rekannya yang memakai Qwerty. Rancangan Qwerty juga dinilai tidak begitu masuk akal.

Tonggak peristiwa

Teori lain yang menjelaskan perkembangan di balik sistem Qwerty adalah sistem tersebut menyusun semua huruf yang diperlukan untuk mengetik 'typewriter' pada deret teratas.

Hal ini membuat para staf penjual mengetik dengan cepat dan menciptakan kesan yang baik pada calon pembeli.

Akan tetapi, sebagaimana dijelaskan dua peneliti dari Universitas Kyoto, Jepang, yakni Koichi Yasuoka dan Motoko Yasuoka, tidak ada juru ketik profesional manakala Sholes sibuk merancang sistem Qwerty. Artinya, sistem Qwerty dirancang bukan demi kepuasan juru ketik.

Alih-alih, kedua peneliti itu mengedepankan kemungkinan berikutnya, bahwa sistem Qwerty dirancang demi kepuasan operator telegram yang merupakan pelanggan mula-mula.

Kendati teori ini hanyalah kemungkinan, kedua peneliti itu menyatakan, "Tidak ada kebijakan yang konsisten mengenai Qwerty. Pengaturan keyboard secara insidentil berubah menjadi Qwerty. Awalnya untuk menerima telegram, kemudian untuk menihilkan kompromi antara penemu dan produsen, dan terakhir menghindari paten-paten lama."

Hak atas foto Wikipedia
Image caption Sistem keyboard Hero dirancang untuk pengguna ponsel yang lebih sering menggunakan jempol untuk mengetik.

Laptop yang saya gunakan untuk mengetik, dan kemungkinan komputer Anda juga, punya fungsi yang jarang digunakan, yaitu mengubah tata huruf pada keyboard dan menciptakan sistem baru.

Tentunya saya harus melabeli tombol-tombol tersebut sampai saya kembali bisa mengetik dengan lancar. Tanpa perubahan perangkat keras, saya bisa mengetik menggunakan keyboard ala Dvorak hanya dalam waktu singkat.

Mungkin karena hanya segelintir dari kita yang benar-benar belajar mengetik jaman sekarang sehingga kita bertahan dengan apa yang kita tahu. Mengetik tanpa melihat adalah keahlian yang kita dapat saat kita terbiasa mengetik tanpa diajari, meski kerap menekan tombol 'delete'.

Jika kita benar-benar diajari mengetik, kita akan tahu bahwa kita sebenarnya bisa juga mempelajari sistem baru, sistem yang mungkin lebih cocok dengan bahasa kita atau dengan perangkat kita.

Hak atas foto Wikipedia
Image caption Sistem keyboard TouchOne menempatkan abjad secara berurutan dan melingkar seperti telepon putar jaman dulu.

Manakala Sholes dan rekan-rekannya sesama penemu berupaya menciptakan 'piano huruf', mereka kemungkinan tidak tahu bahwa sistem tombol yang mereka ciptakan bakal menjadi kontribusi penting bagi komunikasi manusia.

Jaman sekarang, ketika kita kerap mengetik memakai jempol, ada berbagai sistem alternatif yang diciptakan.

Ada Hero Keyboard, yang bentuknya melingkar seperti pada telepon putar jaman dulu. Kemudian ada TouchOne, yang mengklaim sebagai keyboard khusus di dunia untuk jam pintar dan berfungsi dengan cara menekan delapan tombol.

Ada pula PopKey yang berfokus pada animasi format gif. Semua sistem baru ini mengedepankan satu kesamaan, kecepatan.

Namun, apakah kecepatan benar-benar bermanfaat? Bagi para penulis, tidak terlalu. Sebab, seperti dikatakan penulis Truman Capote, "Itu bukan menulis, itu mengetik."

Bagi kita semua, karena kini ada begitu banyak rancangan keyboard yang bisa digunakan untuk mempublikasikan sesuatu secara instan, mungkin kita harus bersyukur pada segala sesuatu yang justru memperlambat dan menyelamatkan kita dari blunder di media sosial.

Versi bahasa Inggris tulisan ini bisa Anda baca pada artikel berjudulWhy is Qwerty on Our Keyboards? di laman BBC Culture