Assassin’s Creed adalah ‘film bagus bagi para penggemar film jelek’

Assassin's Creed Hak atas foto 20th Century Fox
Image caption Assassin's Creed digarap sutradara Justin Kurzel (Macbeth) dan dibintangi dua aktor papan atas, Michael Fassbender dan Marion Cotillard.

Ada kabar gembira bagi siapapun yang menemukan semacam kenikmatan menyimpang dengan menonton film jelek, karena film adaptasi video game terbaru Hollywood, Assassin's Creed, adalah hidangan pesta yang lengkap dengan segala hiasannya.

Mungkin tidak terlalu mengejutkan, mengingat kebanyakan film yang diangkat dari video game memang buruk; namun Assassin's Creed bukan sekadar strategi mendulang duit cepat seperti film video game lainnya.

Serius, tak lazim, dan jelas-jelas mahal, film ini memiliki keburukan tersendiri sebagai proyek yang dimaksudkan sebagai mahakarya seni yang agung.

Sang sutradara ialah Justin Kurzel, yang filmnya Macbeth mendapatkan nominasi di Festival Cannes pada 2015. Bintangnya ialah Michael Fassbender dan Marion Cotillard, dua aktor papan atas yang juga membintangi Macbeth.

Dan jelas bahwa mereka memperlakukan proyek yang konyol ini dengan sangat, sangat serius. Fassbender dan Cotillard keduanya begitu geram dan intens seakan berada dalam tragedi Shakespeare, sedangkan Kurzel membuat segala macam keanehan sci-fi yang inventif, psikedelik, dengan pencahayaan yang muram.

Akan tetapi, meski dengan semua kerja keras itu, seluruh pihak yang terlibat pasti menyadari, pada akhirnya, Assassin's Creed telah meleset jauh dari film yang ada dalam benak mereka. Bayangkan, sebagai gantinya, remake The Matrix yang disutradarai Terry Gilliam, namun naskahnya ditulis oleh bocah lima tahun dan disunting oleh seekor simpanse.

Kekonyolan Kurzel diawali dengan kebimbangan, berupa tiga adegan pembuka yang terpisah.

Adegan pertama berlatar Spanyol tahun 1492 (tebak siapa navigator Italia yang muncul), ketika tokoh yang diperankan Fassbender, Aguilar, tengah dilantik ke dalam suatu kelompok rahasia pembunuh berkerudung yang dinamai, dengan sangat imajinatif, Assassins (Pembunuh).

Tahap utama dari ritual pelantikan ini adalah pemotongan salah satu jari tangan sehingga tidak menghalangi pisau berpegas yang diikat di pergelangan tangan.

Ini semacam konsep konyol yang bisa dimaklumi dalam video game, atau film aksi murahan, tapi memalukan dalam sesuatu yang kesannya begitu mencekam seperti Assassin's Creed.

Cerita dimulai - lagi - pada 1986 dengan menunjukkan seorang bocah laki-laki bernama Cal Lynch sedang berlatih ketangkasan dengan sepeda BMX, satu-satunya upaya film ini untuk memanusiakan tokoh utamanya.

Cerita kembali dimulai untuk ketiga kalinya di tahun 2016 dengan Cal, kini diperankan Fassbender, mendekam dalam penjara Texas, menanti hukuman mati karena membunuh orang. Tapi jangan khawatir, Cal bersungut bahwa korbannya adalah seorang "mucikari", jadi harusnya dia bisa dianggap sebagai pahlawan.

Hak atas foto 20th Century Fox
Image caption Sofia Rikkin (Marion Cotillard) menyelamatkan Cal (Michael Fassbender) dari kursi mati -- namun seperti banyak hal dalam Assassin's Creed, tidak dijelaskan bagaimana caranya.

Suntik mati tidak berhasil, sayang sekali, dan Cal terbangun di markas penjahat James Bond, yakni, sebuah kompleks paramiliter berdinding beton dan penjaga keamanan dalam jumlah yang absurd, mondar-mandir dalam seragam rapi.

Namun tak seperti kebanyakan penjahat Bond, markas ini tidak tersembunyi dalam kawah gunung berapi, namun bertengger di sisi bukit yang menghadap kota Madrid.

Saya heran, Apa yang dipikirkan warga lokal ya? Apakah mereka tahu kalau bangunan itu adalah sekretariat "organisasi swasta yang mendedikasikan diri untuk menyempurnakan umat manusia"? Atau mereka senang-senang saja karena ada banyak lowongan kerja bagi yang bercita-cita jadi satpam?

Ilmuwan top organisasi itu, Sofia Rikkin (Cotillard) adalah yang menyelamatkan Cal dari kursi mati, tapi jangan tanya bagaimana dia melakukannya.

Dia menyelamatkan Cal, jelas perempuan itu, supaya Cal dapat menemukan The Apple of Eden (Apel Surga), yang sebenarnya bukan apel, tapi sebuah bola logam kuno yang mengandung "kode genetik untuk kehendak bebas".

Jika itu terdengar konyol, camkan ini: 'Apel' itu hilang sejak 1492, yang berarti orang-orang di abad 21 berpikir kalau orang-orang di abad 15 tahu tentang DNA.

Tahap selanjutnya

Sofia lalu menjelaskan bahwa Cal ialah keturunan para pembunuh yang kita temui di awal film.

Kendati keturunan jauh, susunan genetik mereka tampaknya begitu mirip sehingga ketika Cal didudukkan ke mesin realitas-virtual-masa-lampau milik Sofia, Animus, ia akan dapat mengalami semua yang moyangnya pernah alami, dan entah bagaimana caranya menuntun Sofia dan koleganya ke Apel.

Hasil dari premis yang ribet ini adalah ceritanya bisa menjadi konyol, membosankan, dan inkoheren pada dua periode masa.

Pada segmen masa kini, Cal keluyuran di sekitar markas, mendengarkan omong-kosong yang dilantunkan Sofia dan ayahnya (Jeremy Irons, mengumpulkan uang pesangonnya).

Dalam segmen masa lalu, yang mirip cerita Robin Hood, Aguilar bertarung melawan Ksatria Templar, menggunakan berbagai teknik bela diri dan parkour yang biasanya tidak dikaitkan dengan Spanyol masa Renaisans.

Akrobat ini mungkin akan asyik ditonton jika tidak dikaburkan dengan asap dan teknik editing yang kacau, tapi saya ragu.

Masalahnya adalah kita tidak diberikan alasan apapun untuk memedulikan apa yang terjadi. Kita tahu sedikit sekali tentang Cal dan Aguilar, atau tentang organisasi Sofia, atau tentang ayahnya, atau tentang orang lain di markas, atau apa sebenarnya kegunaan Apel, atau tentang para pembunuh, atau tentang kenapa mereka santai sekali ketika jarinya dipotong.

Bahkan ketika ide yang menarik muncul, film ini tidak mengeksplorasinya lebih jauh. Misalnya, reconquistadores Kristen digambarkan sebagai penjahat fanatik sedangkan para Muslim sebagai protagonis, hal yang tidak biasa bagi film blockbuster Hollywood.

Ada juga dialog tentang para pembunuh sebagai pembela "protes dan kebebasan berpendapat", gagasan yang bisa jadi, dalam teori, relevan dengan situasi sekarang ini. Tapi jangan harap Assassin's Creed menyatakan hal-hal berbau politik.

Film ini mencurahkan lebih banyak dialog untuk makanan di kantin markas daripada keadaan dunia.

Agaknya, Kurzel berniat mengeksplorasi beberapa tema lain dalam video game-nya di film kedua, karena film yang ia buat tidak berakhir dengan wajar.

Pada saat plotnya mulai seru, ia menyerah dengan anti-klimaks yang tiba-tiba, dan adegan penutup yang bisa saja ditambahkan teks: "Bersambung!". Namun kemungkinan untuk sekuel tampaknya sangat tipis.

-------

Anda bisa membaca versi bahasa Inggris artikel ini, Assassin's Creed is 'a treat for fans of terrible films', di BBC Culture.

Topik terkait

Berita terkait